Rabu, Mei 06, 2009

Jangan "Ngambek" Berkepanjangan! (Kisah Lu Di di edit oleh Lian Shu Xiang)

Sebuah salah pengertian yg mengakibatkan kehancuran sebuah rumah tangga.Tatkala nilai akhir sebuah kehidupan sudah  terbuka,tetapi segalanya sudah terlambat. Membawa nenek utk tinggal bersama menghabiskan masa tuanya bersama kami, malah telah menghianati ikrar cinta yg telah kami buat selama ini,setelah 2 tahun menikah, saya dan suami setuju menjemput nenek di kampung utk tinggal bersama.

Sejak kecil suami saya telah kehilangan ayahnya, dia adalah satu-satunya harapan nenek, nenek pula yg membesarkannya dan menyekolahkan dia hingga tamat kuliah. Saya terus mengangguk tanda setuju, kami segera menyiapkan sebuah kamar yg menghadap taman untuk nenek, agar dia dapat berjemur, menanam bunga dan sebagainya. Suami berdiri didepan kamar yg sangat kaya dgn sinar matahari,tidak sepatah katapun yg terucap tiba-tiba saja dia mengangkat saya dan memutar-mutar saya seperti adegan dalam film India dan berkata :"Mari,kita jemput nenek di kampung".

Suami berbadan tinggi besar, aku suka sekali menyandarkan kepalaku ke dadanya yg bidang, ada suatu perasaan nyaman dan aman disana. Aku seperti sebuah boneka kecil yg kapan saja bisa diangkat dan dimasukan kedalam kantongnya. Kalau terjadi selisih paham diantara kami, dia suka tiba-tiba mengangkatku tinggi-tinggi diatas kepalanya dan diputar-putar sampai aku berteriak ketakutan baru diturunkan.Aku sungguh menikmati  saat-saat seperti itu.

Kebiasaan nenek di kampung tidak berubah. Aku suka sekali menghias rumah dengan bunga segar, sampai akhirnya nenek tidak tahan lagi dan berkata kepada suami:"Istri kamu hidup foya-foya, buat apa beli bunga? Kan bunga tidak bisa dimakan?" Aku menjelaskannya kepada  nenek:"Ibu, rumah dengan  bunga segar membuat rumah terasa lebih nyaman dan suasana  hati lebih  gembira."Nenek berlalu sambil mendumel, suamiku berkata sambil tertawa: "Ibu, ini kebiasaan orang kota, lambat laun ibu akan terbiasa juga."

Nenek tidak protes lagi, tetapi setiap kali melihatku pulang sambil membawa bunga,dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya berapa harga bunga itu, setiap mendengar jawabanku dia selalu mencibir sambil menggeleng-gelengka n kepala. Setiap membawa pulang barang  belanjaan,dia selalu tanya itu berapa harganya ,ini berapa.Setiap aku jawab, dia selalu berdecak dengan suara keras.Suamiku memencet hidungku sambil berkata:"Putriku, kan kamu bisa berbohong. Jangan katakan harga yang sebenarnya." Lambat laun, keharmonisan dalam rumah
tanggaku mulai terusik.

Nenek sangat tidak bisa menerima melihat suamiku bangun pagi menyiapkan sarapan pagi untuk dia sendiri, di mata nenek seorang anak laki-laki masuk ke dapur adalah hal yang sangat memalukan. Di meja makan, wajah nenek selalu cemberut dan aku sengaja seperti tidak  mengetahuinya. Nenek selalu membuat bunyi-bunyian dengan alat makan seperti sumpit dan  sendok, itulah cara dia protes.

Aku adalah instrukstur tari, seharian terus menari membuat badanku sangat letih, aku tidak ingin membuang waktu istirahatku dengan bangun pagi apalagi disaat musim dingin. Nenek kadang juga suka membantuku di dapur, tetapi makin dibantu aku menjadi semakin repot, misalnya; dia suka menyimpan semua kantong-kantong bekas belanjaan, dikumpulkan bisa untuk dijual katanya.Jadilah rumahku seperti tempat pemulungan kantong plastik, dimana-mana terlihat kantong plastik besar tempat semua kumpulan kantong plastik.

Kebiasaan nenek mencuci piring bekas makan tidak menggunakan cairan pencuci, agar supaya dia tidak tersinggung, aku selalu mencucinya sekali lagi pada saat dia sudah tidur.Suatu hari, nenek mendapati aku sedang mencuci piring malam harinya, dia segera masukke kamar  sambil membanting  pintu dan menangis.Suamiku jadi serba salah, malam itu kami tidur seperti orang bisu, aku coba bermanja-manja dengan dia, tetapi dia tidak perduli. Aku menjadi kecewa dan marah."Apa salahku?" Dia melotot sambil berkata:"Kenapa tidak kamu biarkan saja? Apakah
memakan dengan pring itu bisa membuatmu mati?"

Aku dan nenek tidak bertegur sapa untuk waktu yg cukup lama, suasana mejadi kaku.. Suamiku menjadi sangat kikuk, tidak tahu harus berpihak pada siapa? Nenek tidak lagi membiarkan suamiku masuk ke dapur, setiap pagi dia selalu bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuknya, suatu kebahagiaan terpancar di wajahnya jika melihat suamiku makan dengan  lahap, dengan sinar mata yang seakan mencemohku sewaktu melihat padaku, seakan berkata dimana tanggung jawabmu sebagai seorang istri?

Demi menjaga suasana pagi hari tidak terganggu, aku selalu membeli makanan diluar pada saat berangkat kerja. Saat tidur, suamiberkata:"Lu di, apakah kamu merasa masakan ibu tidak enak dan tidakbersih sehingga kamu tidak pernah makan di rumah?" sambil memunggungiku dia berkata tanpa menghiraukan air mata yg mengalir di kedua belah pipiku.Dan dia akhirnya berkata:"Anggaplah ini sebuah permintaanku, makanlah bersama kami setiap pagi."Aku mengiyakannya dan kembali ke meja makan yg serba canggung itu.

Pagi itu nenek memasak bubur, kami sedang makan dan tiba-tiba ada suatu perasaan yg sangat mual menimpaku, seakan-akan isi perut mau keluar  semua.Aku menahannya sambil berlari ke kamar mandi, sampai disana aku  segera mengeluarkan semua isi perut. Setelah agak reda, aku melihat  suamiku berdiri didepan pintu kamar mandi dan memandangku dengan sinar  mata yg tajam, diluar sana terdengar suara tangisan nenek dan  berkata-kata dengan bahasa daerahnya. Aku terdiam dan terbengong tanpa  bisa berkata-kata. Sungguh bukan sengaja aku berbuat demikian!. Pertama kali dalam perkawinanku, aku bertengkar hebat dengan suamiku,  nenek melihat kami dengan mata merah dan berjalan menjauh……suamiku  segera mengejarnya keluar rumah.

Menyambut anggota baru tetapi dibayar dengan nyawa nenek. Selama 3 hari suamiku tidak pulang ke rumah dan tidak juga meneleponku. . Aku sangat kecewa, semenjak kedatangan nenek di rumah ini, aku sudah  banyak mengalah, mau bagaimana lagi? Entah kenapa aku selalu merasa mual  dan kehilangan nafsu makan ditambah lagi dengan keadaan rumahku yang  kacau, sungguh sangat menyebalkan. Akhirnya teman sekerjaku berkata:"Lu Di, sebaiknya kamu periksa ke dokter."Hasil pemeriksaan menyatakan aku  sedang hamil. Aku baru sadar mengapa aku mual-mual pagi itu. Sebuah  berita gembira yg terselip juga kesedihan. Mengapa suami dan nenek  sebagai orang yg berpengalaman tidak berpikir sampai sejauh itu?

Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku, 3 hari tidak bertemu dia  berubah drastis, muka kusut kurang tidur, aku ingin segera berlalu  tetapi rasa iba membuatku tertegun dan memanggilnya. Dia melihat ke  arahku tetapi seakan akan tidak mengenaliku lagi, pandangan matanya  penuh dengan kebencian dan itu melukaiku. Aku berkata pada diriku  sendiri, jangan lagi melihatnya dan segera memanggil taksi.

Padahal aku  ingin memberitahunya bahwa kami akan segera memiliki seorang anak. Dan  berharap aku akan diangkatnya tinggi-tinggi dan diputar-putar sampai aku  minta ampun tetapi..... mimpiku tidak menjadi kenyataan. Didalam taksi  air mataku mengalir dengan deras. Mengapa kesalah pahaman ini berakibat  sangat buruk?

Sampai di rumah aku berbaring di ranjang memikirkan peristiwa tadi,  memikirkan sinar matanya yg penuh dengan kebencian, aku menangis dengan  sedihnya. Tengah malam,aku mendengar suara orang membuka laci, aku  menyalakan lampu dan melihat dia dgn wajah berlinang air mata sedang  mengambil uang dan buku tabungannya. Aku nenatapnya dengan dingin tanpa  berkata-kata. Dia seperti tidak melihatku saja dan segera berlalu.  Sepertinya dia sudah memutuskan utk meninggalkan aku. Sungguh lelaki yg  sangat picik, dalam saat begini dia masih bisa membedakan antara cinta  dengan uang. Aku tersenyum sambil menitikan air mata.

Aku tidak masuk kerja keesokan harinya, aku ingin secepatnya membereskan  masalah ini, aku akan membicarakan semua masalah ini dan pergi  mencarinya di kantornya.Di kantornya aku bertemu dengan seketarisnya yg  melihatku dengan wajah bingung."Ibunya pak direktur baru saja mengalami  kecelakaan lalu lintas dan sedang berada di rumah sakit. Mulutku terbuka  lebar.Aku segera menuju rumah sakit dan saat menemukannya, nenek sudah meninggal. Suamiku tidak pernah menatapku, wajahnya kaku. Aku memandang jasad nenek yg terbujur kaku. Sambil menangis aku menjerit dalam  hati:"Tuhan, mengapa ini bisa terjadi?" Sampai selesai upacara pemakaman, suamiku tidak pernah bertegur sapa  denganku, jika memandangku selalu dengan pandangan penuh dengan kebencian. 

Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain, pagi itu nenek  berjalan ke arah terminal, rupanya dia mau kembali ke kampung. Suamiku  mengejar sambil berlari, nenek juga berlari makin cepat sampai tidak  melihat sebuah bus yg datang ke arahnya dengan kencang. Aku baru  mengerti mengapa pandangan suamiku penuh dengan kebencian. Jika aku tidak muntah pagi itu, jika kami tidak bertengkar,  jika........ . ....dimatanya, akulah penyebab kematian nenek.
Suamiku pindah ke kamar nenek, setiap malam pulang kerja dengan badan  penuh dengan bau asap rokok dan alkohol. Aku merasa bersalah tetapi juga  merasa harga diriku terinjak-injak. Aku ingin menjelaskan bahwa semua  ini bukan salahku dan juga memberitahunya bahwa kami akan segera  mempunyai anak. Tetapi melihat sinar matanya, aku tidak pernah  menjelaskan masalah ini. Aku rela dipukul atau dimaki-maki olehnya  walaupun ini bukan salahku. Waktu berlalu dengan sangat lambat.Kami  hidup serumah tetapi seperti tidak mengenal satu sama lain.
Dia pulang  makin larut malam. Suasana tegang didalam rumah.

Suatu hari, aku berjalan melewati sebuah café, melalui keremangan lampu  dan kisi-kisi jendela, aku melihat suamiku dengan seorang wanita  didalam.. Dia sedang menyibak rambut sang gadis dengan mesra. Aku  tertegun dan mengerti apa yg telah terjadi. Aku masuk kedalam dan  berdiri di depan mereka sambil menatap tajam kearahnya. Aku tidak  menangis juga tidak berkata apapun karena aku juga tidak tahu harus  berkata apa. Sang gadis melihatku dan ke arah suamiku dan segera hendak  berlalu. Tetapi dicegah oleh suamiku dan menatap kembali ke arahku  dengan sinar mata yg tidak kalah tajam dariku. Suara detak jangtungku  terasa sangat keras, setiap detak suara seperti suara menuju kematian. 

Akhirnya aku mengalah dan berlalu dari hadapan mereka, jika tidak..  mungkin aku akan jatuh bersama bayiku dihadapan mereka. Malam itu dia tidak pulang ke rumah. Seakan menjelaskan padaku apa yang  telah terjadi.. Sepeninggal nenek, rajutan cinta kasih kami juga  sepertinya telah berakhir. Dia tidak kembali lagi ke rumah, kadang  sewaktu pulang ke rumah, aku mendapati lemari seperti bekas dibongkar.  Aku tahu dia kembali mengambil barang-barang keperluannya. Aku tidak  ingin menelepon dia walaupun kadang terbersit suatu keinginan untuk 
menjelaskan semua ini. Tetapi itu tidak terjadi..... ...., semua berlalu  begitu saja.

Aku mulai hidup seorang diri, pergi check kandungan seorang diri. Setiap  kali melihat sepasang suami istri sedang check kandungan bersama, hati  ini serasa hancur. Teman-teman menyarankan agar aku membuang saja bayi  ini, tetapi aku seperti orang yg sedang histeris mempertahankan  miliknya. Hitung-hitung sebagai pembuktian kepada nenek bahwa aku tidak bersalah.

"Suatu hari pulang kerja,aku melihat dia duduk didepan ruang tamu.  Ruangan penuh dengan asap rokok dan ada selembar kertas diatas meja,  tidak perlu tanya aku juga tahu surat apa itu.2 bulan hidup sendiri, aku sudah bisa mengontrol emosi. Sambil membuka mantel dan topi aku berkata  kepadanya:"" Tunggu sebentar, aku akan segera menanda tanganinya"" .Dia  melihatku dengan pandangan awut-awutan demikian juga aku. Aku berkata  pada diri sendiri, jangan menangis, jangan menangis. Mata ini terasa  sakit sekali tetapi aku terus bertahan agar air mata ini tidak keluar. 

Selesai membuka mantel, aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia memperhatikan perutku yg agak membuncit. Sambil duduk di kursi, aku  menanda tangani surat itu dan menyodorkan kepadanya."" Lu Di, kamu  hamil?"" Semenjak nenek meninggal, itulah pertama kali dia berbicara  kepadaku. Aku tidak bisa lagi membendung air mataku yg menglir keluar  dengan derasnya. Aku menjawab:""Iya, tetapi tidak apa-apa. Kamu sudah  boleh pergi"".Dia tidak pergi, dalam keremangan ruangan kami saling  berpandangan. Perlahan-lahan dia membungkukan badannya ke tanganku, air  matanya terasa menembus lengan bajuku.Tetai di lubuk hatiku, semua  sudah berlalu, banyak hal yg sudah pergi dan tidak bisa diambil kembali. "Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengucapkan kata:"Maafkan aku, maafkan aku". Aku pernah berpikir untuk memaafkannya tetapi tidak  bisa. Tatapan matanya di cafe itu tidak akan pernah aku lupakan.Cinta  diantara kami telah ada sebuah luka yg menganga. Semua ini adalah sebuah akibat kesengajaan darinya.

Berharap dinding es itu akan mencair, tetapi yang telah berlalu tidak  akan pernah kembali.Hanya sewaktu memikirkan bayiku, aku bisa bertahan  untuk terus hidup. Terhadapnya, hatiku dingin bagaikan es, tidak pernah  menyentuh semua makanan pembelian dia, tidak menerima semua hadiah  pemberiannya tidak juga berbicara lagi dengannya. Sejak menanda tangani  surat itu, semua cintaku padanya sudah berlalu, harapanku telah lenyap  tidak berbekas.
Kadang dia mencoba masuk ke kamar untuk tidur bersamaku, aku segera  berlalu ke ruang tamu, dia terpaksa kembali ke kamar nenek.Malam hari,  terdengar suara orang mengerang dari kamar nenek tetapi aku tidak  perduli. Itu adalah permainan dia dari dulu. Jika aku tidak perduli  padanya, dia akan berpura-pura sakit sampai aku menghampirinya dan  bertanya apa yang sakit. Dia lalu akan memelukku sambil tertawa  terbahak-bahak. Dia lupa........ , itu adalah dulu, saat cintaku masih  membara, sekarang apa lagi yg aku miliki?
Begitu seterusnya, setiap malam aku mendengar suara orang mengerang  sampai anakku lahir. Hampir setiap hari dia selalu membeli barang-barang  perlengkapan bayi, perlengkapan anak-anak dan buku-buku bacaan untuk  anak-anak. Setumpuk demi setumpuk sampai kamarnya penuh sesak dengan  barang-barang. Aku tahu dia mencoba menarik simpatiku tetapi aku tidak  bergeming. Terpaksa dia mengurung diri dalam kamar, malam hari dari  kamarnya selalu terdengar suara pencetan keyboard komputer. Mungkin dia  lagi tergila-gila chatting dan berpacaran di dunia maya pikirku. Bagiku  itu bukan lagi suatu masalah.

Suatu malam di musim semi, perutku tiba-tiba terasa sangat sakit dan aku  berteriak dengan suara yg keras. Dia segera berlari masuk ke kamar,  sepertinya dia tidak pernah tidur. Saat inilah yg ditunggu-tunggu  olehnya.. Aku digendongnya dan berlari mencari taksi ke rumah sakit. Sepanjang jalan, dia mengenggam dengan erat tanganku, menghapus keringat dingin yg mengalir di dahiku. Sampai di rumah sakit, aku segera  digendongnya menuju ruang bersalin. Di punggungnya yg kurus kering, aku  terbaring dengan hangat dalam dekapannya. Sepanjang hidupku, siapa lagi  yg mencintaiku sedemikian rupa jika bukan dia? 
Sampai dipintu ruang bersalin, dia memandangku dengan tatapan penuh  kasih sayang saat aku didorong menuju persalinan, sambil menahan sakit  aku masih sempat tersenyum padanya. Keluar dari ruang bersalin, dia  memandang aku dan anakku dengan wajah penuh dengan air mata sambil  tersenyum bahagia. Aku memegang tangannya, dia membalas memandangku  dengan bahagia, tersenyum dan menangis lalu terjerambab ke lantai. Aku berteriak histeris memanggil namanya.
 
Setelah sadar, dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matanya………aku  pernah berpikir tidak akan lagi meneteskan sebutir air matapun untuknya,  tetapi kenyataannya tidak demikian, aku tidak pernah merasakan sesakit  saat ini. Kata dokter, kanker hatinya sudah sampai pada stadium  mematikan, bisa bertahan sampai hari ini sudah merupakan sebuah  mukjijat. Aku tanya kapankah kanker itu terdeteksi? 5 bulan yg lalu kata  dokter, bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan terburuk. Aku tidak lagi  perduli dengan nasehat perawat, aku segera pulang ke rumah dan ke kamar nenek lalu menyalakan komputer.

Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa adanya, aku  masih berpikir dia sedang bersandiwara…………Sebuah surat yg sangat panjang  ada di dalam komputer yg ditujukan kepada anak kami."Anakku, demi dirimu  aku terus bertahan, sampai aku bisa melihatmu. Itu adalah harapanku. Aku  tahu dalam hidup ini, kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan  kekecewaan, sungguh bahagia jika aku bisa melaluinya bersamamu tetapi  ayah tidak mempunyai kesempatan untuk itu. Didalam komputer ini, ayah  mencoba memberikan saran dan nasehat terhadap segala kemungkinan hidup  yg akan kamu hadapi. Kamu boleh mempertimbangkan saran ayah. """Anakku, selesai menulis surat ini, ayah merasa telah menemanimu hidup  selama bertahun -tahun. Ayah sungguh bahagia.. Cintailah ibumu, dia> sungguh menderita, dia adalah orang yg paling mencintaimu dan adalah  orang yg paling ayah cintai"".

Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK, SD, SMP, SMA  sampai kuliah, semua tertulis dengan lengkap didalamnya. Dia juga > menulis sebuah surat untukku.""Kasihku, dapat menikahimu adalah hal yg  paling bahagia aku rasakan dalam hidup ini. Maafkan salahku, maafkan aku  tidak pernah memberitahumu tentang penyakitku. Aku tidak mau kesehatan  bayi kita terganggu oleh karenanya. Kasihku, jika engkau menangis  sewaktu membaca surat ini, berarti kau telah memaafkan aku. Terima kasih  atas cintamu padaku selama ini. Hadiah-hadiah ini aku tidak punya  kesempatan untuk memberikannya pada anak kita. Pada bungkusan hadiah tertulis semua tahun pemberian padanya""."

Kembali ke rumah sakit, suamiku masih terbaring lemah. Aku menggendong  anak kami dan membaringkannya diatas dadanya sambil berkata: "Sayang,  bukalah matamu sebentar saja, lihatlah anak kita. Aku mau dia merasakan  kasih sayang dan hangatnya pelukan ayahnya".Dengan susah payah dia  membuka matanya, tersenyum... ......... ..anak itu tetap dalam dekapannya,  dengan tangannya yg mungil memegangi tangan ayahnya yg kurus dan lemah.  Tidak tahu aku sudah menjepret berapa kali momen itu dengan kamera di  tangan sambil berurai air mata........ ......... ....

Teman2 terkasih, aku sharing cerita ini kepada kalian, agar kita semua  bisa menyimak pesan dari cerita ini.Mungkin saat ini air sedang jatuh mengalir atau mata masih sembab sehabis menangis, ingatlah  pesan dari cerita ini :"Jika ada sesuatu yg mengganjal di hati diantara  kalian yg saling mengasihi, sebaiknya utarakanlah jangan simpan didalam  hati. Siapa tau apa yg akan terjadi besok? Ada sebuah pertanyaan: Jika  kita tahu besok adalah hari kiamat, apakah kita akan menyesali semua hal  yg telah kita perbuat? atau apa yg telah kita ucapkan? Sebelum segalanya  menjadi terlambat, pikirlah matang2 semua yg akan kita lakukan sebelum kita menyesalinya seumur hidup.
(Sumber : Milis)

Tidak ada komentar: