Selasa, September 29, 2009

"Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah”

(Neh 2:1-8; Luk 9:57-62)

Ketika Yesus dan murid-murid- Nya
melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus:
"Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." Yesus berkata
kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi
Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Lalu Ia berkata
kepada seorang lain: "Ikutlah Aku!" Tetapi orang itu berkata:
"Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku."Tetapi Yesus berkata
kepadanya: "Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau,
pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana."Dan seorang lain
lagi berkata: "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku
pamitan dahulu dengan keluargaku." Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang
yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan
Allah.
"(Luk 9:57-62), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 



Berrefleksi

atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Hieronemus, Imam dan Pujangga

Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Hari ini adalah hari terakhir bulan Kitab
Suci/September 2009. Kiranya di antara anda semua selama bulan Kitab Suci
terlibat dalam aneka pendalaman Kitab Suci dalam berbagai kesempatan, dan
mungkin juga telah ditemukan ayat-ayat atau teks kitab suci yang mengesan serta
tergerak untuk menghayati atau melaksanakannya di dalam hidup sehari-hari. Dengan
kata lain setelah membacakan dan mendengarkan ayat-ayat Kitab Suci anda
tergerak untuk memperbaharui hidup, agar cara hidup dan cara bertindak lebih
sesuai dengan kehendak Tuhan. Anda siap sedia untuk memperbaharui atau
diperbaharui, dibentuk atau dibina oleh sabda-sabda Tuhan, maka hendaknya pesan
atau peringatanYesus ini diperhatikan:”Setiap
orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk
Kerajaan Allah” . Kami harapkan anda
melangkah maju terus tanpa kenal lelah, setia memperbaharui diri atau
diperbaharui orang lain. Jauhkan aneka macam bentuk mangkir atau malas yang
sering menggejala dalam alasan yang nampak rational dan tak terbantahkan,
misalnya ‘urusan keluarga, off the record’. Dengan kata lain sebagai orang yang
telah dibaptis hendaknya setia pada janji baptis, yang menjadi imam setia pada
janji imamat, yang berkeluarga setia pada janji perkawinan dan yang hidup
membiara setia pada tri-kaulnya dst.. Mereka yang sedang belajar setia pada janji
pelajar sehingga semakin terampil belajar, dan mereka yang bekerja setia
pada janji kerja sehingga terampil
bekerja. Maju terus, jangan menoleh ke belakang, namun sekali-kali menoleh ke
belakang dalam rangka refleksi silahkan. Kita percayakan diri kita kepada
Penyelenggaraan Ilahi, kepada kehendak Allah.

· "Hiduplah
raja untuk selamanya! Bagaimana mukaku tidak akan muram, kalau kota, tempat
pekuburan nenek moyangku, telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya
habis dimakan api?”(Neh 2:3), demikian kata seorang pelayan kepada rajanya.
“Pekuburan nenek moyang” merupakan symbol penghormatan kepada nenek moyang, dan
mungkin dengan menyaksikan pekuburan nenek moyang yang baik orang juga akan
teringat dan terkenang akan nasihat-nasihat baik dari nenek moyang, sebaliknya jika pekuburan nenek moyang
amburadul atau berantakan serta kumuh, mungkin melambangkan tiada yang mengesan
dari nenek moyang. Amburadul, berantakan atua kekumuhan pekuburan nenek moyang
juga dapat melambangkan bahwa kita, para penerus hidup dan bertindak seenaknya
sendiri, tidak memperhatikan dan melaksanakan aneka macam nasihat baik dari
nenek moyang. Kata-kata atau ayat-ayat dalam Kitab Suci boleh dikatakan sebagai
ajaran, nasihat, petuah atau perintah ‘nenek moyang’ kepada kita semua. Jika
cara hidup dan cara bertindak amburadul dan tidak teratur ada kemungkinan kita
kurang atau menghayati sabda-sabda Tuhan atau janji-janji yang pernah kita
ikrarkan. Marilah kita buka, baca dan renungkan teks janji yang pernah kita
ikrarkan guna memperbaiki cara hidup dan cara bertindak kita yang amburadul.
Jika perlu baiklah kita menyepi sejenak, entah satu jam, satu atau dua hari,
untuk mawas diri perihal cara hidup dan cara bertindak kita, apakah sudah
sesuai dengan janji-janji yang pernah kita ikrarkan; dalam menyepi ini dapat
sendiri atau berdua atau bertiga, jika suami-isteri hendaknya berdua bersama
dengan pasangan hidupnya. Moga-moga rumus janji-janji tidak menjadi ‘kuburan
mati’, melainkan hidup dan menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita.



Di tepi
sungai-sungai Babel, di sanalah
kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion. Pada pohon-pohon
gandarusa di tempat itu kita menggantungkan kecapi kita. Sebab di sanalah
orang-orang yang menawan kita meminta kepada kita memperdengarkan nyanyian, dan
orang-orang yang menyiksa kita meminta nyanyian sukacita: "Nyanyikanlah
bagi kami nyanyian dari Sion!" Bagaimanakah kita menyanyikan nyanyian
TUHAN di negeri asing? Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah
menjadi kering tangan kananku!”


(Mzm 137:1-5)

Jakarta, 30 September 2009

Senin, September 28, 2009

“Sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia”.

(Why 12:7-12a; Yoh 1:47-51)


Kata Filipus kepadanya: "Mari dan
lihatlah!" Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang
dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati,
tidak ada kepalsuan di dalamnya!" Kata Natanael kepada-Nya:
"Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum
Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara."
Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" Yesus
menjawab, kata-Nya: "Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di
bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih
besar dari pada itu."Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata
kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat
Allah turun naik kepada Anak Manusia.”

(Yoh 1:47-51), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.



Berrefleksi

atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Mikael, St.Gabriel dan

St.Rafael, Malaikat Agung, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:

· Malaikat-malaikat adalah ciptaan Allah yang tidak
kelihatan, yang bertugas untuk mendampingi atau menemani perjalanan hidup
manusia. Fungsi pendampingan antara lain: memberi kekuatan dalam melawan godaan
setan, membisikkan warta gembira atau apa-apa yang baik dan menggembirakan dan menemani
kita dimanapun kita berada dan ke manapun kita bepergian. Setiap manusia
didampingi malaikat, yang sering kita sebut sebagai malaikat pelindung, dan
para malaikat dipimpin bersama oleh Mikael, Gabriel dan Rafael. Malaikat-malaikat
Allah ini turun naik kepada kita semua, maka marilah kita dengarkan dan ikuti
pendampingan atau penemanannya. Malaikat-malaikat juga sering dapat disebut
sebagai ‘roh baik’, pendampingannya dapat kita rasakan dalam buahnya yang
disebut dengan ‘hiburan rohani’ dan ‘kesepian rohani’. Bagi orang baik malaikat
mendorongnya untuk terus berbuat baik dan dengan demikian yang bersangkutan
semakin teguh dan handal iman, harapan dan kasihnya serta pengabdiannya kepada
Tuhan melalui sesama dan saudara-saudarinya. Ketika kita berbuat tidak baik
malaikat memberi tegoran kepada kita berupa ‘kesepian rohani’, yaitu merasa
ditinggalkan oleh Tuhan dan sesamanya, frustrasi, sedih, dst.. Sebagai orang
beriman kita semua dipanggil untuk mendengarkan dan melaksanakan
bisikan-bisikan malaikat, yaitu bisikan untuk senantiasa berbuat baik,
melakukan apa-apa yang baik. Kita juga dapat melihat buah bisikan malaikat
dalam diri saudara-saudari kita, yaitu apa-apa yang baik, indah, luhur dan
mulia, maka ‘mari dan lihatlah’ apa-apa yang baik, indah, luhur dan mulia dalam
diri saudara-saudari kita. Beriman pada malaikat berarti lebih melihat apa yang
baik daripada yang jelek dalam diri kita sendiri maupun saudara-saudari kita,
dengan kata lain lebih berpikir positif daripada berpikir negatif.

· “Karena itu
bersukacitalah, hai sorga dan hai kamu
sekalian yang diam di dalamnya,
celakalah kamu, hai bumi dan laut”
(Why 12:12). “Diam atau
tinggal di dalam sorga” berarti hidup mulia bersama Allah untuk
selama-lamanya, dan tentu saja hal itu terjadi ketika kita telah dipanggil
Tuhan. Namun ‘diam atau tinggal di dalam
sorga’ ini telah dapat kita cicipi selama kita masih hidup dan tinggal di
bumi ini. Memang di bumi dan laut sarat dengan godaan-godaan setan melalui
aneka cara antara lain berupa
“percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan,
perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh
pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya” (Gal 5:19-21).
Kita telah mencicipi ‘diam atau tinggal
di dalam sorga’ jika kita hidup dan
bertindak dijiwai oleh keutamaan-keutamaan “kasih,
sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,
kelemahlembutan, penguasaan diri.”(Gal 5:22-23) Maka marilah kita saling bekerjasama dan
membantu dalam menghayati keutamaan-keutamaan tersebut di atas ini, sebagai
tanda bahwa kita semua hidup dan bertindak dalam pendampingan malaikat-malaikat
Allah. Di antara keutamaan-keutamaan di atas ini kiranya anda dapat memilih
keutamaan mana yang akan lebih ditekankan dalam penghayatan sesuai dengan
kondisi dan situasi lingkungan hidup masing-masing. Atau mungkin di dalam hidup
dan kerja bersama, entah di dalam keluarga/komunitas atau tempat kerja, ada
gerakan bersama setiap bulan, artinya selama satu bulan tertentu ‘kesabaran’
menjadi ciri cara hidup dan cara bertindak bersama, dan bulan berikutnya
keutamaan ‘kemurahan’, dst.. Dengan kata lain perlu ada usaha atau gerakan
pembiasaan penghayatan keutamaan-keutamaan tersebut untuk periode tertentu
sehingga keutamaan-keutamaan tersebut menjadi kebiasaan cara hidup dan cara
bertindak kita. Pembiasaan berarti pelatihan-pelatihan terus menerus sampai
yang bersangkutan mahir atau terampil dalam apa yang sedang dilatihkan atau
dibiasakan.



Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan
segenap hatiku, di hadapan para allah aku akan bermazmur bagi-Mu.Aku hendak
sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan
oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala
sesuatu.Pada hari aku berseru, Engkau pun menjawab aku, Engkau menambahkan
kekuatan dalam jiwaku.Semua raja di bumi akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN,
sebab mereka mendengar janji dari mulut-Mu; mereka akan menyanyi tentang
jalan-jalan TUHAN, sebab besar kemuliaan TUHAN.
”(Mzm 138:1-5)



Jakarta, 29 September 2009

Minggu, September 27, 2009

"Barangsiapa menyambut anak ini dalam namaKu, ia menyambut Aku”

(Za.8:1-8; Luk 9:46-50)

Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya, dan berkata kepada mereka: "Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar." Yohanes berkata: "Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita."Yesus berkata kepadanya: "Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”

(Luk 9:46-50), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 


Berrefleksi

atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Anak kecil harus diperlakukan, dirawat, didampingi dalam dan oleh cintakasih, karena ia ‘diadakan dan dilahirkan’ dalam dan oleh cintakasih, ia diciptakan oleh Tuhan dalam dan oleh kasihNya sebagai citra atau gambarNya. Maka Yesus bersabda: “Barangsiapa menyambut anak ini dalam namaKu, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar”. Yang terbesar dalam Kerajaan Allah atau hidup beragama dan beriman adalah mereka yang tersuci; anak lebih suci daripada orangtuanya, yang muda lebih suci daripada yang tua. Di dalam hidup sehari-hari, dalam aneka macam pergaulan dan kebersamaan, kita dipanggil untuk saling bersikap seperti sedang menyambut anak kecil alias saling mengasihi satu sama lain dengan rendah hati. Hendaknya tidak ada orang yang merasa dirinya atau berpikir bahwa dirinya yang terbesar. Ingatlah dan renungkan bahwa para pemimpin
Gereja, para Uskup dan Paus, yang dianggap yang terbesar, senantiasa menyatakan diri sebagai yang hina dina dan berusaha menghayati panggilan dan pelayanannya dengan cintakasih dan rendah hati. Hidup dan bertindak dalam cintakasih antara lain menghayati keutamaan-keutamaan “sabar; murah hati; tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain” (lih 1Kor 13:4-5). Yang baik kita hayati dan sebarluaskan pada masa kini adalah ‘sabar dan murah hati’, mengingat dan mempertimbangkan cukup banyak orang kurang sabar dan pelit. ‘Sabar dan murah hati’ dapat diwujudkan dengan ‘memboroskan waktu dan tenaga bagi yang sedang dikasihi’. Maka baiklah kepada siapapun yang sedang kita kasihi, marilah kita boroskan waktu dan tenaga kita kepadanya.
· “Beginilah firman TUHAN semesta alam: Sesungguhnya, Aku menyelamatkan umat-Ku dari tempat terbitnya matahari sampai kepada tempat terbenamnya, dan Aku akan membawa mereka pulang, supaya mereka diam di tengah-tengah Yerusalem. Maka mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka dalam kesetiaan dan kebenaran” (Za 8:7-8). Kutipan ini baik menjadi permenungan atau refleksi kita, sebagai umat beriman. “Dari tempat terbitnya matahari sampai kepada tempat terbenamnya” kita senantiasa diselamatkan oleh Tuhan melalui saudara-saudari atau sesama kita. Dengan kata lain kita dipanggil untuk saling menyelamatkan dan membahagiakan. Masing-masing dari kita dipanggil menjadi wahana penyelamatan dan kebahagiaan. Setiap kali berjumpa dengan orang lain, kita juga saling mengucapkan ‘selamat’: selamat datang, selamat jalan, selamat pagi, selamat bertemu, selamat tidur, selamat makan, dst.. Semoga kata-kata tersebut tidak hanya sekedar
basa-basi, sopan santun atau omong kosong belaka, tetapi sungguh saling menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita. Tuhan adalah “Allah kita dalam kesetiaan dan kebenaran”, yang berarti jika kita sungguh beriman maka kita dipanggil untuk hidup dalam kesetiaan dan kebenaran: setia pada iman, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing serta senantiasa hidup dalam kebenaran dan mewartakan kebenaran. Selamat, kesetiaan dan kebenaran merupakan tiga serangkai yang harus kita hayati dan sebarluaskan. Lingkungan hidup kita hendaknya kita selamatkan, sehingga kita semua dapat hidup dalam kesetiaan dan kebenaran. Bukankah lingkungan hidup yang asri, bersih, nyaman, sejuk dan indah akan mengundang orang untuk melakukan apa yang benar? Bukankah lingkungan hidup yang demikian itu juga mengundang orang untuk memuji dan memuliakan ‘Tuhan semesta alam’? Marilah kita usahakan bersama lingkungan hidup yang senak, nyaman dan nikmat untuk didiami, sebagai
perwujudan iman kita kepada ‘Tuhan semesta alam’!

Maka bangsa-bangsa menjadi takut akan nama TUHAN, dan semua raja bumi akan kemuliaan-Mu, bila TUHAN sudah membangun Sion, sudah menampakkan diri dalam kemuliaan-Nya, sudah berpaling mendengarkan doa orang-orang yang bulus, dan tidak memandang hina doa mereka. Biarlah hal ini dituliskan bagi angkatan yang kemudian, dan bangsa yang diciptakan nanti akan memuji-muji TUHAN, sebab Ia telah memandang dari ketinggian-Nya yang kudus, TUHAN memandang dari sorga ke bumi, untuk mendengar keluhan orang tahanan, untuk membebaskan orang-orang yang ditentukan mati dibunuh” (Mzm 102:16-21)

Jakarta, 28 September 2009

Mg Biasa XXVI : Bil 11:25-29;

Yak 5:1-6; Mrk 9:38-43.45.47- 48

Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.”

Ketika saya bertugas sebagai
Ekonom Keuskupan Agung Semarang, sekaligus juga menjadi minister atau mengurusi
rumah tangga dan kantor keuskupan. Dalam hal keuangan, misalnya, semua
pengeluaran di luar kebutuhan rutine harus seizin saya. Waktu itu kebetulan
saya sedang ada tugas ke luar negeri selama kurang lebih dua minggu, begitu
pulang saya memperoleh info bahwa salah seorang pembantu rumah tangga keuskupan
telah dipanggil Tuhan. Sedih bercampur gembira yang saya alami: sedih karena
kehilangan pembantu rumah tangga baik, gembira dan bangga karena salah seorang
pegawai kantor keuskupan telah mengambil kebijakan bagus, yaitu membeayai seluruh
kebutuhan pemakaman dengan dana/uang kantor/rumah tangga keuskupan. Pegawai
tersebut telah melaknasakan tugas pekerjaan yang seharusnya menjadi
tanggungjawab saya, dengan kata lain ia bersama dan bersatu dengan saya,
membantu dan meringankan beban saya. Saya teringat akan peristiwa sebagaimana
saya ceriterakan secara singkat di atas ini setelah membaca dan merenungkan
kutipan Warta Gembira hari ini, antara lain: "Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorang pun yang telah
mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku.
Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita” (Mrk 9:39-40). Maka marilah kita renungkan
baik-baik kutipan Warta Gembira hari ini.



"Jangan
kamu cegah dia! Sebab tidak seorang pun yang telah mengadakan mujizat demi
nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Barangsiapa tidak melawan kita,
ia ada di pihak kita
.” (Mrk 9:39-40) 

Mereka yang tidak berani melawan
kita pada umumnya adalah mereka yang kurang kuat dari kita entah dalam hal
kedudukan, fungsi, jabatan, pengalaman, wibawa, kuasa dst.., misalnya anak-anak
kecil terhadap orangtuanya, pegawai atau buruh terhadap pimpinan atau boss-nya, bawahan terhadap atasan dst.. Mereka
yang kurang dari kita pada umumnya membantu kita, maka Yesus dengan cara lain
mengingatkan kita dengan sabdaNya : "Barangsiapa
menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik
baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke
dalam laut.”(Mrk 9:42). Anak-anak kecil pada umumnya lebih baik dan lebih
suci daripada orangtuanya atau bapak-ibunya, demikian pula bawahan daripada
atasannya, anggota daripada pemimpinnya, dst.. , maka janganlah menyesatkan
mereka melainkan belajarlah pada atau layanilah mereka.



Memang di antara kita, para
orangtua, pemimpin atau atasan sering merasa dilangkahi atau dilecehkan ketika
anak-anak, anggota atau bawahan melakukan tugas pekerjaan yang sebenarnya
menjadi tanggungjawab kita. Jika ada anak-anak, anggota atau bawahan yang telah
melakukan tugas pekerjaan orangtua, pemimpin atau atasan, hendaknya orangtua,
pemimpin atau atasan berterima kasih kepada mereka. Dalam hal karya pelayanan pastoral seperti
sekolah, rumah sakit atau sosial, juga sering terjadi bahwa merasa karyanya
ditiru orang lain ketika ada pelayanan yang dilakukan kurang lebih sama atau
bahkan sama dengan pelayanan kita, dan juga merasa kecurian dan rugi karenanya.
Menurut saya jika karya pelayanan pastoral kita ditiru oleh kelompok lain
hendaknya berterima dan bersyukur, dan jadikan kesempatan tersebut sebagai provokasi
atau motor bagi kita untuk semakin meningkatkan kwalitas pelayanan pastoral
kita.



Segala bentuk mujizat berasal
dari Allah, merupakan karya Allah, dan dapat terjadi melalui siapapun dan
apapun. Buah dari mujizat pertama-tama dan terutama adalah keselamatan jiwa
manusia, maka dimana ada usaha penyelamatan jiwa berarti berasal dari Tuhan dan
dilakukan bersama dengan Tuhan, dengan demikian sebagai orang beriman hendaknya
kita mendukungnya dan berterima kasih atau usaha dan pelayanan penyelamatan
jiwa yang dilakukan oleh siapapun. Semakin bertambahnya iman, harapan dan cinta
juga merupakan mujizat yang berasal dari Tuhan atau karya Tuhan, demikian juga
pertobatan atau pembaharuan hidup.



Jadi
sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara
yang akan menimpa kamu! Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan
ngengat! Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian
terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan
harta pada hari-hari yang sedang berakhir. Sesungguhnya telah terdengar
teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari buruh yang telah menuai hasil
ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan mereka yang
menyabit panenmu
” (Yak 5:1-4).



Kutipan dari surat Yakobus di
atas ini kiranya baik menjadi bahan permenungan atau refleksi bagi ‘orang-orang
kaya’ yang mempekerjakan buruh atau pegawai, terutama para pengusaha atau
pejabat tinggi pemerintahan. Keberhasilan, kesuksesan, perkembangan dan
pertumbuhan usaha atau karya kiranya tak dapat dilepaskan dari peran dan
partisipasi para pegawai atau buruh, maka hendaknya diperhatikan kesejahteraan
hidup para pegawai atau buruh. Ingatlah dan hayatilah bahwa mereka bekerja
keras bukan hanya demi kepentingan diri mereka sendiri tetapi juga demi
keberhasilan, kesuksesan dan perkembangan usaha. Jika para pegawai atau buruh
kurang atau tidak sejahtera hidupnya, ada kemungkinan bahwa mereka kurang
gairah bekerja atau mencuri atau korupsi, dan dengan demikian usaha akan hancur
berantakan, sebaliknya jika mereka terjamin kesejahteraan hidup mereka bersama
dengan keluarga mereka, maka mereka akan bekerja keras, giat, jujur, disiplin
dst., dan dengan demikian usaha akan berhasil, sukses dan terus berkembang.



Kekayaan berupa aneka macam harta
benda atau uang adalah sarana, bukan
tujuan: sarana untuk membantu manusia dalam mengabdi, menghormati, memuji dan
memuliakan Tuhan dalam dan melalui hidup sehari-hari. “Harta benda atau uang harus terus berjalan-jalan” dalam rangka membantu
manusia semakin manusia dan beriman. “Berjalan-jalan” yang kami maksudkan adalah entah digandakan
dengan memfungsikannya untuk berusaha aneka macam produksi yang dibutuhkan oleh
manusia dalam rangka mengusahakan keselamatan jiwanya. ‘Harta benda atau uang
adalah jalan ke sorga atau ke neraka’, akan menjadi jalan ke sorga jika kita
memfungsikan harta benda atau uang sebagai sarana yang bersifat sosial, dan
akan menjadi jalan ke neraka jika kita memfungsikannya untuk berfoya-foya,
mengikuti gairah nafasu tak teratur.



Balas jasa atau gaji sesuai dengan UMR hemat saya merupakan
dukungan beaya bagi penerima gaji atau balas jasa agar tidak mati, namun tidak
atau kurang memadai bagi yang bersangkutan untuk hidup sejahtera lahir dan
batin, antara lain memiliki tempat tinggal/rumah sederhana (meskipun untuk
memperoleh dengan cara pinjam uang), makan dan minum bergizi, dapat membeayai
anak-anak untuk belajar ‘pendidikan menengah’ dan lulus atau selesai dengan
baik. Maka dengan ini kami mengharapkan para pengusaha sungguh memperhatikan
nasib dan kesejahteraan para pegawai, buruh atau pembantunya. Hendaknya jangan
menahan pemberian balas jasa sebagaimana telah ditentukan, atau menunda-nunda
pemberian balas jasa demi kepentingan diri sendiri. Baiklah jika kita semua
bermimpi atau bercita-cita seperti Musa ini: “Apakah engkau begitu giat mendukung diriku? Ah, kalau seluruh umat
TUHAN menjadi nabi, oleh karena TUHAN memberi Roh-Nya hinggap kepada mereka!"(Bil
11:29). Nabi adalah orang yang
penuh Roh Kudus, utusan Tuhan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa manusia.





Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu
teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Takut akan TUHAN
itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya,”

(Mzm 19:8.10)

Jakarta,
27 September 2009

Jumat, September 25, 2009

“Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia."

(Za 2:5-9.14-15a; Luk 9:43b-45)



Ketika semua orang itu masih heran
karena segala yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid- Nya:
"Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan
diserahkan ke dalam tangan manusia." Mereka tidak mengerti perkataan itu,
sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya.

Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya

(Luk 9:43b-45), demikian kutipan Warta Gembira hari

ini



Berrefleksi


atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

· “Dengarlah dan
camkanlah segala perkataanKu ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan
manusia’, demikian kata-kata Yesus khusus bagi para muridNya, bagi kita
semua yang beriman atau percaya kepadaNya. Yesus datang ke dunia untuk
mempersembahkan diri seutuhnya bagi dunia, demi keselamatan dunia seisinya,
maka kita semua yang beriman kepadaNya juga dipanggil untuk meneladan Dia
dengan hidup mendunia atau hidup dan bertindak demi keselamatan dunia.
Mayoritas waktu dan tenaga kita terarah pada hal-hal duniawi yang terkait
dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Meneladan Yesus
berarti mempersembahkan diri seutuhnya pada aneka tugas, kewajiban atau
pekerjaan yang menjadi tanggunjawab kita masing-masing. Dengan kata lain entah
belajar atau bekerja kita semua dipanggil untuk belajar atau bekerja dengan
sungguh-sungguh, sehingga terampil dalam belajar atau bekerja, tumbuh
berkembang menjadi orang professional dalam bidang kehidupan tertentu. Masa
kini maaupun masa depan dibutuhkan orang-orang yang sungguh professional dan
orang yang sungguh professional pada umumnya akan dicari orang alias tidak akan
berkekurangan dalam hal pekerjaan atau bahkan berlebihan. Meskipun ia harus
melaksanakan banyak tugas atau pekerjaan, orang professional akan mampu
menyelesaikan semuanya dengan baik dan memuaskan bagi semuanya, dan iapun juga
semakin professional dalam bidang kehidupan yang telah digelutinya; ia akan
semakin hidup damai sejahtera lahir dan batin, jasmani dan rohani. Maka kepada
rekan-rekan pelajar atau mahasiswa kami dambakan untuk sungguh belajar sehingga
kelak professional dalam bidang kehidupan tertentu, sedangkan kepada para
orangtua dan pendidik/guru kami dambakan sungguh mempersiapkan
anak-anak/peserta didik ke arah professional tertentu sesuai dengan bakat
anak-anak/peserta didik.

· "Sesungguhnya
Aku akan menggerakkan tangan-Ku terhadap mereka, dan mereka akan menjadi
jarahan bagi orang-orang yang tadinya takluk kepada mereka. Maka kamu akan
mengetahui bahwa TUHAN semesta alam yang mengutus aku”(Za 2:9). Semesta alam diciptakan oleh Tuhan dan
tergantung sepenuhnya kepada Tuhan.. Kita, manusia, dapat hidup dan bergerak ke sana kemari hanya karena dan oleh Tuhan, maka baiklah kita
hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Dengan kata lain sebagai
orang beriman kita dipanggil untuk tumbuh berkembang sehingga mahir dalam
beriman. Orang yang mahir dalam beriman tak akan mungkin menjadi jarahan atau
bahan pelecehan, orang beriman akan
handal dalam menghadapi aneka macam gelombang kehidupan, sehingga tidak akan
karam. Maka marilah dalam dan dengan
iman kita hidup bersama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Untuk itu
mereka yang berpengaruh dalam hidup bersama, bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara diharapkan menjadi teladan dalam kehidupan iman, secara konkret
teladan dalam melaksanakan tugas atau kewajiban atau menghayati panggilan. Keteladanan
para pemimpin, atasan atau petinggi diharapkan dapat menjadi modal dan kekuatan
bagi semuanya sehingga semuanya semakin beriman dan ‘mengetahui bahwa semesta alam diciptakan oleh Tuhan’. Jika semuanya
mengetahui dan menghayati bahwa semesta alam diciptakan oleh Tuhan, tergantung
pada Tuhan, maka kiranya lingkungan hidup bersama menjadi nyaman, enak dan
nikmat. Semua orang berfungsi secara professional dalam fungsi dan tugas
masing-masing dalam hidup bersama, sebagaimana semua anggota tubuh kita sehat
wal’afiat dan fungsional semua sehingga tubuh kita segar bugar, sehat
wal’afiat. Hendaknya fungsi atau tugas pekerjaan apapun dihayati atau
dilaksanakan secara sungguh-sungguh, professional. Hendaknya perbedaan fungsi
atau tugas pekerjaan menjadi wahana untuk saling bekerja sama bukan menjadi
bahan iri hati.



Dengarlah firman TUHAN, hai
bangsa-bangsa, beritahukanlah itu di tanah-tanah pesisir yang jauh, katakanlah:
Dia yang telah menyerakkan Israel akan
mengumpulkannya kembali, dan menjaganya seperti gembala terhadap kawanan
dombanya! Sebab TUHAN telah membebaskan Yakub, telah menebusnya dari tangan
orang yang lebih kuat dari padanya.Mereka akan datang bersorak-sorak di atas
bukit Sion, muka mereka akan berseri-seri karena kebajikan TUHAN, karena
gandum, anggur dan minyak, karena anak-anak kambing domba dan lembu sapi; hidup
mereka akan seperti taman yang diairi baik-baik, mereka tidak akan kembali lagi
merana
” (Yer 31:10-12)

Jakarta, 26 September 2009

Kamis, September 24, 2009

"Kata orang banyak, siapakah Aku ini?"

(Hag 2:1b-9; Luk 9:18-22)



Pada suatu kali ketika Yesus berdoa
seorang diri, datanglah murid-murid- Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya
kepada mereka: "Kata orang banyak, siapakah Aku ini?" Jawab mereka:
"Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang
mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit." Yesus
bertanya kepada mereka: "Menurut kamu, siapakah Aku ini?" Jawab
Petrus: "Mesias dari Allah." Lalu Yesus melarang mereka dengan keras,
supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun. Dan Yesus
berkata: "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak
oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan

dibangkitkan pada hari ketiga.”

(Luk 9:18-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini




Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

· Ada orang yang kesibukan sehari-harinya berdagang di
pasar atau sebagai kontraktor bangunan dst. tetapi dalam KTP atau ID-nya tertulis ‘buruh’; ada orang
katolik yang tidak berani memakai nama baptis di tempat kerja, tidak berani
berdoa sebelum dan sesudah makan ketika makan di rumah makan umum, dst.. Memang di balik ‘ketidak-jujuran’ atau
‘ketakutan’ dalam hal jati diri tersebut ada berbagai kemungkinan alasan,
misalnya takut akan kewajiban besar, takut diejek atau disingkirkan dst.. Ketakutan untuk mengakui atau mengimani Yesus
sebagai ‘Mesias dari Allah’ mungkin
masih mewarnai cara hidup dan cara bertindak kita sebagai murid-murid
atau pengikut Yesus, karena mengandung konsekwensi berat yaitu ‘harus
menanggung banyak penderitaan’. Setia pada jati diri, panggilan, tugas
pengutusan dan kewajiban memang tak akan terlepas dari penderitaan dan
perjuangan, sehingga cukup banyak orang kurang atau tidak setia. Setia
pasangannya ialah jujur, setia dan jujur bagaikan mata uang bermuka dua, dapat
dibedakan dan tak dapat dipisahkan. Pertama-tama marilah kita jujur terhadap
‘jati diri’ kita masing-masing dimanapun dan kapanpun, tanpa takut dan was-was
mengakui ‘jati diri’ dihadapan umum. Sekiranya dengan kejujuran jati diri ini
harus menghadapi atau mengalami tantangan, ejekan, sindiran dst.., jadikanlah
semuanya itu sebagai bantuan atau dukungan agar kita konsekwen pada jati diri
kita dan dengan demikian hidup dan bertindak sesuai dengan jati diri kita
masing-masing. Tumbuh berkembang dalam jati diri alias panggilan dan tugas
pengutusan memang harus berani menghadapi dan mengolah aneka macam tantangan,
hambatan, ejekan, sindiran, dst.. Penderitaan dan perjuangan merupakan wahana
pemurnian jati diri, bagaikan emas dibakar untuk memperoleh emas murni.

· “Sedikit waktu
lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat; Aku akan
menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala
bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan,
firman TUHAN semesta alam. Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas,
demikianlah firman TUHAN semesta alam” (Hag 2:7-9). Gempa bumi berkekuatan
cukup besar pada awal bulan September menggoncang pulau Jawa: bangunan yang tak
kuat roboh, rata dengan tanah, sedangkan bangunan yang kuat tetap berdiri
kokoh. Aneka masalah, perubahan dan perkembangan menggoncang kehidupan bersama,
sebagaimana krisis moneter yang menggoncang dunia tahun lalu. Dalam krisis
moneter mereka yang gila akan uang memang sungguh tergoncang, sedangkan mereka
yang hidup sederhana dan tidak gila uang tak terasa apa-apa. Kita telah mendengarkan melaui pengajaran
atau kotbah: firman atau sabda Tuhan, yang diharapkan menjadi pedoman, pegangan
dan kekuatan kita dalam menghadapi gelombang kehidupan yang tiada henti. Adakah
kata-kata atau ayat yang mengesan bagi anda dalam rangka mendengarkan
pengajaran atau kotbah? Jadikanlah kata-kata atau ayat yang mengesan tersebut
sebagai pedoman, pegangan dan kekuatan hidup anda, sebagaimana dipakai oleh
para gembala kita, para uskup, dengan mottonya. Saya pribadi merasa diteguhkan
oleh ayat atau kata-kata ini: “Di dalam Dia
kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan
oleh iman kita kepada-Nya.” (Ef
3:12). Ayat-ayat ini, dengan rendah hati dan dari kelemahan dan kerapuhan saya pribadi, saya coba hayati antara lain dengan berusaha
hidup dan bekerja sesuai dengan kehendak Tuhan alias berusaha taat dan setia
pada aneka tatanan dan aturan yang
terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan. Hidup dan
bertindak dalam Tuhan tiada ketakutan dan kecemasan sedikitpun.



Berilah keadilan kepadaku, ya Allah,
dan perjuangkanlah perkaraku terhadap kaum yang tidak saleh! Luputkanlah aku
dari orang penipu dan orang curang! Sebab Engkaulah Allah tempat pengungsianku.
Mengapa Engkau membuang aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan
musuh? Suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun dan
dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu! Maka aku dapat pergi
ke mezbah Allah, menghadap Allah, yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku, dan
bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, ya Allahku!”
(Mzm 43:1-4)



Jakarta, 25 September 2009

“Ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus.”

(Hag 1:1-8; Luk 9:7-9)



Herodes, raja wilayah, mendengar segala
yang terjadi itu dan ia pun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan,
bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan,
bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula yang mengatakan, bahwa seorang
dari nabi-nabi dahulu telah bangkit. Tetapi Herodes berkata: "Yohanes
telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan

hal-hal demikian?" Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus

(Luk 9:7-9), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

· Seorang pemimpin di tingkat manapun dan di bidang
apapun yang gila akan kuasa, hormat duniawi dan harta benda atau uang pada umum
cemas ketika mendengar ada pesaing baru atau orang-orang baru yang berpengaruh
dalam kehidupan bersama muncul. Ia berusaha mencari tahu siapa gerangan orang
tersebut, jangan-jangan ia akan menggeser kedudukan atau jabatannya. Itulah kiranya yang dirasakan
oleh Herodes, yang kemudian ‘berusaha
supaya dapat bertemu dengan Yesus’. Keinginan untuk bertemu dengan Yesus
bukan karena tertarik untuk mengikutiNya, melainkan lebih muncul dari
kecemasannya jangan-jangan Yesus menggeser kedudukan dan pengaruhnya pada
rakyat. Pemimpin yang tidak berpihak pada rakyat yang dipimpinnya alias hanya
mencari keuntungan diri sendiri memang mudah cemas dan gelisah ketika muncul
ide-ide, gagasan-gagasan atau gerakan-gerakan pembaharuan yang muncul
dikalangan rakyatnya. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kepada
siapapun yang merasa menjadi atau berfungsi sebagai pemimpin untuk senantiasa
berpihak pada dan bersama dengan yang dipimpin. Untuk itu hendaknya pemimpin
senantiasa berusaha untuk bertemu secara pribadi dengan yang dipimpin, entah
secara formal atau informal, dengan mendatangi atau menyapa mereka. Hendaknya
meluangkan waktu dan tenaga sesaat untuk mendatangi atau mengunjungi mereka
yang dipimpin atau menjadi bawahan atau pembantunya. Beri salam singkat,
seperti selamat pagi, selamat siang dst.. , dan sekali waktu hendaknya
bercakap-cakap atau curhat dengan mereka yang dipimpin. Jika pemimpin sering
‘turba’ alias menyapa dan curhat dengan yang dipimpin kiranya tidak perlu ada
kecemasan sedikitpun. Hayatilah kepemimpinan partisipatif dengan melibatkan
mereka yang dipimpin, mendengarkan harapan, keluh kesah, dambaan mereka dst..

· "Apakah
sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan
baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?”(Hag 1:4), demikian
peringatan Tuhan melalui nabi Hagai kepada umatNya. Yang dimaksud dengan “Rumah” adalah bait Allah dan bagi kita
sekarang adalah tempat ibadat, entah kapel/gereja, masjid/langgar/ surau atau
tempat-tempat suci dan peziarahan. Kita diingatkan hendaknya memperhatikan
kenyamanan, keindahan, kebersiahan tempat ibadat sehingga menarik dan memikat
umat untuk datang dan berdoa di dalamnya. Maka marilah kita perhatikan tempat
ibadat kita bersama serta aneka macam sarana-prasarana pendukung ibadat, apakah
layak disebut sebagai ‘rumah Tuhan’. Memang bentuk bangunan tempat ibadat
hendaknya juga akrab dengan lingkungan sekitarnya: keindahan dan kebersihan
yang penting dan untuk itu berarti perlu perawatan yang memadai. Pada umumnya
tempat-tempat ibadat ketika baru selesai dibangun nampak bagus, menarik dan
memikat. Tempat ibadat akan tetap menarik dan memikat jika sungguh dirawat.
Maka dengan ini kami mengharapkan agar tempat-tempat ibadat dirawat sedemikian
rupa sehingga menarik dan memikat orang untuk dataing, dan ‘berusaha untuk bertemu dengan Tuhan’ dalam dan melalui ibadat bersama atau doa-doa pribadi.
Anak-anak hendaknya dibiasakan sedini mungkin perihal arti dan makna tempat
ibadat, sehingga pada suatu saat mereka
juga terlibat untuk merawat maupun beribadat dengan khidmat. Kepada rekan-rekan
yang tahu perihal seluk-beluk ibadat dan tempat ibadat, antara lain para imam
atau pastor kami harapkan untuk membina umat juga perihal cara beribadat maupun
tempat ibadat, tempat-tempat suci yang dipersembahkan kepada Tuhan. Kepada
semuanya kami harapkan hendaknya ketika memasuki tempat ibadat penuh hormat dan
keheningan, begitu pula selama di dalam tempat ibadat; hendaknya jangan omong-omong
atau rekreasi di tempat ibadat, tempat suci yang telah dipersembahkan kepada
Tuhan.



Haleluya! Nyanyikanlah bagi TUHAN
nyanyian baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh. Biarlah Israel
bersukacita atas Yang menjadikannya, biarlah bani Sion bersorak-sorak atas raja
mereka! Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tari-tarian, biarlah mereka
bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Sebab TUHAN berkenan kepada
umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan. Biarlah
orang-orang saleh beria-ria dalam kemuliaan, biarlah mereka bersorak-sorai di

atas tempat tidur mereka!”

(Mzm 149:1-5)


Jakarta, 24 September 2009

“Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang”

(Ezr 9:5-9; Luk 9:1-6)



Maka Yesus memanggil kedua belas
murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai
setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Dan Ia mengutus mereka
untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang, kata-Nya kepada
mereka: "Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat
atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju. Dan apabila kamu sudah
diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ.
Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan
kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka." Lalu
pergilah mereka dan mereka mengelilingi segala desa sambil memberitakan Injil

dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat.”

(Luk 9:1-6), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.




Berrefleksi
atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Padre Pio dari Pietrelcina hari ini
saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Padre Pio adalah seorang imam yang sakit-sakitan,
konon sakit paru-paru kronis, sehingga kurang dapat melayani umat secara
langsung. Namun apa yang terjadi pada dirinya, yaitu kelemahan dan kerapuhan
tubuhnya, menjadi masa berahmat: ia memiliki kesempatan lebih banyak untuk
berdoa. Mujizat pun terjadi: kesehatan semakin membaik dan ia memperoleh rahmat
‘stigmata Kristus’, suatu penglihatan untuk berpartiisipasi dalam penderitaan
dan wafat Yesus demi keselamatan seluruh dunia. Padre Pio kiranya dalam
kelemahan dan kerapuhannya melaksanakan perintah Yesus yang ‘mengutus untuk memberitakan Kerajaan Allah
dan untuk menyembuhkan orang”, ia mendirikan kelompok doa dan rumah sakit
yang cukup modern pada zamannya. Banyak orang tergerak untuk menggabungkan diri
dalam kelompok-kelompok doa yang didirikannya dan banyak orang sakit
disembuhkan melalui rumah sakitnya. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus
kita juga dipanggil ‘untuk memberitakan
Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang’, maka marilah kita hayati atau
laksanakan tugas panggilan ini sesuai dengan kesempatan dan kemungkinan kita
masing-masing. Dimana ada orang sakit, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal
budi atau sakit tubuh, berarti Allah kurang atau tidak merajai orang yang
bersangkutan atau lingkungan hidupnya. Marilah kita datangi atau kunjungi saudara-saudari
kita yang membutuhkan penyembuhan atau bantuan, marilah mengorbankan atau
mempersembahkan sebagian tenaga, waktu dan harta benda atau uang kita bagi
mereka yang miskin dan berkekurangan atau menderita sakit.

· “Dan
sekarang, baru saja kami alami kasih karunia dari pada TUHAN, Allah kami yang
meninggalkan pada kami orang-orang yang terluput, dan memberi kami tempat
menetap di tempat-Nya yang kudus, sehingga Allah kami membuat mata kami
bercahaya dan memberi kami sedikit kelegaan di dalam perbudakan kami”(Ezr 9:8). Kutipan ini kiranya baik menjadi
permenungan atau refleksi kita, sebagai umat beriman. “Allah membuat mata kami bercahaya dan memberi kami sedikit kelegaan di
dalam perbudakan”, kutipan inilah yang sebaiknya kita renungkan dan hayati.
Mungkin kita tidak berada dalam perbudakan yang sesungguhnya, tetapi karena
kita kerja keras dan penuh pengorbanan bagi kebahagiaan atau keselamatan orang
lain sering kita merasa lelah atau diperbudak. Dalam perasaan atau pengalaman
macam itu dan mungkin juga pengalaman merasa kurang diperhatikan atau ditinggal
orang lain, marilah kita hayati kasih karunia Tuhan yang tak pernah berhenti:
Tuhan senantiasa mendampingi dan menyertai perjalanan hidup kita dimanapun dan
kapanpun serta dalam kondisi dan situasi macam apapun. Tanda penyertaan dan
pendampingan Tuhan antara lain mata tetap segar dan bercahaya meskipun harus
bekerja keras penuh pengorbanan dan penderitaan. Sorot atau sinar mata memang
merupakan cermin kwalitas kepribadian seseorang: mengasihi atau membenci dapat
dilihat dalam sorot atau sinar matanya. Gerak-gerik mata, misalnya kerlingan
atau kedipan juga dapat menjadi bahasa kasih atau kejahatan, ajakan untuk
berbuat baik atau berbuat jahat. Marilah kita gunakan kerlingan dan kedipan
mata sebagai ajakan untuk berbuat baik kepada orang lain, sebagai ungkapan
kasih kepada saudara-saudari kita. Marilah kita sadari dan hayati bahwa Tuhan ‘memberi
kami tempat menetap di tempatNya yang kudus’, artinya tempat dimanapun dan
kapanpun kita berdiri, duduk atau berada adalah kudus, dan dengan demkian kita
sendiri diharapkan senantiasa dalam keadaan kudus adanya, mata bersinar memikat
dan mempesona.



"Terpujilah Allah yang hidup
selama-lamanya, dan kerajaan-Nyapun tetap untuk sekalian abad. Memang Ia
menyiksa tapi juga mengasihani, Ia menurunkan ke dunia orang mati, tetapi
menaikkan daripadanya juga; tiada seorangpun luput dari tangan-Nya… Wartakanlah
kebesaran-Nya di sana, agungkanlah
Dia di hadapan segala yang hidup. Sebab Dialah Tuhan kita dan Allah, Ia adalah
Bapa kita untuk selama-lamanya. Oleh karena kejahatan kita maka kita
disiksa-Nya, tetapi kita dikasihani-Nya lagi dan dikumpulkan- Nya dari antara sekalian

bangsa, di mana kamu terserak-serak.”

(Tb 13:2.4-5)




Jakarta, 23 September 2009

"IbuKu dan saudaraKu ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya”

(Ezr 6:7-8.12b.14- 20; Luk 8:19-21)



Ibu dan saudara-saudara Yesus datang
kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak.Orang
memberitahukan kepada-Nya: "Ibu-Mu dan saudara-saudara- Mu ada di luar dan
ingin bertemu dengan Engkau." Tetapi Ia menjawab
mereka: "Ibu-Ku dan saudara-saudara- Ku ialah mereka, yang mendengarkan

firman Allah dan melakukannya.”

(Luk 8:19-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 




Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

· “KKN” = Kolusi, Korupsi dan Nepostime, itulah ungkapan
atau kata-kata yang cukup mewarnai dalam aneka pembicaraan. Hemat saya kolusi
dan nepotisme tidak apa-apa alias baik-baik saja asal tidak korupsi. Kata
bahasa Latin ‘corruptio’ (1) secara aktif berarti hal merusak, hal membuat busuk, pembusukan,
penyuapan, (2) secara pasif berarti keadaan
dapat binasa, kebinasaan, kerusakan, kebusukan, kefanaan, korupsi, kemerosotan.
Sedangkan kata bahasa Latin ‘corruptor’
berarti perusak, pembusuk, penggoda,
pemerdaya, penyuap. Dari pengartian kata ‘corruptio’ di atas kiranya
dapat dipahami arti korupsi,yaitu kemerosotan
moral dengan merusak yang lain demi keuntungan diri sendiri. Dari sudut
pandang hukum, perbuatan korupsi mencakup unsur-unsur: melanggar hukum yang
berlaku, penyalahgunaan wewenang.merugikan Negara, memperkaya pribadi/diri
sendiri. "Ibu-Ku dan
saudara-saudara- Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan
melakukannya”, demikian tanggapan
Yesus atas informasi bahwa Ia dicari oleh saudara-saudari dan ibuNya.
Kunggulan hidup beriman atau beragama terletak dalam ‘mendengarkan firman Allah dan melakukannya’, alias dalam
pelaksanaan atau penghayatan aneka macam saran, ajaran nasihat, petuah, aturan
dan tuntunan hidup. Hidup dan bertindak jujur alias tidak korupsi hemat saya
merupakan hal yang mendesak untuk dihayati dan disebarluaskan dalam hidup dan
bekerja bersama pada masa kini, mengingat dan memperhatikan korupsi dalam
berbagai bentuk masih marak di sana-sini. Saya sangat prihatin mendengar dan
memperhatikan bahwa departemen yang terkait dengan pembinaan iman dan
kepribadian manusia di Indonesia, yaitu Departemen Agama dan Departemen
Pendidikan masih sarat dengan korupsi di berbagai tingkatan pelayanan. Dalam
Pendidikan misalnya masalah penyaluran BOS, Bantuan Operasional Sekolah, bagi
mereka yang miskin dan berkekurangan dipotong alias dikorupsi dengan alasan
beaya administrasi, dalam Agama kiranya entah di kalangan agama manapun juga
masih sarat dengan korupsi. Di paroki-paroki, lingkungan Gereja Katolik, juga
masih terjadi korupsi yang dilakukan oleh seksi-seksi tertentu. Marilah kita
berantas aneka macam bentuk korupsi dalam hidup dan kerja kita dimanapun dan
kapanpun.

· “Karena para
imam dan orang-orang Lewi bersama-sama mentahirkan diri, sehingga tahirlah
mereka sekalian. Demikianlah mereka menyembelih anak domba Paskah bagi semua
orang yang pulang dari pembuangan, dan bagi saudara-saudara mereka, yakni para
imam, dan bagi dirinya sendiri” (Ezr 6:20).
Para imam dan orang-orang Lewi untuk masa kini adalah para
imam/pastor dan bruder serta suster. Mereka telah mentahirkan atau menyucikan
diri, paling tidak secara liturgis, maka kami harapkan para imam/pastor, bruder
dan suster (juga para pendeta, kyai, biksu, dst...)dapat menjadi teladan
kesucian, orang-orang yang mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah melalui
cara hidup dan cara bertindak sehari-hari. Hari ini kita masih dalam suasana
perayaan Idul Fitri, dimana para anggota keluarga dan kenalan saling
bersalam-salaman, bersilaturahmi, saling memaafkan. Saudara-saudari kita, umat
Islam khususnya, kiranya menyadari dan menghayati diri sebagai yang telah
disucikan setelah selama sebulan berpuasa, berusaha mengendalikan diri
sedemikian rupa sehingga hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah atau
firman Allah. Bukankah peristiwa ini merupakan situasi yang kondusif dan bagus
bagi kita semua untuk saling memperteguh dan memperkuat penghayatan iman kita
masing-masing. Semoga apa yang terjadi dan dialami pada hari-hari ini dalam
rangka merayakan Idul Fitri dapat terus terjadi dan dihayati dalam hidup
sehari-hari, bukan dalam hal makan dan minum tetapi dalam hidup yang dijiwai
oleh persaudaraan atau persahabatan sejati. ‘Hari Kemenangan atas setan atau
kejahatan’ yang dirayakan hendaknya terus terjadi dalam hari-hari berikutnya.
Marilah kita perangi bersama setan dan kejahatan yang masih terjadi dan
menggema di sana-sini.



Aku bersukacita, ketika dikatakan orang
kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." Sekarang kaki kami
berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem. Hai Yerusalem, yang telah didirikan
sebagai kota yang bersambung rapat, ke mana suku-suku berziarah, yakni
suku-suku TUHAN, untuk bersyukur kepada nama TUHAN sesuai dengan peraturan bagi
Israel.Sebab di sanalah ditaruh kursi-kursi pengadilan, kursi-kursi milik
keluarga raja Daud
” (Mzm 122:1-5)

Jakarta, 22 September 2009

"Mengapa gurumu makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?"

(Ef 4:1-7.11-13; Mat 9:9-13)



Setelah Yesus pergi dari situ, Ia
melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata
kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.
Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai
dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid- Nya. Pada
waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus:
"Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang
berdosa?" Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang
memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman
ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku

datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

(Mat 9:9-13), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 




Berrefleksi
atas bacaan-bacaan dalam rangka
mengenangkan pesta St.Matius, rasul dan penggarang Injil, .hari ini saya
sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Orang-orang yang bersikap mental Farisi pada umumnya
orientasi pergaulan hanya terarah pada mereka yang akan menguntungkan dirinya
atau mereka yang dianggap baik dan terhormat di dunia ini. Mereka kurang
perhatian terhadap mereka yang kurang terpandang dan terhormat di dunia ini,
misalnya para pembantu rumah tangga atau sekolah/tempat kerja , buruh, pesuruh,
satpam, dst.. Mereka yang bersikap mental Farisi pada umumnya juga tidak bersedia
makan bersama dengan yang kurang/tidak terpandang atau terhormat di dunia ini,
dan juga tidak bersedia makan di warung-warung sederhana di pinggir jalan atau
pasar, dst.. Bahkan orang bersikap
mental Farisi juga mudah berkomentar seperti orang-orang Farisi mengomentari
Yesus: “Mengapa gurumu makan bersama-sama
dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”. Menanggapi komentar macam itu
Yesus menjawab: “Yang Kukehendaki ialah
belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil
orang benar, melainkan orang berdosa”. Sebagai orang beriman kita dipanggil
untuk meneladan Yesus yang rendah hati, “makan
bersama-sama dengan para pendosa”. Hal ini kiranya secara konkret dapat
kita hayati dengan memperhatikan mereka yang dipandang hina atau rendah di
dunia ini antara lain para pembantu, pesuruh atau satpam. Perhatian tersebut
antara lain dapat diwujudkan dengan sering curhat dengan mereka, menyapa dan
mengunjungi mereka dalam kasih, dan syukur makan dan minum bersama mereka
sambil curhat. Jika kita kurang atau tidak memperhatikan mereka yang dipandang
hina dan rendah atau tidak dapat curhat dan bersama mereka, maka kebersamaan
hidup dan kerja bersama dengan rekan-rekan hemat saya masih dijiwai oleh sikap
mental Farisi. Kami mendambakan kepada para pimpinan unit kerja di manapun
untuk sering ‘turba’, turun ke bawah untuk memperhatikan dan menyapa para
pekerja kasar atau pembantu, dst..

· “Aku
menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu
sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan
itu.Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah
kasihmu dalam hal saling membantu.Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh
ikatan damai sejahter
a”(Ef 4:1-3) Kutipan
ini bagus untuk kita renungkan dan hayati dalam hidup kita sehari-hari,
terutama ajakan “Hendaklah kamu selalu
rendah hati, lemah lembut, dan sabar”. “Rendah
hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan
diri, yaiiu dengan menenggang perasaan
orang lain. Meskipun pada kenyataannya
lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan
diri” (Prof Dr.Edi Sedyawati/edit; Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur,
Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Jika orang dapat menghayati keutamaan
rendah hati ini dengan baik, hemat saya keutamaan lemah lembut dan sabar secara
inklusif telah dihayati juga. Menghayati keutamaan rendah hati dapat kita
laksanakan dengan berusaha menjadi sama dengan sesama dan saudara-saudari kita,
terutama mereka yang dipandang rendah dan hina di dunia ini. Untuk itu
hendaknya tidak menghadirkan diri dihadapan mereka sedemikian rupa sehingga
merangsang pikiran jahat, misalnya dengan pamer pakaian yang mahal, aneka
asessori mahal, dst, melainkan menghadirkan diri dalam dan dengan kesederhaan
baik dalam tutur kata, gaya hidup, gaya berpakaian, dst.. Alangkah indahnya
juga jika kita dapat membantu tugas pekerjaan para pembantu, yang berarti
bekerjasama dengan mereka. “Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu”, demikian
nasihat Paulus, marilah saling membantu ini kita hayati dengan membantu mereka
yang senantiasa membantu kita yaitu para pembantu rumah tangga atau
kantor/tempat kerja.



Langit menceritakan kemuliaan Allah,
dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu
kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada
berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka
terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia
memasang kemah di langit untuk matahari

(Mzm 19:2-5)

”SELAMAT IDUL FITRI, 1 Syawal 1430 H,
mohon maaf lahir batin”



Jakarta, 21 September 2009

Mg Biasa XXV : Keb 2:12.17-20; Yak 3:16-4:3; Mrk 9:30-37

"Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia
menyambut Aku”



Kelahiran atau kedatangan seorang
anak pada umumnya merubah suasana lingkungan hidup, dan peran anak kiranya juga
cukup dominan dalam merubah atau mempengaruhi cara hidup dan cara bertindak
orang dewasa atau orangtuanya. Sekelompok orangtua atau orang dewasa yang
sedang asyik dan ramai omong-omong, ngobrol sana-sini dan pada umumnya diwarnai
bau porno, ketika ada anak kecil datang maka mereka spontan merubah isi omongan
atau obrolan. Anak-anak TK akan merubah perilaku guru-gurunya lebih daripada
anak-anak/siswa- siswi SMA terhadap guru-gurunya. Para
guru TK mau tidak mau harus memaksakan diri untuk hadir sedemikian rupa di
hadapan anak-anak atau peserta didiknya agar diterima oleh anak-anak. Mereka
harus rendah hati, lemah lembut, sabar, ramah, ceria terhadap anak-anak. Kehadiran atau kelahiran anak pertama di
dalam keluarga akan merubah cara hidup ayah dan ibunya, terutama sang ibu. Menyambut kehadiran seorang anak memang butuh
kerendahan hati, dimana orang harus melepaskan aneka atribut atau ‘jati diri’
untuk menyamakan diri pada anak, dengan kata lain berusaha menjadi sama dengan
anak.



Yesus
mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka,
kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka: "Barangsiapa
menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan
barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus
Aku
."(Mrk 9:36-37)



Ketika Yesus mengatakan kepada
para murid bahwa Ia akan menderita dan wafat alias meninggalkan mereka, maka
timbullah pikiran dalam diri mereka “Siapa yang akan mengganti Yesus untuk
memimpin kita alias siapa yang terbesar di antara kita”. Menanggapi pikiran
mereka itu Yesus mengambil dan menempatkan seorang anak kecil ke tengah-tengah
mereka serta memeluknya serta mengingatkan mereka bersikap seperti sedang “menyambut seorang anak kecil”. Anak kecil sedikit banyak hampir sama dengan
‘binatang’, dimana jika didekati dalam dan diperlakukan dengan cintakasih pasti
akan takluk dan bersahabat. Maka marilah dalam cara hidup dan cara bertindak
kita dimanapun dan kapanpun senantiasa dijiwai oleh cintakasih.



Semua ciptaan di dunia ini ada
dan diciptakan dalam dan oleh kasih Allah. Setiap manusia, setiap dari kita
diciptakan dalam dan oleh kasih Allah yang bekerjasama dengan atau dengan
partisipasi orangtua atau bapak-ibu kita masing-masing yang saling mengasihi
satu sama lain dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap
kekuatan/tubuh, yang antara lain memuncak dalam hubungan seksual. Para
bapak-ibu atau suami-isteri kiranya dapat membagikan pengalamannya bagaimana
saling menyambut dalam rangka memadu kasih atau hubungan seksual, kiranya
masing-masing menyikapi pasangannya sebagai anugerah Allah, kado dari Allah,
sehingga saling memuji, menghormati, membahagiakan, dst.. Suami dan isteri
saling memeluk dalam kasih dan kehangatan yang mesra. Kita semua dipanggil untuk
bersikap seperti ibu yang sedang memeluk anaknya, yang sering disertai dengan
pujian mesra pada anaknya.



Mungkin baik kita juga
berrefleksi perihal kata ‘menyambut”. Orang
yang akan ‘menyambut seseorang’ atau ‘memberi sambutan’ pada umumnya tampil sedemikian
rupa sehingga menarik dan memikat bagi orang lain, yang disambut. Kata-kata
awal yang muncul antara lain: Selamat datang, Yang terhormat dan yang terkasih,
dst.. Hari-hari ini saudara-saudari kita mungkin juga sedang dalam ‘saling
menyambut’ dengan saudara, sahabat dan kenalan dalam rangka mudik, merayakan
Idul Fitri, hari-hari yang ditandai oleh persaudaraan dan persahabatan sejati.
Semoga pengalaman-pengalam an dalam saling menyambut ini terus menjiwai cara
hidup dan cara bertindak kita, dimana tidak ada satu orangpun yang
berpikir-pikir siapa yang terbesar di antara kita, tetapi semuanya berpikir
bahwa kita sama-sama saudara: berdiri sama tinggi, duduk sama rendah.



Di
mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala
macam perbuatan jahat.Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni,
selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang
baik, tidak memihak dan tidak munafik
”(Yak 3:16-17).

Kutipan di atas ini hemat saya
bagus untuk kita renungkan bersama. Di mana terjadi kekacauan hidup dan kerja
bersama serta segala macam perbuatan jahat berarti ada orang diri hati dan
mementingkan diri sendiri di dalamnya, entah itu di dalam keluarga, tempat
kerja/kantor atau masyarakat umum. Pertama-tama dan terutama hemat saya perlu
direfleksikan hidup bersama yang paling dasar, yaitu keluarga atau komunitas
(biara, pastoran atau tempat kerja sehari-hari) . Apakah terjadi kekacauan atau
kejahatan di dalam hidup bersama yang paling dasar ini? Apakah saya pribadi iri
hati atau mementingkan diri sendiri, sehingga saya sebenarnya yang menjadi
sumber kekacauan? Apakah saya memihak dan munafik?



Kita semua dipanggil untuk
menjadi ‘pendamai, peramah, penurut,
penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik’.

·
Pendamai pada umumnya bersikap
konstruktif, yaitu “sikap dan perilaku
yang bersifat membina dan membangun ke arah tujuan-tujuan yang positif” (Prof
Dr. Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai
Pustaka-Jakarta 1997, hal 13). Sikap dan perilaku ini pertama-tama dan terutama
diwujudkan dalam hubungannya dengan diri sendiri.

·
Peramah berarti menghayati keutamaan
ramah tamah, yaitu “sikap dan perilaku
dengan budi bahasa yang baik, tutur kata dan sikap manis. Ini diwujudkan dalam
perilaku yang menyenangkan, menenangkan, serta membuka pintu kepada orang
lain. Perilaku ini diwujudkan dalam
hubungannya dengan diri sendiri dan keluarga” (ibid hal 23). Budi bahasa memang mencerminkan
kwalitas kepribadian seseorang, maka baiklah hal ini dibiasakan atau dibinakan
sedini mungkin pada anak-anak di dalam keluarga dan tentu saja diiringi teladan
orangtua/bapak- ibu.

·
Apa yang dimaksudkan dengan penurut kiranya bukan
berarti menuruti atau mengikuti apa atau siapa saja, entah keinginan, nafsu,
kehendak diri sendiri atau orang lain, tetapi diharapkan menuruti atau
mengikuti apa yang baik dan menyelamatkan atau membahagiakan. Di dalam hidup
bersama ada tatanan atau aturan hidup, entah tertulis atau lisan sebagai
tradisi, dan pada umumnya aturan atau tatanan tersebut bertujuan baik, ke arah
tujuan yang positif. Maka marilah kita taati dan laksanakan sepenuhnya aneka
aturan dan tatanan hidup yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas
pengutusan kita masing-masing.

·
Penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik
hemat saya merupakan dampak atau hasil dari penghayatan- penghayatan
keutamaan-keutamaan di atas. Apa yang disebut baik senantiasa berlaku secara
universal atau umum, dimana saja dan kapan saja. Belas kasihan merupakan unsur
dari rasa kasih sayang. “Rasa kasih sayang adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kepekaan, kepedulian,
dan belas kasihan kepada orang lain atau makhluk yang tidak berdaya dan perlu
dibantu”

Marilah keutamaan-keutamaan di
atas kita hayati bersama dan sebarluaskan. Sekali lagi kami ingatkan semoga
penghayatan keutamaan-keutamaan tersebut terjadi dalam hidup bersama yang
paling dasar, dimana kita hidup sehari-hari, entah keluarga atau komunitas dan
tempat kerja.



Ya Allah, selamatkanlah aku karena nama-Mu, berilah keadilan kepadaku
karena keperkasaan- Mu! Ya Allah, dengarkanlah doaku, berilah telinga kepada
ucapan mulutku! Sebab orang-orang yang angkuh bangkit menyerang aku,
orang-orang yang sombong ingin mencabut nyawaku; mereka tidak mempedulikan
Allah. Sesungguhnya, Allah adalah penolongku; Tuhanlah yang menopang aku.


(Mzm 54:3-6)

Jakarta,
20 September 2009

“SELAMAT IDUL FITRI, 1 SYAWAL 1430 H, MAAF LAHIR DAN BATIN”

“Benih itu ialah firman Allah”

(1Tim 6:13-16;Luk 8:4-15)



“Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah
firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah
mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam
hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah
yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu,
menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya
sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak
duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan
selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup,
sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.Yang jatuh di tanah yang
baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam
hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.
"( Luk 8:11-15),
demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

· Dalam perjalanan hidup kita sampai saat ini kiranya
kita telah menerima begitu banyak ‘firman Allah’ melalui orang-orang yang telah
dan sedang mengasihi kita, misalnya orangtua, guru/pendidik,
pembimbing/pendampi ng , sahabat, kenalan, rekan bermain maupun bekerja. “Firman
Allah” tersebut antara berupa ajaran, nasihat, saran, kritik, tegoran dst..
yang tidak lain merupakan bentuk kasih mereka kepada kita agar kita tumbuh
berkembang menjadi pribadi baik, cerdas beriman. Pertanyaan bagi kita
masing-masing: apakah aku merupakan ‘tanah berbatu-batu, tanah penuh semak duri
atau tanah baik dan subur’? Kita semua diharapkan menjadi ‘tanah baik dan
subur’ sehingga ketika ditaburi benih, yaitu ‘firman Allah’, benih itupun tumbuh
berkembang menjadi pohon dan menghasilkan buah-buah yang menyelamatkan dan
membahagiakan. Maka sekiranya kita belum menjadi ‘tanah baik dan subur’,
marilah kita berusaha menyuburkan dan memperbaikinya, antara lain dengan
menyingkirkan ‘batu-batu atau semak duri’, yaitu hati yang keras, jiwa yang
tertutup, egois, malas, suka menyalahkan atau melecehkan yang lain dst.. Ketika
kita menerima benih, yaitu ‘firman Allah’ hendaknya benih tersebut diberi
kesempatan untuk tumbuh berkembang, antara lain dengan merawat dan memberi
pupuk. Apa yang kami maksudkan merawat dan memberi pupuk tidak lain adalah
perbuatan-perbuatan baik. Semua perbuatan baik sekecil apapun merupakan wujud
perawatan dan pemupukan. Setiap hari, setiap saya bagi kita ada kesempatan
untuk berbuat baik bagi sesama dan lingkungan hidup kita. Pada hari-hari ini
kiranya cukup banyak saudara-saudari kita yang sedang dalam perjalanan mudik
dalam rangka merayakan Idul Fitri: ada kemungkinan seluruh anggota keluarga
berada dalam satu mobil dan kena kemacetan lalu lintas berjam-jam. Nah, dalam
kemacetan dan kebersamaan tersebut kiranya anda dapat berbuat baik kepada
saudara-saudari anda, entah dalam satu keluarga atau rekan seperjalanan.

· “Di hadapan
Allah yang memberikan hidup kepada segala sesuatu dan di hadapan Kristus Yesus
yang telah mengikrarkan ikrar yang benar itu juga di muka Pontius Pilatus,
kuserukan kepadamu: Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak
bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya” (1Tim 3:13-14), demikian peringatan Paulus kepada
Timotius dan kita semua orang beriman. Perintah apa yang harus kita turuti? “Bertandinglah dalam pertandingan iman yang
benar dan rebutlah hidup yang kekal “(1Tim 6:12) , inilah perintah yang harus kita laksanakan. Untuk
memenangkan pertandingan ini kiranya kita harus bekerjasama. Lahan untuk
pertandingan iman yang benar dan perebutan hidup yang kekal ini tidak lain
adalah keluarga, tempat kerja/kantor, masyarakat atau jalan. Entah apapun yang
kita kerjakan atau lakukan hendaknya membuat kita semakin beriman, semakin
mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Di tempat dimana kita berada atau
bekerja kiranya ada aturan atau tatanan hidup yang diberlakukan, maka taati dan
laksanakan aturan atau tatanan hidup tersebut ‘dengan tidak bercacat dan tidak bercela’. Mungkin baik dalam masa
mudik yang ditandai ramainya orang di perjalanan, kami mengajak dan
mengingatkan siapapun yang sedang dalam perjalanan untuk mentaati aneka aturan
dan rambu-rambu lalu lintas ‘dengan tidak
bercacat dan tidak bercela’. Cara hidup dan cara bertindak anda di jalanan
merupakan cermin cara hidup dan cara bertindak bangsa secara umum. Kepada
rekan-rekan umat Islam yang sebentar lagi akan menyelesaikan masa penyucian
diri/puasa, kami harapkan apa yang ada temukan dan hayati selama masa penyucian
diri tersebut terus diabadikan alias dihayati terus menerus di dalam hidup
sehari-hari.



Beribadahlah kepada TUHAN dengan
sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa
TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan
kawanan domba gembalaan-Nya. Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian
syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan
pujilah nama-Nya! Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya,
dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun”

(Mzm 100:2-5)



Jakarta, 19 September 2009

Kamis, September 17, 2009

“Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka”

(1Tim 6:2c-12; Luk 8:1-3)



“Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan
berkeliling dari kota ke kota dan dari
desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama
dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari
roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang
telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes,
Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan
itu dengan kekayaan mereka.”(Luk
8:1-3), demikian kutipan Warta Gembira hari ini



Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

· ”Konco wingking” (=teman yang berada di belakang), demikian atribut yang sering dikenakan orang Jawa,
suami terhadap isterinya. Di pedesaan pada umumnya ketika berjalan sang isteri
atau perempuan berada di belakang sang suami/laki-laki, demikian juga di dalam
pesta-pesta para ibu/perempuan di belakang/dapur dan para bapak di pendopo
utama/tempat perjamuan pesta. Dengan kata lain kaum perempuan dipandang sebagai
kelas dua atau nomor dua, berada di balik/belakang laki-laki dan fungsinya
melayani. Dari berbagai peristiwa atau usaha mereka yang berada di belakang
atau tercatat nomor dua ini sering cukup menentukan. Sebagai contoh konon Ibu
Tien Suharto cukup menentukan dan berpengaruh pada kebijakan kepemimpinan Bapak Suharto, presiden Indonesia yang cukup lama berkuasa. Di dalam keluarga-keluarga
pun peran ibu atau isteri juga sering lebih berpengaruh dalam kehidupan
berkeluarga dan juga pada suaminya. Pelayan atau pembantu dalam hidup biasa
mungkin tidak masuk hitungan, tetapi di masa liburan Idul Fitri saat ini
kiranya baru terasa peran dan fungsi pembantu di dalam keluarga atau kehidupan
bersama. Di tinggal cuti pembantu lingkungan hidup bersama atau rumah tangga
kurang terawat dan mungkin amburadul. Di dalam hidup berkeluarga juga jika
suami meninggal dunia pada umumnya isteri masih sanggup merawat dan mengurus
anak-anaknya, sedangkan ketika sang isteri meninggal dunia maka sang suami bisa
bingung dalam merawat dan mengurus anak-anaknya; dengan kata lain menjanda
nampaknya lebih tahan daripada menduda. Memang yang nampak lemah dan rapuh di
dunia ini pada umumnya akan berarti dan fungsional dalam suasana yang kurang
aman atau dalam bahaya, maka dengan ini kami berharap kepada kita semua untuk
lebih memperhatikan mereka yang dipandang rendah di dunia ini, entah rekan
perempuan, para pembantu rumah tangga, satpam, pengemudi, dst..

· “Asal ada
makanan dan pakaian, cukuplah.Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam
pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang
mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan
kebinasaan.Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu
uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan
berbagai-bagai duka”(1Tim 6:8-10).
Sapaan atau peringatan Paulus kepada Timoteus ini kiranya baik menjadi
permenungan atau refleksi kita. Kita dipesan atau diingatkan untuk hidup
sederhana, “asal ada makanan dan pakaian,
cukuplah”. Uang pada dasarnya netral, dapat menjadi jalan ke sorga,
membantu tumbuh berkembang menjadi orang baik dan berbudi pekerti luhur, tetapi
juga dapat menjadi jalan ke neraka, mendorong orang untuk berbuat jahat atau
berdosa. Tempat pelacuran dan judi hemat saya merupakan contoh dimana uang
mendorong orang untuk berdosa Mereka yang suka ke pelacuran atau berjudi
pasti tidak dapat mengatur atau mengurus uang dengan baik. Marilah kita jadikan
uang menjadi jalan ke sorga, untuk membantu kita tumbuh berkembang menjadi
pribadi cerdas beriman, yang semakin dikasihi oleh Tuhan maupun saudara-saudari
kita. Untuk itu antara lain dapat diwujudkan dengan mengalokasikan dana atau
anggaran yang memadai untuk pendidikan atau pembinaan manusia. Di dalam
keluarga anggaran beaya untuk pendidikan anak-anak hendaknya yang utama, dan
sekiranya harus mencari pinjaman hendaknya demi pendidikan anak-anak. Di dalam
pemerintahan kami mendambakan anggaran untuk pendidikan sungguh memadai. Dalam
UU Negara kita dikatakan anggaran pendidikan minimal 20% dan mungkin sekarang
sudah dijalankan, tetapi anggaran tersebut termasuk gaji guru dan dalam
kenyataan mayoritas anggaran digunakan untuk gaji, sedangkan anggaran untuk
proses pembelajaran bersama dengan sarana-prasarana pendukungnya kurang
memadai. Mengharapkan keputusan politis yang benar mungkin masih lama
pelaksanaannya, maka kami berharap para
pengurus atau pengelola yayayan pendidikan untuk mulai, tidak ada kata
terlambat jika belum, mengalokasikan dana yang memadai untuk proses
pembelajaran bersama aneka macam sarana-prarasana pendukungnya.



“Mengapa aku takut pada hari-hari celaka
pada waktu aku dikepung oleh kejahatan pengejar-pengejarku , mereka yang percaya
akan harta bendanya, dan memegahkan diri dengan banyaknya kekayaan mereka?
Tidak seorang pun dapat membebaskan dirinya, atau memberikan tebusan kepada
Allah ganti nyawanya, karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya, dan tidak
memadai untuk selama-lamanya” (Mzm
49:6-9)



Jakarta, 18 September 2009

Rabu, September 16, 2009

“Imanmu menyelamatkan engkau”

(1Tim 4:12-16;Luk 7:36-50)

Seorang Farisi mengundang Yesus untuk
datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk
makan. Di kota itu ada
seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu
mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia
membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi
berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan
air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan
meminyakinya dengan minyak wangi itu. Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus
melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: "Jika Ia ini nabi,
tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu
Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa."……Lalu Ia berkata
kepada perempuan itu: "Dosamu telah diampuni." Dan mereka, yang duduk
makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: "Siapakah Ia ini,
sehingga Ia dapat mengampuni dosa?" Tetapi Yesus berkata kepada perempuan

itu: "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!"

(Luk 7:36-39.48-50) , demikian kutipan Warta Gembira hari ini




Berrefleksi
atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Robertus Bellarmino, imam dan
pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

· “Roberto
dilahirkan di Italia pada tahun 1542. Ketika masih kanak-kanak, ia tidak
tertarik untuk bermain. Ia lebih suka menghabiskan waktunya mengulangi
khotbah-khotbah yang ia dengar kepada adik-adiknya. Ia juga suka menjelaskan
pelajaran-pelajaran katekese kepada anak-anak petani di lingkungan sekitarnya” (dari:
www.yesaya.indocell .net).
Pengalaman masa kanak-kanak Roberto inilah yang menjadi dasar kuat, yang
kemudian berkembang dalam diri imam Roberto Bellarmino menjadi pujangga Gereja,
pengkotbah ulung dan kotbah-kotbahnya senantiasa menarik dan memikat para
pendengarnya, sehingga mereka bertobat dan semakin beriman. Apa yang dilakukan
oleh Roberto nampaknya sesuai dengan Formula
Institusi SJ, yang antara lain dikatakan bagi para penngikut St.Ignatius
Loyola hendaknya “mengajar agama
kristiani kepada anak-anak dan orang-orang sederhana” (Formula Institusi SJ
no 1): ia telah melakukan ajakan Ignatius Loyola ketika masih kanak-kanak,
sebelum menjadi anggota Serikat Yesus. Maka dengan ini kami mengingatkan dan
mengajak anak-anak, dan tentu saja dengan dukungan dan bantuan orangtua, untuk
meneladan Roberto: hendaknya berpartisipasi dalam ibadat atau Perayaan Ekaristi
hari Minggu dan sungguh mendengarkan kotbah yang disampaikan dalam ibadat
tersebut. Apa yang telah didengarkan kemudian diceriterakan kembali kepada
adik-adiknya atau teman-teman, entah di sekolah atau masyarakat. Para orangtua atau bapak-ibu kami harapkan sungguh
mendorong dan mendampingi anak-anak dengan berpegang teguh pada sabda Yesus :”Imanmu telah menyelamatkan engkau”.

· “Jangan seorang
pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi
orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu,
dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.. Sementara itu, sampai aku datang
bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar”(1Tim
4:12-13). “Bertekunlah
dalam membaca Kitab-kitab Suci”, nasehat inilah kiranya yang baik kita
renungkan dan hayati atau laksanakan. Kebetulan kita juga masih berada di bulan
Kitab Suci, maka marilah kita bertekun membaca Kitab Suci, tulisan yang ditulis
atas ihlam Allah yang berguna untuk mendidik dan membimbing kita agar kita
semakin beriman. Baiklah jika di dalam keluarga kegiatan pembacaan Kitab Suci
ini dapat diselenggarakan setiap hari dan bersama-sama. Bacakan perikop sesuai
dengan Kalendarium Liturgi, yang juga saya kutipkan setiap hari: satu orang
membacakan dan yang lain mendengarkan. Dengan rendah hati saya juga tidak
berkeberatan jika tulisan-tulisan sederhana yang saya buat setiap hari
dibacakan di dalam keluarga. Kitab Suci pertama-tama dan terutama untuk
dibacakan dan didengarkan, bukan untuk dipelajari, apalagi menjadi bahan
polemik.. Iman antara lain tumbuh dan berkembang karena pendengaran, maka bagi
yang mendengarkan kami harapkan sungguh mendengarkan, dan kemudian
meresapkannya ke dalam hati sanubari. Kita juga dipanggil untuk menjadi teladan
dalam hal tingkah laku, kasih, kesetiaan dan kesucian. Semoga pembacaan kitab
suci dapat membantu menghayati dan memperteguh tugas panggilan ini. Kepada para
katekis atau guru agama kami berharap memberi perhatian yang memadai pada
anak-anak dalam hal pembacaan kitab suci ini.



Perbuatan
tangan-Nya ialah kebenaran dan keadilan, segala titah-Nya teguh,kokoh untuk
seterusnya dan selamanya, dilakukan dalam kebenaran dan kejujuran. Dikirim-Nya
kebebasan kepada umat-Nya, diperintahkan- Nya supaya perjanjian-Nya itu untuk
selama-lamanya; nama-Nya kudus dan dahsyat. Permulaan hikmat adalah takut akan
TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian
kepada-Nya tetap untuk selamanya
.”(Mzm 111:7-10)



Jakarta, 17 September 2009

Selasa, September 15, 2009

I am sorry!

Ini cerita di suatu supermarket diluar negeri. Disana barang2 yang telah dibeli tidak dimasukkan dalam tas2 plastik, tetapi dalam kantong2 kertas (paperbags).

Suatu ketika, persis dibelokan jalur tempat barang2, terjadi tabrakan kecil, antara seorang pria barat dan seorang gadis asia...."braaak" ... dan bertebaranlah isi kantong kertas sang wanita...

Kedua orang itu langsung jongkok dan mengumpulkan barang2 yang berserakan.. ...
Karena merasa bersalah, si wanita meminta maaf, terdengar dialog sbb:

Wanita asia : I am sorry....
Pria barat : I am sorry too
W.a. : ooohhh...... .I am sorry three
P.b. : what are you sorry for?
W.a. : hemmm.....I am sorry five
P.b. : are you sick?
W.a.: well . . . . .I am sorry seven...

Pria barat itu cepat2 berlalu dengan wajah keheranan... ....

Terdampar!

Ada dua orang yg terdampar di sebuah pulau, mereka berduapun ingin cepat segera menemukan makanan di pulau tersebut, karena mereka berdua sudah berhari-2 tidak makan. tanpa di sadari ternyata pulau tersebut didiami suku asli penghuni pulau tersebut yg sangat tidak bersahabat, salah satu dari mereka di tangkap suku asli dan di bawa ke ke kepala sukunya,

"##@$$%%^%#% " kata kepala suku,
pemuda itu pun bingung ngomong apa sich nich kepala suku,

sang pemuda berkata" saya tidak mengerti bahasa anda",

eh ternyata dari salah satu penduduk mengerti bahasa pemuda tersebut dan mengartikannya ke kepala suku, dan kepala suku tersebut berkata kepada si penterjemah,

"Anda telah masuk di desa kami dan harus di hukum karena telah mengambil buah yg ada di desa ini" kata penerjemah

Sambil melihat buah nanas yg ada di tangannya pemuda itu ketakutan, dan berkata

"mohon jgn hukum saya, saya memang salah tapi jgn hukum saya",
dan ucapan pemuda langsung di terjemahkan, dengan cepat sang kepala suku tersebut membalas ucapan sang pemuda,

"TIDAK..., anda sudah tanpa izin mengambil buah pulau ini sekarang terimalah hukuman ini" sambil memerintah kepala suku menyuruh prajuritnya memarut punggungnya dengan nanas itu.

lalu dibukalah baju sang pemuda dan eksekusi hukuman di jalankan.

pada parutan pertama, darah mengucur karena gesekan kulit nanas yg tajam di punggungya., dan pemuda berteriak

"Aaaaaaaaaaaahhhgg sakittt,"

pada parutan kedua pemuda berteriak lagi

"Aaarrggghhh. ..sakittt. .."

Pada parutan ketiga dia malah tertawa...

"hahaha....'

lho kok malah tertawa, di pikiran sang penonton,

lalu di parut lagi yg keempat,

"hahahaha... .." tambah keras tawanya sang pemuda

llho kok malah tertawa ternyata setelah di teliti, Pemuda tersebut melihat temannya yg sedang ditangkap dan membawa buah DURIAN...

“Hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya”

(1Tim 3:14-16;Luk 7:31-35)

 

 

 

Kata Yesus: "Dengan apakah akan

Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini dan dengan apakah mereka itu sama?

Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan:

Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung

duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak

makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan.

Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah,

Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.

Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.”

(Luk 7:31-35), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

 

 

Berrefleksi

atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Kornelius/ paus dan

St.Siprianus/ uskup, martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana

sebagai berikut:

 

·   Entah berapa kali dan apa saja nasihat, saran,

petunjuk, arahan, ajaran, dst.. yang telah kita terima sampai kini, kiranya

tidak ada seorangpun yang mampu atau sempat menghitung. Semuanya itu merupakan

‘hikmat’ yang sungguh berguna bagi hidup dan kerja kita agar kita berbahagia,

selamat dan damai sejahtera lahir maupun batin, phisik maupun spiritual. “Hikmat dibenarkan oleh semua orang yang

menerimanya” demikian sabda Yesus. “Dibenarkan”

 antara lain dapat berarti sungguh

berfungsi demi keselamatan dan kebahagiaan, dengan kata lain dihayati atau

dilaksanakan seutuhnya dalam hidup sehari-hari dimanapun dan kapanpun.

St.Kornelius dan St.Sprianus yang kita kenangkan hari ini kiranya dapat menjadi

contoh dalam hal kerjasama di dalam tugas pengutusan atau penghayatan

panggilan:  berbeda fungsi dan tempat alias

berjauhan satu sama lain tetapi dapat bekerjasama dengan baik. Seruan atau

ajakan untuk bekerjasama bagi kita semua kiranya telah disampaikan

berkali-kali, bahkan kabinet Negara kita Indonesia dinamai ‘Kabinet Gotong-Royong’. Gotong-royong dalam

bahasa  Inggris adalah ‘co worker’, yang dapat diartikan juga

sebagai pekerjasama. Maka marilah kita mawas diri perihal cara hidup dan cara

kerja atau cara bertindak kita: sejauh mana terjadi kerjasama yang baik dalam

hidup, kerja dan pelayanan kita? Di dalam gotong-royong atau bekerjasama semua

orang yang terlibat dalam kebersamaan tersebut sungguh bekerja keras sesuai

dengan fungsinya masing-masing, tidak ada yang berpangku tangan atau menjadi

penonton. Dalam gotong-royong atau bekerjasama ada seseorang yang menjiwai

yaitu seorang koordinator yang penuh pelayanan, yang juga terlibat dalam kerja,

bagaikan kapten dalam tim keselebelasan sepakbola. Bukankah kapten sepakbola

bermain bagus dan menjiwai rekan-rekannya, ia juga pemain bukan penonton?

 

·   ‘Semuanya itu

kutuliskan kepadamu, walaupun kuharap segera dapat mengunjungi engkau. Jadi

jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai

keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar

kebenaran”(1Tim 3:14-15), demikian kutipan surat Paulus kepada Timoteus. “Engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah”, kutipan

inilah yang kiranya baik kita renungkan atau refleksikan. “Keluarga Allah”

berarti keluarga yang dikuasai atau dirajai oleh Allah dan semua anggota

keluarga taat pada serta melaksanakan

kehendak Allah dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak setiap

hari. Kehendak Allah bagi kita semua antara lain, yang utama dan pertama,

adalah perintah untuk saling mengasihi satu sama lain, dengan segenap hati,

segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau tenaga, sehingga

dalam hidup bersama terjadilah damai sejahtera dan bahagia. Kebersamaan hidup

yang penuh kasih di dalam keluarga perlu teladan dari orangtua atau bapak-ibu,

di dalam kantor atau tempat kerja perlu teladan dari para pimpinan atau kepala

bagian, dst.. Mungkin yang baik saya angkat di sini adalah kebersamaan di

kantor atau tempat kerja: ajakan kerjasama di antara para pimpinan atau  kepala bagian. Kami dambakan para pimpinan

atau kepala bagian tidak bekerja sendiri-sendiri alias mengikuti selera

pribadi, tetapi bekerja sesuai dengan aneka tatanan dan aturan yang

diberlakukan di tempat kerja atau visi-misi tempat kerja/kantor. Memang mereka

yang dapat bekerjasama  di tempat kerja

atau kantor pada umumnya sudah terlatih dan terbiasa bekerjasama di dalam

keluarga, maka kami berharap kerjasama sungguh dibiasakan di dalam hidup

berkeluarga, dengan teladan orangtua atau bapak –ibu.

 

 

 

Haleluya!

Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang

benar dan dalam jemaah. Besar perbuatan-perbuatan TUHAN, layak diselidiki oleh

semua orang yang menyukainya. Agung dan bersemarak pekerjaan-Nya, dan

keadilan-Nya tetap untuk selamanya.. Perbuatan-perbuatan -Nya yang ajaib

dijadikan-Nya peringatan; TUHAN itu pengasih dan penyayang. Diberikan-Nya

rezeki kepada orang-orang yang takut akan Dia. Ia ingat untuk

selama-lamanya akan perjanjian-Nya. Kekuatan perbuatan-Nya diberitakan- Nya

kepada umat-Nya, dengan memberikan kepada mereka milik pusaka bangsa-bangsa.”

 

(Mzm 111:1-6)

 

 

 

Jakarta, 16 September 2009

"Inilah ibumu!"


(Ibr 5:7-9; Yoh 19:25-27)

 

“Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid- Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.”(Yoh 19:25-27), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam  rangka mengenangkan pesta ‘SP Maria Berdukacita’ hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Seorang ibu yang baik senantiasa mengasihi anak-anaknya dalam kondisi dan situasi apapun dan dimanapun, demikian juga ketika anak-anak sudah tumbuh berkembang menjadi dewasa atau berkeluarga. Maka ada lagu yang begitu bagus dan indah:”Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”. Hari ini kita kenangkan “Bunda Maria” yang berdukacita, pesta untuk mengenangkan bahwa Bunda Maria senantiasa bersama dan bersatu dengan Yesus, yang kemarin kita kenangkan persembahan diriNya di puncak kayu salib. Bunda Maria berdiri di dekat salib Yesus, bahkan Michael Angelo melukiskan Bunda Maria memangku Yesus yang telah wafat di kayu salib. Bunda Maria adalah teladan umat beriman, maka marilah kita sebagai orang beriman dengan rendah hati berusaha meneladan Bunda Maria, antara lain bersama dan bersatu dengan Yesus yang disalibkan, yang mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah dan

dunia, demi keselamatan seluruh dunia seisinya. Kita dipanggil untuk berdiri di dekat salib Yesus, sahabat kita, dan selayaknya sebagai sahabatNya berpartisipasi dalam persembahanNya demi keselamatan seluruh dunia. Mayoritas waktu dan tenaga kita setiap hari untuk mendunia, berpartisipasi dalam seluk-beluk duniawi. Semakin mendunia hendaknya semakin beriman agar kita mampu mempersembahkan diri kita bersama semua pekerjaan, kesibukan, beban dst. kepada Tuhan. Dengan kata lain marilah kita memberikan diri seutuhnya pada pekerjaan, tugas atau kewajiban yang dibebankan kepada kita dengan semangat “hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”. Semoga cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun ‘menyinari dunia’ artinya membuat dan menyebabkan segala sesuatu baik adanya. Masing-masing dari kita menjadi ‘terang’ bagi dunia; kehadiran dan sepak terjang kita dimanapun dan kapanpun tidak mempersulit orang lain,

melainkan membuat orang lain dengan mudah dan gembira melaksanakan tugas pekerjaan dan kewajiban mereka.

·   “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan- Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan” (Ibr 5:7). Kutipan ini pertama-tama dikenakan pada Yesus, tetapi kiranya juga dapat dikenakan kepada Bunda Maria. Ingat dalam kisah pesta perkawinan di Kana, dimana  Bunda Maria minta kepada Yesus untuk berbuat sesuatu demi keselamatan pesta perkawinan, dan Yesus pun melaksanakan dengan membuat mujizat, air menjadi anggur yang terbaik. Pada masa kini devosi kepada Bunda Maria kiranya semakin tumbuh dan berkembang, antara lain semakin maraknya ziarah ke tempat ziarah Bunda Maria atau berdoa di hadapan ‘patung Bunda Maria’ yang berada di gereja, kapel  atau gua-gua. Bukup banyak permohonan dipersembahkan kepada Tuhan dengan perantaraan Bunda Maria, dan juga sudah cukup banyak permohonan yang dikabulkan. Dalam berbagai penampakan

Bunda Maria, yang diimani, antara lain diceriterakan bahwa  Bunda Maria melelehkan air mata: air mata kasih bagi para pendosa. Bunda Maria setia pada pesan Yesus di puncak kayu salib “Ibu, inilah anakmu”.. Lelehan air mata Bunda kiranya merupakan tawaran kasih bagi para pendosa agar bertobat, meninggalkan aneka macam bentuk kejahatan yang telah dilakukannya. Maka dengan ini kami mengingatkan kita semua, yang merasa berdosa, namun kiranya kita semua adalah pendosa, marilah kita tanggapi ‘ratap tangis’ atau ‘lelehan air mata’ Bunda Maria dengan bertobat, menjadi anak-anak kesayangan Bunda Maria, yang juga berarti menjadi sahabat-sahabat Yesus, hidup dan bertindak meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus.

 

Pada-Mu, TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu. Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepaskan aku! Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku! Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku.Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku. Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia “

 (Mzm 31:2-6)

 

Jakarta, 15 September 2009