Rabu, Oktober 07, 2009

“Tuhan ajarilah kami berdoa”

(Yun 4:1-11; Luk 11:1-4)



“Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di
salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari
murid-murid- Nya kepada-Nya: "Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang
diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya. " Jawab Yesus kepada mereka:
"Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah
Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan
ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang

bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan."

( Luk 11:1-4), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 




Berrefleksi

atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Maria, Ratu Rosario, hari ini

saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Bulan Oktober adalah bulan Rosario; doa rosario merupakan salah satu doa favorit bagi umat Katolik.
Berdoa rosario dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja, dan tidak hanya di
tempat peziarahan Bunda Maria atau di gereja. Doa rosario merupakan pendarasan
atau pengulangan doa-doa harian seperti: Bapa kami, Salam Maria dan Kemuliaan.
Dalam kutipan Warta Gembira hari ini kita diajak berdoa dengan khidmat doa Bapa
Kami. Isi doa Bapa Kami antara lain “Berikanlah
kami setiap hari makanan yang secukupnya
dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab
kami pun mengampunia setiap orang
yang bersalah kepada kami”. Hidup sederhana dalam kasih pengampunan
itulah salah satu yang kita mohon dalam doa Bapa Kami, dengan kata lain kita
mendambakan hidup sederhana dalam kasih pengampunan. Kita dipanggil untuk
meneladan Bunda Maria, yang sederhana dan penuh kasih pengampunan. Kasih
pengampunan yang dihayati oleh Bunda Maria antara lain nampak dalam penghayatan
“merenungkan atau mendoakan dalam hati
apa yang kurang atau tidak dapat dimengerti/dipahami”, ketika ia menghadapi
kesulitan dan tantangan tidak mengeluh dan menggerutu atau marah, melainkan
berdoa. Dalam hidup sehari-hari kiranya kita sering menghadapi hal-hal atau
apa-apa yang tidak sesuai dengan selera pribadi kita serta membuat kita tidak
enak dan kurang bahagia. Dengan kata lain setiap hari ada kesempatan bagi kita
untuk menghayati isi doa Bapa Kami “ampunilah
kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada
kami”. Dalam doa rosario kita mendoakan doa Salam Maria, antara lain berisi “doakanlah kami orang berdosa ini, sekarang
dan sampai waktu kami mati”. Dengan kata lain kita adalah para pendosa yang
telah menerima kasih pengampunan dari Tuhan secara melimpah ruah, maka
panggilan untuk saling mengampuni kiranya merupakan tugas yang mudah, yaitu
tinggal menyalurkan kasih pengampunan yang telah kita terima secara melimpah
ruah.

· "Engkau
sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikit pun engkau tidak berjerih
payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa
dalam satu malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang
besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang
semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya
yang banyak?” (Yun 4:10-11), demikian
tanggapan Allah atas keluh kesah dan gerutu atau kemarahan Yunus. Dari kutipan
di atas ini kiranya kita diajak untuk menghayati betapa pentingnya keselamatan
jiwa manusia. Keselamatan jiwa manusia hendaknya menjadi tolok ukur atau
barometer keberhasilan kerja, pelayanan dan usaha kita. Suasana lingkungan
hidup bersama di manapun dan kapanpun tergantung dari manusia yang ada di
dalamnya, bukan gedung atau sarana-prasarana maupun ciptaan-ciptaan lain yang
berada di lingkungan tersebut. Kesejahteraan dan kebahagiaan hidup berkeluarga
sangat tergantung dari pribadi-pribadi anggota keluarga, dan kesejahteraan
masyarakat, bangsa dan Negara tergantung dari kesejahteraan dan kebahagiaan
keluarga-keluarga. Keluarga merupakan dasar hidup bersama di manapun dan
kapanpun, maka marilah kita perhatikan dan usahakan kesejahteraan dan
kebahagiaan keluarga kita masing-masing. Kesejahteraan dan kebahagiaan tidak
terletak pada harta benda atau uang melainkan dalam saling mengasihi dan
mengampuni, atau dalam bahasa lain : setiap manusia sungguh dimanusiakan,
manusia sebagai gambar atau citra Allah. Maka dengan ini kami mengharapkan
hendaknya tidak terjadi pemerkosaan harkat martabat manusia di dalam keluarga ,
maklum dari berbagai informasi dapat kita dengar bahwa para isteri atau ibu
sering merasa diperkosa oleh suami atau pasangan hidupnya. Jika para isteri
atau ibu merasa diperkosa, maka mereka akan memperkosa anak-anaknya. Marilah
kita perdalam dan perkuat hidup saling mengasihi dan mengampuni di dalam
keluarga kita masing-masing.



“Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku,
ya Tuhan, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari. Buatlah jiwa hamba-Mu
bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku. Sebab Engkau, ya
Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang
berseru kepada-Mu.Pasanglah telinga kepada doaku, ya TUHAN, dan perhatikanlah
suara permohonanku”
(Mzm 86:3-6).



Jakarta, 7 Oktober 2009.

Senin, Oktober 05, 2009

“Bertemu Yesus dlm Doa, Bertemu Yesus dlm Ekaristi, Bertemu Yesus dlm org yg paling miskin” (Bt.Teresa dr Calcutta)


BAGIAN 1

Menjadi Kristen (= pengikut Kristus) merupakan suatu anugerah, pemberian Allah yang cuma-cuma, bukan karena jasa dan kebaikan kita. Kekristenan kita tidak diukur dari pelaksanaan kewajiban-kewajiban keagamaan melulu atau tidak diukur dengan banyaknya jasa yang telah kita buat bagi Allah.

Tetapi sesungguhnya yang menjadi inti kehidupan Kristiani kita ialah HUBUNGAN PRIBADI DENGAN ALLAH.
“Menjadi Kristiani bukanlah buah dari pilihan etis atau gagasan cemerlang, namun dari perjumpaan dalam realitas, dengan seorang Pribadi, yang hidupnya memberikan wawasan baru dan pengarahan mendasar” (Paus Benediktus XVI, ensiklik Deus Caritas Est).

Perjumpaan pribadi dengan Pribadi yang mengasihi dan menebus kita, yaitu Kristus sendiri, haruslah menjadi realitas yang nyata, menjadi pengalaman pribadi kita. Sebagai gambaran sederhana : kita bisa mendengar atau membaca tentang Kristus atau mempunyai ide-ide cemerlang tentang Kristus, tetapi semua itu tidak cukup, karena yang terpenting bukan hanya sekedar “tahu” Kristus, tetapi bagaimana akhirnya Kristus menjadi pengalaman pribadi kita, kita sungguh-sungguh mengalami dan “mengenal” Kristus secara pribadi.

St.Thomas Aquinas, seorang teolog dalam Gereja, banyak menulis tulisan-tulisan Teologi dan dalam hal Teologi, karya-karyanya, seperti “Summa Theologiae” hingga kini belum ada yang bisa menandingi dan menjadi referensi teologi dalam Gereja. Tetapi menjelang akhir hidupnya ketika dia mengalami pengalaman persatuan dengan Allah secara mendalam, dia mengatakan bahwa karya-karya teologi yang dia tulis hanyalah “jerami” dibandingkan pengalaman persatuan dengan Allah itu sendiri.

Sepanjang sejarah Gereja, kita dapat melihat bagaimana perjumpaan pribadi dengan Kristus menjiwai dan menggerakkan banyak orang untuk mengabdi Dia dan sesamanya, entah itu di kalangan religius dan awam.

Salah satunya pada jaman ini yang dipakai Tuhan secara istimewa menjadi saksi Kristus di tengah-tengah dunia ini adalah Muder Teresa dari Calcutta, yang saat ini Gereja sudah menggelarkan beliau sebagai beata. Karya-karya Muder Teresa dan konggergasinya begitu mendunia, pelbagai kalangan dan lintas agama mengagumi karya “penerima hadiah nobel” ini.

Tetapi mengenai karya pelayanan di antara orang yang paling miskin, Muder Teresa menjawab dalam suatu wawancara :
“Kalau seandainya saya dan suster-suster saya pekerja sosial, maka kami tidak akan bertahan, dan karya ini akan lenyap dalam waktu singkat....... tetapi kami melakukan semua ini bukan sekedar karya sosial, tetapi kami melakukan karena kasih kami kepada seorang Pribadi, yaitu Kristus”.

Dalam diri seorang beata Teresa dari Calcutta ini perjumpaan pribadi dengan Kristus menjadi segala-galanya, menjadi nafas hidupnya sendiri, sehingga semboyannya : “Bertemu Yesus dalam DOA, bertemu Yesus dalam EKARISTI dan bertemu Yesus dalam ORANG YANG PALING MISKIN” . . . . .

bersambung . . . . .

Sumber : Catatan Doa dan Ucapan Syukur (FB)

Mengapa Berdoa Rosario?

Apa itu doa? Doa ialah berbicara dengan Tuhan; mengangkat hati serta pikiran kita kepada Tuhan. "Doa adalah kunci Surga." - St. Agustinus

Mengapa kita berdoa? Kita berdoa agar kita dapat masuk Surga. St. Agustinus mengatakan: “Sama seperti tubuh tidak dapat hidup tanpa makanan, demikian juga jiwa kita tidak dapat hidup secara rohani tanpa doa.” St. Alfonsus mengatakan: “Ia yang berdoa, diselamatkan; ia yang tidak berdoa, celaka!” Doa sangat besar kuasanya. (Yak 5:16-18, 2Raj 20:1-6).

Siapa yang berdoa? Yang berdoa ialah orang yang ingin berbahagia selamanya bersama Tuhan di surga.
Kapan kita berdoa? Kita berdoa senantiasa, siang dan malam.

Di mana kita berdoa? Kita berdoa di rumah, di kamar kita (Mat 6:1-6), di Gereja dengan keluarga kita (Mat 21:13), atau di mana saja. Dengan doa kita dapat menguduskan saat-saat senggang kita, kita dapat berdoa ketika sedang berjalan-jalan di taman, mengendarai mobil atau naik bis dan mempersembahkan waktu luang kita itu kepada Tuhan.

Apakah Tuhan selalu menjawab doa-doa kita? Ya. Ada tiga bentuk jawaban doa - ya, tidak, dan tunggu. Tidak ada doa yang tidak dijawab dan tidak ada doa yang tidak didengarkan. St. Thomas Aquinas mengajarkan: "Tuhan tidak mengabulkan apa yang kita minta dalam doa jika permintaan kita itu tidak baik bagi keselamatan kita." Kita harus bertanya apa kehendak Tuhan bagi kita. "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat 6:31-33) “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat 16:26). Tuhan memenuhi kebutuhan kita, tetapi tidak keserakahan kita.

Bagaimana kita dapat berdoa dengan baik? Konsentrasi (Mat 6:7,8), Iman (Ibr 11:6), Kerendahan hati (Yak 4:6, lihat juga Mat 6:1-6, Lukas 18:9-14). Prioritas yang Benar (Luk 22:42), Devosi (Mat 15:8), Kesungguhan (Luk 22:43,44), Ketekunan (Luk 11:5-10 / Luk 18:1-8, Mat 24:13), dan dengan tidak jemu-jemu. Kita wajib berdoa sekurang-kurangnya 15 menit setiap hari. Di dunia ini kita mempersiapkan diri untuk tinggal bersama Tuhan selama-lamanya. Karena Tuhan adalah Pribadi yang paling penting dalam hidup kita, kita wajib berbicara kepada-Nya setiap hari. Setiap harinya kita menghabiskan lebih banyak waktu sekedar untuk makan, bersantai dan menikmati hiburan. Jiwa kita jauh lebih penting daripada tubuh kita. Dan Tuhan pastilah jauh lebih penting daripada siapa pun atau apa pun juga dalam hidup kita, jadi Ia layak mendapatkan prioritas utama. Berapa banyak kita harus berdoa? Kitab Suci mengatakan: - selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu (Luk 18:1, 1Tes 5:17, Ef 6:18 dan Kis 6:4).

Mengapa Tuhan menghendaki kita berdoa kepada Bunda Maria? Kita berdoa kepada Bunda Maria karena ia adalah Bunda Allah dan doa-doanya sangatlah besar kuasanya (Yoh 2:1-11). Ketika kita berdoa Salam Maria, kita menggabungkan penyembahan kepada Tuhan dan penghormatan kepada Bunda Maria. Kita menyatukan doa-doa kita kepada Tuhan dengan doa-doa Bunda Maria kepada Tuhan. Kita tidak menyembah Bunda Maria, kita hanya menyembah Tuhan saja. Ketika kita berdoa kepada Bunda Maria, kita menghormatinya sebagai Bunda Allah dan sebagai Bunda Rohani kita (Why 12:17, Yoh 19:26,27). Saat kita amat membutuhkan pertolongan, kita tidak saja berdoa sendiri kepada Tuhan secara langsung, tetapi kita juga meminta orang lain berdoa bagi kita dan bersama kita. Ketika kita berdoa Rosario, kita didukung oleh Bunda Maria, Bunda Allah yang Kudus, yang berdoa kepada Tuhan bagi kita dan bersama kita. Tuhan menghendaki kita menghormati Bunda Maria karena perannya yang istimewa dalam karya keselamatan Allah. Tuhan menghendaki Bunda Maria ambil bagian dalam penebusan umat manusia, sama seperti Hawa ambil bagian dalam jatuhnya umat manusia ke dalam dosa. Sama seperti seorang Bapa dipenuhi sukacita karena cinta dan penghormatan yang diberikan orang kepada anak-anaknya, demikian juga Allah Bapa dipenuhi sukacita dan menghendaki kita menghormati puteri-Nya, Maria, Bunda PuteraNya, Yesus.

Mengapa kita wajib berdoa Rosario? Karena doa Rosario telah didaraskan serta dianjurkan selama berabad-abad oleh para Paus dan santo/santa besar, dan juga karena pengaruhnya yang baik - sama seperti pohon yang baik menghasilkan buah yang baik (Mat 7:17). Juga, karena ke-15 Janji Bunda Maria bagi umat Kristiani yang berdoa Rosario dan karena Bunda Maria menampakkan diri di Lourdes dan di Fatima untuk meminta kita berdoa rosario. Rosario telah menyelamatkan serta mengubah ribuan jiwa, mengapa tidak menggunakannya untuk menyelamatkan jiwamu?

Bagaimana kita berdoa Rosario? Dengan merenungkan ke-15 misteri, dengan mendaraskan sepuluh Salam Maria pada manik-maniknya serta satu Bapa Kami dan Kemuliaan di setiap misteri.

Bagaimana kita merenungkan misteri-misteri Rosario? Kita merenungkan misteri-misteri rosario dengan menggunakan imajinasi kita untuk menghadirkan misteri yang sedang kita renungkan di hadapan kita. Kemudian sambil membayangkan imajinasi yang hadir di pikiran, kita mengucapkan doa Salam Maria. Sementara merenung, kita mengulang-ulang doa kita, sama seperti yang dilakukan Yesus (Mat 26:44). Dalam berdoa Rosario, pada dasarnya kita mengatakan, “Yesus dan Bunda Maria, aku mencintaimu” berulang-ulang kali. Sementara kita melakukannya, kita bertumbuh dalam cinta kepada Tuhan. Mengatakan, “Aku mencintaimu” tidak pernah basi. Jika kita sungguh-sungguh mencintai, pernyataan cinta seperti itu akan semakin memperdalam cinta kita.

Bagaimana kita dapat mulai berdoa Rosario setiap hari? Dengan mendoakan hanya satu misteri dengan sepuluh Salam Maria setiap hari, hingga kita merasa rindu untuk berdoa lebih banyak.


sumber : "Why Pray the Rosary" by Father Peffley; Father Peffley's Web Site; www.transporter.com/fatherpeffley

 “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Francis J. Peffley.”

"Tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri?”

(Yun 3:1-10; Luk 10:38-42)



“Ketika Yesus dan murid-murid- Nya dalam
perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta
menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama
Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya,
sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata:
"Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani
seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." Tetapi Tuhan menjawabnya:
"Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,
tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik,

yang tidak akan diambil dari padanya."

(Luk10:38-42), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.




Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

· “Ora et labora”
= Berdoa dan bekerja, demikian bunyi sebuah motto. Motto ini kiranya dapat
disejajarkan dengan 2 (dua) tokoh Warta Gembira hari ini, Maria sebagai pendoa
dan Marta sebagai pekerja. Mana yang lebih baik: berdoa atau bekerja? Hemat
saya keduanya baik dan yang terbaik adalah doa menjiwai kerja, maka berdoa dan
bekerja bagaikan mata uang bermuka dua. Mayoritas waktu dan tenaga kita kiranya
terarah untuk bekerja, sebagaimana dikerjakan oleh Marta. Marta ditegor oleh
Yesus karena selama bekerja ia mengeluh atau menggerutu. Memang kerja keras
dalam bentuk apapun ketika diserta keluh kesah atau gerutu berarti tidak
bermutu. Doa menjiwai kerja senada dengan “contemplativus
in actione” atau menemukan Tuhan
dalam segala sesuatu atau menghayati karya dan kehadiran Tuhan dalam segala
sesuatu, dengan demikian selama orang bekerja senantiasa dalam keadaan ceria,
gembira dan dinamis, meskipun harus bekerja keras tidak akan pernah merasa
lelah. “Bagi kaum beriman ini merupakan
keyakinan: kegiatan manusia baik perorangan maupun kolektif, atau usaha
besar-besaran itu sendiri, yang dari zaman ke zaman dikerahkan oleh banyak
orang untuk memperbaiki kondisi-kondisi hidup mereka, memang sesuai dengan
kehendak Allah. Sebab manusia, yang diciptakan menurut gambar Allah,
menerima titahNya, supaya menaklukkan
bumi beserta segala sesuatu yang terdapat padanya, serta menguasai dunia dalam
keadilan dan kesucian, ia mengemban perintah untuk mengakui Allah sebagai
Pencipta segala-galanya, dan mengarahkan diri beserta seluruh alam kepadaNya” (Vatikan
II: GS no 34). Di dalam bekerja orang semakin menyucikan atau mempersembahkan
diri seutuhnya kepada Tuhan atau semakin mendunia, terlibat dalam seluk beluk
dunia berarti harus semakin beriman. Mendunia tanpa iman pasti akan merusak
ciptaan-ciptaan Tuhan.

· “Ketika Allah
melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah
lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah
dirancangkan- Nya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya” (Yun
3:10). Para penjahat memang menimbulkan malapetaka atau
kesengsaraan bagi orang lain dan
lingkungan hidupnya, entah sekecil apapun kejahatan yang telah dilakukannya.
Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua, yang mungkin masih
sering berbuat jahat untuk bertobat. Ada kejahatan yang terstruktur dan
terselubung, misalnya: pemalsuan berat atau ukuran -> satu botol obat
tertulis 10 cc, tetapi dalam kenyataan hanya 9 cc, dalam kemasan tertulis berat
10 kg, tetapi dalam kenyataan hanya 9,5 kg, dst… Bentuk kejahatan lain adalah ‘mark-up’ anggaran sebagaimana cukup
banyak dilakukan, atau ‘mark-up’ kwitansi. Juga ada kejahatan yang cukup
memprihatinkan yaitu pemberian obat oleh dokter kepada pasien, yang sebenarnya
bukan obat yang dibutuhkan pasien, melainkan sang dokter menjadi agen penjual
obat tertentu. Memang mereka yang melakukan kejahatan pada umumnya boleh
dikatakan pandai tetapi tidak beriman, dan hal ini kiranya disebabkan oleh
pendidikan yang salah, yaitu pendidikan yang hanya menekankan otak dan kurang
memperhatikan hati, yang ada kecenderungan untuk menyontek dalam ulangan umum
atau ujian. Marilah gerakan pertobatan kita mulai dalam diri anak-anak kita dan
para peserta didik, dan tentu saja harus disertai keteladanan dari orangtua
atau para pendidik/guru. Hidup dan bertindak dengan jujur hendaknya dibiasakan
sedini mungkin dalam diri anak-anak kita. Jauhkan aneka macam bentuk
kemunafikan dan kebohongan dalam hidup sehari-hari!



“Dari jurang
yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN! Tuhan, dengarkanlah suaraku!
Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku. Jika Engkau, ya
TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan , Tuhan, siapakah yang dapat tahan?
Tetapi pada-Mu ada pengampunan”


(Mzm 130:1-4a)



Jakarta, 6 Oktober 2009

"Siapakah sesamaku manusia?"

(Yun 1:1-17; 2::10; Luk 10:25-37)

"Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?" Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"

(Luk 10:25-37), demikian kutipan Warta Gembira hari ini 

Berrefleksi

atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

• Ketika orang-orang sedang menghadiri pesta pada umumnya sedikit banyak bersaing dalam hal berpakaian dan assesori, lebih-lebih rekan-rekan wanita atau perempuan, sehingga nampak perbedaan satu sama lain sesuai dengan pakaian dan assesori yang dikenakan. Orang dapat membedakan siapa yang paling kaya, dst. Sebaliknya ketika banyak orang berada di kolam renang hanya mengenakan pakaian dalam atau bahkan sama-sama telanjang bulat kiranya perbedaan satu sama lain tidak banyak atau bahkan satu sama lain sama saja. Jika dalam Warta Gembira hari ini Yesus menjelaskan `siapakah sesamaku manusia' dengan perumpamaan orang yang dirampok habis-habisan, berarti jika kita hendak mengasihi sesama manusia dengan sungguh-sungguh adalah mengasihi mereka yang miskin dan berkekurangan dalam hal harta benda atau uang, yang tidak lain merupakan `tindakan belas kasihan'. Maka marilah kita, umat beriman, khususnya yang beriman pada Yesus Kristus, menghayati ajaran kasihNya dengan lebih mengasihi atau memperhatikan mereka yang miskin dan berkekungan di sekitar kita atau lingkungan hidup kita, tanpa pandang bulu, SARA, golongan , dst.. Mengasihi anak-anak kecil kiranya juga merupakan bentuk penghayatan ajaran untuk mengasihi Tuhan dan sesama manusia, maka hendaknya kepada anak-anak kecil diberikan kasih yang memadai.
• "Angkatlah aku, campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi. Sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu." (Yun 1:12), demikian kata Yunus atas desakan para penumpang kapal lainnya. Baik Yunus maupun mereka meyakini atau mengimani bahwa orang yang tidak setia pada panggilan dan tugas pengutusan dari Tuhan akan menimbulkan malapetaka bagi lingkungan hidupnya. Orang yang tidak hidup dalam dan oleh kasih pasti akan menghancurkan lingkungan hidupnya dimanapun dan kapanpun ia berada. Maka marilah kita lihat dan cermati lingkungan hidup kita! Jika lingkungan hidup kita amburadul, tidak bersih, tidak indah, tidak menarik dan tidak memikat berarti ada orang berdosa di dalamnya, dan mungkin orang itu saya sendiri. Yang kami maksudkan berdosa adalah tidak melaksanakan tugas pekerjaan atau kewajiban dan tidak menghayati panggilan sebagaimana mestinya atau yang diharapkan dan dicita-citakan. Hidup berkeluarga atau berkomunitas kacau berarti ada anggota keluarga atau komunitas yang kurang atau tidak setia pada panggilan dan tugas pengutusannya. Pekerjaan di kantor senantiasa tidak beres alias tertunda terus menerus berarti ada pekerja yang bermalas-malas, tiduran saja. Pendek kata segala sesuatu kekacauan, amburadul, kerusakan, dst. yang terjadi dalam kehidupan bersama kita di dunia ini terjadi karena orang-orang berdosa, pengecut, tidak melaksanakan kewajibannya. Kegagalan baik dalam belajar maupun bekerja terjadi karena kemalasan atau kesambalewaan orang yang bersangkutan dalam belajar atau bekerja.

"Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku.Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku.Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus"
(Yun 2:2-4)

Jakarta, 5 Oktober 2009
Note: yg kemarin buka: www.ekaristi. org