Tampilkan postingan dengan label Dunia Lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Lain. Tampilkan semua postingan

Kamis, Mei 14, 2009

Misteri Cipularang

Pada suatu hari...
 ada sekeluarga pergi ke bandung.
Keluarga tersebut terdiri dari ayah,ibu dan 1 orang anak yg masih berumur 8 thn an.
Mereka berangkat dari jakarta sekitar jam 9 an,malam sabtu.
Nah tiba2 anaknya kebelet kencing ampe aduh2an..
 bapaknya bilang "udah nanti aja pas di pintu tol,dsini gelaap!".
 tp krn anaknya gk kuat,berhentilah mereka.
Lalu turunlah anak itu,sambil ibunya bilang "jgn jauh2 y nak..." , 
“iya..” saud si anak
 Tp kedua org tuanya merasa kok anak ini smakin jauh dan menjauh jalannya..
 "eh jangan jauh2...,d depan mobil aja!" kata si ibu. 
Lalu saud anaknya “..iya mah..!"
 Tak lama kemudian anak itu..balik ke mobilnya dan duduk di belakang,
sambil ayahnya bilang..
 "kamu nih gimana sih..,kencing kok jauh2 amat.."
 "malu pah..,diliat orang"

 Setelah mereka sampai di bandung,orang tuanya melakukan aktifitas 
 biasa selama 2 hari hingga hr minggu.
kaya belanja,makan, mandi,tidur dll pokoknya liburan lah. 
Tapi di sela2 liburan mereka,orangtuanya rada2 melihat kejanggalan dr anaknya.
Yang biasa anaknya ingin berenang d i hotel,ini tidak.
Dan anaknya terlihat murung,pucat dan berubah jd diem..tidak seperti biasanya.
 "kamu sakit..??" tanya si ibu,tp anaknya dieeemm aja..

 Akhirnya ayahnya memutuskan untuk pulang k jakarta .
Dari rencana sebelumnya hingga hari senen,akhirnya pulang hari minggu.
Di dalam perjalanan pulang sekitar jam 10 an..kembali si anak kebelet kencing
Sampe aduh2an....
 "aduh pah..kencing. .,papah kenciiing.." kata si anak

 Akhirnya mereka berhentilah kembali.
Anehnya mereka berhenti di KM yg samaseperti anaknya kencing sebelumnya.
Hanya saja di jalur yg berbeda.
Tetapi kali ini si anak tidak balik2 k mobil..,sehingga membuat bingung orang tuanya.
Setelah mereka menunggu 1 jam di pinggir tol,
akhirnya mereka melapor k petugas melalui no.tlp pengaduan tol.
Dalam percakapannya di tlp,petugas memberikan ciri2 pakaian si anak tersebut.. 
dan ternyata benar!. 

Akhirnya kedua orang tua tersebut
 langsung menuju pos tersebut,sambil ter heran2..
 "kok bisa ada dsanaaa..,saud ayahnya.."
 sesampainya di pos, ibunya langsung memeluk erat anaknya..dan 
 memarahinya
“kamu kemana sih! kok tiba2 dsini.."
 "loh..! mamah yang kemana aja..aku ditinggal,
aku teriak2 mamah gk denger..!" sambil nangis..

 And guess what..!,petugas polisi berkata..
 "bu jangan dimarahi bu,anak ibu sudah di kantor kami selama 2 hari 
 sejak hari jumat malam.."
  
 seketika ibu dan ayahnya duduk lemas dan saling memandang..
 Ternyata pada waktu anaknya kencing dalam perjalanan ke Bandung ,dia 
 hanya kencing di samping kiri mobil di balik pintu belakang,tetapi ibu
 dan ayahnya melihat dia berjalan di depan mobil dan menjauh..,setelah 
 balik anak yg masih kencing ditinggal begitu saja..sampai anaknya 
 teriak2 tp tidak terdengar..
  
 "Pertanyaannya, lalu siapa yang ikut ke bandung ???"

 (ini cerita bener2 kejadian lho dan tidak sama sekali direkayasa)

 

Regard,

 

Rangga Radithia

(Sumber : Milis)

Senin, Maret 16, 2009

Friday The 13th Mbah Sarendi

Usianya sudah 70 tahun tapi orangnya masih gesit. Biasanya dia masih mengenakan topi coklat dan duduk di balai-balai depan rumah sambil mengerjakan anyaman besek dengan isteri setianya. Walaupun keduanya sudah tua tapi tidak mau menggantungkan diri pada anak-anaknya. Besek itulah penghasilan untuk menyambung hidupnya. Selain beberapa buah kambing di samping rumahnya.

 Aku mengenalnya ketika dia sering berbincang akrab dengan Bapakku ketika mau berangkat ato pulang dari masjid di samping rumah kami. Menurut cerita Bapak kampung asal Mbah Sarendi dan Bapak di Jogja letaknya berdekatan hanya berbeda desanya saja. Mungkin karena merasa senasib sebagai seorang perantau yang jauh dari kampung asalnya menjadikan mereka begitu akrab.

 Masih ingat waktu SD dulu kalo istirahat aku bermain main ke rumahnya. Mengingat jarak antara rumah Mbah Sarendi dan SD-ku cuma duapuluhan meter saja. Biasanya kami pergi ke rumahnya sekedar meminta minum atau melihat dia menanam sayur-mayur di depan rumahnya. Tetapi pengalaman yang paling mengasyikkan adalah ketika musim buah jambu monyet tiba. Hampir setiap hari kami maen ke tempatnya. Begitu kami datang, beliau dengan sigap mengambil batang bambu di belakang rumahnya seakan sudah paham dengan kedatangan kami. Apalagi kalo bukan untuk meminta buah jambu monyet darinya.

 Pohon jambu monyet itu begitu besar. Inilah satu satunya pohon jambu monyet di desaku dan satu satunya yang berbuah lebat ketika musimnya tiba. Hanya orang dewasa dan pandai memanjat pohon yang sanggup menaikinya. Kami sebagai anak-anak SD waktu itu tentu saja tidak bisa menaikinya. Jadi galah panjang dari bambulah andalan Mbah Sarendi untuk memetikkan jambu monyet bagi kami. Biasanya kami bersiap-siap disampingnya untuk menangkap jambu monyet jika sewaktu-waktu jambu monyet itu terlepas dari galah dan jatuh ke tanah. Inilah yang semakin menambah riuh-rendah serta ramainya rumah Mbah Sarendi kalo pas istirahat sekolah tiba dan lagi musim jambu monyet.

 Setelah terkumpul seember kecil jambu monyet biasanya kami membawanya ke sumur di samping rumahnya untuk mencuci getah atau tanah yang menempel. Setelah benar-benar bersih kami membawanya ke balai-balai bambu yang ada di depan rumahnya. Istrinya segera ke dapur biasanya untuk mengambil uyah atau garam. Lalu beliau yang mengupas dan menyayat jambu monyet yang telah dipetik. Setiap anak mendapat bagian yang sama rata dan makannya cukup dioleskan ke garam dan dimakan. 

 Waktu itu jambu monyet yang sepet-sepet asinpun jadi terasa enak bila dimakan bersama-sama dengan beliau. Ada keceriaan dan keramaian di rumah beliau yang sepi ketika anak-anak datang meminta jambu monyet. Setelah kenyang beliaupun mengingatkan kami untuk kembali ke sekolah melanjutkan sekolah lagi. Beliaupun tak pernah meminta bayaran sepeserpun atas buah jambu monyet yang kami makan. Dan anehnya pohon jambu monyet yang gede itu tak pernah habis habisnya berbuah dan ada saja yang matang tiap harinya.

 Setelah musim jambu monyet berlalu rumah itupun sepi lagi. Tinggal Mbah Sarendi sendiri dan isterinya yang selalu duduk mengerjakan anyaman besek sebagai pendapatan sehari-hari mereka untuk menyambung hidup. Paling-paling setiap pulang kami mampir ke rumahnya untuk melihat keduanya mengerjakan anyaman besek atau meminta air minum sekedar pelepas dahaga sepulang sekolah.
 Beberapa tahun berlalu tak terasa waktu itu aku sudah SMA. Sengaja aku memilih SMA di kota Semarang karena jarak desaku desaku dengan SMA terdekat cukup jauh. Akupun ngekos di kota Semarang dan sebulan sekali mengambil jatah untuk sekolah dan mbayar kosku.

 Suatu hari aku pulang dari Semarang naek angkutan umum menuju rumahku. Setiap melewati rumah Mbah Sarendi aku pasti menengok rumahnya walaupun tidak turun dari mobil . Rumahnya memang di pinggir jalan besar dan dibelokan tepatnya. Sehingga setiap kendaraan yang lewat mesti pelan-pelan waktu melewati depan rumahnya termasuk angkutan umum yang aku tumpangi waktu itu. Begitu sampai di depan rumahnya pandangaku kularikan keluar jendela mobil. Ternyata dia sedang berdiri di pinggir jalan, dia tersenyum kepadaku dan melambaikan tangan seakan-akan dia mengajakku untuk mampir dan singgah di rumahnya. Herannya ketika kutengok rumahnya rumah itu sedang ramai banyak orang yang sedang berkunjung ke rumahnya. Ada apa pikirku dalam hati. Apa ada acara syukuran tahlilan yang biasa dilakukan penduduk di kampungku. 

 Sesampai di depan gang aku langsung turun melompat dari angkutan yang kutumpangi. Perlu berjalan sepuluh meteran masuk gang untuk menuju rumahku. Kuketuk pintu rumahku, Bapakkupun membuka pintu sambil bertanya mengapa aku tiba-tiba pulang ke rumah. “Biasa Pak ngambil jatah bulanan” kataku. Kulihat ibuku kaluar dari kamar dan berpakaian kebaya hitam. Dengan dipenuhi rasa penasaran langsung saja aku bertanya ibu mau kemana. Betapa terkejutnya aku ketika ibuku bilang “ Lohh kamu gak ngerti tho kalo Mbah Sarendi meninggal tadi pagi? Ini Ibu kan mau melayat ke rumahnya”. “ Masak sih, aku tadi melihat Mbah Sarendi di depan rumah tersenyum dan melambaikan tangan. “ Iya meninggal tadi pagi habis sholat subuh”, kata ibuku berargumen. Lha berarti siapa yang berdiri dan melambaikan tangan tadi. Langsung lemas badanku mengetahui beliau sudah tidak ada lagi. Mungkin beliau mau mengucapkan selamat tinggal padaku dengan menampakkan diri untuk terakhir kalinya. Only God know.....


Mbah Sarendi Selamat Jalan Ya Mbah Semoga Mbah diterima di sisi-Nya dan hidup bahagia di surga-Nya. Amin

Riverside, Jumat Kliwon, 13 Pebruari 2009 jam 8.49 PM Friday The 13th.

Rabu, Maret 11, 2009

Rumah Kontrakan Berhantu

Pada bulan Mei 2008 Aku dipindahtugaskan ke Kota Malang Jawa Timur. Sebagai seorang musafir yang baru datang dan tidak ada saudara yang bertempat tinggal di Malang, tentu saja aku harus mencari kos-kosan. Setelah berkeliling kesana kemari aku mendapatkan sebuah kos-kosan di jalan Teluk Cendrawasih yang tidak terlalu jauh dari kantor baruku. 

 Sebulan setelah menyandang status sebagai “anak kos” aku berniat memboyong keluargaku ke Malang. konsekuensinya sekali lagi aku harus mencari kontrakan rumah. Setelah mencari informasi kesana kemari bersama temen sejawat aku mencari kontrakan di sebuah perumahan elit di kota Malang. Walaupun menyandang status sebagai perumahan elit tapi di pinggiran kompleks perumahan tersebut terdapat sebuah komplek perumahan sederhana yang menurut cerita diakuisisi oleh manajemen perumahan elit tersebut.

 Singkat cerita setelah mencari kesana-kemari akhirnya kudapatkan sebuah rumah type 36 dengan harga kontrak 3 jutaan per tahunnya. Pada saat aku menelepon pemilik rumah aku diberitahu agar menghubungi si pemegang kunci rumah kontrakan tersebut yang berjarak beberapa meter dari rumah yang dikontrakkan. Tak disangka dan diduga setelah aku bertemu dengan si pemegang kunci aku ditawari kontrakan yang terletak persis di depan rumah yang akan kukontrak tadi.

 Kalo dilihat dari luar rumah tersebut lumayan terpelihara dan bagus karena disamping letaknya di sudut, rumah tersebut memiliki pagar besi yang cukup kokoh. Pucuk dicinta ulam tiba pikirku dalam hati. Oleh si pemegang kunci aku disuruh menghubungi si pemilik rumah. Namun betapa kecewanya aku setelah kutelepon ternyata si pemilik rumah memberitahu bahwa rumah tersebut tidak dikontrakkan karena saudaranya sudah mau menempatinya. Akhirnya setelah mendapat informasi seperti itu aku putuskan mengontrak rumah yang pertama kudatangi tadi.
 Beberapa minggu kemudian keluargaku kuboyong ke Malang, tepatnya ke rumah yang telah kukontrak sebelumnya. Akhirnya kamipun berkenalan dan bersosialisasi dengan tetangga sekitar termasuk keluarga yang mengontrak rumah di depan kontrakanku. Hubungan kami dengan keluarga-keluarga di lingkungan tersebut berjalan dengan baik karena kami termasuk keluarga muda. Demikian juga dengan keluarga yang menempati rumah di depan kontrakanku tadi karena istrinya baru hamil beberapa bulan. Selain itu istriku dan istri Bapak yang mengontrak di depan rumahku sering menghadiri dawis dan belanja kebutuhan sehari-hari bersama-sama.

 Pada saat Idul Fitri tahun lalu kami saling berkunjung. Betapa terkejutnya kami setelah mendengar pengakuan ibu muda yang mendiami rumah di depan kontrakan kami. Ibu itu bercerita kalo rumah kontrakan yang didiaminya berhantu. Pertama kali pada waktu datang melihat rumah dikontraknya, Ibu tersebut bercerita kalo Ia melihat seorang perempuan sedang duduk di kloset duduk di kamar mandi rumah tersebut. Padahal Ia pada waktu hanya datang melihat-lihat rumah tersebut bersama suaminya. Tetapi Ibu tersebut dengan tabah hanya memalingkan mukanya begitu melihat perempuan tersebut dan segera berlalu untuk melihat bagian rumah yang lain. Begitu mendengar cerita tersebut timbul perasaan kagumku pada Ibu muda yang “kendel” tersebut.

 Kemudian dia bercerita kalo keluarga muda ibu tersebut mengontrak rumah bersama seorang laki-laki teman kampus suami ibu tersebut. Pernah suatu kali laki laki yang juga mengontrak di rumah tersebut diliatin seseorang yang berdiri di pintu kamarnya. Padahal dia di rumah sendirian karena keluarga ibu tersebut sedang pulang kampung. Semalaman laki-laki tersebut tak bisa tidur karena terus diliatin seseorang yang berdiri di pintu kamarnya. 

 Cerita rumah kontrakan berhantu ini tidak berhenti disitu saja. Bapak-bapak yang mempunyai rumah di sebelah kontrakanku suatu kali bercerita. Suatu malam Bapak ini mendapat tugas lembur dari perusahaan karena Bapak ini bekerja di bagian mesin dan perusahaan mendapat order yang lebih dari biasanya. Pada waktu pulang sekitar jam dua dengan mengendarai sedan Timornya dia berhenti di depan rumahnya yang sekaligus di depan rumah kontrakan berhantu tersebut. Alangkah herannya dia karena melihat seorang anak kecil sedang berlarian di depan kamar depan rumah kontrakan tersebut yang sekaligus berfungsi sebagai garasi. Dengan tanpa basa-basi dia langsung masuk ke rumahnya dan mengunci pintu karena tidak mungkin ada seorang anak yang lagi bermain-main pada jam 2 pagi padahal pengontrak rumah tersebut sedang hamil.

 Akhirnya naluriku sebagai detektif partikelir amatiran bertanya-tanya kok bisa rumah kontrakan tersebut berhantu. Setelah bertanya-tanya kesana kemari ada satu sumber yang mungkin dapat menguak cerita dibalik rumah kontrakan berhantu tersebut. Menurut pengakuan si empunya cerita dulu rumah tersebut pertama kali didiami seseorang yang suka dengan ilmu klenik. Orang tersebut suka membawa barang-barang bertuah seperti keris, tombak, atau barang-barang mistis lainnya ke rumah. Yang mengejutkan menurut si empunya cerita orang tersebut mempunyai istri dan mereka sering bertengkar. Pertengkaran tersebut sering terdengar sampai luar dan terdengar oleh si empunya cerita. Bahkan suatu kali orang yang mempunyai rumah tersebut datang bersama kaluarganya ke rumah tersebut. Tanpa sepengetahuan pemilik rumah tersebut si empunya cerita memperhatikan gerak gerik orang yang punya rumah. Menurut pengakuannya orang yang punya rumah dan keluarganya begitu datang langsung menutup pintu jendela dan tirai. Dan si empunya ceritapun tidak dapat mengetahui apa yang terjadi di dalam rumah tersebut. Yang pasti kata si empunya cerita istri dari pemilik rumah tersebut sejak saat itu tidak pernah kelihatan. Entah ibu tersebut dibunuh bunuh diri atau meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan si empunya cerita tidak ada yang tau. Lalu apa hubungan cerita-cerita tersebut dengan rumah kontrakan berhantu tersebut tidak ada yang tau. Yang pasti hanya Tuhan yang tau apa yang terjadi di rumah tersebut.

 Dari cerita tersebut aku dapat memetik pelajaran bahwa aku bersyukur tidak jadi mengontrak rumah tersebut. Selain itu kita harus menghormati makhluk makhluk lain yang tidak bisa kita lihat yang ada di dunia lain. Bersyukurlah kalo kita dianugerahi indera keenam bisa melihat maklhuk halus tetapi kayaknya kita harus lebih bersyukur tidak bisa melihatnya. Amin.