Tampilkan postingan dengan label Herry's Watch. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Herry's Watch. Tampilkan semua postingan

Rabu, Mei 13, 2009

Televisi Adalah Tersangka Utama!


Sore itu saya pulang dari kantor agak telat. Baru saja saya turunkan standar sepeda motor ke tanah tiba-tiba terdengar suara anak semata saya. “Ayah tolong saya...Ayah tolong saya”. Suara ini tentu saja sangat mengagetkan saya. Tak biasanya putri saya berteriak-teriak minta tolong. Biasanya kalo saya pulang ia akan berdiri berlari dari dalam rumah menyambut saya dan minta digendong atau bersembunyi di kamar meminta saya mencarinya sampai ketemu.

Belum hilang keterkejutan saya tiba-tiba dengan tubuh telanjang dia keluar dari dalam rumah sambil berlari dan berteriak-teriak minta tolong. Segera saya gendong anak saya dan membawanya masuk ke rumah untuk mengetahui apa yang terjadi. Ternyata dia baru saja mandi dengan air dingin dan karena kegirangan mandi dengan air dingin tidak seperti biasanya, dia lalu berlari minta tolong begitu mengetahui kedatangan ayahnya. “Ayah aku dimandiin sama perampok tolong Ayah....” begitu teriaknya sambil menunjuk Mamanya yang tertawa-tawa mendengar ocehanya. Mengetahui hal itu saya hanya bisa tersenyum simpul. 

Memang anak zaman sekarang ada ada saja. Pengaruh acara sinetron dan program anak-anak ternyata sudah mengkontaminasi anak saya sedemikian parahnya sehingga dia bisa bersandiwara layaknya sinetron televisi. Kadang saya tidak habis pikir kenapa benda seperti televisi bisa begitu “meracuni” anak saya sampai dia bisa bertingkahlaku layaknya artis sinetron. Padahal kalau saya mengajari membaca atau berhitung aja sampai setengah mati kok dia tidak bisa-bisa bahkan kadang sampai saya dan Mamanya jadi kesal. Tetapi kalo dia ditanya siapa nama artis sinetron X, dia pasti akan cepat menjawab ini namanya ini, ini saudaranya ini Yah. Kok hapal banget ya pikir saya.

Pernah suatu ketika anak saya minta diambilin minum karena dia lagi asyik menonton acara di televisi. Mamanya karena mungkin juga lagi asyik menyaksikan acara tersebut menjawab dengan ogah-ogahan “Males ah Dik, ambil sendiri di kulkas ya”. Yang membuat saya jadi terkejut adalah jawabannya. Dengan penuh percaya diri sambil menggurui, seorang anak umur 4 tahun menjawab, “Mama, kata Bu Guru nggak boleh males ya...”. Pinter ngeles juga anakku ini pikirku. Dan tahu apa kalimat selanjutnya yang diucapkan. ”Kalo Mama males ntar hati mama jadi hitam lho..” (hati jadi hitam=istilah putriku untuk berdosa). Dengan terpaksa Mamanya yang lagi tidur-tiduran beranjak juga ke kulkas mengakui kekalahan argumentasinya. Aduh putriku ini memang raja ngeles nomor wahid. Darimana dia belajar semua itu ya. Tidak lain dan tidak bukan saya rasa televisi adalah tersangka utamanya.






Kamis, Mei 07, 2009

Presiden Teladan - Presiden Termiskin di Dunia !!!!

Politik boleh berbeda ... tapi bicara sikap, kejujuran, kehidupan dan kesederhanaan ...
acungkan jempol !!!! sama orang ini ....
 
Presiden Iran saat ini: Mahmoud Ahmadinejad, ketika di wawancara oleh TV Fox (AS) soal kehidupan pribadinya:
 
"Saat anda melihat di cermin setiap pagi, apa yang anda katakan pada diri anda?"

Jawabnya: "Saya melihat orang di cermin itu dan mengatakan padanya:

"Ingat, kau tak lebih dari seorang pelayan, hari di depanmu penuh dengan tanggung jawab yang berat, yaitu melayani bangsa Iran ."
 
Berikut adalah gambaran Ahmadinejad, yang membuat orang ternganga dan terheran-heran : 

1. Saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan
Ia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang sangat tinggi nilainya itu
kepada masjid2 di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan.

2. Ia mengamati bahwa ada ruangan yang sangat besar untuk menerima dan menghormati tamu VIP,lalu ia memerintahkan untuk menutup ruang tersebut dan menanyakan pada protokoler
untuk menggantinya dengan ruangan biasa dengan 2 kursi kayu, meski sederhana tetap terlihat impresive.
 
 
3. Di banyak kesempatan ia bercengkerama dengan petugas kebersihan di sekitar rumah dan kantor kepresidenannya.

4. Di bawah kepemimpinannya, saat ia meminta menteri2 nya untuk datang kepadanya
dan menteri2 tsb akan menerima sebuah dokumen yang ditandatangani yang berisikan arahan2 darinya, arahan tersebut terutama sekali menekankan para menteri2nya untuk tetap hidup sederhana dan disebutkan bahwa rekening pribadi maupun kerabat dekatnya akan diawasi,
sehingga pada saat menteri2 tsb berakhir masa jabatannya dapat meninggalkan kantornya dengan kepala tegak.

5. Langkah pertamanya adalah ia mengumumkan kekayaan dan propertinya yang terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977, sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran. Rekening banknya bersaldo minimum, dan satu2nya uang masuk adalah uang gaji bulanannya.

6. Gajinya sebagai dosen di sebuah universitas hanya senilai US $ 250.

7. Sebagai tambahan informasi, Presiden masih tinggal di rumahnya.
Hanya itulah yang dimilikinya sebagai seorang presiden dari negara yang penting baik secara strategis, ekonomis, politis,belum lagi secara minyak dan pertahanan.
Bahkan ia tidak mengambil gajinya, alasannya adalah bahwa semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya.

8. Satu hal yang membuat kagum staf kepresidenan adalah tas yg selalu dibawa sang presiden tiap hari selalu berisikan sarapan; roti isi atau roti keju yang disiapkan istrinya dan memakannya dengan gembira. Ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan yang dikhususkan untuk presiden. 

9. Hal lain yang ia ubah adalah kebijakan Pesawat Terbang Kepresidenan,
ia mengubahnya menjadi pesawat kargo sehingga dapat menghemat pajak masyarakat dan untuk dirinya. Ia meminta terbang dengan pesawat terbang biasa dengan kelas ekonomi.

10. Ia kerap mengadakan rapat dengan menteri2 nya untuk mendapatkan info tentang kegiatan dan efisiensi yang sdh dilakukan,dan ia memotong protokoler istana sehingga menteri2 nya dapat masuk langsung ke ruangannya tanpa ada hambatan.
Ia juga menghentikan kebiasaan upacara2 seperti karpet merah, sesi foto, atau publikasi pribadi,
atau hal2 spt itu saat mengunjungi berbagai tempat di
negaranya.

   
11. Saat harus menginap di hotel, ia meminta diberikan kamar tanpa tempat tidur yg tidak terlalu besar karena ia tidak suka tidur di atas kasur, tetapi lebih suka tidur di lantai beralaskan karpet dan selimut.
Apakah perilaku tersebut merendahkan posisi presiden?
Presiden Iran tidur di ruang tamu rumahnya sesudah lepas dari pengawal2nya yg selalu mengikuti kemanapun ia pergi.
Menurut koran Wifaq, foto2 yg diambil oleh adiknya tersebut,
kemudian dipublikasikan oleh media masa di seluruh dunia, termasuk amerika.
   
12. Sepanjang sholat, anda dapat melihat bahwa ia tidak duduk di baris paling muka 

13. Bahkan ketika suara azan berkumandang,
ia langsung mengerjakan sholat dimanapun ia berada meskipun hanya beralaskan karpet biasa 
  

  

14. Baru-baru ini dia baru saja mempunyai Hajatan Besar Yaitu Menikahkan Puteranya. Tapi pernikahan putra Presiden ini hanya layaknya pernikahan kaum Buruh. Makanannya cuman ada Pisang,Jeruk, dan Apel. 

  
Mudah-mudahan di pemilu yang akan datang kita akan memiliki Presiden yg bersikap seperti ini.  
 
(Sumber : Milis)

Minggu, Mei 03, 2009

Ono-ono Wae!

Kata orang pekerjaan yang paling membosankan adalah menunggu. Memang kalo dilihat dari tata bahasanya menunggu merupakan kata kerja yang berasal dari kata dasar tunggu. Tetapi kalo kita telaah lebih lanjut apakah menunggu merupakan sebuah “pekerjaan”. Saya kira semua orang setuju kalo itu sebuah kegiatan saja bukan pekerjaan. Sebuah kesalahan fatal yang menjadi kebiasaan.

  Menurut saya kegiatan menunggu menjadi membosankan atau tidak tergantung bagaimana kita menyikapi dan memperlakukannya. Banyak orang yang menganggap menunggu membosankan karena mereka mengerjakan sambil duduk bengong dan memikirkan sesuatu. Atau mereka menanti-nantikan kedatangan atau terjadinya sesuatu dengan time limit yang mereka tentukan sendiri. Jika time limit ini sudah habis maka waktu sesudahnya menjadi membosankan dan menyebalkan. Berbeda jika kita memberi ruang pada kegiatan menunggu ini. Dan mengisi ruang yang kosong tersebut dengan kegiatan yang menarik atau bermanfaat sehingga waktu yang kosong tersebut terisi penuh dan tanpa terasa apa yang kita tunggu sudah datang. Dan bahkan saking menariknya kita membutuhkan lagi waktu untuk menunggu dan bahkan kita menggerutu mengapa waktu begitu cepat berlalu atau mengapa orang atau hal yang kita tunggu begitu cepat datang.

 Kegiatan yang dibilang membosankan inilah yang sedang saya lakukan. Dan saya mencoba mengisi ruang kosong dalam waktu tunggu tersebut. Orang Jepang mengisi waktu dengan membaca baik itu koran, majalah, tabloid, proposal bisnis. Namun itu tidak menarik bagi saya saat ini ketika saya harus melakukannya sambil berdiri. Settingnya saya sedang menunggu istri saya antri di kasir salah satu supermarket. Kebetulan hari ini sabtu malem minggu tanggal muda lagi jadi yah seperti ular panjangnya. Lumayanlah kira-kira ada sepuluh antrian di satu kasir dan masing-masing orang dengan belanjaan satu keranjang penuh.

 Saya jadi berpikir apa yang harus saya lakukan karena tidak ada tempat duduk. Mau duduk di kursi counter meubel ada penjaganya yang siap menegur setiap saat. Ah, browsing pake hp itung2 update facebook. Ternyata lama juga koneksinya mungkin sibuk atau mungkin jaringannya lagi crowded maklum malam mingguan biasanya warnet penuh dengan mahasiswa yang ngenet melepas rindu jarak jauh atau sekedar ngegame menghabiskan malam mingggu tanpa pacar.

 Keputusan terakhir sebagaimana banyak dilakukan jurnalis atau penulis adalah sebagai pengamat. Pengamat perilaku orang-orang tepatnya. Inilah yang sedang kulakukan. Pertama aku mengamati mengapa jarang ditempatkan kursi untuk duduk para konsumer di supermarket ini padahal tiap hari selalu ramai. Hanya ada dua deret kursi dan kulihat sudah penuh. Apalagi sudah dua keluarga besar yang kulihat “menguasai” dua deret kursi tersebut. Alasan yang kupikir sedikit logis dan agak lucu adalah ternyata di seberang kasir ada satu gerai pijat kaki. Mungkin inilah logikanya. Sedikit kursi akan menyebabkan banyak orang yang berdiri. Semakin banyak orang yang berdiri maka semakin banyak orang yang capek dan pegal kakinya. Semakin banyak yang pegal kakinya maka bisa ditebak sendirilah hubungannya dengan gerai pijat tadi. Sistem pemasaran yang jitu pikirku karena dulunya gerai itu ada di dalam supermarket dan sepi ternyata setelah ada di luar terutama di depan kasir jadi ramai. Yang jelas pasti ada korelasinya tapi korelasinya seperti apa dan sejauh mana perlu penelitian lebih lanjut kayaknya.

 Hal kedua yang saya amati adalah keranjang belanja. Ada berbagai bentuk keranjang belanja. Ada yang berbentuk jinjingan. Ada yang berupa kereta dorong dengan tempat duduk untuk anak kecil di bagian depannya. Ada lagi kereta dorong yang dilengkapi dengan mobil-mobilan di bagian depannya untuk anak kecil juga dan ini paling disenangi anakku. Bahkan ada kereta dorong yang dilengkapi dengan tempat tidur bayi. Benar-benar consumer oriented pikirku. Inilah salah satu trik marketing untuk menarik dan memanjakan konsumen dalam berbelanja terutama mereka yang membawa keluarga. 

 Tetapi justeru bukan hal itu yang menarik perhatian saya. Perhatian saya justeru tertuju pada seorang anak kecil yang kira-kira berumur 3 tahun yang sejak tadi bermain-main dengan pengasuhnya sembari menunggu ibunya yang sedang antri di kasir. Sepanjang pengamatan saya anak ini dari tadi ingin naik kereta belanjaan yang ada mobil-mobilannya. Setiap ada kereta belanja yang dimaksud antri di kasir untuk membayar, segera dia datangi dengan maksud untuk dia tumpangi. Tetapi begitu selesai si pemilik belanjaan yang mengantri di kasir buru2 meletakkan belanjaan di kereta belanja tadi karena anaknya juga naik kembali ke kereta belanja tersebut. Dan memang menurut aturan hal ini diperbolehkan oleh pengelola supermarket untuk dibawa si pembelanja kalo gak salah sampai lantai 1. 

 Setelah sekian lama menunggu akhirnya si anak kecil ini berhasil mendapatkan kereta belanja yang ada mobil- mobilanya. Dengan cekatan si anak segera naik mobil-mobilan tersebut. Anehnya sang pengasuh tidak mau mendorong karena antrian ibunya sudah hampir selesai dan segera mereka akan pulang. Anak ini tak kurang akal pertama dia turun dari mobil2lan lalu kereta belanjanya didorong keras2 dan dia mengejar kereta dorong lalu menaikinya dengan cekatan. Pinter juga anak ini tapi akhirnya kereta berhenti dan setiap berhenti dia melakukan hal yang sama berulangkali sambil diperhatikan oleh pengasuhnya. 

 Tiba giliran ibunya selesai mengantri, si pengasuh mencoba membujuknya untuk meninggalkan “permainannya”. Tetapi karena terlalu mengasyikkan baginya iapun tidak mau. Segala cara dilakukan pengasuhnya mulai dari membujuk, menggendong sampai memaksanya. Tetapi bocah tersebut malah menangis. Usaha terakhir adalah mencoba meninggalkannya. Setiap ditinggalkan bocah ini membuka pintu mobil2lan dan turun tapi begitu si pengasuh mendekat anak ini kembali masuk mobil2an. Setelah beberapa kali terkecoh usaha anak kecil tersebut, ibunya yang tidak mau kalah akal terpaksa mengejar dan menggendong anak kecil tersebut sebelum sampai ke mobil2lan dan menaikinya. Kejadian ini berakhir dengan happy ending karena anak kecil tersebut akhirnya mau digendong ibunya dan tidak menangis. Just kidding pikirku.

 Kejadian ketiga yang tak luput dari pengamatan saya adalah para “peragawan/peragawati” yang lalu lalang didepan saya. Berbagai suku ras, umur, model dan bahkan trend berpakaian yang melewati saya sedari tadi. Kebanyakan yang lewat memang sepasang muda-mudi yang sedang melewatkan malam minggu di mall tersebut. Kemuadian keluarga-keluarga baik keluarga muda dengan anak kecilnya maupun keluarga besar yang membawa serta sanak saudaranya dari luar kota untuk jalan-jalan di mall. Hal ini dapat terlihat dari cara berpakaian dan logat bicaranya yang menunjukkan kalau mereka orang kalimantan bahkan dari sulawesi.  

 Dan yang paling aneh adalah cara berpakaian mereka (ini menurut saya yang sudah tidak muda lagi dan cenderung konvensionalis). Saya kadang-kadang mengikuti perkembangan model/gaya berpakaian tetapi saya tidak selalu menerapka trend yang ada dalam gaya berpakaian saya. Saya cenderung mengenakan apa yang enak dilihat dan merasa saya nyaman dan pede untuk dipakai saja. Kalau dulu orang khusunya cewek lebih berpakaian untuk memperlihatkan bagian atasnya (dadanya) dengan model2 pakaian yang agak berbau baju tidur maka sekarang muali bergeser kearah bagian bawah (paha) yang ditonjolkan> kebanyakan remaja sekarang banyak mengenakan celana pendek yang memperlihatkan paha. Beberapa orang terutama laki laki menyukainya tetapi kadang-kadang kita merasa risih juga sebagai orang timur. Inilah yang lalu-lalang di depan mata saya. Selain itu ternd yang berkembang adalah model celana hipster ketat dibagian bawah. Ini dapat aku lihat dari remaja-remaja dari beberapa anak band yang baru saja lewat.

 Aku terkejut ketika yang lewat adalah segerombolan remaja yang mengenakan sarung tetapi mereka tidak memakai peci layaknya busana muslim. Kalo kupikir betapa tergesa-gesanya mereka sehabis dari masjid atau pengajian langsung ke mal tanpa berganti busana. Atau mereka sedang membuat tren baru dan membuat sesuatu yang berbeda di kalangan pengunjung mall. Dan ketika mereka lewat aduuhhh senggggg bau sarung apek langsung menusuk hidung. Padahal ketika remaja berpasangan yang lewat bau wangi masih tercium. Tapi begitu remaja bersarung lewat bau apek sarung yang belum tercuci beberapa hari, minggu atau bahkan bulan langsung tercium. Aneh pikirku ke mall pake sarung , bau apek lagi. Semoga ini tidak menjadi trend. Kalaupun toh akhirnya menjadi trend saya lebih setuju kalo pake sarung tapi baunya yang sedep2 dan wangi –wangi. Ono-ono wae... aya aya wae (orang sunda bilang).

 Akhirnya pengamatanku berakhir disini karena istriku sudah berdiri dengan sekeranjang barang belanjaan. Selamat jadi pengamat bila anda harus menunggu seseorang/ sesuatu. Percayalah ini mengasyikkan setidaknya untuk membunuh kebosanan Anda.

Mall Olympic Garden, Sabtu 2 Mei 2009 saat lagi Belanja.




Minggu, April 26, 2009

Pegawai Favorit, Pegawai Militan Trus Pegawai apalagi ya?

Beberapa waktu lalu di sebuah kantor Negeri Dreaming (sodaranya Negeri Impian) diadakan acara perpisahan pegawai yang mutasi dan pemilihan pegawai paling militan. Sebenarnya pemilihan pegawai militan ini merupakan metamorfosa dari pemilihan pegawai favorit.

Ceritanya kantor Negeri Dreaming ini mengadakan modernisasi besar2an untuk memperbaiki kinerjanya. Nah untuk memacu motivasi dan memberi reward pada para pegawai, dibikinlah acara Pemilihan Pegawai Favorit. Karena namanya pegawai favorit maka pegawai ini diseleksi berdasarkan pilihan terbanyak para pegawai dalam satu kantor. Jadi setiap kategori misalnya pelaksana, account representative, maupun pemeriksa dipilih satu orang yang paling difavoritkan oleh seluruh pegawai satu kantor karena kualitas dan kuantitas kerjanya yang dilihat, didengar dan dirasakan paling ciamik oleh karyawan sekantor.  

Tapi mungkin karena ada kejenuhan atau orientasi pegawai yang sudah mengalami pergeseran acara pemilihan pegawai ini sudah mulai tidak fair lagi. Tanda-tandanya sudah mulai nampak ketika satu orang pegawai yang “kurang disukai” oleh bawahan satu seksinya sukses terus menerus meraih penghargaan selama 5 kali berturut-turut. 

Tanda-tanda kejenuhan kedua muncul ketika beredar “telepon berantai” dari satu seksi ke seksi yang lain untuk memilih pegawai tertentu. Dan ekstrimnya pemilihan pegawai favorit yang terakhir memunculkan pemenang yang diluar dugaan. Apa yang terjadi? Ternyata pegawai yang meraih piala adalah para pegawai yang terkenal sebagai “teroris” di kantor. Sebenarnya ini sah sah saja karena judulnya adalah Pemilihan Pegawai Favorit . Jadi pegawai yang terpilih adalah yang menjadi favorit karyawan sekantor. Tapi kok ya favorit gara-gara “teroris” tadi. Apakah karena mereka memandang terorisme di kantor sebagai hal yang perlu dan semakin dibutuhkan. Hanya dalam hati pegawai satu kantor Negeri Dreaming yang tau.

Kembali ke Pemilihan Pegawai Militan tadi. Idenya mungkin berangkat dari Pemilihan Pegawai Favorit yang sudah melenceng dari visi n misinya. Maka diadakanlah Pemilihan Pegawai Militan. Namun mungkin karena ada kebijakan Pemilihan Pegawai Militan (disingkat PPM aja ya) baru diumumkan saat ada acara perpisahan tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Mungkin ini sebagai surprise dan sengaja para pegawai dinilai militanismenya secara diam-diam.

Dengan MC yang sedikit kocak akhirnya diumumkan juga pegawai-pegawai yang paling militan sekantor Negeri Dreaming. Akhirnya muncul lah nama nama pegawai sesuai dengan masing kriteria per seksi, per pelaksana, dan per fungsional. Namun saat MC mengumumkan alasan2 dibalik terpilihnya pegawai tersebut hatiku agak tersentil juga. Why?

Pertama alasan dibalik terpilihnya pegawai diantaranya karena pegawai tersebut sering memberi masukan (ke atasanya tentunya...), mencari tau hal hal yang tidak seharusnya dalam kapasitas orang tersebut untuk menjawabnya, dan ada seorang pegawai yang sakit namun masih sempat2nya nanya ke kantor pekerjaanya apa hari itu (kalo gak salah). Its fine alasan yang bagus. Tapi melihat kinerja sebenarnya pegawai tersebut rasanya kok tidak sesreg yang dimaksud militan. Sama sekali bukan karena penulis iri atau apa tapi ada yang mengganjal di hati. Pegawai Militan terlalu agung kayaknya untuk disematkan kalau dilihat dari kinerja sehari-hari mereka. Apakah karena pegawai yang kinerjanya biasa karena satu moment dan melakukan hal yang excelence jadi pegawai tersebut bisa disebut militan? Saya kok lebih setuju memilih pegawai yang kinerjanya keseluruhan diatas rata-rata secara konsisten daripada memilih pegawai dengan kinerja rata-rata trus karena dia melakukan sesuatu yang beda trus dipilih.

Kedua, fakta kalo dilihat memang para pegawai yang tentunya melakukan hal yang sama dengan alasan terpilihnya pegawai militan tersebut banyak dilakukan pegawai lain dan hal ini tidak terpantau. Banyak pegawai yang saya rasa berusaha mencari tahu hal hal yang tidak ia ketahui dan mungkin alasan lasan lain yang menyebabkan pegawai menjadi militan namun tidak diketahui tim penilai. Menurut sumber yang tidak dapat dipercaya (he he he..) pegawai militan dipilih berdasarkan usulan tim yang tidak diketahui pegawai sekantor. Faktor like and dislike kayaknya masih memainkan peranan disini (menurut saya dan beberapa temen) termasuk didalamnya faktor know n not know kinerja pegawai beredar disini.

Kalau boleh sekedar usul usil nih (minjem istilahnya tabloid BOLA favorit saya) ada beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan pemikiran ke depan:

1. Knowing
Ajang PPM ini harus diketahui oleh semua pegawai, diumumkan siapa aja panitia pemilihnya. Diharapkan dengan adanya pengumuman ini semua pegawai menjadi tau, selanjutnya termotivasi, dan yang tidak kalah penting adalah kepada siapa dia bisa “memperlihatkan” kinerjanya agar PPM ini berjalan agak fair. Sehingga kinerja seluruh pegawai bisa terpantau oleh Tim Penilai dan peniaian bisa berjalan lebih fair.

2. Standar
Harus dibuat standar atau kriteria PPM. Hal ini disamping untuk mnegurangi faktor like dislike, dan menjaga integritas dari PPM itu sendiri. Dengan adanya standar yang jelas minimal pegawai mengetahui alasan dibalik terpilihnya pegawai militan. Selanjutnya ini akan menjadi motivasi bahwa untuk terpilih menjadi pegawai militan paling tidak harus memenuhi standar tersebut dan bahkan melampauinya. Standar tersebut bermacam-macam misalnya dilihat dari faktor kedisiplinan (absensi), kinerja penyelesaian pekerjaan yang terukur dan standar pelayanan. 

3. Tim Penilai
Akan lebih baik lagi jika pemilihan ini selain dilakukan oleh tim tertentu di kantor juga dilakukan oleh pihak diluar kantor . Penilaian yang dilakukan oleh pihak lain akan menjadikan PPM lebih fair dan netral apalagi jika faktor hubungan like n dislike dengan tim penilai bisa dihilangkan.

Memang tidak mudah membuat ajang kompetisi antar pegawai terutama untuk memotivasi pegawai agar dapat meningkatkan kinerjanya lebih baik. Ketidaktahuan pegawai, ketidakjelasan standar, dan sistem penilaian yang tidak jelas penulis rasa justru akan memukul balik kinerja karyawan. Disaat karyawan mulai tidak respek dan tidak dihargai menurunkan performa adalah jalan pintas untuk melawan kebijakan penilaian. Anomali yang sungguh ironis yang akan membalikkan PPM kembali ke “kinerja” Pemilihan Pegawai Favorit dimana karyawan justeru memilih pegawai yang berstatus “ teroris” di kantor. Teruskan atau rancang? pilihan yang kedua kayaknya perlu dilakukan jika ingin memilih pegawai yang benar benar militan di kantor Negeri Dreaming ini. 

Jual Beli Suara Pemilu di Kampung

Kayaknya sudah lama banget saya menepikan blog ini. Saat lagi gak ada kegiatan sambil nunggu BPL antara MU vs Totenham Hotspurs inilah saya punya kesempatan untuk mengupdate blog ini lagi. Tulisan yang ingin saya angkat adalah tentang adanya jual beli suara pemilu legislatif 9 April 2009.

Berhubung sebagai orang kantoran dan adanya bonus dimana tanggal 9 April dijadikan hari libur nasional maka saya sempatkan untuk mencontreng pada tanggal tersebut. Dengan pengorbanan naik bis Handoyo Malang-Semarang selama 8 jam dan ongkos Rp. 140-an jadilah saya ikut nyontreng di kampung. Kebetulan saya sampai di Semarang jam stengah enam pagi dan harus naik angkutan serta ojek sekali lagi untuk sampai di kampung melaksanakan kewajiban saya sebagai warga negara yang baik.

Sesuai dengan kebiasaan saya jika pulang kampung saya biasanya nonkrong tiap pagi di warung tetangga. Itung2 sarapan pagi sambil merefresh energi kekampungan saya yang sudah lowbatt selama di Malang. Tiba2 datang seorang ibu yang pulang dari TPS habis nyontreng. “Pye Lik milih sopo mau?” tanyaku sekedar basa basi padahal setiap pilihan orang kan rahasia he he he. “ Yo milih sing ngamplopi tho...” jawabnya polos dan sedikit bangga. “Wah ono sing ngamplopi tho” lanjutku mengorek keterangan dari ibu-ibu tadi. “ Ono kok Her, wong kidulan kono diamplopi kabeh kon milih si X”, katanya. O ternyata terjadi jual beli suara juga di kampung ini.Terkadang-kadang kita ragu kalo cuma denger dan liat dari berita di tv kalo ada suap menyuap jual beli suara selama pemilu. 

Fakta kedua terjadi di TPS. Waktu penulis datang sekitar jam 10 masih rame-ramenya para pemilih yang nyontreng. Setelah bersalaman dengan orang-orang yang datang di situ, akupun mnyerahkan surat panggilan pada PPS. Sambil menunggu giliran aku masih liat-liat gambar caleg karena ada banyak caleg dan aku gak tau apa yang akan kupilih. Disamping jarang pulkam akupun gak tau masing2 track record para caleg cause selama ini aku di Malang sedangkan para caleg kampanyanyenya di Kendal. “Ojo lali yo Her!” tiba-tiba ada yang nyeletuk di sebelahku. Penasaran dengan suara itu aku langsung menoleh. Ternyata suara itu berasal dari tetanggaku yang sehari harinya pekerjaannya menggembalakan itik. “Ojo lali karo sing ngendi ki Lik?” tanyaku sekedar mengetes mana calon yang direkomendasikannya. “ Sing iki!” katanya tegas sambil tersenyum menunjuk gambar calon yang didukungnya. “Beres!” kataku. Padahal tak ada niat sedikitpun dalam hatiku untuk memilih calon tersebut. Disamping aku gak tau track recordnya, caleg tersebut berasal dari partai antah berantah yang baru kulihat gambarnya. Daripada membuang2 suara mending kuberikan suaraku pada partai pilihanku yang sudah kudengar track recordnya dan kayaknya bakal terpilih.

Akhirnya dengan cekatan kucontreng calegku setelah menunggu sekian lama. Ternyata gampang buatku belum tentu gampang buat orang lain. Hansip PPS yang mencontrengpun kebingungan mencari calon yang harus di contreng. Karena walaupun sudah ngapalin dari luar fotonya. Ternyata di kertas suara yang muncul nama partai dan caleg bukan fotonya. Apalagi ditambah 4 kertas suara semakin kebingungan nampaknya para pemilih.

Keluar dari PPS aku tidak langsung pulang tetapi ngobrol2 dengan para pemilih yang sudah mencontreng. Langsung kudekati pria penggembala bebek yang tadi menyarankan aku untuk memilih salah satu caleg. Ternyata dia juga memantau orang2 yang telah diamplopinya apakah sudah memilih caleg yang direkomendasikan. Menurut dia pasti ada saja orang yang salah mencontreng dan orang2 ini akan mengurangi suara dan otomatis amplopnya harus ditarik karena tidak memilih calegnya karena suaranya hilang atau memilih calon lain. Benar juga setelah perhitungan suara dari sekitar 70-an orang yang diberi amplop ternyata hanya sekitar 50-an orang yang memilih caleg tersebut. Dan anehnya banyak orang yang memilih caleg di kertas suara tertentu sedangkan yang lain dikosongi. Alias mencontreng hanya di satu surat suara saja. Dasar orang kampung pikirku padahal aku sendiri masih orang kampung he he he..

Setelah perhitungan suara di desaku ternyata tiap2 TPS dimenangkan oleh partai yang berbeda-beda. Apa sebabnya? fakta ketiga berbicara. Dari keterangan Bapakku, ada yang satu TPS yang pemilihnya mendukung caleg dari partai tertentu karena gang2 di dusun pemilih tersebut diper keras dengan aspal dan beton oleh caleg tertentu. Dan caleg tersebut mendapat suara mayoritas di TPS yang bersangkutan.

Ya itulah dinamika demokrasi. Kadang2 orang kampungpun ingin berpesta dengan cara mereka sendiri. Mungkin inilah uang muka yang mereka minta dari para caleg sebelum mereka duduk di kursi legislatif. Daripada mereka tidak mendapat apa-apa dan dilupakan para caleg ketika mereka sudah duduk di kursi dewan, mending mereka meminta dibeli suaranya dan dapat uang atau fasilitas. Demokrasi memang sudah menjadi democrazy di negeri ini. Kembali ke jaman dulu, kalau dulu ada istilah barter barang sebelum adanya uang. Kini setelah adanya uang berubah menjadi barter suara dengan uang/fasilitas. Akankah ini terulang di pemilu presiden? Tunggu tanggal mainnya.