Tampilkan postingan dengan label Renungan Romo Maryo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Romo Maryo. Tampilkan semua postingan

Selasa, Oktober 20, 2009

"Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala."

(Rm 5:12.15b.17- 19.20b-21; Luk 12:35-38)

"Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala. Dan hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya.7 Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. Dan apabila ia datang pada tengah malam atau pada dinihari dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah mereka"

(Luk 12:35-38), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
• Apa yang disebut `persiapan' hemat saya merupakan suatu langkah kegiatan penting dalam aneka usaha atau kesibukan kita; dengan persiapan baik ada harapan cita-cita atau usaha akan sukses. Persiapan yang baik membuat orang yang bersangkutan senantiasa dalam keadaan siap-siaga untuk dipanggil dan diutus. Tanpa melecehkan prosfesi lainnya, hemat saya militer dapat menjadi contoh dalam hal persiapan. Militer memiliki tugas utama dalam `perang', maka ketika tidak berperang pun pada umumnya mereka terus mempersiapkan diri dengan berbagai latihan. Dengan kata lain mereka belajar terus menerus. Bagi para pelajar atau mahasiswa, tugas belajar juga merupakan persiapan, entah persiapan untuk ujian atau profesi masa depan, dalam rangka hidup bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara. Hidup kita hemat saya juga merupakan persiapan untuk mati atau dipanggil Tuhan. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak kita semua untuk mawas diri bahwa tugas atau pekerjaan kita apapun dan dimanapun adalah persiapan atau pembelajaran. Sikap mental selama persiapan atau belajar antara lain: kerja keras, terbuka, siap sedia terhadap aneka kemungkinan dan kesempatan, bergairah, dst.. atau berjaga-jaga seperti satpam atau penjaga malam yang baik. Salah satu usaha yang tak boleh dilupakan selama persiapan atau belajar menjaga kesehatan dan kebugaran jiwa dan raga. Untuk menjaga keshatan dan kebugaran jiwa dan raga antara lain tidak melupakan hidup doa serta senantiasa berbuat baik jika ada kesempatan, maupun rajin berolahraga dan mengkomsumsi makanan sesuai dengan pedoman `empat sehat lima sempurna', hidup teratur baik dalam kerja maupun istirahat. Usaha menjaga kesehatan dan kebugaran jiwa dan raga ini hendaknya sedini mungkin diusahakan di dalam keluarga: anak-anak dibiasakan hidup sehat dan bugar dengan teladan dan bimbingan orangtua/bapak- ibu.
• "Jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus. Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup"(Rm 5:17-18). Perbuatan atau perilaku kita senantiasa berdampak sosial atau mempengaruhi lingkungan hidup serta sesama kita. Mengingat hal ini kami harapkan agar kita semua senantiasa berperilaku baik dan benar alias berbudi pekerti luhur. Ciri-ciri berbudi pekerti luhur antara lain: " bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap adil, sikap hormat, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tetap janji, terbuka dan ulet"(Prof.Dr. Sedyawati: Pedoman Penananam Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka, Jakarta 1997). Di antara ciri-ciri budi pekerti luhur di atas ciri mana yang sebaiknya lebih kita utamakan untuk dihayati, kiranya perlu diperhatikan lingkungan hidup kita masing-masing. Unggul dalam salah satu ciri, hemat saya ciri-ciri lain secara inklusif terhayati juga. Sekiranya salah satu ciri telah dihayati dengan baik, hendaknya terus diusahakan menghayati ciri lain, sehingga semakin banyak ciri-ciri budi pekerti luhur tersebut dihayati, dan dengan demikian juga semakin banyak orang diselamatkan atau dibahagiakan.

"Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku; korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut. Lalu aku berkata: "Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku."Aku mengabarkan keadilan dalam jemaah yang besar; bahkan tidak kutahan bibirku, Engkau juga yang tahu, ya TUHAN "(Mzm 40:7-10)


Jakarta, 20 Oktober 2009

Jumat, Oktober 09, 2009

“Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”

(Yl 3:12-21; Luk 11:27-28)

“Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: "Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau." Tetapi Ia berkata: "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”

(Luk 11:27-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 


Berrefleksi

atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Kebahagiaan sejati seorang ibu antara lain ketika melihat anak yang telah dikandung dan disusuinya tumbuh berkembang menjadi pribadi cerdas beriman, yang berbakti kepada kepentingan dan kebutuhan sesamanya, semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesamanya. Maka ada seorang perempuan, yang telah menyaksikan dan mengalami keberhasilan pelayanan Yesus, berkata kepadaNya: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau”. Mendengarkan kata-kata itu tanggapan Yesus nampak ‘menolak atau tidak menyetujui’, tetapi sebenarnya ‘meneguhkan’, ketika Ia berkata:”Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya”. Yang dimaksudkan oleh Yesus di sini tidak lain adalah Bunda Maria, yang telah mengandungNya dan menyusuiNya. Bunda Maria, teladan umat beriman, senantiasa ‘mendengarkan firman Allah dan memeliharanya atau melaksanakannya’, dan dengan demikian senantiasa berbahagia
karenanya. Maka jika kita mendambakan kebahagiaan sejati, marilah kita dengarkan firman Allah sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci, kita renungkan dan hayati atau laksanakan dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimanapun dan kapanpun. Keunggulan hidup beriman terletak dalam penghayatan atau pelaksanaan bukan wacana atau omongan. Maka baiklah aneka peraturan atau tatanan hidup sekecil atau sesederhana apapun marilah kita hayati atau laksanakan, entah dilihat oleh orang lain atau tidak. Secara khusus saya mengingatkan dan mengajak kita semua untuk mentaati dan melaksanakan aneka aturan lalu lintas atau rambu-rambu lalu lintas ketika sedang di perjalanan, entah sebagai pengendara kendaraan maupun pejalan kaki. Tertib berlalu-lintas di jalanan hemat saya merupakan cermin tertib cara hidup dan cara bertindak warga masyarakat atau bangsa.
· “Pada waktu itu akan terjadi, bahwa gunung-gunung akan meniriskan anggur baru, bukit-bukit akan mengalirkan susu, dan segala sungai Yehuda akan mengalirkan air; mata air akan terbit dari rumah TUHAN dan akan membasahi lembah Sitim”(Yl 3:18). Kutipan di atas ini merupakan janji bagi bangsa terpilih yang akan melaksanakan kehendak atau perintah Tuhan, maka baiklah kita renungkan bagi kita sebagai umat beriman. Kebahagiaan dan damai sejati akan kita nikmati jika kita setia melaksanakan kehendak Tuhan, antara lain dengan setia menghayati aneka janji yang pernah kita ikrarkan, misalnya: janji baptis, janji perkawinan, janji imamat, kaul, janji pegawai atau pejabat dst.. . Maka hendaknya kita tidak berhenti bangga dan puas ketika sedang mengikrarkan janji-janji tersebut. Saat pengikraran janji tersebut hemat saya bagaikan ‘SIM’ (Surat Izin Menghayati). Sebagai orang yang telah dibaptis, marilah kita hayati dalam hidup sehari-hari janji kita
untuk hanya mengabdi Tuhan Allah saja dan menolak semua godaan setan; sebagai suami-isteri marilah kita hayati janji untuk saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit; sebagai imam marilah kita hayati sebagai penyalur berkat/rahmat Allah kepada manusia dan sebagai yang telah berkaul triprasetia marilah kita senanitiasa membaktikan diri sepenuhnya pada Penyelenggaraan Ilahi dan secara konkret membaktikan diri bagi sesama agar mereka bahagia dan damai sejahtera. “Gunung-gunung akan meniriskan anggur baru, bukit-bukit akan mengalirkan susu”, yang sakit akan sembuh dan segar bugar kembali, yang tertindas akan terbebaskan, yang sedih akan berbahagia, yang frustrasi akan bergairah, dst.. jika setia pada janji-janji yang pernah diikrarkan. Jika kita setia pada janji yang pernah kita ikrarkan, maka dari diri kita akan mengalir kesegaran dan kegairahan alias siapapun yang melihat dan hidup bersama dengan kita akan semakin segar dan
bergairah.

“TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita! Awan dan kekelaman ada sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya. Gunung-gunung luluh seperti lilin di hadapan TUHAN, di hadapan Tuhan seluruh bumi. Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya.”(Mzm 97:1-2.5-6)

Jakarta, 10 Oktober 2009

Rabu, Oktober 07, 2009

“Tuhan ajarilah kami berdoa”

(Yun 4:1-11; Luk 11:1-4)



“Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di
salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari
murid-murid- Nya kepada-Nya: "Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang
diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya. " Jawab Yesus kepada mereka:
"Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah
Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan
ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang

bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan."

( Luk 11:1-4), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 




Berrefleksi

atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Maria, Ratu Rosario, hari ini

saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Bulan Oktober adalah bulan Rosario; doa rosario merupakan salah satu doa favorit bagi umat Katolik.
Berdoa rosario dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja, dan tidak hanya di
tempat peziarahan Bunda Maria atau di gereja. Doa rosario merupakan pendarasan
atau pengulangan doa-doa harian seperti: Bapa kami, Salam Maria dan Kemuliaan.
Dalam kutipan Warta Gembira hari ini kita diajak berdoa dengan khidmat doa Bapa
Kami. Isi doa Bapa Kami antara lain “Berikanlah
kami setiap hari makanan yang secukupnya
dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab
kami pun mengampunia setiap orang
yang bersalah kepada kami”. Hidup sederhana dalam kasih pengampunan
itulah salah satu yang kita mohon dalam doa Bapa Kami, dengan kata lain kita
mendambakan hidup sederhana dalam kasih pengampunan. Kita dipanggil untuk
meneladan Bunda Maria, yang sederhana dan penuh kasih pengampunan. Kasih
pengampunan yang dihayati oleh Bunda Maria antara lain nampak dalam penghayatan
“merenungkan atau mendoakan dalam hati
apa yang kurang atau tidak dapat dimengerti/dipahami”, ketika ia menghadapi
kesulitan dan tantangan tidak mengeluh dan menggerutu atau marah, melainkan
berdoa. Dalam hidup sehari-hari kiranya kita sering menghadapi hal-hal atau
apa-apa yang tidak sesuai dengan selera pribadi kita serta membuat kita tidak
enak dan kurang bahagia. Dengan kata lain setiap hari ada kesempatan bagi kita
untuk menghayati isi doa Bapa Kami “ampunilah
kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada
kami”. Dalam doa rosario kita mendoakan doa Salam Maria, antara lain berisi “doakanlah kami orang berdosa ini, sekarang
dan sampai waktu kami mati”. Dengan kata lain kita adalah para pendosa yang
telah menerima kasih pengampunan dari Tuhan secara melimpah ruah, maka
panggilan untuk saling mengampuni kiranya merupakan tugas yang mudah, yaitu
tinggal menyalurkan kasih pengampunan yang telah kita terima secara melimpah
ruah.

· "Engkau
sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikit pun engkau tidak berjerih
payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa
dalam satu malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang
besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang
semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya
yang banyak?” (Yun 4:10-11), demikian
tanggapan Allah atas keluh kesah dan gerutu atau kemarahan Yunus. Dari kutipan
di atas ini kiranya kita diajak untuk menghayati betapa pentingnya keselamatan
jiwa manusia. Keselamatan jiwa manusia hendaknya menjadi tolok ukur atau
barometer keberhasilan kerja, pelayanan dan usaha kita. Suasana lingkungan
hidup bersama di manapun dan kapanpun tergantung dari manusia yang ada di
dalamnya, bukan gedung atau sarana-prasarana maupun ciptaan-ciptaan lain yang
berada di lingkungan tersebut. Kesejahteraan dan kebahagiaan hidup berkeluarga
sangat tergantung dari pribadi-pribadi anggota keluarga, dan kesejahteraan
masyarakat, bangsa dan Negara tergantung dari kesejahteraan dan kebahagiaan
keluarga-keluarga. Keluarga merupakan dasar hidup bersama di manapun dan
kapanpun, maka marilah kita perhatikan dan usahakan kesejahteraan dan
kebahagiaan keluarga kita masing-masing. Kesejahteraan dan kebahagiaan tidak
terletak pada harta benda atau uang melainkan dalam saling mengasihi dan
mengampuni, atau dalam bahasa lain : setiap manusia sungguh dimanusiakan,
manusia sebagai gambar atau citra Allah. Maka dengan ini kami mengharapkan
hendaknya tidak terjadi pemerkosaan harkat martabat manusia di dalam keluarga ,
maklum dari berbagai informasi dapat kita dengar bahwa para isteri atau ibu
sering merasa diperkosa oleh suami atau pasangan hidupnya. Jika para isteri
atau ibu merasa diperkosa, maka mereka akan memperkosa anak-anaknya. Marilah
kita perdalam dan perkuat hidup saling mengasihi dan mengampuni di dalam
keluarga kita masing-masing.



“Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku,
ya Tuhan, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari. Buatlah jiwa hamba-Mu
bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku. Sebab Engkau, ya
Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang
berseru kepada-Mu.Pasanglah telinga kepada doaku, ya TUHAN, dan perhatikanlah
suara permohonanku”
(Mzm 86:3-6).



Jakarta, 7 Oktober 2009.

Senin, Oktober 05, 2009

"Tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri?”

(Yun 3:1-10; Luk 10:38-42)



“Ketika Yesus dan murid-murid- Nya dalam
perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta
menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama
Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya,
sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata:
"Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani
seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." Tetapi Tuhan menjawabnya:
"Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,
tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik,

yang tidak akan diambil dari padanya."

(Luk10:38-42), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.




Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

· “Ora et labora”
= Berdoa dan bekerja, demikian bunyi sebuah motto. Motto ini kiranya dapat
disejajarkan dengan 2 (dua) tokoh Warta Gembira hari ini, Maria sebagai pendoa
dan Marta sebagai pekerja. Mana yang lebih baik: berdoa atau bekerja? Hemat
saya keduanya baik dan yang terbaik adalah doa menjiwai kerja, maka berdoa dan
bekerja bagaikan mata uang bermuka dua. Mayoritas waktu dan tenaga kita kiranya
terarah untuk bekerja, sebagaimana dikerjakan oleh Marta. Marta ditegor oleh
Yesus karena selama bekerja ia mengeluh atau menggerutu. Memang kerja keras
dalam bentuk apapun ketika diserta keluh kesah atau gerutu berarti tidak
bermutu. Doa menjiwai kerja senada dengan “contemplativus
in actione” atau menemukan Tuhan
dalam segala sesuatu atau menghayati karya dan kehadiran Tuhan dalam segala
sesuatu, dengan demikian selama orang bekerja senantiasa dalam keadaan ceria,
gembira dan dinamis, meskipun harus bekerja keras tidak akan pernah merasa
lelah. “Bagi kaum beriman ini merupakan
keyakinan: kegiatan manusia baik perorangan maupun kolektif, atau usaha
besar-besaran itu sendiri, yang dari zaman ke zaman dikerahkan oleh banyak
orang untuk memperbaiki kondisi-kondisi hidup mereka, memang sesuai dengan
kehendak Allah. Sebab manusia, yang diciptakan menurut gambar Allah,
menerima titahNya, supaya menaklukkan
bumi beserta segala sesuatu yang terdapat padanya, serta menguasai dunia dalam
keadilan dan kesucian, ia mengemban perintah untuk mengakui Allah sebagai
Pencipta segala-galanya, dan mengarahkan diri beserta seluruh alam kepadaNya” (Vatikan
II: GS no 34). Di dalam bekerja orang semakin menyucikan atau mempersembahkan
diri seutuhnya kepada Tuhan atau semakin mendunia, terlibat dalam seluk beluk
dunia berarti harus semakin beriman. Mendunia tanpa iman pasti akan merusak
ciptaan-ciptaan Tuhan.

· “Ketika Allah
melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah
lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah
dirancangkan- Nya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya” (Yun
3:10). Para penjahat memang menimbulkan malapetaka atau
kesengsaraan bagi orang lain dan
lingkungan hidupnya, entah sekecil apapun kejahatan yang telah dilakukannya.
Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua, yang mungkin masih
sering berbuat jahat untuk bertobat. Ada kejahatan yang terstruktur dan
terselubung, misalnya: pemalsuan berat atau ukuran -> satu botol obat
tertulis 10 cc, tetapi dalam kenyataan hanya 9 cc, dalam kemasan tertulis berat
10 kg, tetapi dalam kenyataan hanya 9,5 kg, dst… Bentuk kejahatan lain adalah ‘mark-up’ anggaran sebagaimana cukup
banyak dilakukan, atau ‘mark-up’ kwitansi. Juga ada kejahatan yang cukup
memprihatinkan yaitu pemberian obat oleh dokter kepada pasien, yang sebenarnya
bukan obat yang dibutuhkan pasien, melainkan sang dokter menjadi agen penjual
obat tertentu. Memang mereka yang melakukan kejahatan pada umumnya boleh
dikatakan pandai tetapi tidak beriman, dan hal ini kiranya disebabkan oleh
pendidikan yang salah, yaitu pendidikan yang hanya menekankan otak dan kurang
memperhatikan hati, yang ada kecenderungan untuk menyontek dalam ulangan umum
atau ujian. Marilah gerakan pertobatan kita mulai dalam diri anak-anak kita dan
para peserta didik, dan tentu saja harus disertai keteladanan dari orangtua
atau para pendidik/guru. Hidup dan bertindak dengan jujur hendaknya dibiasakan
sedini mungkin dalam diri anak-anak kita. Jauhkan aneka macam bentuk
kemunafikan dan kebohongan dalam hidup sehari-hari!



“Dari jurang
yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN! Tuhan, dengarkanlah suaraku!
Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku. Jika Engkau, ya
TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan , Tuhan, siapakah yang dapat tahan?
Tetapi pada-Mu ada pengampunan”


(Mzm 130:1-4a)



Jakarta, 6 Oktober 2009

"Siapakah sesamaku manusia?"

(Yun 1:1-17; 2::10; Luk 10:25-37)

"Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?" Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"

(Luk 10:25-37), demikian kutipan Warta Gembira hari ini 

Berrefleksi

atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

• Ketika orang-orang sedang menghadiri pesta pada umumnya sedikit banyak bersaing dalam hal berpakaian dan assesori, lebih-lebih rekan-rekan wanita atau perempuan, sehingga nampak perbedaan satu sama lain sesuai dengan pakaian dan assesori yang dikenakan. Orang dapat membedakan siapa yang paling kaya, dst. Sebaliknya ketika banyak orang berada di kolam renang hanya mengenakan pakaian dalam atau bahkan sama-sama telanjang bulat kiranya perbedaan satu sama lain tidak banyak atau bahkan satu sama lain sama saja. Jika dalam Warta Gembira hari ini Yesus menjelaskan `siapakah sesamaku manusia' dengan perumpamaan orang yang dirampok habis-habisan, berarti jika kita hendak mengasihi sesama manusia dengan sungguh-sungguh adalah mengasihi mereka yang miskin dan berkekurangan dalam hal harta benda atau uang, yang tidak lain merupakan `tindakan belas kasihan'. Maka marilah kita, umat beriman, khususnya yang beriman pada Yesus Kristus, menghayati ajaran kasihNya dengan lebih mengasihi atau memperhatikan mereka yang miskin dan berkekungan di sekitar kita atau lingkungan hidup kita, tanpa pandang bulu, SARA, golongan , dst.. Mengasihi anak-anak kecil kiranya juga merupakan bentuk penghayatan ajaran untuk mengasihi Tuhan dan sesama manusia, maka hendaknya kepada anak-anak kecil diberikan kasih yang memadai.
• "Angkatlah aku, campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi. Sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu." (Yun 1:12), demikian kata Yunus atas desakan para penumpang kapal lainnya. Baik Yunus maupun mereka meyakini atau mengimani bahwa orang yang tidak setia pada panggilan dan tugas pengutusan dari Tuhan akan menimbulkan malapetaka bagi lingkungan hidupnya. Orang yang tidak hidup dalam dan oleh kasih pasti akan menghancurkan lingkungan hidupnya dimanapun dan kapanpun ia berada. Maka marilah kita lihat dan cermati lingkungan hidup kita! Jika lingkungan hidup kita amburadul, tidak bersih, tidak indah, tidak menarik dan tidak memikat berarti ada orang berdosa di dalamnya, dan mungkin orang itu saya sendiri. Yang kami maksudkan berdosa adalah tidak melaksanakan tugas pekerjaan atau kewajiban dan tidak menghayati panggilan sebagaimana mestinya atau yang diharapkan dan dicita-citakan. Hidup berkeluarga atau berkomunitas kacau berarti ada anggota keluarga atau komunitas yang kurang atau tidak setia pada panggilan dan tugas pengutusannya. Pekerjaan di kantor senantiasa tidak beres alias tertunda terus menerus berarti ada pekerja yang bermalas-malas, tiduran saja. Pendek kata segala sesuatu kekacauan, amburadul, kerusakan, dst. yang terjadi dalam kehidupan bersama kita di dunia ini terjadi karena orang-orang berdosa, pengecut, tidak melaksanakan kewajibannya. Kegagalan baik dalam belajar maupun bekerja terjadi karena kemalasan atau kesambalewaan orang yang bersangkutan dalam belajar atau bekerja.

"Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku.Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku.Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus"
(Yun 2:2-4)

Jakarta, 5 Oktober 2009
Note: yg kemarin buka: www.ekaristi. org

"Semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai".

(Bar 4:5-12.27-29; Luk 10:17-24)

"Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: "Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga." Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu." Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid- Nya tersendiri dan berkata: "Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat.Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya. "
(Luk 10:17-24), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
• Orang bijak dan orang pandai pada umumnya kurang `turba' atau turun ke bawah, melainkan lebih banyak duduk di kursi empuk dan kamar ber-AC sambil menerima laporan-laporan dari mereka yang disebut pekerja atau orang-orang kecil. Para pekerja atau orang-orang kecil juga memiliki kecenderungan untuk melaporkan apa yang baik kepada atasan, sedangkan kekurangan atau kelemahan tidak dilaporkan. Dengan kata lain kenyataan atau realitas yang ada disembunyikan bagi `orang bijak dan orang pandai'. Maka dengan ini kami mengharapkan siapapun yang dianggap bijak dan pandai, yang pada umumnya adalah para pimpinan atau atasan, untuk `turba', turun ke bawah, melihat kenyataan atau realitas `lapangan' yang ada. Dengan turun ke bawah/ke lapangan kiranya selain melihat kenyataan yang ada, juga dapat memberi perhatian berupa sapaan kasih terhadap para pegawai, bawahan/pembantu atau mereka yang dianggap kecil secara organisatoris atau kelembagaan. Dengan cara demikian boleh dikatakan `sambil menyelam minum air', dua sasaran atau tujuan dapat dilaksanakan bersamaan: melihat kenyataan dan memberi perhatian Kepada mereka yang dianggap kecil dan dalam kenyataan dapat melihat dan menikmati kebenaran, kami harapkan ketika memberi laporan kepada atasan sungguh jujur, tidak hanya melaporkan apa-apa yang baik tetapi juga yang kurang baik, untuk membantu atasan mengambil keputusan bijak. Hendaknya jujur, polos dan terbuka seperti anak-anak kecil: apa yang dilihat, dirasakan dan dihadapi diceriterakan semuanya kepada orang lain.
• "Kuatkanlah hatimu, anak-anakku, berserulah kepada Allah; Dia yang mengirim bencana itu akan teringat kepadamu pula. Seperti dahulu angan-angan hatimu tertuju untuk bersesat dari Allah, demikian hendaklah kamu sekarang berbalik untuk mencari Dia dengan sepuluh kali lebih rajin"(Bar 4:27-28). Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita, lebih ajakan "hendaklah kamu sekarang berbalik untuk mencari Dia dengan sepuluh kali lebih rajin". Dia, Tuhan ada dimana-mana, hidup dan berkarya dalam seluruh ciptaanNya, dan tentu saja terutama dan pertama-tama dalam diri manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citraNya. Mencari Dia, Tuhan, dalam setiap diri manusia berarti kita harus saling bertemu, bertatap muka dan bercakap-cakap bersama, agar saling mengenal dan akhinya mengenal Tuhan melalui buah karyaNya dalam diri manusia, antara lain berupa keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan Saudara-saudari kita yang kecil, miskin dan berkekurangan pada umumnya lebih kaya akan keutamaan atau nilai kehidupan daripada mereka yang kaya akan harta benda/uang. Sebagai contoh: lihat dengan cermat atau perhatikan anak-anak kecil yang senantiasa ceria, jujur, tidak malu, dst.. atau orang-orang miskin yang bekerja keras siang malam tanpa mengeluh atau menggerutu, meskipun buah atau imbal jasanya kecil. Memang untuk melihat dengan cermat atau memperhatikan mereka yang kecil, miskin dan berkurangan dibutuhkan kerendahan hati dan pengorbanan, meneladan Yesus, "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib" (Fil 2:6-8).

"Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan bersukacitalah; kamu yang mencari Allah, biarlah hatimu hidup kembali! Sebab TUHAN mendengarkan orang-orang miskin, dan tidak memandang hina orang-orang- Nya dalam tahanan. Biarlah langit dan bumi memuji-muji Dia, lautan dan segala yang bergerak di dalamnya."
(Mzm 69:33-35)

Jakarta, 3 Oktober 2009

Kamis, Oktober 01, 2009

"Malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah BapaKu yang di sorga"

(Kel 23:20-23a; Mat 18:1-5.10)

"Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku." Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga"

(Mat 18:1-5.10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini..


Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta Para Malaikat Pelindung hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
• Bayi pada umumnya arah pandangan matanya senantiasa ke atas, entah ketika sedang terlentang tiduran atau sedang disusui ibunya atau sedang merangkak di tempat tidur. Pancaran sinar matanya nampak jernih dan mempesonakan serta mencerminkan dirinya yang suci dan bersih. Anak-anak pada umumnya juga jujur dan belum dapat menipu atau berbohong; anak-anak kiranya juga dapat menjaga atau memotivasi cara hidup dan perilaku orang-orang dewasa, khususnya orangtuanya dan secara khusus lagi ibunya. Apa yang dilihat dan didengar oleh anak-anak, ketika anak-anak sudah dapat berbicara, pasti akan diceritakan apa adanya kepada orang lain. Dengan kata lain anak-anak boleh dikatakan bagaikan malaikat pelindung, bahkan sering menjadi pelindung atau tameng dalam permusuhan atau kekuatan/senjata untuk memeras orang. Maka "jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini….ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah BapaKu yang di sorga". Ketika orang-orang dewasa berkumpul sedang omong-omong ke sana- ke mari dan tiba-tiba datang anak kecil pada umumnya isi dan cara omongan mereka akan berubah ke arah yang lebih baik. Anak-anak kecil tidak atau pergi pasti akan ditanyakan dan dicari, sedangkan orang dewasa pergi dibiarkan saja. Malaikat pelindung kita masing-masing memang kurang lebih mengarahkan kita ke anak-anak kecil, yang masih suci, jujur dan bersih, dengan kata lain menjagai kita agar tetap suci, jujur dan bersih. Maka baiklah kita dengarkan penjagaan atau pendampingannya, yang antara lain menggejala dalam bentuk sapaan, tegoran, kritik, saran, permohonan dst.. dari saudara-saudari atau sesama kita. Marilah ramai-ramai untuk `menjadi seperti anak kecil' yang polos, jujur, ceria, dinamis, bersih dan jernih.
• "Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan dan untuk membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan." (Kel 23:20), demikian firman Tuhan kepada bangsa terpilih yang sedang berada dalam perjalanan menuju ke `tanah terjanji'. "Seorang malaikat berjalan di depanmu", berjalan di depan kita semua. Berada di depan berarti menjadi penunjuk jalan, maka malaikat pelindung juga berfungsi sebagai penunjuk jalan. Malaikat pelindung menunjukkan arah jalan yang harus kita lalui atau lewati agar kita sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Marilah fungsi penunjuk jalan malaikat pelindung ini secara konkret kita hayati dalam aneka `petunjuk' yang ada di dalam hidup kita sehari-hari, entah di jalanan, di kantor atau tempat kerja, di berbagai macam sarana-prasarana kerja atau kemasan-kemasan makanan dll. Di jalanan ada rambu-rambu lalu lintas: marka jalan, lampu lalu lintas dst.., jika anda berharap selamat di perjalanan dan sampai tujuan hendaknya mentaati rambu-rambu lalu lintas tersebut. Di tempat kerja juga cukup banyak aturan, maka hendaknya ditaati dan dilaksanakan, demikian juga dengan aneka macam sarana-prasarana terdapat aturan pakai yang harus diikuti dan dilaksanakan. Dalam aneka macam kemasan makanan dan minuman juga tertulis aturan pakai atau cara mengolah dan mengkonsumsi, maka hendaknya diikuti dan dilaksanakan. Ketika kita setia mentaati aneka aturan dan tatanan tersebut di atas maka kita akan selamat sampai tujuan atau apa yang kita cita-citakan yaitu kesejahteraan lahir dan batin, jasmani dan rohani. Selain aturan dan tatanan hidup sehari-hari tersebut bagi kita juga ada hal yang lebih mendasar yang terkait dengan panggilan kita masing-masing, misalnya sebagai suami-isteri, imam, bruder dan suster. Kita akan setia dan taat pada panggilan kita masing-masing sampai mati, jika kita mentaati dan melaksanakan aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan panggilan kita masing-masing.

"Dengarlah, TUHAN, seruan yang kusampaikan, kasihanilah aku dan jawablah aku! Hatiku mengikuti firman-Mu: "Carilah wajah-Ku"; maka wajah-Mu kucari, ya TUHAN. Janganlah menyembunyikan wajah-Mu kepadaku, janganlah menolak hamba-Mu ini dengan murka; Engkaulah pertolonganku, janganlah membuang aku dan janganlah meninggalkan aku"

(Mzm 27:7-9c)

Jakarta, 2 Oktober 2009

“Sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.”

(Neh 8:1-4a.5-6.7b- 12; Luk 10:1-12)



“Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk
tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke
setiap kota dan tempat
yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak,
tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian,
supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya
Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.Janganlah
membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada
siapa pun selama dalam perjalanan.Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah
lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang
yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya.
Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu,
makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut
mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Dan jikalau kamu masuk ke
dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan
kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah
kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu. Tetapi jikalau kamu masuk ke
dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya
kota itu dan
serukanlah: Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di
depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata
kepadamu: pada hari itu Sodom akan lebih

ringan tanggungannya dari pada kota itu."

(Luk 10:1-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini




Berrefleksi

atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Teresa dari Kanak-kanak Yesus,

perawan dan pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:

· “Yesus, tentu
Engkau senang mempunyai mainan. Biarlah saya menjadi mainanMu. Anggap saja saya
ini bolaMu. Bila akan Kauangkat, betapa senang hariku. Jika hendak Kausepak
kian kemari, silahkan. Dan kalau hendak Kautinggal di pojok kamar lantaran
bosan, boleh saja. Saya akan menunggu dengan sabar dan setia. Tetapi kalau
hendak Kautusuk…O, Yesus, tentu itu sakit sekali, namun terjadilah kehendakMu”
(Yayasan Cipta Loka Caraka: Ensiklopedi Orang Kudus, Jakarta 1985, hal
292), demikian kata-kata atau doa Teresa. Apa yang didoakan didoakan Teresa ini
kiranya menanggapi sabda Yesus :”Pergilah,
sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala”. St.Teresa
kiranya menjadi teladan dalam penyerahan diri seutuhnya kepada Tuhan dan
kaul/keutamaan ketaatan serta kerendahan hati. Maka baiklah kita sebagai orang
beriman meneladannya dalam hidup kita sehari-hari. . Tantangan untuk taat dan
rendah hati pada masa kini memang cukup berat, mengingat dan memperhatikan
cukup banyak orang di sekitar kita cenderung untuk menjadi sombong dan kurang
taat pada aneka macam aturan daan tatanan hidup bersama. Tantangan juga dapat
muncul dari dalam diri kita sendiri antara lain ketakutan dan kemalasan. Kamu
berharap para orangtua atau pemimpin dapat menjadi teladan dalam hal
penghayatan ketaatan dan kerendahan hati. Di samping itu kami juga berharap
kepada rekan muda-mudi atau pelajar untuk berani mempersembahkan diri kepada
Tuhan dengan hidup membiara atau imamat.

· "Pergilah
kamu, makanlah sedap-sedapan dan minumlah minuman manis dan kirimlah sebagian
kepada mereka yang tidak sedia apa-apa, karena hari ini adalah kudus bagi Tuhan
kita! Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah
perlindunganmu!” (Neh 8:11). Kutipan
ini kiranya baik menjadi permenungan kita. Berbagai tantangan dan keterbatasan
diri kita sering membuat kita bersusah hati karena kita harus bekerja keras dan
berat serta berjuang dengan pengorbanan diri. “Tuhan itulah perlindunganmu”, demikian peringatan atau nasihat yang
selayaknya menjadi pegangan kita. Bersama dan bersatu dengan Tuhan kita akan
mampu mengatasi aneka tantangan dan hambatan, maka biarkanlah Dia hidup dan
bekerja dalam dan melalui diri kita yang lemah dan rapuh. Marilah kita hayati
apa yang dihayati Paulus ini: ”Harta ini
kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang
melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami “(2Kor 4:7).
Harta kita adalah panggilan, fungsi, jabatan atau kedudukan kita masing-masing.
Jika kita sukses atau berhasil dalam panggilan, fungsi, jabatan atau
kedudukan, marilah hal itu kita hayati
sebagai karya dan kekuatan Tuhan yang melimpah-ruah dalam diri kita yang rapuh
dan lemah. Dengan kata lain semakin sukses atau berhasil hendaknya juga semakin
rendah hati. “Hari ini adalah kudus bagi
Tuhan kita”, artinya setiap hari hendaknya kita mempersembahkan diri
seutuhnya kepada Penyelenggaraan Ilahi, taat dan setia pada kehendak Tuhan.



“Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan
jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak
berpengalaman. Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu
murni, membuat mata bercahaya. Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk
selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, lebih indah dari pada
emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan
dari pada madu tetesan dari sarang lebah
” (Mzm 19:8-11).

Jakarta, 1 Oktober 2009

“Sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.”

(Neh 8:1-4a.5-6.7b- 12; Luk 10:1-12)



“Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk
tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke
setiap kota dan tempat
yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak,
tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian,
supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya
Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.Janganlah
membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada
siapa pun selama dalam perjalanan.Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah
lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang
yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya.
Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu,
makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut
mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Dan jikalau kamu masuk ke
dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan
kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah
kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu. Tetapi jikalau kamu masuk ke
dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya
kota itu dan
serukanlah: Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di
depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata
kepadamu: pada hari itu Sodom akan lebih

ringan tanggungannya dari pada kota itu."

(Luk 10:1-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini




Berrefleksi

atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Teresa dari Kanak-kanak Yesus,

perawan dan pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:

· “Yesus, tentu
Engkau senang mempunyai mainan. Biarlah saya menjadi mainanMu. Anggap saja saya
ini bolaMu. Bila akan Kauangkat, betapa senang hariku. Jika hendak Kausepak
kian kemari, silahkan. Dan kalau hendak Kautinggal di pojok kamar lantaran
bosan, boleh saja. Saya akan menunggu dengan sabar dan setia. Tetapi kalau
hendak Kautusuk…O, Yesus, tentu itu sakit sekali, namun terjadilah kehendakMu”
(Yayasan Cipta Loka Caraka: Ensiklopedi Orang Kudus, Jakarta 1985, hal
292), demikian kata-kata atau doa Teresa. Apa yang didoakan didoakan Teresa ini
kiranya menanggapi sabda Yesus :”Pergilah,
sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala”. St.Teresa
kiranya menjadi teladan dalam penyerahan diri seutuhnya kepada Tuhan dan
kaul/keutamaan ketaatan serta kerendahan hati. Maka baiklah kita sebagai orang
beriman meneladannya dalam hidup kita sehari-hari. . Tantangan untuk taat dan
rendah hati pada masa kini memang cukup berat, mengingat dan memperhatikan
cukup banyak orang di sekitar kita cenderung untuk menjadi sombong dan kurang
taat pada aneka macam aturan daan tatanan hidup bersama. Tantangan juga dapat
muncul dari dalam diri kita sendiri antara lain ketakutan dan kemalasan. Kamu
berharap para orangtua atau pemimpin dapat menjadi teladan dalam hal
penghayatan ketaatan dan kerendahan hati. Di samping itu kami juga berharap
kepada rekan muda-mudi atau pelajar untuk berani mempersembahkan diri kepada
Tuhan dengan hidup membiara atau imamat.

· "Pergilah
kamu, makanlah sedap-sedapan dan minumlah minuman manis dan kirimlah sebagian
kepada mereka yang tidak sedia apa-apa, karena hari ini adalah kudus bagi Tuhan
kita! Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah
perlindunganmu!” (Neh 8:11). Kutipan
ini kiranya baik menjadi permenungan kita. Berbagai tantangan dan keterbatasan
diri kita sering membuat kita bersusah hati karena kita harus bekerja keras dan
berat serta berjuang dengan pengorbanan diri. “Tuhan itulah perlindunganmu”, demikian peringatan atau nasihat yang
selayaknya menjadi pegangan kita. Bersama dan bersatu dengan Tuhan kita akan
mampu mengatasi aneka tantangan dan hambatan, maka biarkanlah Dia hidup dan
bekerja dalam dan melalui diri kita yang lemah dan rapuh. Marilah kita hayati
apa yang dihayati Paulus ini: ”Harta ini
kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang
melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami “(2Kor 4:7).
Harta kita adalah panggilan, fungsi, jabatan atau kedudukan kita masing-masing.
Jika kita sukses atau berhasil dalam panggilan, fungsi, jabatan atau
kedudukan, marilah hal itu kita hayati
sebagai karya dan kekuatan Tuhan yang melimpah-ruah dalam diri kita yang rapuh
dan lemah. Dengan kata lain semakin sukses atau berhasil hendaknya juga semakin
rendah hati. “Hari ini adalah kudus bagi
Tuhan kita”, artinya setiap hari hendaknya kita mempersembahkan diri
seutuhnya kepada Penyelenggaraan Ilahi, taat dan setia pada kehendak Tuhan.



“Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan
jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak
berpengalaman. Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu
murni, membuat mata bercahaya. Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk
selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, lebih indah dari pada
emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan
dari pada madu tetesan dari sarang lebah
” (Mzm 19:8-11).

Jakarta, 1 Oktober 2009

Selasa, September 29, 2009

"Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah”

(Neh 2:1-8; Luk 9:57-62)

“Ketika Yesus dan murid-murid- Nya
melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus:
"Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." Yesus berkata
kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi
Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Lalu Ia berkata
kepada seorang lain: "Ikutlah Aku!" Tetapi orang itu berkata:
"Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku."Tetapi Yesus berkata
kepadanya: "Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau,
pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana."Dan seorang lain
lagi berkata: "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku
pamitan dahulu dengan keluargaku." Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang
yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan
Allah.
"(Luk 9:57-62), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 



Berrefleksi

atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Hieronemus, Imam dan Pujangga

Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Hari ini adalah hari terakhir bulan Kitab
Suci/September 2009. Kiranya di antara anda semua selama bulan Kitab Suci
terlibat dalam aneka pendalaman Kitab Suci dalam berbagai kesempatan, dan
mungkin juga telah ditemukan ayat-ayat atau teks kitab suci yang mengesan serta
tergerak untuk menghayati atau melaksanakannya di dalam hidup sehari-hari. Dengan
kata lain setelah membacakan dan mendengarkan ayat-ayat Kitab Suci anda
tergerak untuk memperbaharui hidup, agar cara hidup dan cara bertindak lebih
sesuai dengan kehendak Tuhan. Anda siap sedia untuk memperbaharui atau
diperbaharui, dibentuk atau dibina oleh sabda-sabda Tuhan, maka hendaknya pesan
atau peringatanYesus ini diperhatikan:”Setiap
orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk
Kerajaan Allah” . Kami harapkan anda
melangkah maju terus tanpa kenal lelah, setia memperbaharui diri atau
diperbaharui orang lain. Jauhkan aneka macam bentuk mangkir atau malas yang
sering menggejala dalam alasan yang nampak rational dan tak terbantahkan,
misalnya ‘urusan keluarga, off the record’. Dengan kata lain sebagai orang yang
telah dibaptis hendaknya setia pada janji baptis, yang menjadi imam setia pada
janji imamat, yang berkeluarga setia pada janji perkawinan dan yang hidup
membiara setia pada tri-kaulnya dst.. Mereka yang sedang belajar setia pada janji
pelajar sehingga semakin terampil belajar, dan mereka yang bekerja setia
pada janji kerja sehingga terampil
bekerja. Maju terus, jangan menoleh ke belakang, namun sekali-kali menoleh ke
belakang dalam rangka refleksi silahkan. Kita percayakan diri kita kepada
Penyelenggaraan Ilahi, kepada kehendak Allah.

· "Hiduplah
raja untuk selamanya! Bagaimana mukaku tidak akan muram, kalau kota, tempat
pekuburan nenek moyangku, telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya
habis dimakan api?”(Neh 2:3), demikian kata seorang pelayan kepada rajanya.
“Pekuburan nenek moyang” merupakan symbol penghormatan kepada nenek moyang, dan
mungkin dengan menyaksikan pekuburan nenek moyang yang baik orang juga akan
teringat dan terkenang akan nasihat-nasihat baik dari nenek moyang, sebaliknya jika pekuburan nenek moyang
amburadul atau berantakan serta kumuh, mungkin melambangkan tiada yang mengesan
dari nenek moyang. Amburadul, berantakan atua kekumuhan pekuburan nenek moyang
juga dapat melambangkan bahwa kita, para penerus hidup dan bertindak seenaknya
sendiri, tidak memperhatikan dan melaksanakan aneka macam nasihat baik dari
nenek moyang. Kata-kata atau ayat-ayat dalam Kitab Suci boleh dikatakan sebagai
ajaran, nasihat, petuah atau perintah ‘nenek moyang’ kepada kita semua. Jika
cara hidup dan cara bertindak amburadul dan tidak teratur ada kemungkinan kita
kurang atau menghayati sabda-sabda Tuhan atau janji-janji yang pernah kita
ikrarkan. Marilah kita buka, baca dan renungkan teks janji yang pernah kita
ikrarkan guna memperbaiki cara hidup dan cara bertindak kita yang amburadul.
Jika perlu baiklah kita menyepi sejenak, entah satu jam, satu atau dua hari,
untuk mawas diri perihal cara hidup dan cara bertindak kita, apakah sudah
sesuai dengan janji-janji yang pernah kita ikrarkan; dalam menyepi ini dapat
sendiri atau berdua atau bertiga, jika suami-isteri hendaknya berdua bersama
dengan pasangan hidupnya. Moga-moga rumus janji-janji tidak menjadi ‘kuburan
mati’, melainkan hidup dan menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita.



“Di tepi
sungai-sungai Babel, di sanalah
kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion. Pada pohon-pohon
gandarusa di tempat itu kita menggantungkan kecapi kita. Sebab di sanalah
orang-orang yang menawan kita meminta kepada kita memperdengarkan nyanyian, dan
orang-orang yang menyiksa kita meminta nyanyian sukacita: "Nyanyikanlah
bagi kami nyanyian dari Sion!" Bagaimanakah kita menyanyikan nyanyian
TUHAN di negeri asing? Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah
menjadi kering tangan kananku!”


(Mzm 137:1-5)

Jakarta, 30 September 2009

Senin, September 28, 2009

“Sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia”.

(Why 12:7-12a; Yoh 1:47-51)


“Kata Filipus kepadanya: "Mari dan
lihatlah!" Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang
dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati,
tidak ada kepalsuan di dalamnya!" Kata Natanael kepada-Nya:
"Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum
Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara."
Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" Yesus
menjawab, kata-Nya: "Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di
bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih
besar dari pada itu."Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata
kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat
Allah turun naik kepada Anak Manusia.”

(Yoh 1:47-51), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.



Berrefleksi

atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Mikael, St.Gabriel dan

St.Rafael, Malaikat Agung, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:

· Malaikat-malaikat adalah ciptaan Allah yang tidak
kelihatan, yang bertugas untuk mendampingi atau menemani perjalanan hidup
manusia. Fungsi pendampingan antara lain: memberi kekuatan dalam melawan godaan
setan, membisikkan warta gembira atau apa-apa yang baik dan menggembirakan dan menemani
kita dimanapun kita berada dan ke manapun kita bepergian. Setiap manusia
didampingi malaikat, yang sering kita sebut sebagai malaikat pelindung, dan
para malaikat dipimpin bersama oleh Mikael, Gabriel dan Rafael. Malaikat-malaikat
Allah ini turun naik kepada kita semua, maka marilah kita dengarkan dan ikuti
pendampingan atau penemanannya. Malaikat-malaikat juga sering dapat disebut
sebagai ‘roh baik’, pendampingannya dapat kita rasakan dalam buahnya yang
disebut dengan ‘hiburan rohani’ dan ‘kesepian rohani’. Bagi orang baik malaikat
mendorongnya untuk terus berbuat baik dan dengan demikian yang bersangkutan
semakin teguh dan handal iman, harapan dan kasihnya serta pengabdiannya kepada
Tuhan melalui sesama dan saudara-saudarinya. Ketika kita berbuat tidak baik
malaikat memberi tegoran kepada kita berupa ‘kesepian rohani’, yaitu merasa
ditinggalkan oleh Tuhan dan sesamanya, frustrasi, sedih, dst.. Sebagai orang
beriman kita semua dipanggil untuk mendengarkan dan melaksanakan
bisikan-bisikan malaikat, yaitu bisikan untuk senantiasa berbuat baik,
melakukan apa-apa yang baik. Kita juga dapat melihat buah bisikan malaikat
dalam diri saudara-saudari kita, yaitu apa-apa yang baik, indah, luhur dan
mulia, maka ‘mari dan lihatlah’ apa-apa yang baik, indah, luhur dan mulia dalam
diri saudara-saudari kita. Beriman pada malaikat berarti lebih melihat apa yang
baik daripada yang jelek dalam diri kita sendiri maupun saudara-saudari kita,
dengan kata lain lebih berpikir positif daripada berpikir negatif.

· “Karena itu
bersukacitalah, hai sorga dan hai kamu
sekalian yang diam di dalamnya,
celakalah kamu, hai bumi dan laut”
(Why 12:12). “Diam atau
tinggal di dalam sorga” berarti hidup mulia bersama Allah untuk
selama-lamanya, dan tentu saja hal itu terjadi ketika kita telah dipanggil
Tuhan. Namun ‘diam atau tinggal di dalam
sorga’ ini telah dapat kita cicipi selama kita masih hidup dan tinggal di
bumi ini. Memang di bumi dan laut sarat dengan godaan-godaan setan melalui
aneka cara antara lain berupa
“percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan,
perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh
pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya” (Gal 5:19-21).
Kita telah mencicipi ‘diam atau tinggal
di dalam sorga’ jika kita hidup dan
bertindak dijiwai oleh keutamaan-keutamaan “kasih,
sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,
kelemahlembutan, penguasaan diri.”(Gal 5:22-23) Maka marilah kita saling bekerjasama dan
membantu dalam menghayati keutamaan-keutamaan tersebut di atas ini, sebagai
tanda bahwa kita semua hidup dan bertindak dalam pendampingan malaikat-malaikat
Allah. Di antara keutamaan-keutamaan di atas ini kiranya anda dapat memilih
keutamaan mana yang akan lebih ditekankan dalam penghayatan sesuai dengan
kondisi dan situasi lingkungan hidup masing-masing. Atau mungkin di dalam hidup
dan kerja bersama, entah di dalam keluarga/komunitas atau tempat kerja, ada
gerakan bersama setiap bulan, artinya selama satu bulan tertentu ‘kesabaran’
menjadi ciri cara hidup dan cara bertindak bersama, dan bulan berikutnya
keutamaan ‘kemurahan’, dst.. Dengan kata lain perlu ada usaha atau gerakan
pembiasaan penghayatan keutamaan-keutamaan tersebut untuk periode tertentu
sehingga keutamaan-keutamaan tersebut menjadi kebiasaan cara hidup dan cara
bertindak kita. Pembiasaan berarti pelatihan-pelatihan terus menerus sampai
yang bersangkutan mahir atau terampil dalam apa yang sedang dilatihkan atau
dibiasakan.



“Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan
segenap hatiku, di hadapan para allah aku akan bermazmur bagi-Mu.Aku hendak
sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan
oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala
sesuatu.Pada hari aku berseru, Engkau pun menjawab aku, Engkau menambahkan
kekuatan dalam jiwaku.Semua raja di bumi akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN,
sebab mereka mendengar janji dari mulut-Mu; mereka akan menyanyi tentang
jalan-jalan TUHAN, sebab besar kemuliaan TUHAN.
”(Mzm 138:1-5)



Jakarta, 29 September 2009

Minggu, September 27, 2009

"Barangsiapa menyambut anak ini dalam namaKu, ia menyambut Aku”

(Za.8:1-8; Luk 9:46-50)

“Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya, dan berkata kepada mereka: "Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar." Yohanes berkata: "Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita."Yesus berkata kepadanya: "Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”

(Luk 9:46-50), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 


Berrefleksi

atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Anak kecil harus diperlakukan, dirawat, didampingi dalam dan oleh cintakasih, karena ia ‘diadakan dan dilahirkan’ dalam dan oleh cintakasih, ia diciptakan oleh Tuhan dalam dan oleh kasihNya sebagai citra atau gambarNya. Maka Yesus bersabda: “Barangsiapa menyambut anak ini dalam namaKu, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar”. Yang terbesar dalam Kerajaan Allah atau hidup beragama dan beriman adalah mereka yang tersuci; anak lebih suci daripada orangtuanya, yang muda lebih suci daripada yang tua. Di dalam hidup sehari-hari, dalam aneka macam pergaulan dan kebersamaan, kita dipanggil untuk saling bersikap seperti sedang menyambut anak kecil alias saling mengasihi satu sama lain dengan rendah hati. Hendaknya tidak ada orang yang merasa dirinya atau berpikir bahwa dirinya yang terbesar. Ingatlah dan renungkan bahwa para pemimpin
Gereja, para Uskup dan Paus, yang dianggap yang terbesar, senantiasa menyatakan diri sebagai yang hina dina dan berusaha menghayati panggilan dan pelayanannya dengan cintakasih dan rendah hati. Hidup dan bertindak dalam cintakasih antara lain menghayati keutamaan-keutamaan “sabar; murah hati; tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain” (lih 1Kor 13:4-5). Yang baik kita hayati dan sebarluaskan pada masa kini adalah ‘sabar dan murah hati’, mengingat dan mempertimbangkan cukup banyak orang kurang sabar dan pelit. ‘Sabar dan murah hati’ dapat diwujudkan dengan ‘memboroskan waktu dan tenaga bagi yang sedang dikasihi’. Maka baiklah kepada siapapun yang sedang kita kasihi, marilah kita boroskan waktu dan tenaga kita kepadanya.
· “Beginilah firman TUHAN semesta alam: Sesungguhnya, Aku menyelamatkan umat-Ku dari tempat terbitnya matahari sampai kepada tempat terbenamnya, dan Aku akan membawa mereka pulang, supaya mereka diam di tengah-tengah Yerusalem. Maka mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka dalam kesetiaan dan kebenaran” (Za 8:7-8). Kutipan ini baik menjadi permenungan atau refleksi kita, sebagai umat beriman. “Dari tempat terbitnya matahari sampai kepada tempat terbenamnya” kita senantiasa diselamatkan oleh Tuhan melalui saudara-saudari atau sesama kita. Dengan kata lain kita dipanggil untuk saling menyelamatkan dan membahagiakan. Masing-masing dari kita dipanggil menjadi wahana penyelamatan dan kebahagiaan. Setiap kali berjumpa dengan orang lain, kita juga saling mengucapkan ‘selamat’: selamat datang, selamat jalan, selamat pagi, selamat bertemu, selamat tidur, selamat makan, dst.. Semoga kata-kata tersebut tidak hanya sekedar
basa-basi, sopan santun atau omong kosong belaka, tetapi sungguh saling menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita. Tuhan adalah “Allah kita dalam kesetiaan dan kebenaran”, yang berarti jika kita sungguh beriman maka kita dipanggil untuk hidup dalam kesetiaan dan kebenaran: setia pada iman, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing serta senantiasa hidup dalam kebenaran dan mewartakan kebenaran. Selamat, kesetiaan dan kebenaran merupakan tiga serangkai yang harus kita hayati dan sebarluaskan. Lingkungan hidup kita hendaknya kita selamatkan, sehingga kita semua dapat hidup dalam kesetiaan dan kebenaran. Bukankah lingkungan hidup yang asri, bersih, nyaman, sejuk dan indah akan mengundang orang untuk melakukan apa yang benar? Bukankah lingkungan hidup yang demikian itu juga mengundang orang untuk memuji dan memuliakan ‘Tuhan semesta alam’? Marilah kita usahakan bersama lingkungan hidup yang senak, nyaman dan nikmat untuk didiami, sebagai
perwujudan iman kita kepada ‘Tuhan semesta alam’!

“Maka bangsa-bangsa menjadi takut akan nama TUHAN, dan semua raja bumi akan kemuliaan-Mu, bila TUHAN sudah membangun Sion, sudah menampakkan diri dalam kemuliaan-Nya, sudah berpaling mendengarkan doa orang-orang yang bulus, dan tidak memandang hina doa mereka. Biarlah hal ini dituliskan bagi angkatan yang kemudian, dan bangsa yang diciptakan nanti akan memuji-muji TUHAN, sebab Ia telah memandang dari ketinggian-Nya yang kudus, TUHAN memandang dari sorga ke bumi, untuk mendengar keluhan orang tahanan, untuk membebaskan orang-orang yang ditentukan mati dibunuh” (Mzm 102:16-21)

Jakarta, 28 September 2009

Mg Biasa XXVI : Bil 11:25-29;

Yak 5:1-6; Mrk 9:38-43.45.47- 48

“Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.”

Ketika saya bertugas sebagai
Ekonom Keuskupan Agung Semarang, sekaligus juga menjadi minister atau mengurusi
rumah tangga dan kantor keuskupan. Dalam hal keuangan, misalnya, semua
pengeluaran di luar kebutuhan rutine harus seizin saya. Waktu itu kebetulan
saya sedang ada tugas ke luar negeri selama kurang lebih dua minggu, begitu
pulang saya memperoleh info bahwa salah seorang pembantu rumah tangga keuskupan
telah dipanggil Tuhan. Sedih bercampur gembira yang saya alami: sedih karena
kehilangan pembantu rumah tangga baik, gembira dan bangga karena salah seorang
pegawai kantor keuskupan telah mengambil kebijakan bagus, yaitu membeayai seluruh
kebutuhan pemakaman dengan dana/uang kantor/rumah tangga keuskupan. Pegawai
tersebut telah melaknasakan tugas pekerjaan yang seharusnya menjadi
tanggungjawab saya, dengan kata lain ia bersama dan bersatu dengan saya,
membantu dan meringankan beban saya. Saya teringat akan peristiwa sebagaimana
saya ceriterakan secara singkat di atas ini setelah membaca dan merenungkan
kutipan Warta Gembira hari ini, antara lain: "Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorang pun yang telah
mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku.
Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita” (Mrk 9:39-40). Maka marilah kita renungkan
baik-baik kutipan Warta Gembira hari ini.



"Jangan
kamu cegah dia! Sebab tidak seorang pun yang telah mengadakan mujizat demi
nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Barangsiapa tidak melawan kita,
ia ada di pihak kita
.” (Mrk 9:39-40) 

Mereka yang tidak berani melawan
kita pada umumnya adalah mereka yang kurang kuat dari kita entah dalam hal
kedudukan, fungsi, jabatan, pengalaman, wibawa, kuasa dst.., misalnya anak-anak
kecil terhadap orangtuanya, pegawai atau buruh terhadap pimpinan atau boss-nya, bawahan terhadap atasan dst.. Mereka
yang kurang dari kita pada umumnya membantu kita, maka Yesus dengan cara lain
mengingatkan kita dengan sabdaNya : "Barangsiapa
menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik
baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke
dalam laut.”(Mrk 9:42). Anak-anak kecil pada umumnya lebih baik dan lebih
suci daripada orangtuanya atau bapak-ibunya, demikian pula bawahan daripada
atasannya, anggota daripada pemimpinnya, dst.. , maka janganlah menyesatkan
mereka melainkan belajarlah pada atau layanilah mereka.



Memang di antara kita, para
orangtua, pemimpin atau atasan sering merasa dilangkahi atau dilecehkan ketika
anak-anak, anggota atau bawahan melakukan tugas pekerjaan yang sebenarnya
menjadi tanggungjawab kita. Jika ada anak-anak, anggota atau bawahan yang telah
melakukan tugas pekerjaan orangtua, pemimpin atau atasan, hendaknya orangtua,
pemimpin atau atasan berterima kasih kepada mereka. Dalam hal karya pelayanan pastoral seperti
sekolah, rumah sakit atau sosial, juga sering terjadi bahwa merasa karyanya
ditiru orang lain ketika ada pelayanan yang dilakukan kurang lebih sama atau
bahkan sama dengan pelayanan kita, dan juga merasa kecurian dan rugi karenanya.
Menurut saya jika karya pelayanan pastoral kita ditiru oleh kelompok lain
hendaknya berterima dan bersyukur, dan jadikan kesempatan tersebut sebagai provokasi
atau motor bagi kita untuk semakin meningkatkan kwalitas pelayanan pastoral
kita.



Segala bentuk mujizat berasal
dari Allah, merupakan karya Allah, dan dapat terjadi melalui siapapun dan
apapun. Buah dari mujizat pertama-tama dan terutama adalah keselamatan jiwa
manusia, maka dimana ada usaha penyelamatan jiwa berarti berasal dari Tuhan dan
dilakukan bersama dengan Tuhan, dengan demikian sebagai orang beriman hendaknya
kita mendukungnya dan berterima kasih atau usaha dan pelayanan penyelamatan
jiwa yang dilakukan oleh siapapun. Semakin bertambahnya iman, harapan dan cinta
juga merupakan mujizat yang berasal dari Tuhan atau karya Tuhan, demikian juga
pertobatan atau pembaharuan hidup.



“Jadi
sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara
yang akan menimpa kamu! Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan
ngengat! Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian
terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan
harta pada hari-hari yang sedang berakhir. Sesungguhnya telah terdengar
teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari buruh yang telah menuai hasil
ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan mereka yang
menyabit panenmu
” (Yak 5:1-4).



Kutipan dari surat Yakobus di
atas ini kiranya baik menjadi bahan permenungan atau refleksi bagi ‘orang-orang
kaya’ yang mempekerjakan buruh atau pegawai, terutama para pengusaha atau
pejabat tinggi pemerintahan. Keberhasilan, kesuksesan, perkembangan dan
pertumbuhan usaha atau karya kiranya tak dapat dilepaskan dari peran dan
partisipasi para pegawai atau buruh, maka hendaknya diperhatikan kesejahteraan
hidup para pegawai atau buruh. Ingatlah dan hayatilah bahwa mereka bekerja
keras bukan hanya demi kepentingan diri mereka sendiri tetapi juga demi
keberhasilan, kesuksesan dan perkembangan usaha. Jika para pegawai atau buruh
kurang atau tidak sejahtera hidupnya, ada kemungkinan bahwa mereka kurang
gairah bekerja atau mencuri atau korupsi, dan dengan demikian usaha akan hancur
berantakan, sebaliknya jika mereka terjamin kesejahteraan hidup mereka bersama
dengan keluarga mereka, maka mereka akan bekerja keras, giat, jujur, disiplin
dst., dan dengan demikian usaha akan berhasil, sukses dan terus berkembang.



Kekayaan berupa aneka macam harta
benda atau uang adalah sarana, bukan
tujuan: sarana untuk membantu manusia dalam mengabdi, menghormati, memuji dan
memuliakan Tuhan dalam dan melalui hidup sehari-hari. “Harta benda atau uang harus terus berjalan-jalan” dalam rangka membantu
manusia semakin manusia dan beriman. “Berjalan-jalan” yang kami maksudkan adalah entah digandakan
dengan memfungsikannya untuk berusaha aneka macam produksi yang dibutuhkan oleh
manusia dalam rangka mengusahakan keselamatan jiwanya. ‘Harta benda atau uang
adalah jalan ke sorga atau ke neraka’, akan menjadi jalan ke sorga jika kita
memfungsikan harta benda atau uang sebagai sarana yang bersifat sosial, dan
akan menjadi jalan ke neraka jika kita memfungsikannya untuk berfoya-foya,
mengikuti gairah nafasu tak teratur.



Balas jasa atau gaji sesuai dengan UMR hemat saya merupakan
dukungan beaya bagi penerima gaji atau balas jasa agar tidak mati, namun tidak
atau kurang memadai bagi yang bersangkutan untuk hidup sejahtera lahir dan
batin, antara lain memiliki tempat tinggal/rumah sederhana (meskipun untuk
memperoleh dengan cara pinjam uang), makan dan minum bergizi, dapat membeayai
anak-anak untuk belajar ‘pendidikan menengah’ dan lulus atau selesai dengan
baik. Maka dengan ini kami mengharapkan para pengusaha sungguh memperhatikan
nasib dan kesejahteraan para pegawai, buruh atau pembantunya. Hendaknya jangan
menahan pemberian balas jasa sebagaimana telah ditentukan, atau menunda-nunda
pemberian balas jasa demi kepentingan diri sendiri. Baiklah jika kita semua
bermimpi atau bercita-cita seperti Musa ini: “Apakah engkau begitu giat mendukung diriku? Ah, kalau seluruh umat
TUHAN menjadi nabi, oleh karena TUHAN memberi Roh-Nya hinggap kepada mereka!"(Bil
11:29). Nabi adalah orang yang
penuh Roh Kudus, utusan Tuhan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa manusia.





“Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu
teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Takut akan TUHAN
itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya,”

(Mzm 19:8.10)

Jakarta,
27 September 2009

Jumat, September 25, 2009

“Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia."

(Za 2:5-9.14-15a; Luk 9:43b-45)



“Ketika semua orang itu masih heran
karena segala yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid- Nya:
"Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan
diserahkan ke dalam tangan manusia." Mereka tidak mengerti perkataan itu,
sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya.

Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya”

(Luk 9:43b-45), demikian kutipan Warta Gembira hari

ini



Berrefleksi


atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

· “Dengarlah dan
camkanlah segala perkataanKu ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan
manusia’, demikian kata-kata Yesus khusus bagi para muridNya, bagi kita
semua yang beriman atau percaya kepadaNya. Yesus datang ke dunia untuk
mempersembahkan diri seutuhnya bagi dunia, demi keselamatan dunia seisinya,
maka kita semua yang beriman kepadaNya juga dipanggil untuk meneladan Dia
dengan hidup mendunia atau hidup dan bertindak demi keselamatan dunia.
Mayoritas waktu dan tenaga kita terarah pada hal-hal duniawi yang terkait
dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Meneladan Yesus
berarti mempersembahkan diri seutuhnya pada aneka tugas, kewajiban atau
pekerjaan yang menjadi tanggunjawab kita masing-masing. Dengan kata lain entah
belajar atau bekerja kita semua dipanggil untuk belajar atau bekerja dengan
sungguh-sungguh, sehingga terampil dalam belajar atau bekerja, tumbuh
berkembang menjadi orang professional dalam bidang kehidupan tertentu. Masa
kini maaupun masa depan dibutuhkan orang-orang yang sungguh professional dan
orang yang sungguh professional pada umumnya akan dicari orang alias tidak akan
berkekurangan dalam hal pekerjaan atau bahkan berlebihan. Meskipun ia harus
melaksanakan banyak tugas atau pekerjaan, orang professional akan mampu
menyelesaikan semuanya dengan baik dan memuaskan bagi semuanya, dan iapun juga
semakin professional dalam bidang kehidupan yang telah digelutinya; ia akan
semakin hidup damai sejahtera lahir dan batin, jasmani dan rohani. Maka kepada
rekan-rekan pelajar atau mahasiswa kami dambakan untuk sungguh belajar sehingga
kelak professional dalam bidang kehidupan tertentu, sedangkan kepada para
orangtua dan pendidik/guru kami dambakan sungguh mempersiapkan
anak-anak/peserta didik ke arah professional tertentu sesuai dengan bakat
anak-anak/peserta didik.

· "Sesungguhnya
Aku akan menggerakkan tangan-Ku terhadap mereka, dan mereka akan menjadi
jarahan bagi orang-orang yang tadinya takluk kepada mereka. Maka kamu akan
mengetahui bahwa TUHAN semesta alam yang mengutus aku”(Za 2:9). Semesta alam diciptakan oleh Tuhan dan
tergantung sepenuhnya kepada Tuhan.. Kita, manusia, dapat hidup dan bergerak ke sana kemari hanya karena dan oleh Tuhan, maka baiklah kita
hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Dengan kata lain sebagai
orang beriman kita dipanggil untuk tumbuh berkembang sehingga mahir dalam
beriman. Orang yang mahir dalam beriman tak akan mungkin menjadi jarahan atau
bahan pelecehan, orang beriman akan
handal dalam menghadapi aneka macam gelombang kehidupan, sehingga tidak akan
karam. Maka marilah dalam dan dengan
iman kita hidup bersama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Untuk itu
mereka yang berpengaruh dalam hidup bersama, bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara diharapkan menjadi teladan dalam kehidupan iman, secara konkret
teladan dalam melaksanakan tugas atau kewajiban atau menghayati panggilan. Keteladanan
para pemimpin, atasan atau petinggi diharapkan dapat menjadi modal dan kekuatan
bagi semuanya sehingga semuanya semakin beriman dan ‘mengetahui bahwa semesta alam diciptakan oleh Tuhan’. Jika semuanya
mengetahui dan menghayati bahwa semesta alam diciptakan oleh Tuhan, tergantung
pada Tuhan, maka kiranya lingkungan hidup bersama menjadi nyaman, enak dan
nikmat. Semua orang berfungsi secara professional dalam fungsi dan tugas
masing-masing dalam hidup bersama, sebagaimana semua anggota tubuh kita sehat
wal’afiat dan fungsional semua sehingga tubuh kita segar bugar, sehat
wal’afiat. Hendaknya fungsi atau tugas pekerjaan apapun dihayati atau
dilaksanakan secara sungguh-sungguh, professional. Hendaknya perbedaan fungsi
atau tugas pekerjaan menjadi wahana untuk saling bekerja sama bukan menjadi
bahan iri hati.



“Dengarlah firman TUHAN, hai
bangsa-bangsa, beritahukanlah itu di tanah-tanah pesisir yang jauh, katakanlah:
Dia yang telah menyerakkan Israel akan
mengumpulkannya kembali, dan menjaganya seperti gembala terhadap kawanan
dombanya! Sebab TUHAN telah membebaskan Yakub, telah menebusnya dari tangan
orang yang lebih kuat dari padanya.Mereka akan datang bersorak-sorak di atas
bukit Sion, muka mereka akan berseri-seri karena kebajikan TUHAN, karena
gandum, anggur dan minyak, karena anak-anak kambing domba dan lembu sapi; hidup
mereka akan seperti taman yang diairi baik-baik, mereka tidak akan kembali lagi
merana
” (Yer 31:10-12)

Jakarta, 26 September 2009

Kamis, September 24, 2009

"Kata orang banyak, siapakah Aku ini?"

(Hag 2:1b-9; Luk 9:18-22)



“Pada suatu kali ketika Yesus berdoa
seorang diri, datanglah murid-murid- Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya
kepada mereka: "Kata orang banyak, siapakah Aku ini?" Jawab mereka:
"Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang
mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit." Yesus
bertanya kepada mereka: "Menurut kamu, siapakah Aku ini?" Jawab
Petrus: "Mesias dari Allah." Lalu Yesus melarang mereka dengan keras,
supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun. Dan Yesus
berkata: "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak
oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan

dibangkitkan pada hari ketiga.”

(Luk 9:18-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini




Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

· Ada orang yang kesibukan sehari-harinya berdagang di
pasar atau sebagai kontraktor bangunan dst. tetapi dalam KTP atau ID-nya tertulis ‘buruh’; ada orang
katolik yang tidak berani memakai nama baptis di tempat kerja, tidak berani
berdoa sebelum dan sesudah makan ketika makan di rumah makan umum, dst.. Memang di balik ‘ketidak-jujuran’ atau
‘ketakutan’ dalam hal jati diri tersebut ada berbagai kemungkinan alasan,
misalnya takut akan kewajiban besar, takut diejek atau disingkirkan dst.. Ketakutan untuk mengakui atau mengimani Yesus
sebagai ‘Mesias dari Allah’ mungkin
masih mewarnai cara hidup dan cara bertindak kita sebagai murid-murid
atau pengikut Yesus, karena mengandung konsekwensi berat yaitu ‘harus
menanggung banyak penderitaan’. Setia pada jati diri, panggilan, tugas
pengutusan dan kewajiban memang tak akan terlepas dari penderitaan dan
perjuangan, sehingga cukup banyak orang kurang atau tidak setia. Setia
pasangannya ialah jujur, setia dan jujur bagaikan mata uang bermuka dua, dapat
dibedakan dan tak dapat dipisahkan. Pertama-tama marilah kita jujur terhadap
‘jati diri’ kita masing-masing dimanapun dan kapanpun, tanpa takut dan was-was
mengakui ‘jati diri’ dihadapan umum. Sekiranya dengan kejujuran jati diri ini
harus menghadapi atau mengalami tantangan, ejekan, sindiran dst.., jadikanlah
semuanya itu sebagai bantuan atau dukungan agar kita konsekwen pada jati diri
kita dan dengan demikian hidup dan bertindak sesuai dengan jati diri kita
masing-masing. Tumbuh berkembang dalam jati diri alias panggilan dan tugas
pengutusan memang harus berani menghadapi dan mengolah aneka macam tantangan,
hambatan, ejekan, sindiran, dst.. Penderitaan dan perjuangan merupakan wahana
pemurnian jati diri, bagaikan emas dibakar untuk memperoleh emas murni.

· “Sedikit waktu
lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat; Aku akan
menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala
bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan,
firman TUHAN semesta alam. Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas,
demikianlah firman TUHAN semesta alam” (Hag 2:7-9). Gempa bumi berkekuatan
cukup besar pada awal bulan September menggoncang pulau Jawa: bangunan yang tak
kuat roboh, rata dengan tanah, sedangkan bangunan yang kuat tetap berdiri
kokoh. Aneka masalah, perubahan dan perkembangan menggoncang kehidupan bersama,
sebagaimana krisis moneter yang menggoncang dunia tahun lalu. Dalam krisis
moneter mereka yang gila akan uang memang sungguh tergoncang, sedangkan mereka
yang hidup sederhana dan tidak gila uang tak terasa apa-apa. Kita telah mendengarkan melaui pengajaran
atau kotbah: firman atau sabda Tuhan, yang diharapkan menjadi pedoman, pegangan
dan kekuatan kita dalam menghadapi gelombang kehidupan yang tiada henti. Adakah
kata-kata atau ayat yang mengesan bagi anda dalam rangka mendengarkan
pengajaran atau kotbah? Jadikanlah kata-kata atau ayat yang mengesan tersebut
sebagai pedoman, pegangan dan kekuatan hidup anda, sebagaimana dipakai oleh
para gembala kita, para uskup, dengan mottonya. Saya pribadi merasa diteguhkan
oleh ayat atau kata-kata ini: “Di dalam Dia
kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan
oleh iman kita kepada-Nya.” (Ef
3:12). Ayat-ayat ini, dengan rendah hati dan dari kelemahan dan kerapuhan saya pribadi, saya coba hayati antara lain dengan berusaha
hidup dan bekerja sesuai dengan kehendak Tuhan alias berusaha taat dan setia
pada aneka tatanan dan aturan yang
terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan. Hidup dan
bertindak dalam Tuhan tiada ketakutan dan kecemasan sedikitpun.



“Berilah keadilan kepadaku, ya Allah,
dan perjuangkanlah perkaraku terhadap kaum yang tidak saleh! Luputkanlah aku
dari orang penipu dan orang curang! Sebab Engkaulah Allah tempat pengungsianku.
Mengapa Engkau membuang aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan
musuh? Suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun dan
dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu! Maka aku dapat pergi
ke mezbah Allah, menghadap Allah, yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku, dan
bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, ya Allahku!”
(Mzm 43:1-4)



Jakarta, 25 September 2009

“Ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus.”

(Hag 1:1-8; Luk 9:7-9)



“Herodes, raja wilayah, mendengar segala
yang terjadi itu dan ia pun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan,
bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan,
bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula yang mengatakan, bahwa seorang
dari nabi-nabi dahulu telah bangkit. Tetapi Herodes berkata: "Yohanes
telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan

hal-hal demikian?" Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus”

(Luk 9:7-9), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

· Seorang pemimpin di tingkat manapun dan di bidang
apapun yang gila akan kuasa, hormat duniawi dan harta benda atau uang pada umum
cemas ketika mendengar ada pesaing baru atau orang-orang baru yang berpengaruh
dalam kehidupan bersama muncul. Ia berusaha mencari tahu siapa gerangan orang
tersebut, jangan-jangan ia akan menggeser kedudukan atau jabatannya. Itulah kiranya yang dirasakan
oleh Herodes, yang kemudian ‘berusaha
supaya dapat bertemu dengan Yesus’. Keinginan untuk bertemu dengan Yesus
bukan karena tertarik untuk mengikutiNya, melainkan lebih muncul dari
kecemasannya jangan-jangan Yesus menggeser kedudukan dan pengaruhnya pada
rakyat. Pemimpin yang tidak berpihak pada rakyat yang dipimpinnya alias hanya
mencari keuntungan diri sendiri memang mudah cemas dan gelisah ketika muncul
ide-ide, gagasan-gagasan atau gerakan-gerakan pembaharuan yang muncul
dikalangan rakyatnya. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kepada
siapapun yang merasa menjadi atau berfungsi sebagai pemimpin untuk senantiasa
berpihak pada dan bersama dengan yang dipimpin. Untuk itu hendaknya pemimpin
senantiasa berusaha untuk bertemu secara pribadi dengan yang dipimpin, entah
secara formal atau informal, dengan mendatangi atau menyapa mereka. Hendaknya
meluangkan waktu dan tenaga sesaat untuk mendatangi atau mengunjungi mereka
yang dipimpin atau menjadi bawahan atau pembantunya. Beri salam singkat,
seperti selamat pagi, selamat siang dst.. , dan sekali waktu hendaknya
bercakap-cakap atau curhat dengan mereka yang dipimpin. Jika pemimpin sering
‘turba’ alias menyapa dan curhat dengan yang dipimpin kiranya tidak perlu ada
kecemasan sedikitpun. Hayatilah kepemimpinan partisipatif dengan melibatkan
mereka yang dipimpin, mendengarkan harapan, keluh kesah, dambaan mereka dst..

· "Apakah
sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan
baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?”(Hag 1:4), demikian
peringatan Tuhan melalui nabi Hagai kepada umatNya. Yang dimaksud dengan “Rumah” adalah bait Allah dan bagi kita
sekarang adalah tempat ibadat, entah kapel/gereja, masjid/langgar/ surau atau
tempat-tempat suci dan peziarahan. Kita diingatkan hendaknya memperhatikan
kenyamanan, keindahan, kebersiahan tempat ibadat sehingga menarik dan memikat
umat untuk datang dan berdoa di dalamnya. Maka marilah kita perhatikan tempat
ibadat kita bersama serta aneka macam sarana-prasarana pendukung ibadat, apakah
layak disebut sebagai ‘rumah Tuhan’. Memang bentuk bangunan tempat ibadat
hendaknya juga akrab dengan lingkungan sekitarnya: keindahan dan kebersihan
yang penting dan untuk itu berarti perlu perawatan yang memadai. Pada umumnya
tempat-tempat ibadat ketika baru selesai dibangun nampak bagus, menarik dan
memikat. Tempat ibadat akan tetap menarik dan memikat jika sungguh dirawat.
Maka dengan ini kami mengharapkan agar tempat-tempat ibadat dirawat sedemikian
rupa sehingga menarik dan memikat orang untuk dataing, dan ‘berusaha untuk bertemu dengan Tuhan’ dalam dan melalui ibadat bersama atau doa-doa pribadi.
Anak-anak hendaknya dibiasakan sedini mungkin perihal arti dan makna tempat
ibadat, sehingga pada suatu saat mereka
juga terlibat untuk merawat maupun beribadat dengan khidmat. Kepada rekan-rekan
yang tahu perihal seluk-beluk ibadat dan tempat ibadat, antara lain para imam
atau pastor kami harapkan untuk membina umat juga perihal cara beribadat maupun
tempat ibadat, tempat-tempat suci yang dipersembahkan kepada Tuhan. Kepada
semuanya kami harapkan hendaknya ketika memasuki tempat ibadat penuh hormat dan
keheningan, begitu pula selama di dalam tempat ibadat; hendaknya jangan omong-omong
atau rekreasi di tempat ibadat, tempat suci yang telah dipersembahkan kepada
Tuhan.



“Haleluya! Nyanyikanlah bagi TUHAN
nyanyian baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh. Biarlah Israel
bersukacita atas Yang menjadikannya, biarlah bani Sion bersorak-sorak atas raja
mereka! Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tari-tarian, biarlah mereka
bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Sebab TUHAN berkenan kepada
umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan. Biarlah
orang-orang saleh beria-ria dalam kemuliaan, biarlah mereka bersorak-sorai di

atas tempat tidur mereka!”

(Mzm 149:1-5)


Jakarta, 24 September 2009

“Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang”

(Ezr 9:5-9; Luk 9:1-6)



“Maka Yesus memanggil kedua belas
murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai
setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Dan Ia mengutus mereka
untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang, kata-Nya kepada
mereka: "Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat
atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju. Dan apabila kamu sudah
diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ.
Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan
kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka." Lalu
pergilah mereka dan mereka mengelilingi segala desa sambil memberitakan Injil

dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat.”

(Luk 9:1-6), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.




Berrefleksi
atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Padre Pio dari Pietrelcina hari ini
saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Padre Pio adalah seorang imam yang sakit-sakitan,
konon sakit paru-paru kronis, sehingga kurang dapat melayani umat secara
langsung. Namun apa yang terjadi pada dirinya, yaitu kelemahan dan kerapuhan
tubuhnya, menjadi masa berahmat: ia memiliki kesempatan lebih banyak untuk
berdoa. Mujizat pun terjadi: kesehatan semakin membaik dan ia memperoleh rahmat
‘stigmata Kristus’, suatu penglihatan untuk berpartiisipasi dalam penderitaan
dan wafat Yesus demi keselamatan seluruh dunia. Padre Pio kiranya dalam
kelemahan dan kerapuhannya melaksanakan perintah Yesus yang ‘mengutus untuk memberitakan Kerajaan Allah
dan untuk menyembuhkan orang”, ia mendirikan kelompok doa dan rumah sakit
yang cukup modern pada zamannya. Banyak orang tergerak untuk menggabungkan diri
dalam kelompok-kelompok doa yang didirikannya dan banyak orang sakit
disembuhkan melalui rumah sakitnya. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus
kita juga dipanggil ‘untuk memberitakan
Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang’, maka marilah kita hayati atau
laksanakan tugas panggilan ini sesuai dengan kesempatan dan kemungkinan kita
masing-masing. Dimana ada orang sakit, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal
budi atau sakit tubuh, berarti Allah kurang atau tidak merajai orang yang
bersangkutan atau lingkungan hidupnya. Marilah kita datangi atau kunjungi saudara-saudari
kita yang membutuhkan penyembuhan atau bantuan, marilah mengorbankan atau
mempersembahkan sebagian tenaga, waktu dan harta benda atau uang kita bagi
mereka yang miskin dan berkekurangan atau menderita sakit.

· “Dan
sekarang, baru saja kami alami kasih karunia dari pada TUHAN, Allah kami yang
meninggalkan pada kami orang-orang yang terluput, dan memberi kami tempat
menetap di tempat-Nya yang kudus, sehingga Allah kami membuat mata kami
bercahaya dan memberi kami sedikit kelegaan di dalam perbudakan kami”(Ezr 9:8). Kutipan ini kiranya baik menjadi
permenungan atau refleksi kita, sebagai umat beriman. “Allah membuat mata kami bercahaya dan memberi kami sedikit kelegaan di
dalam perbudakan”, kutipan inilah yang sebaiknya kita renungkan dan hayati.
Mungkin kita tidak berada dalam perbudakan yang sesungguhnya, tetapi karena
kita kerja keras dan penuh pengorbanan bagi kebahagiaan atau keselamatan orang
lain sering kita merasa lelah atau diperbudak. Dalam perasaan atau pengalaman
macam itu dan mungkin juga pengalaman merasa kurang diperhatikan atau ditinggal
orang lain, marilah kita hayati kasih karunia Tuhan yang tak pernah berhenti:
Tuhan senantiasa mendampingi dan menyertai perjalanan hidup kita dimanapun dan
kapanpun serta dalam kondisi dan situasi macam apapun. Tanda penyertaan dan
pendampingan Tuhan antara lain mata tetap segar dan bercahaya meskipun harus
bekerja keras penuh pengorbanan dan penderitaan. Sorot atau sinar mata memang
merupakan cermin kwalitas kepribadian seseorang: mengasihi atau membenci dapat
dilihat dalam sorot atau sinar matanya. Gerak-gerik mata, misalnya kerlingan
atau kedipan juga dapat menjadi bahasa kasih atau kejahatan, ajakan untuk
berbuat baik atau berbuat jahat. Marilah kita gunakan kerlingan dan kedipan
mata sebagai ajakan untuk berbuat baik kepada orang lain, sebagai ungkapan
kasih kepada saudara-saudari kita. Marilah kita sadari dan hayati bahwa Tuhan ‘memberi
kami tempat menetap di tempatNya yang kudus’, artinya tempat dimanapun dan
kapanpun kita berdiri, duduk atau berada adalah kudus, dan dengan demkian kita
sendiri diharapkan senantiasa dalam keadaan kudus adanya, mata bersinar memikat
dan mempesona.



"Terpujilah Allah yang hidup
selama-lamanya, dan kerajaan-Nyapun tetap untuk sekalian abad. Memang Ia
menyiksa tapi juga mengasihani, Ia menurunkan ke dunia orang mati, tetapi
menaikkan daripadanya juga; tiada seorangpun luput dari tangan-Nya… Wartakanlah
kebesaran-Nya di sana, agungkanlah
Dia di hadapan segala yang hidup. Sebab Dialah Tuhan kita dan Allah, Ia adalah
Bapa kita untuk selama-lamanya. Oleh karena kejahatan kita maka kita
disiksa-Nya, tetapi kita dikasihani-Nya lagi dan dikumpulkan- Nya dari antara sekalian

bangsa, di mana kamu terserak-serak.”

(Tb 13:2.4-5)




Jakarta, 23 September 2009

"IbuKu dan saudaraKu ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya”

(Ezr 6:7-8.12b.14- 20; Luk 8:19-21)



“Ibu dan saudara-saudara Yesus datang
kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak.Orang
memberitahukan kepada-Nya: "Ibu-Mu dan saudara-saudara- Mu ada di luar dan
ingin bertemu dengan Engkau." Tetapi Ia menjawab
mereka: "Ibu-Ku dan saudara-saudara- Ku ialah mereka, yang mendengarkan

firman Allah dan melakukannya.”

(Luk 8:19-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 




Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

· “KKN” = Kolusi, Korupsi dan Nepostime, itulah ungkapan
atau kata-kata yang cukup mewarnai dalam aneka pembicaraan. Hemat saya kolusi
dan nepotisme tidak apa-apa alias baik-baik saja asal tidak korupsi. Kata
bahasa Latin ‘corruptio’ (1) secara aktif berarti hal merusak, hal membuat busuk, pembusukan,
penyuapan, (2) secara pasif berarti keadaan
dapat binasa, kebinasaan, kerusakan, kebusukan, kefanaan, korupsi, kemerosotan.
Sedangkan kata bahasa Latin ‘corruptor’
berarti perusak, pembusuk, penggoda,
pemerdaya, penyuap. Dari pengartian kata ‘corruptio’ di atas kiranya
dapat dipahami arti korupsi,yaitu kemerosotan
moral dengan merusak yang lain demi keuntungan diri sendiri. Dari sudut
pandang hukum, perbuatan korupsi mencakup unsur-unsur: melanggar hukum yang
berlaku, penyalahgunaan wewenang.merugikan Negara, memperkaya pribadi/diri
sendiri. "Ibu-Ku dan
saudara-saudara- Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan
melakukannya”, demikian tanggapan
Yesus atas informasi bahwa Ia dicari oleh saudara-saudari dan ibuNya.
Kunggulan hidup beriman atau beragama terletak dalam ‘mendengarkan firman Allah dan melakukannya’, alias dalam
pelaksanaan atau penghayatan aneka macam saran, ajaran nasihat, petuah, aturan
dan tuntunan hidup. Hidup dan bertindak jujur alias tidak korupsi hemat saya
merupakan hal yang mendesak untuk dihayati dan disebarluaskan dalam hidup dan
bekerja bersama pada masa kini, mengingat dan memperhatikan korupsi dalam
berbagai bentuk masih marak di sana-sini. Saya sangat prihatin mendengar dan
memperhatikan bahwa departemen yang terkait dengan pembinaan iman dan
kepribadian manusia di Indonesia, yaitu Departemen Agama dan Departemen
Pendidikan masih sarat dengan korupsi di berbagai tingkatan pelayanan. Dalam
Pendidikan misalnya masalah penyaluran BOS, Bantuan Operasional Sekolah, bagi
mereka yang miskin dan berkekurangan dipotong alias dikorupsi dengan alasan
beaya administrasi, dalam Agama kiranya entah di kalangan agama manapun juga
masih sarat dengan korupsi. Di paroki-paroki, lingkungan Gereja Katolik, juga
masih terjadi korupsi yang dilakukan oleh seksi-seksi tertentu. Marilah kita
berantas aneka macam bentuk korupsi dalam hidup dan kerja kita dimanapun dan
kapanpun.

· “Karena para
imam dan orang-orang Lewi bersama-sama mentahirkan diri, sehingga tahirlah
mereka sekalian. Demikianlah mereka menyembelih anak domba Paskah bagi semua
orang yang pulang dari pembuangan, dan bagi saudara-saudara mereka, yakni para
imam, dan bagi dirinya sendiri” (Ezr 6:20).
Para imam dan orang-orang Lewi untuk masa kini adalah para
imam/pastor dan bruder serta suster. Mereka telah mentahirkan atau menyucikan
diri, paling tidak secara liturgis, maka kami harapkan para imam/pastor, bruder
dan suster (juga para pendeta, kyai, biksu, dst...)dapat menjadi teladan
kesucian, orang-orang yang mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah melalui
cara hidup dan cara bertindak sehari-hari. Hari ini kita masih dalam suasana
perayaan Idul Fitri, dimana para anggota keluarga dan kenalan saling
bersalam-salaman, bersilaturahmi, saling memaafkan. Saudara-saudari kita, umat
Islam khususnya, kiranya menyadari dan menghayati diri sebagai yang telah
disucikan setelah selama sebulan berpuasa, berusaha mengendalikan diri
sedemikian rupa sehingga hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah atau
firman Allah. Bukankah peristiwa ini merupakan situasi yang kondusif dan bagus
bagi kita semua untuk saling memperteguh dan memperkuat penghayatan iman kita
masing-masing. Semoga apa yang terjadi dan dialami pada hari-hari ini dalam
rangka merayakan Idul Fitri dapat terus terjadi dan dihayati dalam hidup
sehari-hari, bukan dalam hal makan dan minum tetapi dalam hidup yang dijiwai
oleh persaudaraan atau persahabatan sejati. ‘Hari Kemenangan atas setan atau
kejahatan’ yang dirayakan hendaknya terus terjadi dalam hari-hari berikutnya.
Marilah kita perangi bersama setan dan kejahatan yang masih terjadi dan
menggema di sana-sini.



“Aku bersukacita, ketika dikatakan orang
kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." Sekarang kaki kami
berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem. Hai Yerusalem, yang telah didirikan
sebagai kota yang bersambung rapat, ke mana suku-suku berziarah, yakni
suku-suku TUHAN, untuk bersyukur kepada nama TUHAN sesuai dengan peraturan bagi
Israel.Sebab di sanalah ditaruh kursi-kursi pengadilan, kursi-kursi milik
keluarga raja Daud
” (Mzm 122:1-5)

Jakarta, 22 September 2009