Tampilkan postingan dengan label Oase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oase. Tampilkan semua postingan

Rabu, Oktober 14, 2009

Nania dan Cintanya

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia 

 mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, 

 hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi 

 bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan 

 Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama 

 herannya.

 Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

 Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari 

 sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. 

 Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

 Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan 

 lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali 

 beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua 

 menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik 

 nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

 Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil 

 dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian 

 di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. 

 Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan 

 Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat 

 karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab 

 kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

 Kamu pasti bercanda!

 Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, 

 disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa 

 dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania 

 bercanda.

 Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang 

 balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

 Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang 

 melamarnya.

 Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli 

 berani melamar anak Papa yang paling cantik!

 Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda 

 baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu 

 berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh 

 selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

 Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif 

 bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa 

 saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?

 Nania terkesima.

 Kenapa?

 Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

 Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, 

 sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca 

 puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

 Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. 

 Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan 

 laki-laki manapun yang kamu mau!

 Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa,

 kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian 

 mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

 Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

 Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat 

 tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

 Tapi kenapa?

 Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan 

 biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.

 Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

 Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

 Cukup!

 Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi 

 parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana 

 tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan 

 melihat pencapaiannya hari ini?

 Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. 

 Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. 

 Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 

 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah 

 menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya 

 menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

 Mereka akhirnya menikah.

 ***

 Setahun pernikahan.

 Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik 

 di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, 

 Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar 

 tampak di mata mereka.

 Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga 

 Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau 

 cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu 

 sangat bahagia.

 Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.

 Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

 Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak

 percaya.

 Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang 

 tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, 

 pintar, dan punya kehidupan sukses!

 Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini

 dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

 Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

 Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!

 Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

 Rafli juga pintar!

 Tidak sepintarmu, Nania.

 Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.

 Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

 Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik 

 mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

 Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli!

 Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah 

 menikah dan sebentar lagi punya anak.

 Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. 

 Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan 

 satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah 

 mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih 

 dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania 

 memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud 

 Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

 Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu 

 khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya 

 maksud baik..

 Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus 

 pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti 

 kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

 Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

 Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, 

 dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji 

 yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika 

 bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

 Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin 

 gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar 

 dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu 

 berada di puncak!

 Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan

 bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan 

 kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

 Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.

 Cantik ya? dan kaya!

 Tak imbang!

 Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania 

 belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan 

 bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

 Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. 

 Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu 

 itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

 ***

 Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu 

 dari waktunya.

 Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera

 dikeluarkan!

 Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke 

 dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga 

 perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, 

 hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

 Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya 

 waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan 

 menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta 

 orangtua Nania belum satu pun yang datang.

 Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat

 pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan 

 melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi 

 pembukaan berjalan lambat sekali.

 Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, 

 kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

 Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. 

 Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang 

 tinggi.

 Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, 

 didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu 

 kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

 Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa 

 menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. 

 Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa 

 ditelannya.

 Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua 

 kehidupan.

 Dokter?

 Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

 Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau 

 begitu? Bagaimana jika terlambat?

 Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang 

 karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar 

 operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

 Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat 

 ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan 

 dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu 

 yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, 

 telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, 

 dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan 

 diri.

 Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir 

 lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

 Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

 Pendarahan hebat!

 Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada 

 varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! 

 Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

 Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali.

 Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

 Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung 

 beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya 

 dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

 Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

 

***

 Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari

 kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga 

 anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu 

 sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak 

 sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

 Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di 

 rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. 

 Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania 

 dengan Rafli.

 Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah 

 sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak 

 perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, 

 dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

 Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran 

 kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. 

 Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili 

 mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan 

 bercanda mesra..

 Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

 Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil 

 mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

 Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir 

 untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, 

 mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang 

 lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan 

 membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. 

 Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

 Nania, bangun, Cinta?

 Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan 

 Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa

 melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang 

 menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

 Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. 

 Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak 

 bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

 Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, 

 gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di 

 wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

 Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah 

 penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

 Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan 

 mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan 

 airmata yang meleleh.

 Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

 Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. 

 Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun 

 terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke 

 sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu 

 cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja 

 datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang 

 jatuh cinta.

 Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. 

 Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. 

 Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu 

 tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

 Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu 

 meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan 

 paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

 Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. 

 Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, 

 nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti 

 juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu 

 bertahun-tahun.

 Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di 

 sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang 

 berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum 

 hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

 Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di 

 jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas 

 hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua 

 berbisik-bisik.

 Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

 Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

 Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya 

 memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

 Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

 Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin 

 frustrasi, merasa tak berani, merasa?

 Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di 

 luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu 

 begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

 Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah

 mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

 Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, 

 anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan 

 yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi 

 sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah 

 direbut takdir dari tangannya.

 Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa 

 yang tak pernah berubah, untuk Nania.

 -- 

best regards

 

~Vio Chuakep~

(Sumber : Milis e-ketawa.com)

Senin, Oktober 12, 2009

Gaya Hidup Orang-orang Kaya

Ada satu lembaga penelitian  sekuler  di USA yg meneliti tentang orang-orang bahagia. Karena  ini lembaga  sekuler, ukuran bahagia pertama adalah banyaknya  uang, maka lembaga  tersebut mensurvey orang-orang  kaya (milyuner) dengan sample awal sebanyak lebih dari 200 ribu orang milyuner. Dari 200  ribu itu disaring kadar  bahagianya berdasarkan  berbagai  parameter  termasuk keluarga  tersebut.

Hasil saringan terakhir ada sekitar 200  orang yang   dianggap sangat bahagia, karena selain kaya,  bisnisnya luar  biasa, menikmati  hidup,  keluarganya  beres. Hasil survey tersebut ditulis dalam buku karangan  Thomas Stanley berjudul "The  Millionaire  Mind". Orang-orang kaya tersebut rata-rata  sudah  berumur,  mereka adalah orang kaya dalam satu  generasi, artinya bukan kaya warisan,  tapi kaya dengan  modal zero,alias kerja sendiri. Kemudian   orang-orang ini  diwawancara satu per satu secara detail, dan  di-summary-kan  gaya hidup  orang-orang  tersebut,

Berikut  10 gaya hidup orang-orang kaya tersebut:

1.  Orang-orang tersebut FRUGAL =  HEMAT

Artinya: Mereka penuh  pertimbangan  dalam memanfaatkan  uang mereka. Untuk membeli sesuatu,  pikir-pikir dulu  sekitar 20 kali,  tipe orang yang  tanya sama Tuhan tentang segala sesuatu pengeluaran. Mereka tidak diperbudak mode,  meskipun tidak kuno,  tapi modis.  Mereka tahu  dimana beli barang  bagus tapi murah.

2. Orang-orang  tersebut selalu  hidup di bawah  income mereka

Tidak hidup gali  lobang tutup lobang alias  anti utang.

3. Sangat loyal terhadap  pasangan, tidak cerai  dan setia!

4. Selalu lolos dari prahara  baik  dalam keluarga/bisnis

Di USA sering  resesi ekonomi, mereka  selalu  lolos. Setelah ditanya apa kunci lolosnya, jawabannya:  "Overcoming  worry and fear with The Bible and  pray,with faith to God.We have God and His word"

5. Cara berpikir mereka berbeda (They think  differently from  the crowd)

Dalam  segala segi  dengan  orang-orang kebanyakan cara berpikir mereka berbeda.

Contoh:

Kita kalau ke mall,  memikirkan untuk menghabiskan uang,  mereka malah  survey mencari bisnis apa yang paling laku di   mall. Mereka "man of production" bukan "man   of consumption"

6. Ketika ditanya kunci  suksesnya;

a. Punya integritas = omongan dan janji bisa dipegang   dan dipercaya.

b. Disiplin

Tidak mudah dipengaruhi,  dalam  segala hal, termasuk disiplin dalam hal makanan,  mereka orang  yang tidak sembarangan  konsumsi makanan. Tidak  serakah.

c. Selalu mengembangkan social skill

 Cara bergaul,belajar getting  along  with people, belajar  leadership, menjual ide, mereka orang yang meng-upgrade dirinya,  tidak malas belajar.

d. Punya pasangan yg support

Pasangan yang selalu   mendukung dalam keadaan enak/tidak enak. Menurut mereka,  integrity  dimulai di rumah,  kalau  seorang suami/istri tidak bisa dipercaya di rumah, pasti tidak bisa  dipercaya diluar.

7. Pembagian waktu/aktivitas,

Paling banyak untuk hal-hal berikut:

a. Mengajak anak dan cucu sport/olahraga,

Alasannya:  dengan  olahraga bisa meningkatkan fighting spirit yang penting untuk  pertandingan rohani untuk menang  sebagai orang beriman,  untuk bisa sportif  (menerima  kenyataan, tetapi dengan semangat untuk memperbaiki  dan  menang).

b. Banyak memikirkan tentang   investment.

c. Banyak waktu berdoa, mencari hadirat  Allah,  belajar  Firman.

Ini menjadi    lifestyle mereka sejak   muda.

d. Attending religious  activities.

e.  Sosializing with children and  grand child.

f.  Entertaining with friends,

Maksudnya bergaul,  membina  hubungan.

8. Have a strong religious faith, dan  menurut mereka   ini kunci sukses mereka.

9. Religious  millionaire

Mereka tidak pernah memaksakan suatu  jumlah aset sama   Tuhan, tapi mereka belajar mendengarkan suara Tuhan, berapa   jumlah  aset yang Tuhan inginkan buat mereka. Minta guidance untuk   bisnis. Mereka  bukan type menelan semua tawaran  bisnis yang disodorkan  kepada mereka,  tapi tanya Tuhan  dulu untuk mengambil keputusan.

10.  Ketika ditanya tentang siapa  mentor mereka,  jawabannya adalah TUHAN.

Jumat, Oktober 09, 2009

Besarnya Penghargaan



Seorang penjual daging mengamati suasana sekitar tokonya.
Ia sangat terkejut melihat seekor anjing datang ke samping tokonya.
Ia mengusir anjing itu, tetapi anjing itu kembali lagi.
Maka ia menghampiri anjing itu dan melihat ada suatu catatan di mulut anjing itu.

Ia mengambil catatan itu dan membacanya,


"Tolong sediakan 12 sosis dan satu kaki domba. Uangnya ada di mulut anjing ini."


Si penjual daging melihat ke mulut anjing itu dan ternyata ada uang sebesar 10 dollar di sana .


Segera ia mengambil uang itu, kemudian ia memasukkan sosis dan kaki domba ke dalam kantung plastik dan diletakkan kembali di mulut anjing itu. Si penjual daging sangat terkesan.

Kebetulan saat itu adalah waktu tutup tokonya, ia menutup tokonya dan berjalan mengikuti si anjing. (BACA SAMPAI HABIS..... COOL)


Anjing tersebut berjalan menyusuri jalan dan sampai ke tempat penyeberangan jalan. Anjing itu meletakkan kantung plastiknya, melompat dan menekan tombol penyeberangan, kemudian menunggu dengan sabar dengan kantung plastik di mulut, sambil menunggu lampu penyeberang berwarna hijau. Setelah lampu menjadi hijau, ia menyeberang sementara si penjual daging mengikutinya. Anjing tsb. kemudian sampai ke perhentian bus, dan mulai melihat "Papan informasi jam perjalanan ".. Si penjual daging terkagum-kagum melihatnya. Si anjing melihat "Papan informasi jam perjalanan " dan kemudian duduk di salah satu bangku yang disediakan. Sebuah bus datang, si anjing menghampirinya dan melihat nomor bus dan kemudian kembali ke empat duduknya.


Bus lain datang. Sekali lagi si anjing menghampiri dan melihat nomor busnya.
Setelah melihat bahwa bus tersebut adalah bus yang benar, si anjing naik. Si penjual daging, dengan kekagumannya mengikuti anjing itu dan naik ke bus tersebut.

Bus berjalan meninggalkan kota , menuju ke pinggir kota . Si anjing melihat pemandangan sekitar. Akhirnya ia bangun dan bergerak ke depan bus, ia berdiri dengan 2 kakinya dan menekan tombol agar bus berhenti. Kemudian ia keluar, kantung plastik masih tergantung di mulutnya. Anjing tersebut berjalan menyusuri jalan sambil diikuti si penjual daging.

Si anjing berhenti pada suatu rumah, ia berjalan menyusuri jalan kecil dan meletakkan kantung plastik pada salah satu anak tangga. Kemudian, ia mundur, berlari dan membenturkan dirinya ke pintu. Ia mundur, dan kembali membenturkan dirinya ke pintu rumah tsb.

Tidak ada jawaban dari dalam rumah, jadi si anjing kembali melalui jalan kecil,
melompati tembok kecil dan berjalan sepanjang batas kebun tersebut. Ia menghampiri jendela dan membenturkan kepalanya beberapa kali, berjalan mundur, melompat balik dan menunggu di pintu.

Si penjual daging melihat seorang pria tinggi besar membuka pintu dan mulai menyiksa anjing tersebut, menendangnya, memukulinya serta menyumpahinya.

Si penjual daging berlari untuk menghentikan pria tersebut,
"Apa yang kau lakukan ..? Anjing ini adalah anjing yg jenius. Ia bisa masuk televisi
untuk kejeniusannya. "


Pria itu menjawab, "Kau katakan anjing ini pintar ....?
Dalam minggu ini sudah dua kali anjing bodoh ini lupa membawa kuncinya ..!"

Mungkin hal serupa pernah terjadi dalam kehidupan Anda.

Sesuatu yang bagi Anda kurang memuaskan, mungkin adalah sesuatu yang sangat luar biasa bagi orang lain.


Yang membedakan hanyalah seberapa besar penghargaan kita.



Pemilik anjing tidak menghargai kemampuan si anjing dan hanya terfokus pada kesalahannya semata, sehingga menganggapnya anjing yang bodoh.
Sebaliknya, sang pemilik toko menganggap anjing tersebut luar biasa pintar karena mampu berbelanja sendirian.

Mungkin kita tidak pernah menyadari bahwa tiap hari kita menghadapi pilihan yang sama.


Kita punya dua pilihan dalam menghadapi hidup ini, apakah hendak mengeluh atas berbagai hal yang kurang memuaskan atau menyalahkan orang lain atas kekurangannya, atau bersyukur atas berbagai karunia yang telah kita terima.

Tuhan telah mengaruniai Anda dengan 86.400 detik per hari. Sudah adakah yang Anda gunakan untuk mengucap syukur?

Senin, Juni 15, 2009

The Mysterious Key


Semua kejadian ini berhubungan dengan yang namanya kunci. Kejadian ini berawal ketika penulis dan beberapa teman sekantor mengikuti In House Tranining dan Internalisasi Corporate Value yang diselenggarakan oleh kantor penulis di sebuah hotel ternama di kota Batu, Malang, Jawa Timur dari tanggal 11-13 Juni 2009.

Waktu check in di hotel sebelum acara dimulai kami mendapat kamar nomor 216 dan satu kamar tersebut yang normalnya hanya diperuntukkan bagi 3 orang kini harus diisi 5 orang. Maklum karena kami rata-rata jarang dan bahkan tidak pernah menginap di hotel apalagi di hotel yang agak canggih maka muncullan kejadian-kejadian lucu. 

Kejadian pertama ketika kami harus menyalakan lampu maka teman-teman yang masuk kamar duluan mati gaya. Walaupun saklar lampu sudah diceklak-ceklik gak mau hidup juga. Ada apa gerangan? Apa lampu mati di hotel ini.? Untung ada seorang teman yang sudah berpengalaman. Ia mengambil kunci kamar. Ternyata gantungan kunci tersebut didesain khusus untuk menyalakan lampu. Sehingga ketika dimasukkan lubang saklar menyalalah semua lampu dan tv yang ada.

Kejadian yang menggelikan kedua terjadi ketika salah seorang teman mandi. Dengan santainya teman saya tersebut menyalakan lampu dan mandi dengan pedenya. Teman saya yang lain kebetulan merasa haus dan akan membuat kopi untuk mengusir rasa kantuk. Tiba dia menunggu air yang sedang dipanaskan secara reflek dia menengok ke kamar mandi. Meledaklah tawanya begitu dia melihat ke kamar mandi. kami yang penasaran berusaha mendekatinya dan menanyakan apa gerangan yang terjadi. Kamipun tertawa ngakak setelah dia menunjuk ke kamar mandi. Ternyata teman yang sedang mandi tadi menyalakan lampu dalam kamar mandi dan kelihatanlah siluet tubuhnya yang nggilani (maklum laki-laki). Mungkin kalo cewek kami hanya diam-diam saja dan terpana. Tapi karena ini yang kelihatan siluet cowok maka kami hanya bisa ngakak dan akhirnya mematikan lampu kamar mandi dari luar karena tidak tega melihat tubuh aduhai teman kami.

Kejadian yang lebih menggelikan adalah tentang kuanci kamar hotel ini. Waktu itu acara dimulai jam 3 sore. Tapi berhubung acara mepet dengan waktu sholat ashar, beberapa teman memutuskan sholat ashar sebelum mengikuti acara pertama. Entah karena belum pernah menginap di hotel dengan kunci antik atau karena lupa. Salah seorang teman yang terakhir keluar kamar menutup pintu begitu saja dari luar. Yah jadinya kuncinya ketinggalan di dalam dengan semua lampu masih menyala. Terpaksa deh kami memanggil resepsionis untuk memasuki kamar tersebut. 

Ini kejadian lucunya. Waktu itu acara kedua dimulai jam 07.00 malam. Berhubung acaranya resmi, dress code nya adalah pakaian rapi dan memakai sepatu. Kebetulan sebelum memasuki ruangan acara teman saya memakai kaos berlengan. Salahnya dia waktu itu nanya ke panitia apakah boleh memakai kaos berkrah. Ternyata diperbolehkan dengan syarat harus memakai jaket. jadi terpaksalah teman saya tersebut balik ke kamar untuk mengambil jaket. Tak berapa lama saya yang sudah duduk di dalam ruangan acara mendapati ponsel saya berkedip-kedip. Ternyata teman saya yang mengambil jakt tadi menelpon dari luar ruangan acara. “ halo kamu sudah di dalam ya?” kata teman saya. “ya saya sudah didalam gimana mas? sudah ambil jaket?”, tanya saya. “ Sudah nih tapi saya terkunci diluar kamar.” kata dia. “Lhoh kok bisa mas?”tanya saya keheranan kok bisa terkunci tapi diluar kamar. “saya tadi sudah masuk , lalu ngambil jaket, saya sambar kuncinya lalu keluar kamar. Eh giliran saya mau masuk lagi ambil barang yang ketinggalan, saya gak bisa saya buka dari luar kamarnya” kata teman saya menerangkan kronologis kejadiannya. “Lho kan mas sudah bawa kuncinya tho kok gak bisa masuk kamar” tanya saya. “Emang saya bawa kunci, tapi ini kunci motormu bukan kunci kamar kita “. “ Lho kok bisa?” tanyaku. “Tadi saking kesusunya saya bawa kunci, ternyata kunci motormu bukan kunci kamar” Ha ha ha saya pun hanya bisa ketawa ngakak mendengar ceritanya. Ada-ada saja. Akhirnya saya suruh temen saya ke resepsionis untuk membukakan pintu kamar. Aduh ni orang kok katrok banget sudah dua kali dalam setengah hari kuncinya ketiggalan di dalam. Mungkin begitu kata resepsionis hotelnya.

Anehnya waktu hari terakhir ketika akan check out saya menemukan sebuah kunci. Dilihat dari bentuknya kunci tersebut kunci mobil. Kebetulan ada stnk nya. Setelah saya umumkan ke kamar dan samping kanan kiri gak ada yang punya kunci tersebut saya serahkan ke security hotel.

Kecut ternyata hari ini kunci motor yang terbawa teman saya dalam cerita diatas setelah dikembalikan ke saya malah hilang. Entah kemana kunci misterious tersebut. Padahal sudah saya lengkapi dengan gantungan bulatan hijau yang cukup besar. Ternyata menghilang juga. Untung ada kunci serepnya jadi masih masih bisa jalan motor saya. Mungkin lain kali perlu dikasih gantungan dari jangkar kapal biar gak ilang lagi.
Where are u my mysterious key?


Hari Yang Aneh!

Aku masih ingat hari itu adalah hari minggu. Tepatnya pas tanggal tua dan keluargaku sedang pulang kampung. Kebiasaan kalo hari minggu memang biasanya aku bangun agak siang dan hari itu anehnya aku bangun pagi banget. Ah mumpung gak ada keluarga aku ke gereja ikut jadwal pagi pikirku. Kebetulan gerejaku ada jadwal misa jam 06.00 pagi. Jadi jam 06.00 kurang dikit aku naek motor ke gereja. Dan inilah keanehan yang terjadi pada hari tersebut.
Pertama, tidak seperti biasanya aku dapat tempat duduk di bangku belakang. Tujuanku ke gereja pagi biasanya tidak begitu banyak yang ikut misa. Eh, ini malah penuh jadi deh duduk di belakang. Dan seperti yang sudah aku duga sepanjang misa itu aku harus menahan napas karena bau got di deretan paling belakang bangku gereja karena saluran got melintas dengan manis di belakangku. Walaupun sudah ditutup tapi baunya masih sedhep.

Anehnya lagi tidak biasanya kipas angin dihidupkan apalagi dalam sepagi dan sedingin itu. Dingin yang menusuk tulang sewaktu naik motor bertambah dengan angin dari kipas angin yang berputar-putar diatas kepalaku. Masih untung kipasnya berputar gak fokus ke arahku aja. Jadi gak terlalu dingin sekali.Tidak apa pikirku. Inilah pengorbanan anak-anak Allah untuk Tuhan yang telah mengorbankan nyawa-Nya demi umat-Nya. 

Keanehan kedua terjadi sepulang aku dari gereja. Di depan kantor sebuah perusahaan telekomunikasi di jalan Ahmad Yani tiba-tiba aku mendengar suara plek plek plek...Aku berhenti dan menepi pasti ban motorku kena paku nih. Anehnya sewaktu kulihat bannya tidak kempes. Kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan karena lampu sudah hijau lagi. Eh baru saja berbelok ke jalan yang lain aku merasakan ada yang aneh di motorku. Benar saja ban motorku kempes. Kubuka dompetku masih ada uang 20-ribuan. Cukup pikirku kalo hanya sekedar untuk menambal ban paling-paling 5ribu rupiah. Terpaksa deh pagi-pagi masuk bengkel nambalin ban.
 Kejutan berikutnya setelah menunggu sekian lama adalah bocornya bukan cuma satu tapi ada tiga karena pakunya sudah nekuk-nekuk. Yah... terpaksa ganti ban dech. Paling-paling 20 ribuan cukup untuk ban baru yang tidak terkenal merknya maklum tanggal tua nih. Setelah diganti bannya oleh montir tiba giliran membayar tagihan. Aku langsung ke kasir. Waktu aku nanya habis berapa. Ternyata 30 ribu, ban baru plus ongkos nembel ban yang pertama. Uang di dompet tinggal 20 ribu terpaksa dech ninggal ktp, nyari atm dan mbayar kekurangannya.

Dengan perut laper dan cuaca panas terpaksa aku nyari sarapan. Aku pengin makan berat nih soalnya dah laper banget. Setelah keliling-keliling dapetnya cuman bubur ayam. Semua warung makanan berat belum buka. Yah terpaksalah cuman makan bubur. Benar-benar hari yang aneh. Siangnya aku mencari makanan lagi, favoritku adalah warung tengah sawah dengan lalapan wader dan udang plus es tomat. Wah seger banget bayanginnya apalagi di siang yang panas dengan nasi yang masih kebul-kebul. Dan sangat kebetulan ketika sampai disana warungnya tutup. Padahal biasanya setiap hari buka. Nasib pikirku...Jadilah siang itu aku makan nasi padang.

Tiba di rumah sekitar jam dua siang. Aku dapet ide untuk nyuci piring n gelas kotor sisa semalem maklum gak ada isteri di rumah. Baru aja kubuka krannya tiba-tiba krannya lepas dan air pamnya memancar deras sekali. Baju n celana basah dan dapur penuh dengan air sebelum akhirnya kran air di dekat meteran aku matiin. Fuihhhh.... Langsung kutelepon PDAM karena kran airnya patah, airnya masih keluar dan meski disumpal dengan plastik maupun kain masih jebol terus dan keluar airnya. Jam stengah empat sore petugas PDAM baru dateng. Aku jelasin masalahnya dan tiba-tiba tanpa babibu dia langsung ganti kran air di depan. Walaupun airnya memancar deras sekali dengan berbasah-basah petugas tadi berhasil mengatasi air yang mengalir deras. Singkat kata aku beli kran baru n dipasang petugasnya. Beres pikirku paling-paling tinggal ngasih uang rokok buat bapaknya. Sambil ngobrol kukeluarkan uang 30 ribu buat bapaknya kasian udah basah celannya dan betulin kran. Anehnya dia gak mau, katanya biaya resminya 200 ribuan untuk ganti kran meter. Langsung aja aku berargumen kalo aku gak nyuruh ganti kran meteran komplainku cuman ganti kran dapur. Setelah berdebat panjang akhirnya kukeluarkan trik terakhir uang di dompetku semua ada 50 ribu. Akhirnya petugasnya mau menerima. Huhhhh ada aja cuman masang kran air kok mahal banget ya. Setelah petugasnya pergi aku cuman bisa delek-delek (=bengong n rada gak ikhas) mikirin apa yang terjadi. 

Malam harinya aku putusin gak keluar rumah, makan roti n bikin mie goreng sendiri di rumah. Untung gas nya untuk masak mie gorengnya gak habis juga. Disamping dompet dah kosong, aku khawatir ada lagi kejadian aneh yang menimpaku. Benar-benar hari yang aneh walaupun di akhir episode tidak muncul uya kuya yang biasa ngerjain orang di salah satu acara TV.
Cukuplah kesulitan di hari ini, semoga menjadi ujian untuk naik ke level kesabaran yang lebih tinggi. Amin.



Senin, Juni 08, 2009

Siapapun Presidennya, Panther Tetap Mobil Kita!

Akhir-akhir ini kita disuguhi dengan permainan politik para elit. Yang menjadi pikiran saya selaku wong cilik (karena badan saya memang kecil disamping saya tidak punya jabatan kecuali kepala rumah tangga) betapa mudahnya parpol-parpol dan elitnya “beradaptasi” dan “nyiur melambai” kesana kemari. Betapa pergerakan lobi-lobi politik untuk saling berkompromi dan “tarik ulur” terjadi begitu cepat. Kita hanya dapat melihat satu parpol terutama elitnya “mentiyung” kesana kemari untuk mendapatkan bagian dari kue yang namanya kekuasaan. Tidak ada satu partaipun yang ketika berkoalisi memegang platform tertentu dan berpegang teguh pada platform yang sama. Platform tersebut bisa berubah dan berdaptasi dan dikompromikan dengan siapa mereka mau berkoalisi.  

Yang tak kalah menariknya adalah deklarasi para capres dan cawapres. Kalo JK-Win mendeklarasikan pencapresannya di Tugu Proklamasi dengan biaya yang tak banyak. SBY Berboedi mendeklarasikan dirinya di gedung Sabuga dengan acara yang mewah dan meriah bahkan dikatakan mirip dengan pendeklarasian Obama di Amerika. Mega-Pro lain lagi, mereka mau mendeklarasikan pencapresan mereka di perkampungan kumuh dengan acara yang sederhana untuk menarik simpati rakyat.

Sekali lagi sebagai wong cilik saya hanya bisa tersenyum menyaksikan tingkah laku mereka. Mungkin inilah “trik marketing” mereka menjual diri. Tetapi ini bukan bidang saya mungkin ini lebih tepat dikupas oleh Pak Hermawan.

Sambil ngopi iseng-iseng saya baca Jawa Pos. Ada judul gede “Sultan Minta Maaf-Gagal Maju Capres, Nilai Tidak Perlu Pisowanan Agung”. Saya hanya bisa tersenyum simpul. Saya jadi inget komentar isteri saya waktu Sultan mendeklarasikan “Sultan For President!” dalam pisowanan agung di Alun-alun Jogja. “Lha iyo, mbok Sri Sultan itu anteng dan jumeneng di Kraton, kedudukannya kan sudah raja Mataram kan lebih Agung dan Terhormat, masak masih mau jadi presiden segala. Apa ya nantinya malah ndak kajen (terhormat)”. “Yah namanya juga usaha Mah Mah...”kataku menimpali. Dan sekarang terbukti perkataan isteri saya dan kayaknya Sultan malu sehingga permintaan maafnya cukup lewat pemberitahuan saja tanpa Pisowanan Agung.

Namanya politik memang tidak bisa diduga, kawan bisa jadi lawan, musuh dadi iso ora weruh. Tetapi akhir dari semua gegap gempita dan “panggung sandiwara” ini ya tetap sama. Kayak jargon cerdas iklan otomotif yang saya baca di koran “Siapapun Presidennya, Panther Tetap Mobil Kita”. Bahkan tukang ojeg didepan gang saya punya jargon tandingan “ Siapapun Presidennya, Tukang Ojeg tetap pekerjaan kita! Mas”.
Hidup tukang ojeg! He he he......


Kamis, Mei 14, 2009

The Devil & The Duck

There was a little boy visiting his grandparents on their farm. 
(ada seorang anak laki2 mengunjungi kakek nenek nya di pertaniannya)

He was given a slingshot to play with out in the woods..
(dia diberikan senapan u/bermain diluar dengan kayu2)

He practiced in the woods; but he could never hit the target.
(dia berlatih menggunakan kayu, tapi dia engga bisa mengenai sasaran)

Getting a little discouraged, he headed back for dinner.
(dia putus asa, dan dia berbalik untuk makan malem)

As he was walking back he saw Grandma's pet duck.
(sewaktu dia sedang berjalan kebelakang, dia melihat bebek peliharaan nenek)

Just out of impulse, he let the slingshot fly, hit the duck square in the head and killed it. He was shocked and grieved!
(secara reflek, dia menggunakan katapel tsb dan memukul bebek tepat di kepala dan mati. dia sangat kaget dan tercengang)

In a panic, he hid the dead duck in the wood pile; only to see his 
Sister watching! Sally had seen it all, but she said nothing.
(didlm kepanikan, dia menyembunyikan bangkai bebek di lubang kayu dan saudara perempuannya melihatnya! Sally melihat semuanya, tapi dia tdk mengatakan apa2..)

After lunch the next day Grandma said, 'Sally, let's wash the dishes'
(setelah mkn siang, esoknya nenek berkata, Sally,tolong cucikan piring)

But Sally said, 'Grandma, Johnny told me he wanted to help in the kitchen.' 
(tapi Sally berkata, nenek, jonny bilang dia ingin membantu di dapur)

Then she whispered to him, "Remember the duck?'
(kemudian dia berbisik kepadanya, inget bebek itu?)

So Johnny did the dishes.
(jadi, jonny yang mencuci piring)

Later that day, Grandpa asked if the children wanted to go fishing and Grandma said, 'I'm sorry but I need Sally to help make supper.'
(hari berikutnya, kakek menyuruh apakah kalian mau memancing, dan nenek berkata, wah sayang sekali tapi Sally hrs membantuku membuat sarapan malam)

Sally just smiled and said, 'well that's all right because Johnny told me he wanted to help?
(Sally hanya tersenyum, hm...tidak apa2 karena Jonny bilang akan membantu nenek)

She whispered again, 'Remember the duck?' So Sally went fishing and Johnny stayed to help. 
(dia berbisik kembali, Inget bebek itu?? jadi Sally pergi memancing dan Johnny tinggal untuk membantu nenek)

After several days of Johnny doing both his chores and Sally's; he 
Finally couldn't stand it any longer.
(setelah bbrp hari Johny dikerjain Sally, akhirnya engga tahan lagi)

He came to Grandma and confessed that he had killed the duck.
(dia datang kepada nenek dan mengaku bhw dia telah membunuh bebek nya)

Grandma knelt down, gave him a hug and said, 'Sweetheart, I know. You see, I was standing at the window and I saw the whole thing, but because I love you, I forgave you. I was just wondering how long you would let Sally make a slave of you.'
(nenek berlutut, dan memeluknya dan berkata, SAYANG, NENEK TAHU, KAMU TAHU, NENEK SEDANG BERDIRI DEKAT JENDELA DAN NENEK MELIHAT SEMUANYA, TAPI KARENA NENEK MENGASIHI KAMU, NENEK MEMAAFKAN KAMU. NENEK BERHARAP BERAPA LAMA KAMU AKAN MEMBIARKAN SALLY MEMPERBUDAK KAMU)

Thought for the day and every day thereafter:
Whatever is in your past, whatever you have done....? And the devil keeps throwing it up in your face (lying, cheating, debt, fear, bad habits, hatred, anger, bitterness, etc.)...whatever it is....You need to know that: 
God was standing at the window and He saw the whole thing..
(apapun yg terjadi di masa lalu, apapun yg kamu lakukan..iblis memperlihatkan kembali kepada kita, kebohongan, ketakutan, hutang, amarah, kepahitan, kebiasaan buruk dll..) apapun itu...KAMU PERLU TAHU BAHWA..
TUHAN SEDANG BERADA DI JENDELA DAN DIA MELIHAT SEMUANYA...)

He has seen your whole life... He wants you to know that He loves you and that you are forgiven. He's just wondering how long you will let the devil make a slave of you.
(DIA sedang melihat semua hidup kamu. DIA ingin kamu mengetahui bhw IA mengasihimu dan kamu telah diampuni. DIA hanya berharap berapa lama kamu akan membiarkan iblis memperbudak kamu)

The great thing about God is that when you ask for forgiveness;
(Hal yang terbesar tentang TUHAN adalah ketika kamu meminta pengampunan)

He not only forgives you, but He forgets.
Dia tdk hanya mengampuni kamu, tapi dia melupakan..

It is by God's grace and mercy that we are saved.

Go ahead and make the difference in someone's life today.

Share this with a friend and always remember:

God is at the window! 

(Sumber : Milis)

Rabu, Mei 13, 2009

Televisi Adalah Tersangka Utama!


Sore itu saya pulang dari kantor agak telat. Baru saja saya turunkan standar sepeda motor ke tanah tiba-tiba terdengar suara anak semata saya. “Ayah tolong saya...Ayah tolong saya”. Suara ini tentu saja sangat mengagetkan saya. Tak biasanya putri saya berteriak-teriak minta tolong. Biasanya kalo saya pulang ia akan berdiri berlari dari dalam rumah menyambut saya dan minta digendong atau bersembunyi di kamar meminta saya mencarinya sampai ketemu.

Belum hilang keterkejutan saya tiba-tiba dengan tubuh telanjang dia keluar dari dalam rumah sambil berlari dan berteriak-teriak minta tolong. Segera saya gendong anak saya dan membawanya masuk ke rumah untuk mengetahui apa yang terjadi. Ternyata dia baru saja mandi dengan air dingin dan karena kegirangan mandi dengan air dingin tidak seperti biasanya, dia lalu berlari minta tolong begitu mengetahui kedatangan ayahnya. “Ayah aku dimandiin sama perampok tolong Ayah....” begitu teriaknya sambil menunjuk Mamanya yang tertawa-tawa mendengar ocehanya. Mengetahui hal itu saya hanya bisa tersenyum simpul. 

Memang anak zaman sekarang ada ada saja. Pengaruh acara sinetron dan program anak-anak ternyata sudah mengkontaminasi anak saya sedemikian parahnya sehingga dia bisa bersandiwara layaknya sinetron televisi. Kadang saya tidak habis pikir kenapa benda seperti televisi bisa begitu “meracuni” anak saya sampai dia bisa bertingkahlaku layaknya artis sinetron. Padahal kalau saya mengajari membaca atau berhitung aja sampai setengah mati kok dia tidak bisa-bisa bahkan kadang sampai saya dan Mamanya jadi kesal. Tetapi kalo dia ditanya siapa nama artis sinetron X, dia pasti akan cepat menjawab ini namanya ini, ini saudaranya ini Yah. Kok hapal banget ya pikir saya.

Pernah suatu ketika anak saya minta diambilin minum karena dia lagi asyik menonton acara di televisi. Mamanya karena mungkin juga lagi asyik menyaksikan acara tersebut menjawab dengan ogah-ogahan “Males ah Dik, ambil sendiri di kulkas ya”. Yang membuat saya jadi terkejut adalah jawabannya. Dengan penuh percaya diri sambil menggurui, seorang anak umur 4 tahun menjawab, “Mama, kata Bu Guru nggak boleh males ya...”. Pinter ngeles juga anakku ini pikirku. Dan tahu apa kalimat selanjutnya yang diucapkan. ”Kalo Mama males ntar hati mama jadi hitam lho..” (hati jadi hitam=istilah putriku untuk berdosa). Dengan terpaksa Mamanya yang lagi tidur-tiduran beranjak juga ke kulkas mengakui kekalahan argumentasinya. Aduh putriku ini memang raja ngeles nomor wahid. Darimana dia belajar semua itu ya. Tidak lain dan tidak bukan saya rasa televisi adalah tersangka utamanya.






Kamis, Mei 07, 2009

Kamu memanggilKu ?

AKU :
Memanggilmu?
Tidak.. Ini siapa ya?

TUHAN :
Ini TUHAN.
Aku mendengar doamu.
Jadi Aku ingin berbincang-bincang denganmu.

AKU :
Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik.
Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.

TUHAN :
Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.

AKU :
Nggak tau ya.
Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun.
Hidup jadi seperti diburu-buru.
Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.

TUHAN :
Benar sekali.
Aktifitas memberimu kesibukan.
Tapi Produktifitas memberimu hasil.
Aktifitas memakan waktu, Produktifitas membebaskan waktu.

AKU :
Saya mengerti itu.
Tapi saya tetap tidak dapat menghidarinya.
Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.

TUHAN :
Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan memberimu beberapa
petunjuk.
Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu
daripada mimpi, misalnya.

AKU :
OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit?

TUHAN :
Berhentilah menganalisa hidup.
Jalani saja.
Analisa-lah yang membuatnya jadi rumit.

AKU :
Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa senang?

TUHAN :
Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin.
Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa.
Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu.
Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.

AKU :
Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu banyak
ketidakpastian.

TUHAN :
Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari.
Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.

AKU :
Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.

TUHAN :
Rasa Sakit tidak bisa dihindari, tetapi Penderitaan adalah sebuah pilihan.

AKU :
Jika Penderitaan itu pilihan, mengapa orang baik selalu menderita?

TUHAN :
Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan.
Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api.
Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita.
Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik bukan sebaliknya.

AKU :
Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?

TUHAN :
Ya.
Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras.
Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.

AKU :
Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu?
Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?


TUHAN :
Masalah adalah Rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental
Kekuatan dari dalam diri bisa keluar dari perjuangan dan rintangan, bukan
dari berleha-leha.


AKU :
Sejujurnya ditengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harus
melangkah...


TUHAN :
Jika kamu melihat ke luar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu melangkah.
Lihatlah ke dalam.
Melihat ke luar, kamu bermimpi.
Melihat ke dalam, kamu terjaga.
Mata memberimu penglihatan.
Hati memberimu arah.


AKU :
Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita.
Apa yang dapat saya lakukan?


TUHAN :
Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain.
Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri.
Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui
bahwa kau sedang berjalan.
Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain bekejaran dengan waktu.


AKU :
Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?


TUHAN :
Selalulah melihat sudah berapa jauh saya berjalan, daripada masih berapa
jauh saya harus berjalan.
Selalu hitung yang harus kau syukuri, jangan hitung apa yang tidak kau
peroleh.


AKU :
Apa yang menarik dari manusia?


TUHAN :
Jika menderita, mereka bertanya "Mengapa harus aku?".
Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya "Mengapa harus aku?".


AKU :
Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya disini?


TUHAN :
Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu.
Berhentilah mencari mengapa saya di sini.
Ciptakan tujuan itu.
Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.


AKU :
Bagaimana saya bisa mendapat yang terbaik dalam hidup ini?


TUHAN :
Hadapilah masa lalu-mu tanpa penyesalan.
Peganglah saat ini dengan keyakinan.
Siapkan masa depan tanpa rasa takut.


AKU :
Pertanyaan terakhir.
Seringkali saya merasa doa-doaku tidak dijawab.


TUHAN :
Tidak ada doa yang tidak dijawab.
Seringkali jawabannya adalah TIDAK.


AKU :
Terima Kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.


TUHAN :
Oke.
Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut.
Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan.
Percayalah padaKu.
Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.


(Sumber : Milis)

Berjuang Menghadapi Sakit

Menderita penyakit serius adalah pengalaman sangat khusus yang dapat menumbuhkan pemahaman spiritual mendalam tentang hidup.
Penyesuaian diri menghadapi sakit penuh dengan pengalaman emosi naik turun yang tidak jarang membuat haru biru penderita dan orang-orang terdekatnya.
 
Ada banyak sekali aspek kehidupan yang dapat berubah, dibarengi munculnya berbagai penghayatan psikologis, mulai dari kekagetan, rasa tidak percaya, kemarahan, perasaan kecil hati, hingga keputusasaan. Persoalan dapat menjadi pelik karena di satu sisi situasi sakit mengeruk dana yang dapat sangat besar untuk penyembuhan, sementara di sisi lain, penghasilan justru jauh berkurang.
 
Ada yang selalu ingin bercerita untuk memperoleh penguatan dari lingkungan, ada pula yang justru menutup diri karena tidak tahan membayangkan dipandang dengan tatap mata "kasihan". 
 
Pengalaman sahabat

 Seorang sahabat yang saya sayangi, sebut saja Nisda (30), mengizinkan saya membagikan ceritanya.

 

"Bukan maksudku menyembunyikan sakitku. Tertutup itu tidak enak. Tetapi, sulit menceritakan sesuatu yang kita sendiri belum siap menerima. Orang pertama diluar aku dan suamiku yang tahu adalah seniorku. Dia mau bagi-bagi tugas kerja. Aku terpaksa bilang, ada saat-saat di mana saya tidak mungkin hadir karena operasi tumor. Kayaknya beliau kaget, tetapi tidak bertanya lagi. Aku lega. Yang sulit waktu aku harus minta izin ke atasanku. Aku malas bilang alasannya karena takut nangis. Waktu aku cerita, aku jadi nangis. Aku benci karena jadi merasa cemen dan lemah. Aku enggak sanggup kalau harus ditatap dengan kasihan, atau sekadar ditanya, karena mungkin aku belum accept kondisiku... "

 

Mengalami sakit serius dengan berbagai implikasinya bukan merupakan hal mudah. Kadang kecemasan yang muncul merupakan hal yang dianggap sepele, yang membuat jengkel diri sendiri.

 

"Yang membuat aku kini cemas adalah soal penampilan. Aku merasa jelek. Aku sedih banget, cemas kalau tetap seperti ini. Tetapi, aku juga malu banget punya perasaan kayak gini. Kok aku cemen banget, mengurusi hal remeh-temeh begini, soal penampilan dan kekurang nyamanan yang minor.

 

Mempertahankan harapan menjadi hal yang kadang sulit dilakukan.

 

"Aku sebetulnya orang yang yang keras kepala dan cukup gigih, tetapi mempertahankan harapan adalah hal berbeda. Buatku kini harapan seperti lilin di kejauhan yang kadang tergoyang angin. Perlu usaha cukup besar untuk mempertahankannya. ..."

 

Naik-turun emosi cukup sering terjadi, kadang penuh harapan dan optimisme, kadang muncul perasaan kecewa dan marah, termasuk kepada dokter yang tidak memberi informasi detail atau dirasa tak menyadari situasi genting yang dihadapi. Orang-orang terdekat perlu lebih memahami hal ini dan melihatnya sebagai sesuatu yang wajar dan menjadi bagian dari pemulihan.

 

Walau ada banyak perasaan negatif, kadang ada banyak pula perasaan positif.

 

"Setelah operasi, aku belajar hal baru. Tentang cinta yang banyak tercurah bagiku. Aku baru tahu suamiku mencintaiku sedalam itu. Ia menangis untukku, menjagaku, merawatku, memandikanku, membasuhku, nyuapin, menghiburku, membuat mimik-mimik konyol supaya aku tertawa. Ayahku tak henti-hentinya melafalkan doa, ibuku menangis untukku. Sahabat-sahabat berkunjung menghibur aku, suamiku, ibuku...Betapa aku dikelilingi banyak cinta".

 

Bersyukur  
 
Di satu sisi banyak penderita ngeri membayangkan kematian, di sisi lain ada rasa syukur yang besar karena masih diberi hidup dan keinginan yang dalam untuk dapat menikmati sepuasnya.
 
"Aku ngeri menghadapi kematian. Yang paling aku sedih dari kematian adalah kehilangan hubungan, terutama dengan anak-anakku. Karenanya, aku mulai sungguh-sungguh menikmati hubungan dengan anak-anakku, orang tuaku, suamiku, teman-teman kerjaku. Saat aku menyempatkan diri ke kantor, aku dengan konyolnya memandangi ruangan kerjaku, menikmati kordennya, lemari, meja kerja teman-temanku yang penuh dengan kertas, ruang rapat yang sepi,lapangan parkir..."

 

Bagaimana menghadapi pikiran-pikiran tentang kematian?

 

"Aku belajar betapa fananya raga ini. Dalam ketakutanku menghadapi kematian, aku ingat kata-kata seseorang tentang kematian yang bisa indah. Aku mulai memandang kematian adalah kedamaian, situasi yang tenang saat beristirahat. ..melepaskan pikiran dari hiruk pikuk dunia, istirahat dari tanggung jawab..Bila memang sudah waktuku, aku ikhlas. Bila memang tugasku hanya sampai disini, aku percaya Tuhan mengatur yang terbaik."

 

Meski demikian, ia bertekad akan melakukan segalanya yang terbaik untuk memperjuangkan hidup. Orang-orang terdekat juga perlu memberikan dukungan optimal.

 

"Aku belum ingin beristirahat dari tanggung jawab sebagai ibu. Aku berdoa agar diberi kesempatan untuk bersama anak-anak, membesarkan mereka, aku percaya Tuhan mengatur yang terbaik untuk kita semua, untuk anak-anakku. "

 

Kini sahabat saya sedang rutin menjalani radiasi, merelakan aktivitas kerja yang sangat dia cintai untuk sementara harus terhenti. Ia juga menjadi jauh lebih spiritual, berpikir lebih dalam tentang hidup.

 

"Aku tak henti-henti bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan untuk kesempatan, kenikmatan, keberhasilan, luka, dan semuanya yang pernah aku alami dalam hidup. Aku memaafkan semua orang, aku juga memaafkan kesalahanku sendiri. Intinya aku banyak belajar untuk berdamai dengan diriku sendiri."

 

Kami, orang-orang yang menyayangi, akan terus mendukung dan menjaganya agar ia dapat pulih sepenuhnya, kembali produktif dan kreatif bekerja seperti biasa dan membesarkan anak-anaknya dengan penuh cinta.

 

 

 
Best Regards 


FA Budi


Api Nan Tak Kunjung Padam

Bagi Ciptono, tidak ada kata menyerah. Ini dilakukan terutama dalam memotivasi anak-anak didiknya yang tidak biasa alias berkebutuhan khusus. Pria paruh baya ini dikenal luas sebagai pelatih khusus bagi murid-murid terutama yang mendapat karunia Tuhan tidak seperti orang normal. Di sekolah Luar Biasa Negeri Semarang, Ciptono melatih bakat para tuna rungu, tuna grahita dan autis hingga mereka berprestasi. 

Contohnya adalah Muchtar Abas. Walau tuna rungu, kemahiran Abas dalam berpantomim sungguh luar biasa. Dengan mimiknya yang ekspresif pemuda berusia 20 tahun ini berpantomim bercerita mengenai kehidupan sehari-hari. Melalui gerakan tangan dan kakinya, ia berusaha menyampaikan pesan kepada khalayak. Hingga saat ini Abas telah berpantomim menghibur penonton dari mal satu ke mal yang lain. Abas adalah salah satu murid Sekolah Luar Biasa Semarang asuhan Ciptono. Menurut Ciptono, di sekolah, Abas tidak hanya belajar pantomim saja, melainkan juga diberikan bekal keterampilan lain seperti otomotif.

 

Lain lagi halnya Delly Meladi. Walau tidak bisa melihat alias tuna netra tidaklah membuat patah semangat. Justru dengan kekurangannya itu, Delly mengasah bakatnya di bidang tarik suara. Suara Delly memang merdu. Tak heran hingga saat ini Delly setiap malamnya selalu menghibur para pengunjung kafe dan rumah makan di kota Semarang. Yang lebih fantatis lagi, ternyata Delly juga mampu menghafal sebanyak 650 buah lagu. Uniknya lagu yang dihafal bukan lagu dari Indonesia saja melainkan lagu dari mancanegara seperti, Jepang, Arab, India hingga Perancis. Kehebatan inilah yang membuat Delly mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia beberapa waktu lalu.

 

Sementara kelebihan Andi Wibowo lain lagi. Pemuda yang akrab disapa Bowo ini adalah tuna grahita atau menderita keterbelakangan mental alias down syndrome. Namun demikian ketidaksempurnaanny a bukan halangan meraih prestasi terutama dalam melukis. Tidak seperti pelukis umumnya yang melukis obyek dengan satu tangan. Bowo melukis dengan kedua tangannya dan melukis dua obyek sekaligus secara bersamaan. Bowo menyenangi binatang sebagai obyek lukisannya. Melalui guratan tangannya binatang-binatang seperti harimau, kucing, ayam dan lainya seolah hidup di atas kanvas yang dilukis Bowo.

 

Daya ingat yang kuat ternyata menjadi andalan Kharisma Rizki. Bocah yang masih berusia 10 tahun ini mampu menghafal sekitar 250 lagu. Tidak hanya itu, kelebihan Kharisma yang lain adalah mampu menirukan sejumlah orang atau tokoh yang sedang berpidato. Dalam menirukan pidato itu, Kharisma hafal hingga titik dan komanya. Yang membuat orang semakin berdecak kagum, ternyata ia adalah penderita autisme. Bakat bocah ini memang ditemukan salah satu guru di Sekolah Luar Biasa Negeri Semarang. Kharisma yang autis memang dikenal tidak bisa diam. Begitu pula ketika sedang mengikuti pelajaran di sekolah. “Ia sering menyanyi dan tangannya sambil memukul-mukul meja, layaknya orang bermain drum” ujar Ciptono Sang Kepala Sekolah. Dari situlah kemudian Kharisma mendapat bimbingan tarik suara dan pidato.

Menurut Ciptono, setiap manusia itu ada kelebihannya disamping kekurangannya. Ia yang sudah puluhan tahun menggeluti profesi sebagai pembimbing anak berkebutuhan khusus ini tahu betul. Melalui pengamatan dan kesabaran, anak yang dikaruniai ketidak-sempurnaan akan muncul kelebihan-kelebihan yang perlu dipoles dan dilatih. Dengan demikian si anak akan mempunyai keterampilan yang tidak kalah dengan anak normal sebagai bekal kelak.


 

 

Best Regards

 

FA Budi

Tidak Menyerah Pada Keterbatasan.

Jessica Cox bisa mengemudi mobil, berenang, dan mengetik 25 kata per menit. Ia juga pemegang dua ban hitam Tae Kwon-Do (dari dua federasi) dan pintar menari. Ia bisa sekolah, lulus kuliah, dan menerbangkan pesawat. Ia mandiri, cantik, berprestasi, dan menjadi orang yang berguna. Jadi, apa yang tidak dimiliki perempuan muda ini?

Dua lengan!

Jessica adalah warga negara Amerika Serikat keturunan Filipina. Usianya 25 tahun. Ia tinggal di Tucson, Arizona.

 Untuk diketahui, Jessica dilahirkan tanpa lengan. Orangtuanya tentu terkejut dan sedih dengan keadaannya. Namun mereka tidak putus asa. Mereka bisa menerima keadaan itu dan mengajari anak perempuannya hidup mandiri. Kedua kaki Jessica diajari melakukan banyak hal, antara lain untuk menggantikan fungsi kedua lengannya. 


Bagaimana dengan Jessica? Awalnya, ia merasa malu, takut, dan tidak percaya diri. Sebab, keadaan fisiknya berbeda dengan orang lain. Untunglah, ia memiliki keluarga, teman-teman, dan guru yang luar biasa. Mereka menerima keadaannya dan mendukungnya.  

"Aku ingat saat pertama kali akan tampil di panggung untuk pertunjukan tari. Aku malu dan khawatir semuanya tidak akan berjalan lancar. Jadi, aku bilang ke guruku, ‘Tolong tempatkan aku di barisan paling belakang'. Guruku berkata, ‘Tidak ada barisan belakang!'" Pertunjukan itu sukses dan Jessica terpacu untuk menjadi seorang penari.. 

 

Seorang pilot pesawat tempur yang tergabung dalam aksi amal Wright Flight juga berjasa. Ia menawari Jessica, yang awalnya takut terbang dan ketinggian, untuk belajar menerbangkan pesawat padanya. Awalnya, Jessica menolak. Namun pilot itu terus memaksa dan bilang bahwa Jessica akan menyukai terbang dan berada di atas awan. Akhirnya Jessica menerima tawaran itu dan menganggapnya sebagai salah satu tantangan terbesar dalam hidupnya. Kini Jessica sudah mengantongi lisensi pilot. 

 

Atas semua kesuksesannya yang luar biasa itu, Jessica berkata, "Banyak hal yang tidak bisa dilakukan oleh seorang penyandang cacat. Namun saya tidak pernah mengatakan, ‘Saya tidak bisa'. Jika belum sukses dalam melakukan suatu hal, saya selalu mengatakan, ‘Saya belum berusaha keras!' Saya juga berusaha beradaptasi dengan dunia yang memerlukan dua lengan ini".
Kini, apa target Jessica? "Masih ada banyak hal di daftar keinginan saya. Hmmm.... saya ingin bisa mengepang rambut dan memanjat tebing!" Ia juga ingin mengajari banyak hal pada orang-orang yang senasib dengannya. Mereka mungkin merasa kurang percaya diri, namun Jessica selalu menyemangati mereka dengan berkata, "Sayalah bukti bahwa Anda juga bisa melakukan banyak hal!" 

(Sumber : Milis)

Tahta Untuk Sang Putri

Seorang ayah, kebetulan pengusaha kaya multi-usaha, menghadapi soal yang amat pelik. Siapakah yang harus dipilihnya menjadi President & CEO menggantikan dirinya memimpin kerajaan bisnisnya yang sudah dibangun susah payah lebih dari setengah abad?

Kini usianya sudah berkepala tujuh dan penyakit-penyakit tua sudah mulai menggerogoti dirinya. Ia tahu sebentar lagi dirinya akan mengikuti jejak nenek-moyangnya menuju lorong hidup manusia fana.

Anaknya tiga orang. Si sulung amat cerdas, meraih MSc. dan MBA luar negeri, ia berselera canggih, senang glamour, ambisius, dan punya pergaulan yang luas di kalangan jet set. Cuma si ayah cukup khawatir karena si sulung ini punya bakat bercumbu dengan bahaya seperti (konon) keluarga Kennedy. Naluri judinya gede, dan niat curangnya pun cukup kuat. Singkatnya, ia cerdas, kreatif, namun lihai dan licin.

Si tengah, lebih hebat lagi. Bergelar PhD. bidang kimia dari universitas beken di Amerika, ia lulus dengan predikat magna cum laude. Papernya bertebaran di jurnal-jurnal internasional. Bangga sekali hati si ayah yang cuma lulus SMP zaman Jepang. Dia dosen dan peneliti. Dan di perusahaan ayahnya dia menjabat sebagai Direktur Riset dan Pengembangan. Tetapi menjadi CEO, ia terlalu akademis.

Kurang cocok dengan bisnis mereka yang kini berspektrum sangat lebar.

Si bungsu, satu-satunya perempuan, cuma lulus S1 dalam negeri.

Meskipun sejak lima tahun terakhir ia bergabung dengan usaha ayahnya sebagai Direktur Grup Konsumer, tetapi ia memulai karirnya di perusahaan asing sebagai wiraniaga (marketing executive). Ia merangkak dari bawah hingga 15 tahun kemudian bisa mencapai posisi General Manager. Otaknya kalah brilian dibanding kedua kakaknya.

Meskipun cenderung hemat berkata-kata, namun ia menunjukkan bakat memimpin yang baik. Ia mampu mendengar dengan intens. Berbagai pendapat dan gagasan bisa diolahnya dengan dalam.

Gaya hidupnya biasa saja. Ia disenangi sekaligus disegani orang karena sikapnya yang fair, jujur, dan mampu merakyat dengan para bawahannya.

Nah, jika Anda adalah konsultan independen, siapakah pilih an Anda menggantikan sang patriarch menjadi President & CEO?

Saya bertaruh, sebagian besar Anda akan menominasikan si bungsu.

Dan si ayah juga demikian. Masalah ini menjadi pelik, karena menurut adat-istiadat, si sulunglah pewaris takhta. Dan, ia sangat berambisi untuk itu. Sedang si bungsu, selain paling buncit, perempuan lagi. Jadi ia kalah status, gelar dan gender.

Bagaimana jalan keluarnya?

Konsultan angkat tangan.

Rujukan buku teks tidak ada. Sang patriarch akhirnya hanya bisa mengandalkan wibawa dan hikmatnya sebagai ayah. Lalu dipanggilnya ketiga anaknya.

Dibentangkannya persoalan secara gamblang.

Diuraikannya plus-minus setiap anaknya. Dianalisisnya kemungkinan sukses masing-masing

memimpin grup usaha itu menuju milenium ketiga.

Dialog pun dimulai.

Dan si ayah segera maklum, dead lock akan terjadi.

"Sudahlah, aku akan memutuskan sendiri siapa penggantiku, " kata orangtua itu akhirnya. Ketiganya takzim menurut.

Seminggu kemudian, si ayah datang dengan sebuah ujian.

"Barangsiapa bisa mengisi ruang ini sepenuh-penuhnya, maka dialah penggantiku, " katanya sambil menunjuk ruang rapat yang cuma terisi empat kursi dan sebuah meja bundar. "Budget maksimum Rp1 juta," tambahnya lagi.

Kesempatan pertama jatuh pada si sulung. Enteng, pikirnya.

Besoknya, dipenuhinya ruangan itu dengan cacahan kertas berkarung-karung. Dan memang ruangan itu menjadi padat.

"Bagus, besok giliranmu," kata si ayah kepada anak keduanya.

Duapuluh empat jam kemudian, ruangan itu pun dipenuhinya dengan butiran styro- foam yang diperolehnya dengan menghancurkan bekas-bekas packaging.

"Oke, besok giliranmu," kata sang patriarch menunjuk putrinya.

Esoknya, ketika acara inspeksi dimulai, ternyata ruangan masih kosong.

"Lho, kok kosong?" tanya ketiganya hampir serempak. Sang putri diam saja. Dimatikannya saklar lampu. Dari sakunya dia keluarkan sebatang lilin. Ditaruhnya di atas meja.

Lalu disulutnya dengan sebatang korek api.

"Lihat, ruangan ini penuh dengan terang. Silahkan dinilai, apakah ada celah kosong tak tersinari," katanya kalem.

Tak terbantah siapa pun, dia dinyatakan menang dan sang putri pun berhak menduduki kursi tertinggi. Problem solved.

Kualitas yang ditunjukkan sang ayah dan putrinya adalah apa yang saya sebut sebagai hikmat. Ciri utama orang berhikmat (wise person) ialah kemampuan memecahkan masalah secara genuine dan memuaskan. Ini selaras dengan Jerry Pino yang merumuskan hikmat sebagai kemampuan membuat the best decision at any given situation.

Pintar, di pihak lain, adalah kemampuan mencerna dan mengolah informasi secara cepat. Ciri-cirinya, rasional, metodik, linier, dan analitik. Kepintaran umumnya diperoleh dengan olah otak sampai botak.

Dari dulu botak memang ciri orang pintar.

Tetapi hikmat (wisdom) tidak hanya memerlukan olah otak tetapi terutama olah hati. Jarang kita sadari, hati kita sebenarnya bisa berpikir. Dalam tradisi literatur kuno, terutama kitab-kitab suci, hati adalah lokasi kebijaksanaan, hikmat dan kepandaian. Lebih spesifik, hati adalah access point kita kepada the higher knowledge, yakni kepada Tuhan sendiri.

"Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.
 
Best Regards
 
FA Budi

(Sumber : Milis)

Perempuan Yang Dicintau Suamiku

Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.
 Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.

Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.

Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.

Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.

Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.

Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.

Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.

Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.

Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,
" Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau makan juga? uhh... dasar anak nakal, sini piringnya, " lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan....aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun !

Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.

Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.

Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.

Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.

Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, " Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha ?"
Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,

Dear Meisha,
Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.

Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. . Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.

Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.

Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.

yours,
Mario

Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat.. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.

Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.

Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.

Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju.. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.

Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.

Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.

**********
Setahun kemudian...
Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.

" Mario, suamiku....
Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku. .. Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku.....
Ternyata aku keliru.... aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.

Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, " kenapa, Rima ? Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku ?"
Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.

Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.

Istrimu,
Rima"

Di surat yang lain,

".........Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha...... "

Disurat yang kesekian,

".......Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.
Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah.. .....
Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya.. ......"

Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya... dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.

Disurat terakhir, pagi ini...

"........... ...Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.
Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.
Tahukah engkau suamiku,
Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?........."

Jelita menatap Meisha, dan bercerita,

" Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi...... aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante..... aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak.... .."
Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.

Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.

Dear Meisha,
Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar.... Inikah tanda2 aku mulai mencintainya ?

Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku....

Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.

Jakarta, 7 Januari 2009 (dedicated to my friend....may you rest in peace...) 

(Sumber : Milis)