Jumat, September 25, 2009

“Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia."

(Za 2:5-9.14-15a; Luk 9:43b-45)



“Ketika semua orang itu masih heran
karena segala yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid- Nya:
"Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan
diserahkan ke dalam tangan manusia." Mereka tidak mengerti perkataan itu,
sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya.

Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya”

(Luk 9:43b-45), demikian kutipan Warta Gembira hari

ini



Berrefleksi


atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

· “Dengarlah dan
camkanlah segala perkataanKu ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan
manusia’, demikian kata-kata Yesus khusus bagi para muridNya, bagi kita
semua yang beriman atau percaya kepadaNya. Yesus datang ke dunia untuk
mempersembahkan diri seutuhnya bagi dunia, demi keselamatan dunia seisinya,
maka kita semua yang beriman kepadaNya juga dipanggil untuk meneladan Dia
dengan hidup mendunia atau hidup dan bertindak demi keselamatan dunia.
Mayoritas waktu dan tenaga kita terarah pada hal-hal duniawi yang terkait
dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Meneladan Yesus
berarti mempersembahkan diri seutuhnya pada aneka tugas, kewajiban atau
pekerjaan yang menjadi tanggunjawab kita masing-masing. Dengan kata lain entah
belajar atau bekerja kita semua dipanggil untuk belajar atau bekerja dengan
sungguh-sungguh, sehingga terampil dalam belajar atau bekerja, tumbuh
berkembang menjadi orang professional dalam bidang kehidupan tertentu. Masa
kini maaupun masa depan dibutuhkan orang-orang yang sungguh professional dan
orang yang sungguh professional pada umumnya akan dicari orang alias tidak akan
berkekurangan dalam hal pekerjaan atau bahkan berlebihan. Meskipun ia harus
melaksanakan banyak tugas atau pekerjaan, orang professional akan mampu
menyelesaikan semuanya dengan baik dan memuaskan bagi semuanya, dan iapun juga
semakin professional dalam bidang kehidupan yang telah digelutinya; ia akan
semakin hidup damai sejahtera lahir dan batin, jasmani dan rohani. Maka kepada
rekan-rekan pelajar atau mahasiswa kami dambakan untuk sungguh belajar sehingga
kelak professional dalam bidang kehidupan tertentu, sedangkan kepada para
orangtua dan pendidik/guru kami dambakan sungguh mempersiapkan
anak-anak/peserta didik ke arah professional tertentu sesuai dengan bakat
anak-anak/peserta didik.

· "Sesungguhnya
Aku akan menggerakkan tangan-Ku terhadap mereka, dan mereka akan menjadi
jarahan bagi orang-orang yang tadinya takluk kepada mereka. Maka kamu akan
mengetahui bahwa TUHAN semesta alam yang mengutus aku”(Za 2:9). Semesta alam diciptakan oleh Tuhan dan
tergantung sepenuhnya kepada Tuhan.. Kita, manusia, dapat hidup dan bergerak ke sana kemari hanya karena dan oleh Tuhan, maka baiklah kita
hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Dengan kata lain sebagai
orang beriman kita dipanggil untuk tumbuh berkembang sehingga mahir dalam
beriman. Orang yang mahir dalam beriman tak akan mungkin menjadi jarahan atau
bahan pelecehan, orang beriman akan
handal dalam menghadapi aneka macam gelombang kehidupan, sehingga tidak akan
karam. Maka marilah dalam dan dengan
iman kita hidup bersama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Untuk itu
mereka yang berpengaruh dalam hidup bersama, bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara diharapkan menjadi teladan dalam kehidupan iman, secara konkret
teladan dalam melaksanakan tugas atau kewajiban atau menghayati panggilan. Keteladanan
para pemimpin, atasan atau petinggi diharapkan dapat menjadi modal dan kekuatan
bagi semuanya sehingga semuanya semakin beriman dan ‘mengetahui bahwa semesta alam diciptakan oleh Tuhan’. Jika semuanya
mengetahui dan menghayati bahwa semesta alam diciptakan oleh Tuhan, tergantung
pada Tuhan, maka kiranya lingkungan hidup bersama menjadi nyaman, enak dan
nikmat. Semua orang berfungsi secara professional dalam fungsi dan tugas
masing-masing dalam hidup bersama, sebagaimana semua anggota tubuh kita sehat
wal’afiat dan fungsional semua sehingga tubuh kita segar bugar, sehat
wal’afiat. Hendaknya fungsi atau tugas pekerjaan apapun dihayati atau
dilaksanakan secara sungguh-sungguh, professional. Hendaknya perbedaan fungsi
atau tugas pekerjaan menjadi wahana untuk saling bekerja sama bukan menjadi
bahan iri hati.



“Dengarlah firman TUHAN, hai
bangsa-bangsa, beritahukanlah itu di tanah-tanah pesisir yang jauh, katakanlah:
Dia yang telah menyerakkan Israel akan
mengumpulkannya kembali, dan menjaganya seperti gembala terhadap kawanan
dombanya! Sebab TUHAN telah membebaskan Yakub, telah menebusnya dari tangan
orang yang lebih kuat dari padanya.Mereka akan datang bersorak-sorak di atas
bukit Sion, muka mereka akan berseri-seri karena kebajikan TUHAN, karena
gandum, anggur dan minyak, karena anak-anak kambing domba dan lembu sapi; hidup
mereka akan seperti taman yang diairi baik-baik, mereka tidak akan kembali lagi
merana
” (Yer 31:10-12)

Jakarta, 26 September 2009

Kamis, September 24, 2009

"Kata orang banyak, siapakah Aku ini?"

(Hag 2:1b-9; Luk 9:18-22)



“Pada suatu kali ketika Yesus berdoa
seorang diri, datanglah murid-murid- Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya
kepada mereka: "Kata orang banyak, siapakah Aku ini?" Jawab mereka:
"Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang
mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit." Yesus
bertanya kepada mereka: "Menurut kamu, siapakah Aku ini?" Jawab
Petrus: "Mesias dari Allah." Lalu Yesus melarang mereka dengan keras,
supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun. Dan Yesus
berkata: "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak
oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan

dibangkitkan pada hari ketiga.”

(Luk 9:18-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini




Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

· Ada orang yang kesibukan sehari-harinya berdagang di
pasar atau sebagai kontraktor bangunan dst. tetapi dalam KTP atau ID-nya tertulis ‘buruh’; ada orang
katolik yang tidak berani memakai nama baptis di tempat kerja, tidak berani
berdoa sebelum dan sesudah makan ketika makan di rumah makan umum, dst.. Memang di balik ‘ketidak-jujuran’ atau
‘ketakutan’ dalam hal jati diri tersebut ada berbagai kemungkinan alasan,
misalnya takut akan kewajiban besar, takut diejek atau disingkirkan dst.. Ketakutan untuk mengakui atau mengimani Yesus
sebagai ‘Mesias dari Allah’ mungkin
masih mewarnai cara hidup dan cara bertindak kita sebagai murid-murid
atau pengikut Yesus, karena mengandung konsekwensi berat yaitu ‘harus
menanggung banyak penderitaan’. Setia pada jati diri, panggilan, tugas
pengutusan dan kewajiban memang tak akan terlepas dari penderitaan dan
perjuangan, sehingga cukup banyak orang kurang atau tidak setia. Setia
pasangannya ialah jujur, setia dan jujur bagaikan mata uang bermuka dua, dapat
dibedakan dan tak dapat dipisahkan. Pertama-tama marilah kita jujur terhadap
‘jati diri’ kita masing-masing dimanapun dan kapanpun, tanpa takut dan was-was
mengakui ‘jati diri’ dihadapan umum. Sekiranya dengan kejujuran jati diri ini
harus menghadapi atau mengalami tantangan, ejekan, sindiran dst.., jadikanlah
semuanya itu sebagai bantuan atau dukungan agar kita konsekwen pada jati diri
kita dan dengan demikian hidup dan bertindak sesuai dengan jati diri kita
masing-masing. Tumbuh berkembang dalam jati diri alias panggilan dan tugas
pengutusan memang harus berani menghadapi dan mengolah aneka macam tantangan,
hambatan, ejekan, sindiran, dst.. Penderitaan dan perjuangan merupakan wahana
pemurnian jati diri, bagaikan emas dibakar untuk memperoleh emas murni.

· “Sedikit waktu
lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat; Aku akan
menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala
bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan,
firman TUHAN semesta alam. Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas,
demikianlah firman TUHAN semesta alam” (Hag 2:7-9). Gempa bumi berkekuatan
cukup besar pada awal bulan September menggoncang pulau Jawa: bangunan yang tak
kuat roboh, rata dengan tanah, sedangkan bangunan yang kuat tetap berdiri
kokoh. Aneka masalah, perubahan dan perkembangan menggoncang kehidupan bersama,
sebagaimana krisis moneter yang menggoncang dunia tahun lalu. Dalam krisis
moneter mereka yang gila akan uang memang sungguh tergoncang, sedangkan mereka
yang hidup sederhana dan tidak gila uang tak terasa apa-apa. Kita telah mendengarkan melaui pengajaran
atau kotbah: firman atau sabda Tuhan, yang diharapkan menjadi pedoman, pegangan
dan kekuatan kita dalam menghadapi gelombang kehidupan yang tiada henti. Adakah
kata-kata atau ayat yang mengesan bagi anda dalam rangka mendengarkan
pengajaran atau kotbah? Jadikanlah kata-kata atau ayat yang mengesan tersebut
sebagai pedoman, pegangan dan kekuatan hidup anda, sebagaimana dipakai oleh
para gembala kita, para uskup, dengan mottonya. Saya pribadi merasa diteguhkan
oleh ayat atau kata-kata ini: “Di dalam Dia
kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan
oleh iman kita kepada-Nya.” (Ef
3:12). Ayat-ayat ini, dengan rendah hati dan dari kelemahan dan kerapuhan saya pribadi, saya coba hayati antara lain dengan berusaha
hidup dan bekerja sesuai dengan kehendak Tuhan alias berusaha taat dan setia
pada aneka tatanan dan aturan yang
terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan. Hidup dan
bertindak dalam Tuhan tiada ketakutan dan kecemasan sedikitpun.



“Berilah keadilan kepadaku, ya Allah,
dan perjuangkanlah perkaraku terhadap kaum yang tidak saleh! Luputkanlah aku
dari orang penipu dan orang curang! Sebab Engkaulah Allah tempat pengungsianku.
Mengapa Engkau membuang aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan
musuh? Suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun dan
dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu! Maka aku dapat pergi
ke mezbah Allah, menghadap Allah, yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku, dan
bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, ya Allahku!”
(Mzm 43:1-4)



Jakarta, 25 September 2009

“Ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus.”

(Hag 1:1-8; Luk 9:7-9)



“Herodes, raja wilayah, mendengar segala
yang terjadi itu dan ia pun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan,
bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan,
bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula yang mengatakan, bahwa seorang
dari nabi-nabi dahulu telah bangkit. Tetapi Herodes berkata: "Yohanes
telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan

hal-hal demikian?" Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus”

(Luk 9:7-9), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

· Seorang pemimpin di tingkat manapun dan di bidang
apapun yang gila akan kuasa, hormat duniawi dan harta benda atau uang pada umum
cemas ketika mendengar ada pesaing baru atau orang-orang baru yang berpengaruh
dalam kehidupan bersama muncul. Ia berusaha mencari tahu siapa gerangan orang
tersebut, jangan-jangan ia akan menggeser kedudukan atau jabatannya. Itulah kiranya yang dirasakan
oleh Herodes, yang kemudian ‘berusaha
supaya dapat bertemu dengan Yesus’. Keinginan untuk bertemu dengan Yesus
bukan karena tertarik untuk mengikutiNya, melainkan lebih muncul dari
kecemasannya jangan-jangan Yesus menggeser kedudukan dan pengaruhnya pada
rakyat. Pemimpin yang tidak berpihak pada rakyat yang dipimpinnya alias hanya
mencari keuntungan diri sendiri memang mudah cemas dan gelisah ketika muncul
ide-ide, gagasan-gagasan atau gerakan-gerakan pembaharuan yang muncul
dikalangan rakyatnya. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kepada
siapapun yang merasa menjadi atau berfungsi sebagai pemimpin untuk senantiasa
berpihak pada dan bersama dengan yang dipimpin. Untuk itu hendaknya pemimpin
senantiasa berusaha untuk bertemu secara pribadi dengan yang dipimpin, entah
secara formal atau informal, dengan mendatangi atau menyapa mereka. Hendaknya
meluangkan waktu dan tenaga sesaat untuk mendatangi atau mengunjungi mereka
yang dipimpin atau menjadi bawahan atau pembantunya. Beri salam singkat,
seperti selamat pagi, selamat siang dst.. , dan sekali waktu hendaknya
bercakap-cakap atau curhat dengan mereka yang dipimpin. Jika pemimpin sering
‘turba’ alias menyapa dan curhat dengan yang dipimpin kiranya tidak perlu ada
kecemasan sedikitpun. Hayatilah kepemimpinan partisipatif dengan melibatkan
mereka yang dipimpin, mendengarkan harapan, keluh kesah, dambaan mereka dst..

· "Apakah
sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan
baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?”(Hag 1:4), demikian
peringatan Tuhan melalui nabi Hagai kepada umatNya. Yang dimaksud dengan “Rumah” adalah bait Allah dan bagi kita
sekarang adalah tempat ibadat, entah kapel/gereja, masjid/langgar/ surau atau
tempat-tempat suci dan peziarahan. Kita diingatkan hendaknya memperhatikan
kenyamanan, keindahan, kebersiahan tempat ibadat sehingga menarik dan memikat
umat untuk datang dan berdoa di dalamnya. Maka marilah kita perhatikan tempat
ibadat kita bersama serta aneka macam sarana-prasarana pendukung ibadat, apakah
layak disebut sebagai ‘rumah Tuhan’. Memang bentuk bangunan tempat ibadat
hendaknya juga akrab dengan lingkungan sekitarnya: keindahan dan kebersihan
yang penting dan untuk itu berarti perlu perawatan yang memadai. Pada umumnya
tempat-tempat ibadat ketika baru selesai dibangun nampak bagus, menarik dan
memikat. Tempat ibadat akan tetap menarik dan memikat jika sungguh dirawat.
Maka dengan ini kami mengharapkan agar tempat-tempat ibadat dirawat sedemikian
rupa sehingga menarik dan memikat orang untuk dataing, dan ‘berusaha untuk bertemu dengan Tuhan’ dalam dan melalui ibadat bersama atau doa-doa pribadi.
Anak-anak hendaknya dibiasakan sedini mungkin perihal arti dan makna tempat
ibadat, sehingga pada suatu saat mereka
juga terlibat untuk merawat maupun beribadat dengan khidmat. Kepada rekan-rekan
yang tahu perihal seluk-beluk ibadat dan tempat ibadat, antara lain para imam
atau pastor kami harapkan untuk membina umat juga perihal cara beribadat maupun
tempat ibadat, tempat-tempat suci yang dipersembahkan kepada Tuhan. Kepada
semuanya kami harapkan hendaknya ketika memasuki tempat ibadat penuh hormat dan
keheningan, begitu pula selama di dalam tempat ibadat; hendaknya jangan omong-omong
atau rekreasi di tempat ibadat, tempat suci yang telah dipersembahkan kepada
Tuhan.



“Haleluya! Nyanyikanlah bagi TUHAN
nyanyian baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh. Biarlah Israel
bersukacita atas Yang menjadikannya, biarlah bani Sion bersorak-sorak atas raja
mereka! Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tari-tarian, biarlah mereka
bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Sebab TUHAN berkenan kepada
umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan. Biarlah
orang-orang saleh beria-ria dalam kemuliaan, biarlah mereka bersorak-sorai di

atas tempat tidur mereka!”

(Mzm 149:1-5)


Jakarta, 24 September 2009

“Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang”

(Ezr 9:5-9; Luk 9:1-6)



“Maka Yesus memanggil kedua belas
murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai
setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Dan Ia mengutus mereka
untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang, kata-Nya kepada
mereka: "Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat
atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju. Dan apabila kamu sudah
diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ.
Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan
kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka." Lalu
pergilah mereka dan mereka mengelilingi segala desa sambil memberitakan Injil

dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat.”

(Luk 9:1-6), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.




Berrefleksi
atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Padre Pio dari Pietrelcina hari ini
saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Padre Pio adalah seorang imam yang sakit-sakitan,
konon sakit paru-paru kronis, sehingga kurang dapat melayani umat secara
langsung. Namun apa yang terjadi pada dirinya, yaitu kelemahan dan kerapuhan
tubuhnya, menjadi masa berahmat: ia memiliki kesempatan lebih banyak untuk
berdoa. Mujizat pun terjadi: kesehatan semakin membaik dan ia memperoleh rahmat
‘stigmata Kristus’, suatu penglihatan untuk berpartiisipasi dalam penderitaan
dan wafat Yesus demi keselamatan seluruh dunia. Padre Pio kiranya dalam
kelemahan dan kerapuhannya melaksanakan perintah Yesus yang ‘mengutus untuk memberitakan Kerajaan Allah
dan untuk menyembuhkan orang”, ia mendirikan kelompok doa dan rumah sakit
yang cukup modern pada zamannya. Banyak orang tergerak untuk menggabungkan diri
dalam kelompok-kelompok doa yang didirikannya dan banyak orang sakit
disembuhkan melalui rumah sakitnya. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus
kita juga dipanggil ‘untuk memberitakan
Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang’, maka marilah kita hayati atau
laksanakan tugas panggilan ini sesuai dengan kesempatan dan kemungkinan kita
masing-masing. Dimana ada orang sakit, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal
budi atau sakit tubuh, berarti Allah kurang atau tidak merajai orang yang
bersangkutan atau lingkungan hidupnya. Marilah kita datangi atau kunjungi saudara-saudari
kita yang membutuhkan penyembuhan atau bantuan, marilah mengorbankan atau
mempersembahkan sebagian tenaga, waktu dan harta benda atau uang kita bagi
mereka yang miskin dan berkekurangan atau menderita sakit.

· “Dan
sekarang, baru saja kami alami kasih karunia dari pada TUHAN, Allah kami yang
meninggalkan pada kami orang-orang yang terluput, dan memberi kami tempat
menetap di tempat-Nya yang kudus, sehingga Allah kami membuat mata kami
bercahaya dan memberi kami sedikit kelegaan di dalam perbudakan kami”(Ezr 9:8). Kutipan ini kiranya baik menjadi
permenungan atau refleksi kita, sebagai umat beriman. “Allah membuat mata kami bercahaya dan memberi kami sedikit kelegaan di
dalam perbudakan”, kutipan inilah yang sebaiknya kita renungkan dan hayati.
Mungkin kita tidak berada dalam perbudakan yang sesungguhnya, tetapi karena
kita kerja keras dan penuh pengorbanan bagi kebahagiaan atau keselamatan orang
lain sering kita merasa lelah atau diperbudak. Dalam perasaan atau pengalaman
macam itu dan mungkin juga pengalaman merasa kurang diperhatikan atau ditinggal
orang lain, marilah kita hayati kasih karunia Tuhan yang tak pernah berhenti:
Tuhan senantiasa mendampingi dan menyertai perjalanan hidup kita dimanapun dan
kapanpun serta dalam kondisi dan situasi macam apapun. Tanda penyertaan dan
pendampingan Tuhan antara lain mata tetap segar dan bercahaya meskipun harus
bekerja keras penuh pengorbanan dan penderitaan. Sorot atau sinar mata memang
merupakan cermin kwalitas kepribadian seseorang: mengasihi atau membenci dapat
dilihat dalam sorot atau sinar matanya. Gerak-gerik mata, misalnya kerlingan
atau kedipan juga dapat menjadi bahasa kasih atau kejahatan, ajakan untuk
berbuat baik atau berbuat jahat. Marilah kita gunakan kerlingan dan kedipan
mata sebagai ajakan untuk berbuat baik kepada orang lain, sebagai ungkapan
kasih kepada saudara-saudari kita. Marilah kita sadari dan hayati bahwa Tuhan ‘memberi
kami tempat menetap di tempatNya yang kudus’, artinya tempat dimanapun dan
kapanpun kita berdiri, duduk atau berada adalah kudus, dan dengan demkian kita
sendiri diharapkan senantiasa dalam keadaan kudus adanya, mata bersinar memikat
dan mempesona.



"Terpujilah Allah yang hidup
selama-lamanya, dan kerajaan-Nyapun tetap untuk sekalian abad. Memang Ia
menyiksa tapi juga mengasihani, Ia menurunkan ke dunia orang mati, tetapi
menaikkan daripadanya juga; tiada seorangpun luput dari tangan-Nya… Wartakanlah
kebesaran-Nya di sana, agungkanlah
Dia di hadapan segala yang hidup. Sebab Dialah Tuhan kita dan Allah, Ia adalah
Bapa kita untuk selama-lamanya. Oleh karena kejahatan kita maka kita
disiksa-Nya, tetapi kita dikasihani-Nya lagi dan dikumpulkan- Nya dari antara sekalian

bangsa, di mana kamu terserak-serak.”

(Tb 13:2.4-5)




Jakarta, 23 September 2009

"IbuKu dan saudaraKu ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya”

(Ezr 6:7-8.12b.14- 20; Luk 8:19-21)



“Ibu dan saudara-saudara Yesus datang
kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak.Orang
memberitahukan kepada-Nya: "Ibu-Mu dan saudara-saudara- Mu ada di luar dan
ingin bertemu dengan Engkau." Tetapi Ia menjawab
mereka: "Ibu-Ku dan saudara-saudara- Ku ialah mereka, yang mendengarkan

firman Allah dan melakukannya.”

(Luk 8:19-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 




Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

· “KKN” = Kolusi, Korupsi dan Nepostime, itulah ungkapan
atau kata-kata yang cukup mewarnai dalam aneka pembicaraan. Hemat saya kolusi
dan nepotisme tidak apa-apa alias baik-baik saja asal tidak korupsi. Kata
bahasa Latin ‘corruptio’ (1) secara aktif berarti hal merusak, hal membuat busuk, pembusukan,
penyuapan, (2) secara pasif berarti keadaan
dapat binasa, kebinasaan, kerusakan, kebusukan, kefanaan, korupsi, kemerosotan.
Sedangkan kata bahasa Latin ‘corruptor’
berarti perusak, pembusuk, penggoda,
pemerdaya, penyuap. Dari pengartian kata ‘corruptio’ di atas kiranya
dapat dipahami arti korupsi,yaitu kemerosotan
moral dengan merusak yang lain demi keuntungan diri sendiri. Dari sudut
pandang hukum, perbuatan korupsi mencakup unsur-unsur: melanggar hukum yang
berlaku, penyalahgunaan wewenang.merugikan Negara, memperkaya pribadi/diri
sendiri. "Ibu-Ku dan
saudara-saudara- Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan
melakukannya”, demikian tanggapan
Yesus atas informasi bahwa Ia dicari oleh saudara-saudari dan ibuNya.
Kunggulan hidup beriman atau beragama terletak dalam ‘mendengarkan firman Allah dan melakukannya’, alias dalam
pelaksanaan atau penghayatan aneka macam saran, ajaran nasihat, petuah, aturan
dan tuntunan hidup. Hidup dan bertindak jujur alias tidak korupsi hemat saya
merupakan hal yang mendesak untuk dihayati dan disebarluaskan dalam hidup dan
bekerja bersama pada masa kini, mengingat dan memperhatikan korupsi dalam
berbagai bentuk masih marak di sana-sini. Saya sangat prihatin mendengar dan
memperhatikan bahwa departemen yang terkait dengan pembinaan iman dan
kepribadian manusia di Indonesia, yaitu Departemen Agama dan Departemen
Pendidikan masih sarat dengan korupsi di berbagai tingkatan pelayanan. Dalam
Pendidikan misalnya masalah penyaluran BOS, Bantuan Operasional Sekolah, bagi
mereka yang miskin dan berkekurangan dipotong alias dikorupsi dengan alasan
beaya administrasi, dalam Agama kiranya entah di kalangan agama manapun juga
masih sarat dengan korupsi. Di paroki-paroki, lingkungan Gereja Katolik, juga
masih terjadi korupsi yang dilakukan oleh seksi-seksi tertentu. Marilah kita
berantas aneka macam bentuk korupsi dalam hidup dan kerja kita dimanapun dan
kapanpun.

· “Karena para
imam dan orang-orang Lewi bersama-sama mentahirkan diri, sehingga tahirlah
mereka sekalian. Demikianlah mereka menyembelih anak domba Paskah bagi semua
orang yang pulang dari pembuangan, dan bagi saudara-saudara mereka, yakni para
imam, dan bagi dirinya sendiri” (Ezr 6:20).
Para imam dan orang-orang Lewi untuk masa kini adalah para
imam/pastor dan bruder serta suster. Mereka telah mentahirkan atau menyucikan
diri, paling tidak secara liturgis, maka kami harapkan para imam/pastor, bruder
dan suster (juga para pendeta, kyai, biksu, dst...)dapat menjadi teladan
kesucian, orang-orang yang mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah melalui
cara hidup dan cara bertindak sehari-hari. Hari ini kita masih dalam suasana
perayaan Idul Fitri, dimana para anggota keluarga dan kenalan saling
bersalam-salaman, bersilaturahmi, saling memaafkan. Saudara-saudari kita, umat
Islam khususnya, kiranya menyadari dan menghayati diri sebagai yang telah
disucikan setelah selama sebulan berpuasa, berusaha mengendalikan diri
sedemikian rupa sehingga hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah atau
firman Allah. Bukankah peristiwa ini merupakan situasi yang kondusif dan bagus
bagi kita semua untuk saling memperteguh dan memperkuat penghayatan iman kita
masing-masing. Semoga apa yang terjadi dan dialami pada hari-hari ini dalam
rangka merayakan Idul Fitri dapat terus terjadi dan dihayati dalam hidup
sehari-hari, bukan dalam hal makan dan minum tetapi dalam hidup yang dijiwai
oleh persaudaraan atau persahabatan sejati. ‘Hari Kemenangan atas setan atau
kejahatan’ yang dirayakan hendaknya terus terjadi dalam hari-hari berikutnya.
Marilah kita perangi bersama setan dan kejahatan yang masih terjadi dan
menggema di sana-sini.



“Aku bersukacita, ketika dikatakan orang
kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." Sekarang kaki kami
berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem. Hai Yerusalem, yang telah didirikan
sebagai kota yang bersambung rapat, ke mana suku-suku berziarah, yakni
suku-suku TUHAN, untuk bersyukur kepada nama TUHAN sesuai dengan peraturan bagi
Israel.Sebab di sanalah ditaruh kursi-kursi pengadilan, kursi-kursi milik
keluarga raja Daud
” (Mzm 122:1-5)

Jakarta, 22 September 2009