Kamis, September 24, 2009

"Mengapa gurumu makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?"

(Ef 4:1-7.11-13; Mat 9:9-13)



“Setelah Yesus pergi dari situ, Ia
melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata
kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.
Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai
dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid- Nya. Pada
waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus:
"Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang
berdosa?" Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang
memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman
ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku

datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

(Mat 9:9-13), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 




Berrefleksi
atas bacaan-bacaan dalam rangka
mengenangkan pesta St.Matius, rasul dan penggarang Injil, .hari ini saya
sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Orang-orang yang bersikap mental Farisi pada umumnya
orientasi pergaulan hanya terarah pada mereka yang akan menguntungkan dirinya
atau mereka yang dianggap baik dan terhormat di dunia ini. Mereka kurang
perhatian terhadap mereka yang kurang terpandang dan terhormat di dunia ini,
misalnya para pembantu rumah tangga atau sekolah/tempat kerja , buruh, pesuruh,
satpam, dst.. Mereka yang bersikap mental Farisi pada umumnya juga tidak bersedia
makan bersama dengan yang kurang/tidak terpandang atau terhormat di dunia ini,
dan juga tidak bersedia makan di warung-warung sederhana di pinggir jalan atau
pasar, dst.. Bahkan orang bersikap
mental Farisi juga mudah berkomentar seperti orang-orang Farisi mengomentari
Yesus: “Mengapa gurumu makan bersama-sama
dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”. Menanggapi komentar macam itu
Yesus menjawab: “Yang Kukehendaki ialah
belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil
orang benar, melainkan orang berdosa”. Sebagai orang beriman kita dipanggil
untuk meneladan Yesus yang rendah hati, “makan
bersama-sama dengan para pendosa”. Hal ini kiranya secara konkret dapat
kita hayati dengan memperhatikan mereka yang dipandang hina atau rendah di
dunia ini antara lain para pembantu, pesuruh atau satpam. Perhatian tersebut
antara lain dapat diwujudkan dengan sering curhat dengan mereka, menyapa dan
mengunjungi mereka dalam kasih, dan syukur makan dan minum bersama mereka
sambil curhat. Jika kita kurang atau tidak memperhatikan mereka yang dipandang
hina dan rendah atau tidak dapat curhat dan bersama mereka, maka kebersamaan
hidup dan kerja bersama dengan rekan-rekan hemat saya masih dijiwai oleh sikap
mental Farisi. Kami mendambakan kepada para pimpinan unit kerja di manapun
untuk sering ‘turba’, turun ke bawah untuk memperhatikan dan menyapa para
pekerja kasar atau pembantu, dst..

· “Aku
menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu
sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan
itu.Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah
kasihmu dalam hal saling membantu.Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh
ikatan damai sejahter
a”(Ef 4:1-3) Kutipan
ini bagus untuk kita renungkan dan hayati dalam hidup kita sehari-hari,
terutama ajakan “Hendaklah kamu selalu
rendah hati, lemah lembut, dan sabar”. “Rendah
hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan
diri, yaiiu dengan menenggang perasaan
orang lain. Meskipun pada kenyataannya
lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan
diri” (Prof Dr.Edi Sedyawati/edit; Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur,
Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Jika orang dapat menghayati keutamaan
rendah hati ini dengan baik, hemat saya keutamaan lemah lembut dan sabar secara
inklusif telah dihayati juga. Menghayati keutamaan rendah hati dapat kita
laksanakan dengan berusaha menjadi sama dengan sesama dan saudara-saudari kita,
terutama mereka yang dipandang rendah dan hina di dunia ini. Untuk itu
hendaknya tidak menghadirkan diri dihadapan mereka sedemikian rupa sehingga
merangsang pikiran jahat, misalnya dengan pamer pakaian yang mahal, aneka
asessori mahal, dst, melainkan menghadirkan diri dalam dan dengan kesederhaan
baik dalam tutur kata, gaya hidup, gaya berpakaian, dst.. Alangkah indahnya
juga jika kita dapat membantu tugas pekerjaan para pembantu, yang berarti
bekerjasama dengan mereka. “Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu”, demikian
nasihat Paulus, marilah saling membantu ini kita hayati dengan membantu mereka
yang senantiasa membantu kita yaitu para pembantu rumah tangga atau
kantor/tempat kerja.



“Langit menceritakan kemuliaan Allah,
dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu
kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada
berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka
terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia
memasang kemah di langit untuk matahari
”
(Mzm 19:2-5)

”SELAMAT IDUL FITRI, 1 Syawal 1430 H,
mohon maaf lahir batin”



Jakarta, 21 September 2009

Mg Biasa XXV : Keb 2:12.17-20; Yak 3:16-4:3; Mrk 9:30-37

"Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia
menyambut Aku”



Kelahiran atau kedatangan seorang
anak pada umumnya merubah suasana lingkungan hidup, dan peran anak kiranya juga
cukup dominan dalam merubah atau mempengaruhi cara hidup dan cara bertindak
orang dewasa atau orangtuanya. Sekelompok orangtua atau orang dewasa yang
sedang asyik dan ramai omong-omong, ngobrol sana-sini dan pada umumnya diwarnai
bau porno, ketika ada anak kecil datang maka mereka spontan merubah isi omongan
atau obrolan. Anak-anak TK akan merubah perilaku guru-gurunya lebih daripada
anak-anak/siswa- siswi SMA terhadap guru-gurunya. Para
guru TK mau tidak mau harus memaksakan diri untuk hadir sedemikian rupa di
hadapan anak-anak atau peserta didiknya agar diterima oleh anak-anak. Mereka
harus rendah hati, lemah lembut, sabar, ramah, ceria terhadap anak-anak. Kehadiran atau kelahiran anak pertama di
dalam keluarga akan merubah cara hidup ayah dan ibunya, terutama sang ibu. Menyambut kehadiran seorang anak memang butuh
kerendahan hati, dimana orang harus melepaskan aneka atribut atau ‘jati diri’
untuk menyamakan diri pada anak, dengan kata lain berusaha menjadi sama dengan
anak.



“Yesus
mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka,
kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka: "Barangsiapa
menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan
barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus
Aku
."(Mrk 9:36-37)



Ketika Yesus mengatakan kepada
para murid bahwa Ia akan menderita dan wafat alias meninggalkan mereka, maka
timbullah pikiran dalam diri mereka “Siapa yang akan mengganti Yesus untuk
memimpin kita alias siapa yang terbesar di antara kita”. Menanggapi pikiran
mereka itu Yesus mengambil dan menempatkan seorang anak kecil ke tengah-tengah
mereka serta memeluknya serta mengingatkan mereka bersikap seperti sedang “menyambut seorang anak kecil”. Anak kecil sedikit banyak hampir sama dengan
‘binatang’, dimana jika didekati dalam dan diperlakukan dengan cintakasih pasti
akan takluk dan bersahabat. Maka marilah dalam cara hidup dan cara bertindak
kita dimanapun dan kapanpun senantiasa dijiwai oleh cintakasih.



Semua ciptaan di dunia ini ada
dan diciptakan dalam dan oleh kasih Allah. Setiap manusia, setiap dari kita
diciptakan dalam dan oleh kasih Allah yang bekerjasama dengan atau dengan
partisipasi orangtua atau bapak-ibu kita masing-masing yang saling mengasihi
satu sama lain dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap
kekuatan/tubuh, yang antara lain memuncak dalam hubungan seksual. Para
bapak-ibu atau suami-isteri kiranya dapat membagikan pengalamannya bagaimana
saling menyambut dalam rangka memadu kasih atau hubungan seksual, kiranya
masing-masing menyikapi pasangannya sebagai anugerah Allah, kado dari Allah,
sehingga saling memuji, menghormati, membahagiakan, dst.. Suami dan isteri
saling memeluk dalam kasih dan kehangatan yang mesra. Kita semua dipanggil untuk
bersikap seperti ibu yang sedang memeluk anaknya, yang sering disertai dengan
pujian mesra pada anaknya.



Mungkin baik kita juga
berrefleksi perihal kata ‘menyambut”. Orang
yang akan ‘menyambut seseorang’ atau ‘memberi sambutan’ pada umumnya tampil sedemikian
rupa sehingga menarik dan memikat bagi orang lain, yang disambut. Kata-kata
awal yang muncul antara lain: Selamat datang, Yang terhormat dan yang terkasih,
dst.. Hari-hari ini saudara-saudari kita mungkin juga sedang dalam ‘saling
menyambut’ dengan saudara, sahabat dan kenalan dalam rangka mudik, merayakan
Idul Fitri, hari-hari yang ditandai oleh persaudaraan dan persahabatan sejati.
Semoga pengalaman-pengalam an dalam saling menyambut ini terus menjiwai cara
hidup dan cara bertindak kita, dimana tidak ada satu orangpun yang
berpikir-pikir siapa yang terbesar di antara kita, tetapi semuanya berpikir
bahwa kita sama-sama saudara: berdiri sama tinggi, duduk sama rendah.



“Di
mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala
macam perbuatan jahat.Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni,
selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang
baik, tidak memihak dan tidak munafik
”(Yak 3:16-17).

Kutipan di atas ini hemat saya
bagus untuk kita renungkan bersama. Di mana terjadi kekacauan hidup dan kerja
bersama serta segala macam perbuatan jahat berarti ada orang diri hati dan
mementingkan diri sendiri di dalamnya, entah itu di dalam keluarga, tempat
kerja/kantor atau masyarakat umum. Pertama-tama dan terutama hemat saya perlu
direfleksikan hidup bersama yang paling dasar, yaitu keluarga atau komunitas
(biara, pastoran atau tempat kerja sehari-hari) . Apakah terjadi kekacauan atau
kejahatan di dalam hidup bersama yang paling dasar ini? Apakah saya pribadi iri
hati atau mementingkan diri sendiri, sehingga saya sebenarnya yang menjadi
sumber kekacauan? Apakah saya memihak dan munafik?



Kita semua dipanggil untuk
menjadi ‘pendamai, peramah, penurut,
penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik’.

·
Pendamai pada umumnya bersikap
konstruktif, yaitu “sikap dan perilaku
yang bersifat membina dan membangun ke arah tujuan-tujuan yang positif” (Prof
Dr. Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai
Pustaka-Jakarta 1997, hal 13). Sikap dan perilaku ini pertama-tama dan terutama
diwujudkan dalam hubungannya dengan diri sendiri.

·
Peramah berarti menghayati keutamaan
ramah tamah, yaitu “sikap dan perilaku
dengan budi bahasa yang baik, tutur kata dan sikap manis. Ini diwujudkan dalam
perilaku yang menyenangkan, menenangkan, serta membuka pintu kepada orang
lain. Perilaku ini diwujudkan dalam
hubungannya dengan diri sendiri dan keluarga” (ibid hal 23). Budi bahasa memang mencerminkan
kwalitas kepribadian seseorang, maka baiklah hal ini dibiasakan atau dibinakan
sedini mungkin pada anak-anak di dalam keluarga dan tentu saja diiringi teladan
orangtua/bapak- ibu.

·
Apa yang dimaksudkan dengan penurut kiranya bukan
berarti menuruti atau mengikuti apa atau siapa saja, entah keinginan, nafsu,
kehendak diri sendiri atau orang lain, tetapi diharapkan menuruti atau
mengikuti apa yang baik dan menyelamatkan atau membahagiakan. Di dalam hidup
bersama ada tatanan atau aturan hidup, entah tertulis atau lisan sebagai
tradisi, dan pada umumnya aturan atau tatanan tersebut bertujuan baik, ke arah
tujuan yang positif. Maka marilah kita taati dan laksanakan sepenuhnya aneka
aturan dan tatanan hidup yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas
pengutusan kita masing-masing.

·
Penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik
hemat saya merupakan dampak atau hasil dari penghayatan- penghayatan
keutamaan-keutamaan di atas. Apa yang disebut baik senantiasa berlaku secara
universal atau umum, dimana saja dan kapan saja. Belas kasihan merupakan unsur
dari rasa kasih sayang. “Rasa kasih sayang adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kepekaan, kepedulian,
dan belas kasihan kepada orang lain atau makhluk yang tidak berdaya dan perlu
dibantu”

Marilah keutamaan-keutamaan di
atas kita hayati bersama dan sebarluaskan. Sekali lagi kami ingatkan semoga
penghayatan keutamaan-keutamaan tersebut terjadi dalam hidup bersama yang
paling dasar, dimana kita hidup sehari-hari, entah keluarga atau komunitas dan
tempat kerja.



“Ya Allah, selamatkanlah aku karena nama-Mu, berilah keadilan kepadaku
karena keperkasaan- Mu! Ya Allah, dengarkanlah doaku, berilah telinga kepada
ucapan mulutku! Sebab orang-orang yang angkuh bangkit menyerang aku,
orang-orang yang sombong ingin mencabut nyawaku; mereka tidak mempedulikan
Allah. Sesungguhnya, Allah adalah penolongku; Tuhanlah yang menopang aku.
”

(Mzm 54:3-6)

Jakarta,
20 September 2009

“SELAMAT IDUL FITRI, 1 SYAWAL 1430 H, MAAF LAHIR DAN BATIN”

“Benih itu ialah firman Allah”

(1Tim 6:13-16;Luk 8:4-15)



“Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah
firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah
mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam
hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah
yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu,
menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya
sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak
duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan
selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup,
sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.Yang jatuh di tanah yang
baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam
hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.
"( Luk 8:11-15),
demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

· Dalam perjalanan hidup kita sampai saat ini kiranya
kita telah menerima begitu banyak ‘firman Allah’ melalui orang-orang yang telah
dan sedang mengasihi kita, misalnya orangtua, guru/pendidik,
pembimbing/pendampi ng , sahabat, kenalan, rekan bermain maupun bekerja. “Firman
Allah” tersebut antara berupa ajaran, nasihat, saran, kritik, tegoran dst..
yang tidak lain merupakan bentuk kasih mereka kepada kita agar kita tumbuh
berkembang menjadi pribadi baik, cerdas beriman. Pertanyaan bagi kita
masing-masing: apakah aku merupakan ‘tanah berbatu-batu, tanah penuh semak duri
atau tanah baik dan subur’? Kita semua diharapkan menjadi ‘tanah baik dan
subur’ sehingga ketika ditaburi benih, yaitu ‘firman Allah’, benih itupun tumbuh
berkembang menjadi pohon dan menghasilkan buah-buah yang menyelamatkan dan
membahagiakan. Maka sekiranya kita belum menjadi ‘tanah baik dan subur’,
marilah kita berusaha menyuburkan dan memperbaikinya, antara lain dengan
menyingkirkan ‘batu-batu atau semak duri’, yaitu hati yang keras, jiwa yang
tertutup, egois, malas, suka menyalahkan atau melecehkan yang lain dst.. Ketika
kita menerima benih, yaitu ‘firman Allah’ hendaknya benih tersebut diberi
kesempatan untuk tumbuh berkembang, antara lain dengan merawat dan memberi
pupuk. Apa yang kami maksudkan merawat dan memberi pupuk tidak lain adalah
perbuatan-perbuatan baik. Semua perbuatan baik sekecil apapun merupakan wujud
perawatan dan pemupukan. Setiap hari, setiap saya bagi kita ada kesempatan
untuk berbuat baik bagi sesama dan lingkungan hidup kita. Pada hari-hari ini
kiranya cukup banyak saudara-saudari kita yang sedang dalam perjalanan mudik
dalam rangka merayakan Idul Fitri: ada kemungkinan seluruh anggota keluarga
berada dalam satu mobil dan kena kemacetan lalu lintas berjam-jam. Nah, dalam
kemacetan dan kebersamaan tersebut kiranya anda dapat berbuat baik kepada
saudara-saudari anda, entah dalam satu keluarga atau rekan seperjalanan.

· “Di hadapan
Allah yang memberikan hidup kepada segala sesuatu dan di hadapan Kristus Yesus
yang telah mengikrarkan ikrar yang benar itu juga di muka Pontius Pilatus,
kuserukan kepadamu: Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak
bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya” (1Tim 3:13-14), demikian peringatan Paulus kepada
Timotius dan kita semua orang beriman. Perintah apa yang harus kita turuti? “Bertandinglah dalam pertandingan iman yang
benar dan rebutlah hidup yang kekal “(1Tim 6:12) , inilah perintah yang harus kita laksanakan. Untuk
memenangkan pertandingan ini kiranya kita harus bekerjasama. Lahan untuk
pertandingan iman yang benar dan perebutan hidup yang kekal ini tidak lain
adalah keluarga, tempat kerja/kantor, masyarakat atau jalan. Entah apapun yang
kita kerjakan atau lakukan hendaknya membuat kita semakin beriman, semakin
mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Di tempat dimana kita berada atau
bekerja kiranya ada aturan atau tatanan hidup yang diberlakukan, maka taati dan
laksanakan aturan atau tatanan hidup tersebut ‘dengan tidak bercacat dan tidak bercela’. Mungkin baik dalam masa
mudik yang ditandai ramainya orang di perjalanan, kami mengajak dan
mengingatkan siapapun yang sedang dalam perjalanan untuk mentaati aneka aturan
dan rambu-rambu lalu lintas ‘dengan tidak
bercacat dan tidak bercela’. Cara hidup dan cara bertindak anda di jalanan
merupakan cermin cara hidup dan cara bertindak bangsa secara umum. Kepada
rekan-rekan umat Islam yang sebentar lagi akan menyelesaikan masa penyucian
diri/puasa, kami harapkan apa yang ada temukan dan hayati selama masa penyucian
diri tersebut terus diabadikan alias dihayati terus menerus di dalam hidup
sehari-hari.



“Beribadahlah kepada TUHAN dengan
sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa
TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan
kawanan domba gembalaan-Nya. Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian
syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan
pujilah nama-Nya! Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya,
dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun”

(Mzm 100:2-5)



Jakarta, 19 September 2009

Kamis, September 17, 2009

“Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka”

(1Tim 6:2c-12; Luk 8:1-3)



“Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan
berkeliling dari kota ke kota dan dari
desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama
dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari
roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang
telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes,
Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan
itu dengan kekayaan mereka.”(Luk
8:1-3), demikian kutipan Warta Gembira hari ini



Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

· ”Konco wingking” (=teman yang berada di belakang), demikian atribut yang sering dikenakan orang Jawa,
suami terhadap isterinya. Di pedesaan pada umumnya ketika berjalan sang isteri
atau perempuan berada di belakang sang suami/laki-laki, demikian juga di dalam
pesta-pesta para ibu/perempuan di belakang/dapur dan para bapak di pendopo
utama/tempat perjamuan pesta. Dengan kata lain kaum perempuan dipandang sebagai
kelas dua atau nomor dua, berada di balik/belakang laki-laki dan fungsinya
melayani. Dari berbagai peristiwa atau usaha mereka yang berada di belakang
atau tercatat nomor dua ini sering cukup menentukan. Sebagai contoh konon Ibu
Tien Suharto cukup menentukan dan berpengaruh pada kebijakan kepemimpinan Bapak Suharto, presiden Indonesia yang cukup lama berkuasa. Di dalam keluarga-keluarga
pun peran ibu atau isteri juga sering lebih berpengaruh dalam kehidupan
berkeluarga dan juga pada suaminya. Pelayan atau pembantu dalam hidup biasa
mungkin tidak masuk hitungan, tetapi di masa liburan Idul Fitri saat ini
kiranya baru terasa peran dan fungsi pembantu di dalam keluarga atau kehidupan
bersama. Di tinggal cuti pembantu lingkungan hidup bersama atau rumah tangga
kurang terawat dan mungkin amburadul. Di dalam hidup berkeluarga juga jika
suami meninggal dunia pada umumnya isteri masih sanggup merawat dan mengurus
anak-anaknya, sedangkan ketika sang isteri meninggal dunia maka sang suami bisa
bingung dalam merawat dan mengurus anak-anaknya; dengan kata lain menjanda
nampaknya lebih tahan daripada menduda. Memang yang nampak lemah dan rapuh di
dunia ini pada umumnya akan berarti dan fungsional dalam suasana yang kurang
aman atau dalam bahaya, maka dengan ini kami berharap kepada kita semua untuk
lebih memperhatikan mereka yang dipandang rendah di dunia ini, entah rekan
perempuan, para pembantu rumah tangga, satpam, pengemudi, dst..

· “Asal ada
makanan dan pakaian, cukuplah.Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam
pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang
mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan
kebinasaan.Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu
uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan
berbagai-bagai duka”(1Tim 6:8-10).
Sapaan atau peringatan Paulus kepada Timoteus ini kiranya baik menjadi
permenungan atau refleksi kita. Kita dipesan atau diingatkan untuk hidup
sederhana, “asal ada makanan dan pakaian,
cukuplah”. Uang pada dasarnya netral, dapat menjadi jalan ke sorga,
membantu tumbuh berkembang menjadi orang baik dan berbudi pekerti luhur, tetapi
juga dapat menjadi jalan ke neraka, mendorong orang untuk berbuat jahat atau
berdosa. Tempat pelacuran dan judi hemat saya merupakan contoh dimana uang
mendorong orang untuk berdosa Mereka yang suka ke pelacuran atau berjudi
pasti tidak dapat mengatur atau mengurus uang dengan baik. Marilah kita jadikan
uang menjadi jalan ke sorga, untuk membantu kita tumbuh berkembang menjadi
pribadi cerdas beriman, yang semakin dikasihi oleh Tuhan maupun saudara-saudari
kita. Untuk itu antara lain dapat diwujudkan dengan mengalokasikan dana atau
anggaran yang memadai untuk pendidikan atau pembinaan manusia. Di dalam
keluarga anggaran beaya untuk pendidikan anak-anak hendaknya yang utama, dan
sekiranya harus mencari pinjaman hendaknya demi pendidikan anak-anak. Di dalam
pemerintahan kami mendambakan anggaran untuk pendidikan sungguh memadai. Dalam
UU Negara kita dikatakan anggaran pendidikan minimal 20% dan mungkin sekarang
sudah dijalankan, tetapi anggaran tersebut termasuk gaji guru dan dalam
kenyataan mayoritas anggaran digunakan untuk gaji, sedangkan anggaran untuk
proses pembelajaran bersama dengan sarana-prasarana pendukungnya kurang
memadai. Mengharapkan keputusan politis yang benar mungkin masih lama
pelaksanaannya, maka kami berharap para
pengurus atau pengelola yayayan pendidikan untuk mulai, tidak ada kata
terlambat jika belum, mengalokasikan dana yang memadai untuk proses
pembelajaran bersama aneka macam sarana-prarasana pendukungnya.



“Mengapa aku takut pada hari-hari celaka
pada waktu aku dikepung oleh kejahatan pengejar-pengejarku , mereka yang percaya
akan harta bendanya, dan memegahkan diri dengan banyaknya kekayaan mereka?
Tidak seorang pun dapat membebaskan dirinya, atau memberikan tebusan kepada
Allah ganti nyawanya, karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya, dan tidak
memadai untuk selama-lamanya” (Mzm
49:6-9)



Jakarta, 18 September 2009

Rabu, September 16, 2009

“Imanmu menyelamatkan engkau”

(1Tim 4:12-16;Luk 7:36-50)

“Seorang Farisi mengundang Yesus untuk
datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk
makan. Di kota itu ada
seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu
mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia
membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi
berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan
air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan
meminyakinya dengan minyak wangi itu. Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus
melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: "Jika Ia ini nabi,
tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu
Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa."……Lalu Ia berkata
kepada perempuan itu: "Dosamu telah diampuni." Dan mereka, yang duduk
makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: "Siapakah Ia ini,
sehingga Ia dapat mengampuni dosa?" Tetapi Yesus berkata kepada perempuan

itu: "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!"

(Luk 7:36-39.48-50) , demikian kutipan Warta Gembira hari ini




Berrefleksi
atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Robertus Bellarmino, imam dan
pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

· “Roberto
dilahirkan di Italia pada tahun 1542. Ketika masih kanak-kanak, ia tidak
tertarik untuk bermain. Ia lebih suka menghabiskan waktunya mengulangi
khotbah-khotbah yang ia dengar kepada adik-adiknya. Ia juga suka menjelaskan
pelajaran-pelajaran katekese kepada anak-anak petani di lingkungan sekitarnya” (dari:
www.yesaya.indocell .net).
Pengalaman masa kanak-kanak Roberto inilah yang menjadi dasar kuat, yang
kemudian berkembang dalam diri imam Roberto Bellarmino menjadi pujangga Gereja,
pengkotbah ulung dan kotbah-kotbahnya senantiasa menarik dan memikat para
pendengarnya, sehingga mereka bertobat dan semakin beriman. Apa yang dilakukan
oleh Roberto nampaknya sesuai dengan Formula
Institusi SJ, yang antara lain dikatakan bagi para penngikut St.Ignatius
Loyola hendaknya “mengajar agama
kristiani kepada anak-anak dan orang-orang sederhana” (Formula Institusi SJ
no 1): ia telah melakukan ajakan Ignatius Loyola ketika masih kanak-kanak,
sebelum menjadi anggota Serikat Yesus. Maka dengan ini kami mengingatkan dan
mengajak anak-anak, dan tentu saja dengan dukungan dan bantuan orangtua, untuk
meneladan Roberto: hendaknya berpartisipasi dalam ibadat atau Perayaan Ekaristi
hari Minggu dan sungguh mendengarkan kotbah yang disampaikan dalam ibadat
tersebut. Apa yang telah didengarkan kemudian diceriterakan kembali kepada
adik-adiknya atau teman-teman, entah di sekolah atau masyarakat. Para orangtua atau bapak-ibu kami harapkan sungguh
mendorong dan mendampingi anak-anak dengan berpegang teguh pada sabda Yesus :”Imanmu telah menyelamatkan engkau”.

· “Jangan seorang
pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi
orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu,
dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.. Sementara itu, sampai aku datang
bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar”(1Tim
4:12-13). “Bertekunlah
dalam membaca Kitab-kitab Suci”, nasehat inilah kiranya yang baik kita
renungkan dan hayati atau laksanakan. Kebetulan kita juga masih berada di bulan
Kitab Suci, maka marilah kita bertekun membaca Kitab Suci, tulisan yang ditulis
atas ihlam Allah yang berguna untuk mendidik dan membimbing kita agar kita
semakin beriman. Baiklah jika di dalam keluarga kegiatan pembacaan Kitab Suci
ini dapat diselenggarakan setiap hari dan bersama-sama. Bacakan perikop sesuai
dengan Kalendarium Liturgi, yang juga saya kutipkan setiap hari: satu orang
membacakan dan yang lain mendengarkan. Dengan rendah hati saya juga tidak
berkeberatan jika tulisan-tulisan sederhana yang saya buat setiap hari
dibacakan di dalam keluarga. Kitab Suci pertama-tama dan terutama untuk
dibacakan dan didengarkan, bukan untuk dipelajari, apalagi menjadi bahan
polemik.. Iman antara lain tumbuh dan berkembang karena pendengaran, maka bagi
yang mendengarkan kami harapkan sungguh mendengarkan, dan kemudian
meresapkannya ke dalam hati sanubari. Kita juga dipanggil untuk menjadi teladan
dalam hal tingkah laku, kasih, kesetiaan dan kesucian. Semoga pembacaan kitab
suci dapat membantu menghayati dan memperteguh tugas panggilan ini. Kepada para
katekis atau guru agama kami berharap memberi perhatian yang memadai pada
anak-anak dalam hal pembacaan kitab suci ini.



“Perbuatan
tangan-Nya ialah kebenaran dan keadilan, segala titah-Nya teguh,kokoh untuk
seterusnya dan selamanya, dilakukan dalam kebenaran dan kejujuran. Dikirim-Nya
kebebasan kepada umat-Nya, diperintahkan- Nya supaya perjanjian-Nya itu untuk
selama-lamanya; nama-Nya kudus dan dahsyat. Permulaan hikmat adalah takut akan
TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian
kepada-Nya tetap untuk selamanya
.”(Mzm 111:7-10)



Jakarta, 17 September 2009