Selasa, September 15, 2009
I am sorry!
Suatu ketika, persis dibelokan jalur tempat barang2, terjadi tabrakan kecil, antara seorang pria barat dan seorang gadis asia...."braaak" ... dan bertebaranlah isi kantong kertas sang wanita...
Kedua orang itu langsung jongkok dan mengumpulkan barang2 yang berserakan.. ...
Karena merasa bersalah, si wanita meminta maaf, terdengar dialog sbb:
Wanita asia : I am sorry....
Pria barat : I am sorry too
W.a. : ooohhh...... .I am sorry three
P.b. : what are you sorry for?
W.a. : hemmm.....I am sorry five
P.b. : are you sick?
W.a.: well . . . . .I am sorry seven...
Pria barat itu cepat2 berlalu dengan wajah keheranan... ....
Terdampar!
"##@$$%%^%#% " kata kepala suku,
pemuda itu pun bingung ngomong apa sich nich kepala suku,
sang pemuda berkata" saya tidak mengerti bahasa anda",
eh ternyata dari salah satu penduduk mengerti bahasa pemuda tersebut dan mengartikannya ke kepala suku, dan kepala suku tersebut berkata kepada si penterjemah,
"Anda telah masuk di desa kami dan harus di hukum karena telah mengambil buah yg ada di desa ini" kata penerjemah
Sambil melihat buah nanas yg ada di tangannya pemuda itu ketakutan, dan berkata
"mohon jgn hukum saya, saya memang salah tapi jgn hukum saya",
dan ucapan pemuda langsung di terjemahkan, dengan cepat sang kepala suku tersebut membalas ucapan sang pemuda,
"TIDAK..., anda sudah tanpa izin mengambil buah pulau ini sekarang terimalah hukuman ini" sambil memerintah kepala suku menyuruh prajuritnya memarut punggungnya dengan nanas itu.
lalu dibukalah baju sang pemuda dan eksekusi hukuman di jalankan.
pada parutan pertama, darah mengucur karena gesekan kulit nanas yg tajam di punggungya., dan pemuda berteriak
"Aaaaaaaaaaaahhhgg sakittt,"
pada parutan kedua pemuda berteriak lagi
"Aaarrggghhh. ..sakittt. .."
Pada parutan ketiga dia malah tertawa...
"hahaha....'
lho kok malah tertawa, di pikiran sang penonton,
lalu di parut lagi yg keempat,
"hahahaha... .." tambah keras tawanya sang pemuda
llho kok malah tertawa ternyata setelah di teliti, Pemuda tersebut melihat temannya yg sedang ditangkap dan membawa buah DURIAN...
“Hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya”
(1Tim 3:14-16;Luk 7:31-35)
“Kata Yesus: "Dengan apakah akan
Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini dan dengan apakah mereka itu sama?
Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan:
Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung
duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak
makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan.
Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah,
Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.
Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.”
(Luk 7:31-35), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi
atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Kornelius/ paus dan
St.Siprianus/ uskup, martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:
· Entah berapa kali dan apa saja nasihat, saran,
petunjuk, arahan, ajaran, dst.. yang telah kita terima sampai kini, kiranya
tidak ada seorangpun yang mampu atau sempat menghitung. Semuanya itu merupakan
‘hikmat’ yang sungguh berguna bagi hidup dan kerja kita agar kita berbahagia,
selamat dan damai sejahtera lahir maupun batin, phisik maupun spiritual. “Hikmat dibenarkan oleh semua orang yang
menerimanya” demikian sabda Yesus. “Dibenarkan”
antara lain dapat berarti sungguh
berfungsi demi keselamatan dan kebahagiaan, dengan kata lain dihayati atau
dilaksanakan seutuhnya dalam hidup sehari-hari dimanapun dan kapanpun.
St.Kornelius dan St.Sprianus yang kita kenangkan hari ini kiranya dapat menjadi
contoh dalam hal kerjasama di dalam tugas pengutusan atau penghayatan
panggilan: berbeda fungsi dan tempat alias
berjauhan satu sama lain tetapi dapat bekerjasama dengan baik. Seruan atau
ajakan untuk bekerjasama bagi kita semua kiranya telah disampaikan
berkali-kali, bahkan kabinet Negara kita Indonesia dinamai ‘Kabinet Gotong-Royong’. Gotong-royong dalam
bahasa Inggris adalah ‘co worker’, yang dapat diartikan juga
sebagai pekerjasama. Maka marilah kita mawas diri perihal cara hidup dan cara
kerja atau cara bertindak kita: sejauh mana terjadi kerjasama yang baik dalam
hidup, kerja dan pelayanan kita? Di dalam gotong-royong atau bekerjasama semua
orang yang terlibat dalam kebersamaan tersebut sungguh bekerja keras sesuai
dengan fungsinya masing-masing, tidak ada yang berpangku tangan atau menjadi
penonton. Dalam gotong-royong atau bekerjasama ada seseorang yang menjiwai
yaitu seorang koordinator yang penuh pelayanan, yang juga terlibat dalam kerja,
bagaikan kapten dalam tim keselebelasan sepakbola. Bukankah kapten sepakbola
bermain bagus dan menjiwai rekan-rekannya, ia juga pemain bukan penonton?
· ‘Semuanya itu
kutuliskan kepadamu, walaupun kuharap segera dapat mengunjungi engkau. Jadi
jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai
keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar
kebenaran”(1Tim 3:14-15), demikian kutipan surat Paulus kepada Timoteus. “Engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah”, kutipan
inilah yang kiranya baik kita renungkan atau refleksikan. “Keluarga Allah”
berarti keluarga yang dikuasai atau dirajai oleh Allah dan semua anggota
keluarga taat pada serta melaksanakan
kehendak Allah dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak setiap
hari. Kehendak Allah bagi kita semua antara lain, yang utama dan pertama,
adalah perintah untuk saling mengasihi satu sama lain, dengan segenap hati,
segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau tenaga, sehingga
dalam hidup bersama terjadilah damai sejahtera dan bahagia. Kebersamaan hidup
yang penuh kasih di dalam keluarga perlu teladan dari orangtua atau bapak-ibu,
di dalam kantor atau tempat kerja perlu teladan dari para pimpinan atau kepala
bagian, dst.. Mungkin yang baik saya angkat di sini adalah kebersamaan di
kantor atau tempat kerja: ajakan kerjasama di antara para pimpinan atau kepala bagian. Kami dambakan para pimpinan
atau kepala bagian tidak bekerja sendiri-sendiri alias mengikuti selera
pribadi, tetapi bekerja sesuai dengan aneka tatanan dan aturan yang
diberlakukan di tempat kerja atau visi-misi tempat kerja/kantor. Memang mereka
yang dapat bekerjasama di tempat kerja
atau kantor pada umumnya sudah terlatih dan terbiasa bekerjasama di dalam
keluarga, maka kami berharap kerjasama sungguh dibiasakan di dalam hidup
berkeluarga, dengan teladan orangtua atau bapak –ibu.
“Haleluya!
Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang
benar dan dalam jemaah. Besar perbuatan-perbuatan TUHAN, layak diselidiki oleh
semua orang yang menyukainya. Agung dan bersemarak pekerjaan-Nya, dan
keadilan-Nya tetap untuk selamanya.. Perbuatan-perbuatan -Nya yang ajaib
dijadikan-Nya peringatan; TUHAN itu pengasih dan penyayang. Diberikan-Nya
rezeki kepada orang-orang yang takut akan Dia. Ia ingat untuk
selama-lamanya akan perjanjian-Nya. Kekuatan perbuatan-Nya diberitakan- Nya
kepada umat-Nya, dengan memberikan kepada mereka milik pusaka bangsa-bangsa.”
(Mzm 111:1-6)
Jakarta, 16 September 2009
"Inilah ibumu!"
(Ibr 5:7-9; Yoh 19:25-27)
“Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid- Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.”(Yoh 19:25-27), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta ‘SP Maria Berdukacita’ hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
· Seorang ibu yang baik senantiasa mengasihi anak-anaknya dalam kondisi dan situasi apapun dan dimanapun, demikian juga ketika anak-anak sudah tumbuh berkembang menjadi dewasa atau berkeluarga. Maka ada lagu yang begitu bagus dan indah:”Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”. Hari ini kita kenangkan “Bunda Maria” yang berdukacita, pesta untuk mengenangkan bahwa Bunda Maria senantiasa bersama dan bersatu dengan Yesus, yang kemarin kita kenangkan persembahan diriNya di puncak kayu salib. Bunda Maria berdiri di dekat salib Yesus, bahkan Michael Angelo melukiskan Bunda Maria memangku Yesus yang telah wafat di kayu salib. Bunda Maria adalah teladan umat beriman, maka marilah kita sebagai orang beriman dengan rendah hati berusaha meneladan Bunda Maria, antara lain bersama dan bersatu dengan Yesus yang disalibkan, yang mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah dan
dunia, demi keselamatan seluruh dunia seisinya. Kita dipanggil untuk berdiri di dekat salib Yesus, sahabat kita, dan selayaknya sebagai sahabatNya berpartisipasi dalam persembahanNya demi keselamatan seluruh dunia. Mayoritas waktu dan tenaga kita setiap hari untuk mendunia, berpartisipasi dalam seluk-beluk duniawi. Semakin mendunia hendaknya semakin beriman agar kita mampu mempersembahkan diri kita bersama semua pekerjaan, kesibukan, beban dst. kepada Tuhan. Dengan kata lain marilah kita memberikan diri seutuhnya pada pekerjaan, tugas atau kewajiban yang dibebankan kepada kita dengan semangat “hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”. Semoga cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun ‘menyinari dunia’ artinya membuat dan menyebabkan segala sesuatu baik adanya. Masing-masing dari kita menjadi ‘terang’ bagi dunia; kehadiran dan sepak terjang kita dimanapun dan kapanpun tidak mempersulit orang lain,
melainkan membuat orang lain dengan mudah dan gembira melaksanakan tugas pekerjaan dan kewajiban mereka.
· “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan- Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan” (Ibr 5:7). Kutipan ini pertama-tama dikenakan pada Yesus, tetapi kiranya juga dapat dikenakan kepada Bunda Maria. Ingat dalam kisah pesta perkawinan di Kana, dimana Bunda Maria minta kepada Yesus untuk berbuat sesuatu demi keselamatan pesta perkawinan, dan Yesus pun melaksanakan dengan membuat mujizat, air menjadi anggur yang terbaik. Pada masa kini devosi kepada Bunda Maria kiranya semakin tumbuh dan berkembang, antara lain semakin maraknya ziarah ke tempat ziarah Bunda Maria atau berdoa di hadapan ‘patung Bunda Maria’ yang berada di gereja, kapel atau gua-gua. Bukup banyak permohonan dipersembahkan kepada Tuhan dengan perantaraan Bunda Maria, dan juga sudah cukup banyak permohonan yang dikabulkan. Dalam berbagai penampakan
Bunda Maria, yang diimani, antara lain diceriterakan bahwa Bunda Maria melelehkan air mata: air mata kasih bagi para pendosa. Bunda Maria setia pada pesan Yesus di puncak kayu salib “Ibu, inilah anakmu”.. Lelehan air mata Bunda kiranya merupakan tawaran kasih bagi para pendosa agar bertobat, meninggalkan aneka macam bentuk kejahatan yang telah dilakukannya. Maka dengan ini kami mengingatkan kita semua, yang merasa berdosa, namun kiranya kita semua adalah pendosa, marilah kita tanggapi ‘ratap tangis’ atau ‘lelehan air mata’ Bunda Maria dengan bertobat, menjadi anak-anak kesayangan Bunda Maria, yang juga berarti menjadi sahabat-sahabat Yesus, hidup dan bertindak meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus.
“Pada-Mu, TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu. Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepaskan aku! Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku! Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku.Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku. Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia “
(Mzm 31:2-6)
Jakarta, 15 September 2009
Rabu, September 09, 2009
“Kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu”
"Tetapi kepada kamu, yang
mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang
yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah
bagi orang yang mencaci kamu. Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah
juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu,
biarkan juga ia mengambil bajumu. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu;
dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu. Dan
sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga
demikian kepada mereka. Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu,
apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang
mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat
baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian.”
(Luk 6:27:33), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:
· Sikap mental materialistis atau bisnis telah menjiwai
cara hidup dan cara bertindak banyak orang, sehingga dalam melakukan segala
sesuatu senantiasa berusaha untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri
sebanyak-banyaknya. Orang berusaha mencari enaknya sendiri dan ketika cara
hidup dan cara bertindaknya menyakiti orang lain tidak merasa apa-apa,
sebaliknya ketika disakiti sedikit saja oleh orang lain maka langsung balas
dendam lebih keras dan kejam kepada orang yang bersangkutan. Sabda Yesus hari
ini mengajak kita semua untuk berbuat sebaliknya, perbuatan yang mungkin terasa
berat dan luhur serta mulia, yaitu “Kasihilah
musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi
orang yang mengutuk kamu, berdoalah bagi orang yang mencaci kamu”. Dengan
kata lain kita dipanggil untuk senantiasa bermurah hati kepada sesama dan
saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun. Maka marilah kita kenangkan siapa
dan apa saja yang telah dan sedang membenci, mengutuk atau mencaci kita, dan
kemudian kita berbuat baik, mohonkan berkat dan berdoa bagi mereka. Jika
perbuatan baik masih sulit dikerjakan atau tak mungkin dikerjakan, maka berdoa
dan mohonkan berkat kiranya dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun. Sabda Yesus
di atas ini hendaknya diusahakan untuk dihayati di dalam keluarga, dibiasakan
pada anak-anak dan tentu saja antara lain dengan teladan orangtua atau
bapak-ibu. Tindakan konkret ‘murah hati’ selain berdoa dan mohon berkat rasanya
di masyarakat kita masa kini juga dapat kita wujudkan dengan memberi perhatian
dan sumbangan berupa materi atau uang kepada mereka yang miskin dan
berkekurangan tanpa pandang bulu, SARA(suku, ras dan agama).
· “Karena itu,
sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah
belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.
Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain
apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan
telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu:
kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan”
(Kol 3:12-14). Kutipan pesan Paulus kepada umat di Kolose ini
hemat saya cukup jelas, dan marilah kita hayati atau laksanakan di dalam cara
hidup dan cara bertindak kita setiap hari. “Kasih
pengampunan” itulah kiranya yang sebaiknya kita hayati dan sebarluaskan
masa kini mengingat dan memperhatikan masih maraknya aneka macam bentuk balas
dendam yang tumbuh menjadi permusuhan, tawuran dan saling membunuh atau
menghancurkan. Kesatuan atau persaudaraan sejati dirongrong dan dihancurkan
oleh aneka bentuk balas dendam, maka menghayati dan menyebarluaskan ‘kasih
pengampunan’ pada masa kini sungguh mendesak dan up to date. Kita, orang beriman adalah ‘orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya’ artinya adalah orang-orang yang dipersembahkan
seutuhnya kepada Allah, sehingga hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak dan
perintah Allah, antara lain “berbelas
kasih, bermurah hati, rendah hati, lemah lembut dan sabar”. Masa kini kita masih berada dalam masa Puasa
umat Islam, masa berahmat, yang kiranya saudara-saudari kita juga sedang sibuk
untuk mengumpulkan ‘zakat-fitrah’ sebagai perwujudan belaskasih dan murah hati. Marilah kita menyatukan diri
dengan saudara-saudari kita umat Islam tersebut; marilah kita galang dan
perdalam kasih ‘sebagai pengikat yang
mempersatukan dan menyempurnakan’ hidup beriman.
“Haleluya! Pujilah Allah dalam tempat
kudus-Nya! Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat! Pujilah Dia karena segala
keperkasaan- Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat! Pujilah
Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi! Pujilah Dia
dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan
seruling! Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan
ceracap yang berdentang!Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!”
(Mzm 150)
Jakarta, 10 September 2009
