Selasa, September 08, 2009

“Berbahagialah kamu jika karena Anak Manusia orang membenci kamu,”

(Kol 3:1-11; Luk 6:20-26)

 

 

 

“Lalu Yesus memandang murid-murid- Nya

dan berkata: "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang

empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena

kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena

kamu akan tertawa. Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci

kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu

sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah,

sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek

moyang mereka telah memperlakukan para nabi. Tetapi celakalah kamu, hai kamu

yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.

Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah

kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.

Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek

moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu."

(Luk 6:20-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi

atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Petrus Claver, imam Yesuit, hari

ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

 

·   Dalam melaksanakan tugas pengutusanNya Yesus harus

menderita sengsara, dilecehkan oleh musuh-musuhNya dan akhirnya disalibkan

sampai wafat. Sebagai orang-orang yang percaya kepada Yesus alias menjadi

sahabat-sahabat Yesus kita dipanggil untuk meneladanNya, antara lain “hidup

miskin” dan berpihak pada dan bersama dengan mereka yang miskin. Yang saya

maksudkan dengan ‘hidup miskin’ tidak berarti kita tidak punya apa-apa alias

menjadi gelandangan, melainkan menghayati segala sesuatu sebagai anugerah Tuhan

dan kemudian memfungsikannya sesuai dengan kehendak Tuhan. Karena semuanya

adalah anugerah Tuhan maka cara hidup dan cara bertindak kita senantiasa dalam

syukur dan terima kasih; syukur dan terima kasih ini kita wujudkan secara nyata

antara lain dengan memperhatikan mereka yang miskin dan berkekurangan atau

berpihak pada dan bersama dengan mereka yang miskin. Selama masih ada orang

miskin dan berkekurangan kiranya juga berarti masih ada yang serakah, gila akan

harta benda/uang, jabatan/kedudukan dan kehormatan duniawi. Dalam hidup bersama

yang masih lebih banyak dipengaruhi oleh orang-orang serakah dan gila akan

harta benda/uang ,  berpihak pada dan

bersama dengan mereka yang miskin dan berkekurangan pasti akan menghadapi aneka

tantangan, hambatan dan masalah. Pejuang demi mereka yang miskin dan

berkekurangan ada kemungkinan dibenci dan dikucilkan. “Hidup miskin” juga

berarti hidup dengan rendah hati serta mentaati sepenuhnya aneka aturan dan

tatanan hidup yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusannya; orang siap

sedia dan rela berkorban untuk diperintah, diutus, dilecehkan, kurang dihargai

atau  dihormati dst.., namun tetap

berbahagia dan ceria.

 

·   “Karena itu

matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan,

kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan

penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah” (Kol 3:5-6)  Salah satu bentuk ‘berhala modern’ masa kini

adalah ‘hand phone’(HP), dimana orang sungguh lekat tak teratur pada HP yang

dimilikinya. Sebagai contoh selama beribadat HP tidak dimatikan dan ketika ada

nada panggilan keluar dari tempat ibadat untuk tilpon tsb, hal yang sama juga

terjadi dalam rapat, dst.. HP juga mengerosi atau menggerogoti iman kepercayaan

kepada Tuhan. Percaya kepada Tuhan harus menjadi nyata dalam percaya kepada

sesama dan saudara-saudari kita. Jika memperhatikan cara orang memfungsikan HP

masa kini, kebanyakan menunjukkan bahwa yang bersangkutan kurang percaya kepada

sesamanya atau saudaranya, misalnya mengontrol pasangan hidupnya yang

bepergian, anaknya, dst.. . Ada

semacam kekhawatiran jangan-jangan pasangan hidupnya atau anaknya melakukan

perbuatan yang tidak baik seperti percabulan, kenajisan, hawa nafsu (seks,

makanan dan minuman), dst.. . Jangan-jangan yang khawatir itu sendiri yang

melakukannya, maka ketika mencoba tilpon ke pasangan atau anaknya dengan HP

sebenarnya hanya untuk melindunsi atau mengamankan diri sendiri yang sedang

menyeleweng. Cukup banyak ‘berhala-berhala

modern’ yang sungguh mempengaruhi cara hidup dan cara bertindak orang

masa kini, yang mendorong orang untuk berbuat cabul, najis, jahat dan serakah.

Maka marilah kita renungkan, resapkan dan hayati kutipan pesan Paulus kepada

umat Kolose di atas: “Matikanlah segala

sesuatu yang duniawi”  dan “Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan

yang di bumi” (Kol 3:2).  

 

 

 

“Segala yang Kaujadikan itu akan

bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji

Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan

keperkasaan- Mu, untuk memberitahukan keperkasaan- Mu kepada anak-anak manusia,

dan kemuliaan semarak kerajaan-Mu. Kerajaan-Mu ialah kerajaan segala abad, dan

pemerintahan- Mu tetap melalui segala keturunan”

 

 (Mzm 145:10-13b).

“Ternyata ia mengandung dari Roh Kudus”

(Rm 8:28-30; Mat 1:18-23)

 

 

 

“Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti

berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia

mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena

Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama

isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi

ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam

mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil

Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh

Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus,

karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." Hal itu

terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Sesungguhnya,

anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka

akan menamakan Dia Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita”

(Mat 1:18-23), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

 

 

Berrefleksi

atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta Kelahiran SP Maria hari ini,

saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

 

·   Pesta ulang tahun pada umumnya dirayakan secara

meriah, dimana saudara-saudari, sanak-kerabat, kenalan dst.. ada kemungkinan

berpartiipasi dalam kegembiraan. Dalam kutipan Warta Gembira hari ini

dikisahkan sesuatu yang sungguh menggembirakan, yaitu : Yusuf, seorang yang

tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya/Maria di muka umum dan

Maria yang mengandung dari Roh Kudus, yang juga berarti Maria penuh dengan Roh

Kudus. Saya kira dalam pesta ulang tahun seseorang juga tidak ada orang yang

mencemarkan nama baik rekan-rekannya, tetapi dengan tulus hati semuanya bercuhat

satu sama lain, yang membuat suasana pesta semakin meriah, memikat dan

memuaskan. Anak yang baru saja dilahirkan pada umumnya juga bersih, suci,

menarik dan memikat serta mempesona. Maka baiklah dalam rangka mengenangkan

kelahiran  SP Maria, teladan umat beriman,

hari ini, marilah kita wujudkan iman kita dengan tulus hati serta tidak saling

mencemarkan nama baik kita masing-masing, sebagai tanda bahwa Roh Kudus

menjiwai hidup kita atau “Allah menyertai

kita”. Marilah kita hidup dan bertindak sedemikian rupa, sehingga cara

hidup dan cara bertindak kita senantiasa menarik, memikat dan mempesona orang

lain, dan orang lainpun juga tergerak untuk hidup dengan tulus hati serta tidak

mencemarkan nama baik orang lain di muka umum. Orang tertarik, terpikat dan

terpesona pada kita bukan karena kecantikan atau ketampanan, pangkat atau

kedudukan, melainkan karena cara hidup dan cara bertindak kita yang baik,

berbudi pekerti luhur dan tidak pernah menyakiti hati orang lain.

 

·   “Kita tahu

sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan

kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil

sesuai dengan rencana Allah” (Rm 8:28).

Allah  bekerja terus menerus dalam

seluruh ciptaanNya, dalam segala sesuatu, dan itu semua demi kebaikan dan

keselamatan seluruh ciptaan. Bagi kita manusia diingkatkan bahwa kita dipanggil

untuk “mengasihi Dia” agar berbagai

kebaikan boleh kita nikmati. Mengasihi Tuhan berarti juga harus mengasihi

ciptaan-ciptaanNya, antara lain manusia, binatang dan tanaman atau

tumbuh-tumbuhan: mengasihi Tuhan dan ciptaanNya tak dapat dipisahkan dan hanya

dapat dibedakan. Maka marilah kita kasihi saudara-saudari kita, entah anggota

keluarga, rekan kerja di kantor atau rekan belajar di sekolah maupun sesama

warga masyarakat dimana kita tinggal, dst.. Allah juga bekerja dalam diri kita

masing-masing, yang nampak dalam aneka perbuatan baik atau penghayatan aneka

keutamaan dan nilai-nilai kehidupan, seperti : “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan,

kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23). Keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan

ini merupakan anugerah Allah atau karya Allah dalam diri manusia. Jika kita

mengasihi Allah berarti tidak menyia-nyiakan anugerah-anugerah ini, dan dengan

demikian kita menghayati keutamaan-keutamaan atau  nilai-nilai tersebut di dalam hidup kita

sehari-hari. Kita juga dipanggil untuk mengasihi aneka macam binatang dan

tanaman , yaitu dengan merawatnya sebaik mungkin serta mengusahakan dan

melestarikan lingkungan hidup yang nyaman. Hendaknya juga tidak serakah

mengerok atau mengambil kekayaan alam, seperti penggundulan hutan atau

pembetonan lahan-lahan/ tanah, sehingga menimbulkan banjir dan malapetaka.

Merusak lingkungan hidup berarti membunuh diri dan masa depan.

 

 

 

“Tetapi aku,

kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena

penyelamatan- Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik

kepadaku.”

 

(Mzm 13:6)

 

 

 

Jakarta, 8 September 2009  

 

“Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat”

(Kol 1:24-2:3; Luk 6:6-11)

 

 “Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk

ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan

kanannya.Ahli- ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau

Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk

mempersalahkan Dia.Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada

orang yang mati tangannya itu: "Bangunlah dan berdirilah di tengah!"

Maka bangunlah orang itu dan berdiri.Lalu Yesus berkata kepada mereka:

"Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat,

berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau

membinasakannya? " Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua,

lalu berkata kepada orang sakit itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Orang itu

berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Maka meluaplah amarah mereka, lalu

mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus”

(Luk 6:6-11), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

 

 

Berrefleksi

atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai

berikut:

 

·   Hari Sabat adalah hari khusus yang dipersembahkan

kepada Tuhan, dan dalam peraturan hari Sabat antara lain orang tidak boleh

bekerja dan diharapkan berisirahat menikmati kebersamaan dengan Tuhan dan

saudara-saudari sekeluarga atau dekat. Dengan kata lain pada hari Sabat orang

diharapkan senantiasa berbuat baik, hidup dan bertindak berdasarkan kaidah

moral yang benar. Cukup menarik apa yang dilakukan oleh para ahli Taurat dan

orang-orang Farisi: mereka berpikiran jahat terhadap orang lain dan berusaha

untuk melihat kesalahan atau kekurangan orang lain, yaitu Yesus. Menanggapi

pikiran jahat mereka Yesus menyembuhkan orang sakit sambil berkata:”Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat,

berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau

membinasakannya?”.Jawaban yang benar adalah ‘berbuat baik dan menyelamatkan

nyawa orang’., maka marilah kita senantiasa berusaha berbuat baik dan

menyelamatkan nyawa orang tidak hanya pada hari Sabat/Minggu saja, tetapi

setiap hari atau setiap saat dimanapun dan kapanpun. Maka ketika melihat

siapapun yang sungguh membutuhkan bantuan marilah segera kita bantu sesuai

dengan kebutuhannya dan kemampuan kita. Berbuat baik tidak perlu izin atau

minta rekomendasi dari orang lain; sebaliknya kepada para pemimpin atau atasan

kami harapkan untuk berterima kasih dan bersyukur ketika bawahan atau

anggotanya berbuat baik, meskipun apa yang mereka lakukan nampaknya tidak

sesuai dengan aturan atau tatanan hidup. Aturan atau tatanan berada pada ranah

norma hukum, sedangkan baik berada ranah norma moral; norma moral berada di

atas atau mengatasi norma hukum. Demikian juga nyawa lebih penting dan utama

daripada tubuh atau aturan dan tatanan hidup.

 

·   “Sekarang aku

bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam

dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu

jemaat” (Kol 1:24), demikian

kesaksian iman Paulus kepada umat di Kolose, kepada kita semua orang yang

beriman kepada Yesus Kristus. Bersukacita dalam penderitaan pelayanan kepada

orang lain atau sesama, itulah panggilan dan tugas pengutusan kita semua. Apa

yang dikatakan Paulus ini kiranya senada dengan seorang ibu yang bersedia menderita

dalam melahirkan anaknya, dan itu dilakukan atau dihayati dalam dan oleh

cintakasih. Penderitaan yang lahir dari cintakasih memang merupakan jalan

keselamatan atau kebahagiaan sejati. Yesus Kristus telah menderita sengsara dan

wafat di kayu salib demi keselamatan seluruh umat manusia, seluruh dunia, dan

kita dipanggil untuk meneladan Dia. Menderita karena cintakasih dan kebahagiaan

sejati bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan tetapi tak dapat

dipisahkan. Untuk membahagiakan orang lain kita harus siap sedia dan rela

berkorban maupun menderita karena harus berjuang, dan dalam penderitaan itulah

terjadi kebahagiaan sejati. Sebagai contoh kiranya anda dapat mengenangkan

sejenak ketika anda masih dalam/sedang dalam masa pacaran atau tunangan. Bukankah

selama dalam masa pacaran atau tunangan anda siap sedia untuk menderita dan

berkorban bagi yang lain, pacarnya atau tunangannya, dan dengan demikian anda

merasa puas, nikmat dan bahagia.  Marilah

kita sikapi saudara-saudari atau sesama kita bagaikan ‘pacar atau tunangan’

kita, sehingga kita siap sedia dan rela untuk berkorban dan menderita bagi

kebahagiaan dan keselamatan sesama kita. Dalam saling menderita dan berkorban

juga terjadi saling melengkapi dan menyempurnakan.

 

 

 

“Hanya pada

Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku.Hanya Dialah

gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku,

aku tidak akan goyah. Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu

kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah.Percayalah kepada-Nya setiap

waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat

perlindungan kita”

 

(Mzm 62:6-7.9).

 

Jakarta, 7 September 2009               

Mg Biasa XXIII(Mg Kitab Suci Nasional)

 : Yes 35:4-7a; Yak 2:1-5; Mrk 7:31-37

 

“Terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah

pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik”

 

 

 

Ketika saya menghadiri pertemuan

Pengurus OIEC di Beirut, Libanon, di bandara saya akan dijemput oleh seorang

sopir (demikian info yang saya terima dari Panitia setempat). Karena kami belum

saling kenal, maka kami diminta menunjukkan nama kami masing-masing begitu

sampai di pintu keluar Bandara Beirut. Ternyata pengemudi yang menjemput hanya

dapat berbicara bahasa Arab dan saya sendiri tidak tahu bahasa Arab, maka dalam

berkomunikasi kami akhirnya menggunakan bahasa tubuh, antara lain dengan

tangan. Dengan kata lain kami berdua bagaikan orang bisu, karena setiap kali

berkomunikasi hanya menggunakan bahasa tubuh, dan dengan demikian memang tidak

dapat berkata-kata dengan baik. Bahasa, khususnya kata-kata memang merupakan

salah satu sarana komunikasi dan jika menguasai banyak bahasa kiranya kita akan

lebih mudah berkomunikasi dengan orang lain dan juga membaca aneka macam

tulisan dalam berbagai bahasa, dan dengan demikian kita akan diperkaya dalam

berbagai hal. Sekiranya kita tidak dapat melihat alias buta, tetapi dapat

mendengarkan dengan baik maka kita juga akan dapat berkata-kata dengan baik,

sebagaimana terjadi dalam diri Gus Dur. Maka baiklah pada hari Minggu Kitab

Suci Nasional hari ini kami mengajak kita semua untuk mawas diri perihal

‘pendengaran’ dan ‘omong-omong atau pembicaraan’ kita.

 

 

 

“Terbukalah

telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia

berkata-kata dengan baik” (Mrk 7:35)

 

 

 

Indera ‘pendengaran’ merupkan

indera dari lima pancaindera yang

pertama kali berfungsi dalam diri setiap manusia; seorang bayi yang masih

berada di dalam rahim atau kandungan ibu sudah dapat mendengarkan aneka macam

suara di sekitarnya. Apa yang didengarkan akan sangat mempengaruhi perkembangan

dan pertumbuhan pribadi yang bersangkutan. Maka kami berharap dalam aneka

omongan atau pembicaraan bersama hendaknya diomongkan atau dibicarakan apa-apa

yang baik, sebagaimana dikatakan atau diomongkan oleh para guru/pendidik di

sekolah, para pastor/kyai/ pendeta dalam kotbah-kotbah, dst.. Dalam mengenangkan

Hari Minggu Kitab Suci Nasional ini kiranya baik jika setiap hari kita

membacakan dan mendengarkan sabda Tuhan sebagaimana tertulis di dalam Kitab

Suci.

 

 

 

Kitab Suci berisi tulisan-tulisan

yang ditulis dalam dan oleh ilham Allah. “Segala

tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan

kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam

kebenaran.”(2Tim 3:16). Dalam

membacakan atau mendengarkan sabda Tuhan dapat berpedoman pada Kalendarium

Liturgi, sebagaimana saya kutipkan setiap hari. Maka dengan rendah hati silahkan

jika tulisan atau renungan harian yang setiap kali saya kirimkan dibacakan dan

didengarkan bersama, misalnya di dalam keluarga atau tempat kerja. Salah

seorang membacakan dengan baik dan yang lain mendengarkan, kemudian diam

sejenak dan sekiranya ada yang tersentuh untuk berdoa dipersilahkan berdoa

secara spontan bergantian: entah merasa diajar, dinyatakan kesalahannya,

diperbaiki kelakuannya atau dididik dalam kebenaran. Setelah mendengarkan sabda

Tuhan dengan baik, maka kami percaya kita pasti akan berkata-kata dengan baik

juga.

 

 

 

“Kita semua dipanggil untuk

meneladan Yesus, yang  "menjadikan segala-galanya baik, yang tuli

dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata. "(Mrk 7:37), maka dimanapun dan kapanpun ada yang

tidak baik kita dipanggil untuk memperbaiki dengan sekuat tenaga sesuai dengan

kemampuan dan kesempatan yang ada. Mungkin yang tulis secara phisik tidak

banyak atau bahkan jarang kita jumpai, tetapi yang kurang mendengarkan dengan

baik kiranya cukup banyak. Dalam berbagai acara bersama ketika ada orang

berbicara sering yang lain sibuk dengan diri sendiri antara lain dengan HP-nya

dan kurang mendengarkan mereka yang sedang berbicara dan berhak untuk

didengarkan. . Mendengarkan dengan baik merupakan keutamaan yang harus kita hayati

dan perdalam terus menerus, dan memang butuh kerendahan hati. Tanpa rendah hati

kita tidak akan dapat mendengarkan dengan baik. Jika kita dapat mendengarkan

dengan baik, maka kita juga akan dapat berkata-kata dengan baik juga.

 

 

 

“Dengarkanlah,

hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang

dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli

waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?”

(Yak 2:5)

 

   

 

“Orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini”  yang berarti miskin akan harta benda atau uang

memang tidak ada yang diharapkan di dunia ini , maka lebih mengharapkan

Penyelenggaraan Ilahi alias kebaikan, kemurahan hati dan belas kasih Allah

melalui saudara-saudarinya atau sesamanya. Dengan kata lain pada umumnya mereka

memang ‘menjadi kaya dalam iman’. Pengalaman

melalui atau  dalam berbagai macam

pelayanan pastoral  menunjukkan kebenaran

ini. Orang-orang kaya pada umumnya cukup rewel dan penuh hitungan alias nampak

pelit, sehingga membuat jengkel mereka yang melayani, sebaliknya orang-orang

miskin pada umumnya penuh terima kasih dan syukur atas pelayanan yang telah

diterimanya. Contoh konkret lain: orang-orang miskin kepanasan karena sengat

panas matahari atau kehujanan tidak mengeluh atau  menggerutu, sebaliknya orang-orang kaya pasti

mengeluh dan menggerutu.

 

 

 

Pengalaman para pelajar,

siswa-siswi, SMP/SMA Kanisius dan SMA St.Ursula – Jakarta misalnya, yang

menjalani ‘live in’, tinggal di

tengah-tengah orang miskin di desa dan pegunungan selama beberapa hari juga

menjadi contoh konkret bahwa “Allah

memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya

dalam iman”.  Mereka mendengarkan dan

melihat sendiri cara hidup dan cara bekerja orang-orang miskin, dan mereka

sungguh merasa banyak belajar perihal keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai

kehidupan, seperti ‘bekerja keras, sabar,

murah hati, ramah, bersaudara, tidak mengeluh dan menggerutu ketika harus

bekerja berat, dst..”.  Mereka yang

memiliki pembantu rumah tangga yang baik kiranya juga dapat mawas diri:

mendengarkan dan melihat apa yang terjadi dalam diri para pembantu rumah tangga

yang baik tersebut.

 

 

 

“Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: "Kuatkanlah hati,

janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan

ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!" Pada waktu itu mata

orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka.

Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu

akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara;

 

35:7 tanah pasir yang hangat akan menjadi kolam, dan tanah kersang

menjadi sumber-sumber air”   (Yes 35:4-7a). Apa yang dikatakan oleh Yesaya ini

kiranya juga dapat menjadi pedoman atau acuan hidup dan cara bertindak kita.

Marilah kita perhatikan dan sapa dengan kasih dan rendah hati saudara-saudari

kita yang tawar hati, yang berarti tidak atau kurang bergairah dalam hidup dan

bertindak atau takut.

 

 

 

“TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang

tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar. TUHAN menjaga orang-orang asing,

anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik

dibengkokkan- Nya” (Mzm 146:8-9)

 

 

 

Jakarta,

6 September 2009

"Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?"

(Kol 1:21-23; Luk 6:1-5)

  

“Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus

berjalan di ladang gandum, murid-murid- Nya memetik bulir gandum dan memakannya,

sementara mereka menggisarnya dengan tangannya. Tetapi beberapa orang Farisi

berkata: "Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari

Sabat?" Lalu Yesus menjawab mereka: "Tidakkah kamu baca apa yang

dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia

masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan

memberikannya kepada pengikut-pengikutny a, padahal roti itu tidak boleh dimakan

kecuali oleh imam-imam?" Kata Yesus lagi kepada mereka: "Anak Manusia

adalah Tuhan atas hari Sabat.."

(Luk 6:1-5), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

 

 

 

Berrefleksi

atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai

berikut:

 

·   Semakin banyak aturan yang dipampang di muka umum

berarti masyarakat yang bersangkutan belum dewasa kepribadiannya, apalagi dalam

pelaksanaan aturan tersebut masih disertai dengan teriakan keras via pengeras

suara. Orang-orang Farisi menegor Yesus dan para murid ketika mereka ‘berjalan di lading gandum, memetik bulir

gandumg dan memakannya’ pada hari Sabat ,

karena pada hari Sabat orang tidak boleh bekerja atau berjalan jauh.

Menanggapi tegoran tersebut Yesus menjawab: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat”. Aneka aturan dan

tatanan hidup dibuat dan diundangkan berdasarkan kasih, dijawai oleh kasih, maka

yang utama dan pertama-tama atau kasih bukan aturan atau tatanan. Perhatikan

atau refleksikan bahwa suami-isteri yang saling mengasihi dan sedang memadu

kasih berdua, kiranya bebas dari aturan: mereka berdua saling telanjang tidak

ada malu atau kekhawatiran sedikitpun. Memang dalam hidup bersama kita tidak

akan terlepas dari aneka tatanan dan aturan, maka hendaknya menyikapi dan

melaksanakan aturan atau tatanan apapun dalam dan oleh kasih, dengan demikian

enak adanya. Apa itu kasih? “Kasih itu

sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan

tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan

diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia

tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.Ia menutupi

segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar

menanggung segala sesuatu” (1Kor 13;4-7).

 

·   “Kamu harus

bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser

dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di

seluruh alam di bawah langit,” (Kol 1:23).

Pengharapan Injil atau Warta Gembira adalah keselamatan jiwa, damai sejahera di

bumi dan di sorga. Maka bertekun dalam iman berarti bertekun dalam

mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dalam hidup sehari-hari saat ini

sampai mati. Persembahan diri seutuhnya kepada Tuhan antara lain dapat kita

hayati secara konkret dengan mempersembahkan diri pada panggilan dan tugas

pengutusan kita masing-masing. Para suami dan isteri hendaknya saling mempersembahkan

diri satu sama lain seutuhnya, artinya tidak menyeleweng atau berselingkuh dengan

orang lain, sehingga mahir dalam saling mengasihi;  para pelajar atau mahasiswa hendaknya sungguh

belajar sehingga semakin mahir belajar; para pekerja hendaknya sungguh bekerja

sehingga semakin terampil dalam bekerja, dst.. Kita semua hendaknya ‘tetap teguh dan tidak tergoncang’ dalam

menghayati panggilan dan melaksanakan tugas pengutusan, jika kita mendambakan

keselamatan jiwa kita, hidup damai sejahtera di bumi dan di sorga untuk

selamanya. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua: jika ada

di antara saudara-saudari kita atau kenalan kita tidak teguh dan tergoncang

dalam penghayatan panggilan atau pelaksanaan tugas pengutusan, hendaknya

ditegor dan ditolong dalam kasih dan rendah hati. Membiarkan suadara-saudari

atau kenalan kita menyeleweng atau berselingkuh berarti kita menyetujui atau

mendukungnya, dan dengan demikian kita turut bersalah. Ingat dan renungkan

kutipan ini:  “Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti dihukum mati! --

dan engkau tidak memperingatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk

memperingatkan orang jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup,

orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut

pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu.”(Yeh 3:18).

 

 

 

“Ya Allah, selamatkanlah aku karena

nama-Mu, berilah keadilan kepadaku karena keperkasaan- Mu! Ya Allah,

dengarkanlah doaku, berilah telinga kepada ucapan mulutku! Sesungguhnya, Allah

adalah penolongku; Tuhanlah yang menopang aku. Dengan rela hati aku akan

mempersembahkan korban kepada-Mu, bersyukur sebab nama-Mu baik, ya TUHAN”(Mzm 54:3-4.6.8).

 

 

 

Jakarta , 5 September 2009