Selasa, September 08, 2009

“Anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula”.

(Kol 1:15-20; Luk 5:33-39)

 “Orang-orang Farisi itu berkata pula

kepada Yesus: "Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang,

demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid- Mu makan dan

minum." Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat mempelai

laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan

datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah

mereka akan berpuasa." Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka:

"Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk

menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak

dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang

baru itu. Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam

kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan

mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun

hancur. Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.

Dan tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru,

sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik.”

(Luk 5:33-39), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

 

 

Berrefleksi

atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai

berikut:

 

·   Hari-hari ini kita masih dalam suasana puasa yang

dijalani oleh saudara-saudari kita, umat Islam, maka kutipan Warta Gembira hari

ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita. Salah satu tujuan

berpuasa adalah mengendalikan dan mengatur keinginan yang tak teratur

sedemikian rupa, sehingga kita hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan

di dalam hidup sehari-hari. Buah berpuasa adalah pembaharuan cara hidup dan

cara bertindak, hidup baru dengan menghayati kehendak Tuhan dalam hidup

sehari-hari. Maka Yesus bersabda: “Anggur

yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula”. Selama menjalani

puasa antara lain orang mengadakan pendalaman hidup beragama atau beriman,

dan  selama itu juga kiranya ditemukan

aneka ajaran, nasihat, petuah, tuntunan baru. Maka baiklah apa yang ditemukan

tersebut tidak hanya disimpan dalam hati, tetapi hendaknya menjadi nyata dalam

perilaku atau tindakan. Cara hidup dan cara bertindak yang tidak sesuai dengan

kehendak Tuhan hendaknya ditinggalkan dan kemudian memeluk dan menghayati cara

hidup dan cara bertindak baru, yang dijiwai keutamaan-keutamaan seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera,

kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.”(Gal

5:22-23). Rasanya yang cukup mendesak untuk dihayati adalah ‘penguasaan diri’,

mengingat dan memperhatikan cukup banyak orang tidak dapat menguasai atau

mengatur diri sendiri. Jika kita mampu menguasai diri sendiri, maka sikap

terhadap orang lain berarti melayani dan mengasihi, sedangkan jika kita tidak

mampu menguasai diri sendiri, maka sikap terhadap orang lain berarti menindas

dan melecehkan.

 

·   “Ialah kepala

tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang

mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. Karena seluruh

kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan

segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga,

sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.”(Kol 1:18-20).

Kita adalah anggota tubuh atau jemaat/umat Allah, paguyuban umat beriman.

Masing-masing dari kita telah diperdamaikan dengan Allah ‘oleh darah salib Kristus’, maka kita semua dipanggil untuk hidup

berdamai dengan siapapun dan apapun, dengan sesama manusia, binatang, tanaman

dan lingkungan hidup. Maka hendaknya jangan menyakiti mereka, melainkan

kasihilah mereka. Semua ciptaan di dunia ini diciptakan oleh Allah dalam dan

oleh kasih, maka dapat tumbuh berkembang juga hanya dalam dan oleh kasih.

Mungkin di antara kita sering takut mendekati orang atau binatang tertentu,

karena nampak menakutkan atau ganas, padahal mereka itu jika didekati dan

disikapi dalam dan oleh kasih pasti akan menjadi sahabat. Ingat dan perhatikan

para pawang binatang buas yang dapat bercanda dan berkasih-kasihan dengan

binatang-binatang buas seperti singa, ular, dst.. Binatang saja didekati dan

disikapi dalam dan oleh kasih dapat menjadi sahabat dan teman bercanda, apalagi

manusia, ciptaan termulia dan terluhur, yang diciptakan sesuai dengan citra

atau gambar  Allah.. Dekati, sikapi dan

perlakukan saudara-saudari kita dalam dan oleh kasih, karena masing-masing dari

kita juga ‘yang terkasih’ atau ‘buah kasih’.

“Yang terkasih bertemu dengan yang terkasih” secara otomatis akan saling

mengasihi, itulah panggilan dan tugas pengutusan kita semua, umat beriman, umat

Allah.

 

 

 

“Beribadahlah kepada TUHAN dengan

sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa

TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan

kawanan domba gembalaan-Nya. Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian

syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan

pujilah nama-Nya! Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya,

dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun”

 

(Mzm 100:2-5).

 

Jakarta, 4 September 2009      

"Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan."

(Kol 1:9-14; Luk 5:1-11)

 

“Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai

danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman

Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan

sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu

Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan

mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata

kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu

untuk menangkap ikan."Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam

kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau

menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." Dan setelah mereka

melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai

koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain

supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka

bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.

Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan

berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa."

Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena

banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes,

anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon:

"Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia." Dan

sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan

segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.”

(Luk 5:1-11), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

 

 

Berrefleksi

atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Gregorius Agung, Paus dan

Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai

berikut:

 

·   Paus juga menjadi uskup di Vatikan dan pimpinan

kolegialitas para uskup seluruh dunia; sedangkan para uskup kiranya merupakan

kelanjutan fungsi para rasul. Kutipan Warta Gembira hari ini kurang lebih

menceriterakan perintah Yesus kepada para rasul untuk

“Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap

ikan.". Perintah Yesus kepada para rasul ini untuk masa kini merupakan

panggilan bagi kita semua secara umum dan khususnya para gembala atau pimpinan

Gereja untuk lebih giat, kerja keras, lebih mendalam dalam usaha atau pelayanan

menyelamatkan jiwa manusia. Segala bentuk karya atau pelayanan pastoral

Gerejani hendaknya lebih mengutamakan keselamatan jiwa manusia daripada harta

benda atau uang atau bangunan dan sarana-prasarana. Keselamatan jiwa manusia

hendaknya menjadi barometer atau ukuran keberhasilan karya pelayanan pastoral

apapun; semakin banyak jiwa manusia itulah yang hendaknya diusahakan dengan

kerja keras tanpa kenal lelah. Semakin banyak orang semakin beriman atau

mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dalam dan melalui hidup

sehari-hari, itulah yang harus kita usahakan bersama dalam berbagai pelayanan

dan sepak terjang kita. Memang untuk itu kita kemungkinan harus menghadapi

aneka tantangan dan hambatan, mengingat dan memperhatikan sikap mental

materialistis masih menjiwai banyak orang, namun “Jangan takut”, demikian pesan Yesus.

 

·   “Kami meminta,

supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui

kehendak Tuhan dengan sempurna, sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta

berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala

pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang

Allah,dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk

menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar”(Kol 1:9-11), demikian

sapaan Paulus kepada umat di Kolose. Kehendak Tuhan adalah keselamatan jiwa

seluruh umat manusia dan hidup saling mengasihi satu sama lain. Kita dipanggil

untuk dengan tekun dan sabar dalam mengusahakan keselamatan jiwa dan hidup

saling mengasihi. “Tekun adalah sikap dan

perilaku  yang menunjukkan kesungguhan

yang penuh  daya tahan dan terus-menerus

serta tetap semangat dalam melakukan sesuatu”, sedangkan “Sabar adalah sikap dan perilaku yang

menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri dan tetap bertahan

seperti keadaan semula dalam menghadapi berbagai rangsangan atau masalah” (Prof

Dr.Edi Sedyawati/edit:  Pedoman

Penanaman  Budi Pekerti Luhur, Balai

Pustaka – Jakarta 1997). Marilah kita hadapi aneka macam tantangan,

masalah, hambatan, dst.. yang muncul dari usaha menyelamatkan jiwa dan saling

mengasihi dengan tekun dan sabar. Ketekunan dan kesabaran akan menghasilkan

keutamaan-keutamaan lainnya, misalnya rendah hati, yang sungguh dibutuhkan

dalam kehidupan beriman atau beragama masa kini.

 

 

 

“TUHAN telah memperkenalkan keselamatan

yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata

bangsa-bangsa. Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala

ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita.

Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah,

bersorak-sorailah dan bermazmurlah! Bermazmurlah bagi TUHAN dengan kecapi,

dengan kecapi dan lagu yang nyaring,dengan nafiri dan sangkakala yang nyaring

bersorak-soraklah di hadapan Raja, yakni TUHAN!”(Mzm 98:2-6)

 

Jakarta, 3 September 2009

"Juga di kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus."

."(Kol 1:1-8; Luk 4:38-44)

 “Kemudian Ia meninggalkan

rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras

dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Maka Ia berdiri di sisi

perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itu pun meninggalkan

dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka. Ketika matahari terbenam,

semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita

bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing

dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil

berteriak: "Engkau adalah Anak Allah." Lalu Ia dengan keras melarang

mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia

adalah Mesias. Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat

yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha

menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata

kepada mereka: "Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil

Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus."Dan Ia memberitakan Injil

dalam rumah-rumah ibadat di Yudea”

(Luk 4:38-44), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

  

Berrefleksi

atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai

berikut:

 

·   Dukun cilik Ponari pernah termashyur: ribuan orang

setiap hari berbondong-bondong minta pengobatan, dan akhirnya Ponari pun tidak

dapat bebas lagi ke mana-mana, bahkan kelelahan dan kurang dapat bergaul dengan

rekan-rekannya. Banyak orang telah disembuhkan oleh Yesus dari berbagai macam

penyakit, dan mereka pun tergerak ‘berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka’. Namun Yesus menyadari bahwa

Ia adalah Penyelamat Dunia, diutus untuk menyelamatkan seluruh dunia, bukan

daerah atau wilayah tertentu saja, maka menanggapi usaha mereka untuk

menahanNya, Ia berkata: “Juga di

kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah

Aku diutus”. Sebagai murid-murid atau pengikut Yesus kita semua dipanggil

untuk meneladan Dia, yaitu tidak membatasi diri dalam rangka berbuat baik:

kemanapun kita pergi dan dimanapun kita berada dipanggil untuk berbuat baik

kepada sesama dan saudara-saudari kita, tanpa pandang bulu, SARA, usia,

pengalaman, jabatan, fungsi, dst.. Apa yang disebut ‘baik’ juga berlaku secara

universal, dimana saja dan kapan saja. Maka baiklah pertama-tama dan terutama

kita perhatikan saudara-saudari kita yang sakit atau menderia bermacam-macam

penyakit untuk kita tolong dalam proses penyembuhannya. Mereka yang sakit hati

kita beri perhatian yang memadai, mereka yang sakit jiwa kita sapa dengan penuh

kasih, mereka yang sakit akal budi kita dampingi dengan sepenuh hati, mereka

yang sakit phisik kita obati, dst.. Kita semua dipanggil untuk menjadi

‘pewarta-pewarta kabar baik’ artinya dari diri kita masing-masing senantiasa

terkabarkan atau tersiarkan apa-apa yang baik karena kita memang baik adanya.

 

·   “Kami selalu

mengucap syukur kepada Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, setiap kali kami

berdoa untuk kamu, karena kami telah mendengar tentang imanmu dalam Kristus

Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus”(Kol 1:3-4), demikian sapaan awal Paulus dalamsuratnya kepada umat di Kolose.

Apa yang telah dilakukan oleh Paulus ini

kiranya dapat kita tiru. Mengucap syukur dan berdoa bagi orang lain, itulah

yang diharapkan dari kita semua. Kita selayaknya bersyukur ketika mendengar

saudara-saudari kita hidup dalam kasih satu sama lain, sebagai perwujudan

imannya kepada Tuhan. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk saling

bersyukur dan berdoa satu sama lain. Sikap bersyukur dan berdoa hendaknya juga

menjadi awal setiap perjumpaan kita dengan orang lain sebagai bukti bahwa kita

sungguh beriman. Kebiasaan saling bersyukur dan berdoa ini kiranya selayaknya

sedini mungkin ditanamkan pada anak-anak di dalam keluarga dan tentu dengan

teladan dari orangtua atau bapak-ibu. Bersyukur kiranya dekat dengan berterima

kasih, maka baiklah saya mengajak anda sekalian untuk mawas diri perihal

‘terima kasih’. Entah telah berapa kali kita mengatakan ‘terima kasih’ kepada

orang lain, misalnya: ketika disapa menjawab ‘terima kasih’, ketika diberi

sesuatu menjawab ‘terima kasih’, ketika dicium menjawab ‘terima kasih’, dst..

Entah apapun yang kita terima adalah perwujudan kasih orang lain kepada kita;

dengan kata lain yang utama dan pertama-tama adalah kasih, bukan materi yang

kita terima. Segala sesuatu yang ‘mendatangi’ kita adalah kasih. Entah telah

berapa kali kita dikasihi/didatangi, mungkin sulit dihitung, maka selayaknya

kita senantiasa hidup dengan bersyukur dan berterima kasih.

 

 

 

“Aku ini seperti pohon zaitun yang

menghijau di dalam rumah Allah; aku percaya akan kasih setia Allah untuk

seterusnya dan selamanya. Aku hendak bersyukur kepada-Mu selama-lamanya, sebab

Engkaulah yang bertindak; karena nama-Mu baik, aku hendak memasyhurkannya di

depan orang-orang yang Kaukasihi!”

 

(Mzm 52:10-11)

 

Jakarta, 2 September 2009

Senin, Agustus 31, 2009

"Diam keluarlah dari padanya!" (1Tes 5:1-6.9-11; Luk 4:31-37)

"Diam keluarlah dari padanya!"
(1Tes 5:1-6.9-11; Luk 4:31-37)


 
“Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras: "Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah." Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: "Diam, keluarlah dari padanya!" Dan setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari padanya dan sama sekali tidak menyakitinya. Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, katanya: "Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah
kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar." Dan tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu”(Luk 4:31-37), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

 

Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

• Kata-kata yang keras dan singkat pada umumnya memang berpengaruh bagi para pendengarnya, apalagi jika kata-kata tersebut keluar dari orang-orang yang berwibawa karena jabatan, kedudukan atau kepribadiannya. Begitulah yang terjadi ketika Yesus menghardik setan yang merasuki seseorang sambil berkata: “Diam, keluarlah dari padanya”, maka setanpun terhempas keluar dari orang yang bersangkutan. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak siapapun yang dinilai berwibawa di dalam kehidupan bersama, entah di dalam keluarga, tempat kerja atau masyarakat, untuk meneladan Yesus: berkata tepat dan singkat pada sasaran atau tujuan, lebih-lebih dalam rangka mengingatkan atau menegor mereka yang bersalah atau melanggar peraturan atau tidak setia pada panggilan dan tugas pengutusan. Dengan kata lain hendaknya tidak terlalu banyak bicara atau memberi nasihat. Memang agar kata-kata, entah sebagai nasihat, tegoran, peringatan, pujian dst.. dapat tepat sasaran, maka hendaknya lebih banyak bersikap mendengarkan: dengarkan apa yang sedang terjadi, dengarkan harapan, dambaan, keluh kesah, kritikan dst.. dari saudara-saudari anda. Tentu saja yang juga tidak kalah penting atau utama dan terutama adalah bahwa orang senantiasa bersama dan bersatu dengan Tuhan di dalam hidup sehari-hari dalam rangka memperdalam dan memperkuat kewibawaannya. Yang utama dan pertama-tama akan dihormati dan dijunjung tinggi di dalam kehidupan beragama atau beriman adalah mereka yang bersatu dengan Tuhan alias hidup suci atau berbudi pekerti luhur, bukan karena pangkat, kedudukan, gelar atau kekayaan akan harta benda, dst…
Bersama dan bersatu dengan Tuhan pasti akan mampu mengalahkan aneka macam bentuk godaan setan. 

• “Kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar”(1Tes 5:4-6),
Demikian peringatan atau nasihat Paulus kepada umat di Tesalonika, kepada kita semua orang beriman. Pada malam hari pada umumnya orang tidur atau ada beberapa orang yang bermabuk-mabukan jika tidak dapat tidur. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk menjadi ‘anak-anak terang dan anak-anak siang’, artinya hidup jujur, terbuka, transparan, terang-terangan alias tidak melakukan aneka macam bentuk korupsi atau kebohongan. Kejujuran kiranya merupakan keutamaan yang sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan pada masa kini mengingat dan memperhatikan masih cukup banyak tindakan korupsi dan kebohongan di sana-sini. Memang ada rumor “hidup jujur akan hancur’, tetapi kiranya lebih dari itu yang benar, yaitu “hidup jujur akan hancur dan akhirnya mujur”. Keutamaan kejujuran ini hendaknya sedini mungkin dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga dan tentu saja butuh keteladanan dari para orangtua atau bapak-ibu.

Selanjutnya hendaknya di sekolah-sekolah juga dibiasakan dan dididikkan kejujuran dalam seluruh proses pembelajaran. “Be honest” (=Jujurlah), itulah tulisan yang terpampang di halaman sepak bola, dan dapat anda lihat begitu masuk ke komplek Kolese Kanisius-Jakarta. Kejujuran dan kedisiplinan hendaknya menjadi cirikhas di sekolah-sekolah kita, agar kelak kemudian hari anak-anak ketika telah menjadi dewasa menjadi sadar dan siap sedia terhadap aneka kemungkinan dan kesempatan untuk semakin memperdalam hidup beriman. 

 

“Sesungguhnya, aku percaya akan melihat
kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah
dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!”(Mzm 27:13-14)


 

Jakarta, 1 September 2009  


Selasa, Juli 28, 2009

Kesaksian Dominggus Kenjam : Tuhan Yesus Telah Bangkitkan Saya Dari Kematian





Berikut ini kesaksian dari Domingus Kenjam yang saya baca dari milis.

Semoga kesaksian ini dapat semakin memperkuat iman kita semua bahwa Jesus itu Juruselamat bagi kita semua dan tidak ada sesuatu yang mustahil bagi Tuhan Amin.

Subject: Fw: Tuhan Yesus telah bangkitkan saya (Dominggus Kenjam) dari kematian
 
"Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki- Nya." Yohanes 5:21
 
Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, dalam kesempatan ini saya akan bersaksi tentang peristia kematian dan kehidupan yang saya alami pada tanggal 15 Desember 1999. peristiwa ini juga merupakan suatu tragedy bagi yayasan Doulos, Jakarta dimana STT Doulos ada di dalamnya dan saya adalah mahasiswa yang tinggal di asrama. Sebelum penyerangan dan pembakaran Yayasan Doulos tanggal 15 Desember itu, beberapa kali saya mendapat mimpi-mimpi sebagai berikut:
  
1. Minggu, 12 Desember 1999, saya bertemu dengan Tuhan Yesus dan malaikat, saya terkejut dan bangun lalu berdoa selesai saya tidur kembali. 


2. Senin, 13 Desember 1999, saya bermimpi lagi, dengan mimpi yang sama. 


3. Selasa, 14 Desember 1999, dalam mimpi saya bertemu dengan seorang pendeta pada suatu ibadah KKR, isi khotbah yang disampaikan mengenai akhir zaman, adanya penganiayaan dan pembantaian. 


4. Rabu, 15 Desember 1999, kurang lebih pukul 08.00 pagi, saya mendapatkan huruf “M†dengan darah di bawah kulit pada telapak tangan kanan saya. Dalam kebingungan dan sambil bertanya-tanya dalam hati, apakah saya akan mati? Saya bertanya kepada teman-teman dan pendapat mereka adalah bahwa kita akan memasuki millennium yang baru. Walaupun pendapat mereka demikian saya tetap merasa tidak tenang serta gelisah karena dalam pikiran saya huruf “M†adalah mati, bahwa saya akan mengalami kematian. Saya hanya bisa berdoa dan membuka Alkitab. Sekitar pukul 15.00 saya membaca firman Tuhan dari Kitab Yeremia 33:3 “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab Engkau.†Dan pada pukul 18.00, tanda huruf “M†di telapak tangan saya sudah hilang. 

 
Kampus dan Asrama Mahasiswa Doulos Diserang
Pada malam hari tanggal 15 Desember 1999, kegiatan berlangsung biasa di dalam asrama kampus STT Doulos. Sebagian mahasiswa ada sedang belajar, yang lain memasak di dapur dan ada pula yang sedang berdoa. Saya sendiri sedang berbaring di kamar. Kurang lebih jam 21.00 malam itu, saya dibangunkan oleh seorang teman sambil berteriak: "Domi, bangun, kita diserang" Saya langsung bangun dalam keadaan panic, saya langsung berlari ke halaman kampus dan melihat sebagian kampus kami yang telah terbakar. Saat itu saya berkata kepada Tuhan: "Tuhan, saya mau lari kemana? Tuhan, kalau saya lari lewat pintu gerbang depan pasti saya dibacok. Sementara pikiran saya bertambah kalut ketika teringat akan tanda huruf yang diberikan pada tangan saya. "Tuhan, apakah saya akan mati?"

Saya menoleh ke belakang, ada beberapa teman sekamar yang lari menyelamatkan diri masing-masing. Di belakang kampus kami dikelilingi pagar kawat duri setinggi 2 meter, saya tidak bisa melompat keluar dengan cara mengangkat kawat itu. Dengan tangan sedikit terluka akhirnya saya pun dapat keluar. Kami sudah berada di luar pagar dengan keadaan takut dan gemetar karena di sana terdapat massa atau orang banyak yang tidak dikenal, mereka membawa golok, pentungan, batu dan botol berisi bensin atau Molotov.

Kemudian kami berpisah dengan teman-teman, saya tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka. Saya lari menuju kos kakak tingkat semester 10, yang letaknya tidak jauh dari kampus. Sementara saya berlari, saya tetap berdoa kepada Tuhan: "Tuhan berkati saya, ampuni dosa dan kesalahan saya." Setiba di rumah kos itu, saya mengetuk pintu sebanyak 2 kali tetapi tidak ada yang membukakan pintu. Ternyata di belakang saya ada 4 teman mahasiswi yang juga lari mengikuti dari belakang. Mereka memanggil saya: "Domi, ikut ke rumah kami," tetapi saya berkata kepada mereka, "biar saya bersembunyi di sini." Masih berada di depan rumah kos tersebut, saya berdoa lagi "Oh.. Tuhan, apakah malam ini saya akan mati? Ampuni dosa dan kesalahan saya."
 
Ditangkap oleh Massa
Saya mengetuk pintu lagi, tetapi tidak ada orang yang menjawab, saya berdoa kembali: "Tuhan.. ini hari terakhir untuk saya hidup." Terdengar suara massa yang semakin mendekat kepada saya. Mereka berkata: "Itu mahasiswa Doulos, tangkap dia!" Ada juga yang berteriak: "Bantai dia, tembak!" Seketika itu saya ditangkap dan saya hanya bisa berserah kepada Tuhan sambil berkata: "Tuhan saya sudah di tangan mereka, saya tidak bisa lari lagi." Kemudian tangan saya diikat ke belakang dan mata saya ditutup dengan kain putih. Saya tetap berdoa dalam keadaan takut dan gemetar: "Tuhan ampuni dosa saya, pada saat ini Engkau pasti di samping saya. "Tiba-tiba ada suara terdengar oleh saya entah dari mana, yang berkata: "Jangan takut, Aku menyertai engkau, Akulah Tuhan Allahmu." Setelah mendengar suara itu, rasa ketakutan dan kegentaran hilang, karena saya sudah pasrahkan kepada Tuhan.
 
Penganiayaan dan Kematian
Mereka membawa saya ke tempat yang gelap, saya dipukuli dan ditendang. Saya dihadapakan dengan massa yang jumlah orangnya lebih banyak, saat itu mereka ragu, apakah saya mahasiswa Doulos atau warga sekitarnya. Sebagian massa ada yang terus mendesak untuk memotong dan membunuh saya. Saya berdoa lagi: " Tuhan, fisik saya kecil, kalau saya mati, saya yakin masuk sorga. Saat ini saya serahkan nyawa saya ke dalam tangan kasih-Mu, ampunilah mereka." Saat itu kepala saya dipukul dari belakang dan terjatuh di atas batu, saya tidak sadar akan apa yang terjadi lagi.
 
Roh Saya Keluar Dari Tubuh
Kemudian ... roh saya terangkat keluar dari tubuh saya, roh saya berbentuk seperti orang yang sedang start lari atau sedang jongkok, lalu lurus seperti orang yang berenang kemudian berdiri. Roh saya melihat badan saya dan berkata: "Kok badan saya tinggal" (sebanyak dua kali). Roh saya berdiri tidak menyentuh tanah dan tidak tahu mau berjalan kemana, karena di sekeliling saya gelap gulita, kurang lebih lima detik, roh saya berkata: "Mau ke mana?"
 
Lima Malaikat Datang Menjemput Saya
Saat itu ada lima malaikat datang kepada saya, dua berada di sebelah kiri, dua di sebelah kanan dan satu malaikat berada di depan saya. Tempat yang tadinya gelap gulita telah berubah menjadi terang dan saya sudah tidak dapat melihat badan saya lagi. Roh saya dibawa oleh malaikat-malaikat tersebut menuju jalan yang lurus, dan pada ujung jalan itu sempit seperti lubang jarum. Roh saya berkata: "Badan saya tidak dapat masuk." Tetapi malaikat yang di depan saya bisa masuk, lalu roh saya berkata lagi: "Badan rohani saya kecil pasti bisa masuk." Kemudian roh saya masuk melalui lubang jarum tersebut.

"Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham." Lukas 16:22
 
Berada di Dalam Firdaus
Saat itu saya sudah berada di dalam sebuah halaman yang luas. Halaman itu sangat luas, indah dan tidak ada apa-apa. Roh saya berkata: "Kalau ada halaman pasti ada rumahnya." Tiba-tiba saat itu ada rumah, saya dibawa masuk ke dalam rumah tersebut dan bertemu dengan banyak orang di kamar pertama. Roh saya berkata: "Ini orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus, mereka ditempatkan di sini." Mereka sedang bernyanyi, bertepuk tangan, ada yang berdiri, ada yang duduk dan ada yang meniup sangkakala.
 
"Di rumah Bapaku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu." Yohanes 14:2
 
Dibawa ke Ruangan Selanjutnya
Saya dibawa oleh malaikat-malaikat ke kamar selanjutnya atau kedua, sama dengan kamar yang pertama, hanya disini roh saya melihat orang-orang dengan wajah yang sama dan postur tubuh yang sama. Kemudian saya dibawa lagi ke kamar yang ketiga, yang sama dengan kamar yang pertama. Dan roh saya berkata: "Ini orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus, ditempatkan di sini." Lalu roh saya dibawa ke kamar yang keempat yaitu kamar yang terakhir, pada saat ini saya hanya sendiri, tidak disertai oleh malaikat-malaikat tadi. Kamar itu kosong, lalu roh saya berkata: "Ini penghakiman terakhir, saya masuk sorga atau neraka."
 
"Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Eloim sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Eloim? Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa?" 1 Petrus 4:17-18
 
Bertemu dengan Tuhan Yesus
Kemudian roh saya berjalan tiga sampai empat langkah, di depan saya ada sinar atau cahaya yang sangat terang seperti matahari, maka roh saya tidak dapat menatap. Saya menutup mata dan terdengar suara: "Berlutut!" Seketika itu roh saya berlutut, terlihat sebuah kitab terbuka dan dari dalamnya keluar tulisan yang masuk ke mata saya yang masih tertutup, tulisan timbul dan hilang terus menerus, roh saya berkata: "Tuhan...! ini perbuatan saya minggu lalu, bulan lau, tahun lalu. Saya melakukan yang jahat dan saya tidak pernah mengaku dosa pribadi, sehingga Engkau mencatatnya di sini." "Tuhan...! Saya ingin seperti saudara-saudara di kamar pertama, yang selalu memuji dan memuliakan Engkau. Tuhan...! Saya tahu Engkau mati di atas kayu salib untuk menebus dosa saya, saya rindu seperti saudara-saudara yang berada di kamar pertama, kedua dan ketiga yang selalu memuji-muji Engkau." Sesudah itu tulisan yang keluar dari kitab itu hilang, buku menjadi bersih tanpa tulisan, kemudian buku itu hilang dan sinar yang terang itupun hilang dan ada suara berkata: "Pulang! Belum saatnya untuk melayani Aku." Saya melihat-lihat dari mana arah suara itu datang, saya melihat ada seorang di samping kanan. Orang tersebut badan-Nya seperti manusia, rambut hingga ke lehernya bersinar terang. Jubah-Nya putih hingga menutupi kedua tangan-Nya dan bawah jubah-Nya menutupi kaki-Nya. Ia menunggangi seekor kuda putih dengan tali les yang putih. Lalu roh saya berkata: "Ini Tuhan Yesus, Dia seperti saya, Dia Eloim yang hidup."
 

"Lalu aku melihat sorga terbuka; sesungguhnya, ada seekor kuda putih dan Ia yang menungganginya bernama: "Yang Setia dan Yang Benar" Ia menghakimi dan berperang dengan adil." Wahyu 19:11
 
Kemudian Tuhan Yesus tidak nampak lagi dan seketika itu roh saya dibawa pulang ke dalam tubuh saya. Saat itu juga ada nafas, ada pikiran dan saya berpikir, tadi saya bersama dengan Tuhan Yesus. Setelah itu saya mencoba beberapa kali untuk bangun dan mengangkat kepala, tetapi tidak bisa, terasa sakit sekali, saya baru sadar bahwa leher saya telah dipotong dan hampir putus, kemudian saya dibuang ke semak-semak dengan ditutupi daun pisang. Saya merasa haus, lalu menggerakkan tangan mengambil darah tiga tetes dan menjilatnya, lalu badan saya mulai bergerak. Saya berdoa: "Tuhan, lewat peristiwa ini saya telah bertemu dengan Engkau, dan Engkau memberikan nafas dan kekuatan yang baru sehingga aku hidup kembali, tapi Tuhan, Engkau gerakkan orang supaya ada yang membawa saya ke rumah sakit." Tuhan menjawab doa saya, malam itu ada orang yang mendekati saya dengan memakai lampu senter, lalu bertanya: "Kamu dari mana?" Saya tidak bisa menjawab, karena saya tidak dapat berbicara lewat mulut, tidak ada suara yang keluar, hanya hembusan nafas yang melalui luka-luka menganga pada leher. Kemudian orang tersebut memanggil polisi. Puji Tuhan! Dikira sudah meninggal tetapi masih hidup. Mereka mengira saya sudah meninggal, mereka mengangkat dan membawa saya ke jalan raya. Kemudian polisi mencari identitas atau KTP saya, ternyata tidak ditemukan. Tanpa identitas, mereka bermaksud membawa saya ke sebuah rumah sakit lain, tetapi saya ingat kembali akan suara Tuhan dan takhta-Nya di sorga, ternyata ada kekuatan baru dari Tuhan Yesus yang memampukan saya dapat berbicara. Tiba-tiba saya berkata: "Nama saya Dominggus, umur saya 20 tahun, semester III, tinggal di asrama Doulos, saya berasal dari Timor." Orang-orang yang sedang melihat dan mendengar saya, berkata: "Wah, dia dipotong dari jam berapa? Sekarang sudah jam 02.30 pagi, tapi dia masih hidup."
 
Perjalanan ke Rumah Sakit UKI
Kemudian mereka memasukkan saya ke dalam mobil dan meletakkan saya di bawah. Saya tetap mengingat peristiwa ketika Tuhan Yesus dianiaya. Sementara mobil meluncur dengan kecepatan tinggi, saat melewati jalan berlubang atau tidak rata mobilpun berguncang dan saya merasa sangat sakit sekali pada luka di leher. Saya katakan kepada Tuhan: "Tuhan, apakah saya dapat bertahan di dalam mobil ini? Tuhan ketika Engkau di atas kayu salib, Engkau meminum cuka dan empedu, tetapi saya menjilat darah saya sendiri karena tidak ada orang yang menjagai saya." Saya membuka mata, ternyata memang tidak ada seorangpun yang menjagai saya, hanya seorang supir. Tetapi saya melihat beberapa malaikat berjubah putih menjaga dan mengelilingi saya. Saya katakan: "Tuhan ini malaikat-malaikat pelindung saya, mereka setia menjagai." Saya harus berdoa agar tetap kuat.
 
Perawatan di Rumah Sakit
Setiba di rumah sakit, suara saya dapat normal kembali. Saya dapat berbicara dan bertanya kepada perawat: "Bapak saya mana?" Perawat RS bertanya kepada saya: "Bapakmu siapa?" Saya jawab: "Bapak Ruyandi Hutasoit." Ketika Bpk. Ruyandi menemui saya, ia berkata: "Dominggus.. leher kamu putus!" Jawab saya: "Bapak doakan saya, sebab saya tidak akan mati, saya telah bertemu dengan Tuhan Yesus." Lalu Bpk. Ruyandi mendoakan dan menumpangkan tangan atas saya. Setelah itu saya mendapat perawatan, seorang dokter ahli saraf hanya menjahit kulit leher saya, karena luka bacokan sudah menembus sampai ke tulang belakang leher, sehingga cairan otak mengalir keluar, saluran nafas dan banyak saraf yang putus. Kemudian saya dirawat tiga hari di ruangan ICU dan selama perawatan saya tidak diberikan transfusi darah. Pendapat dokter pada saat itu adalah bahwa saya akan mati dan saya tidak diharapkan hidup, mengingat cairan otak yang telah keluar dan infeksi yang terjadi pada otak, yang semua itu akan menimbulkan cacat seumur hidup.
 
Mukjizat Kesembuhan Terjadi
Tanggal 19 Desember 1999 dengan panas badan 40°C dan seluruh wajah yang bengkak karena infeksi, saya dipindahkan keluar dari ruang ICU, dikarenakan ada pasien lain yang sangat memerlukan dan masih mempunyai harapan hidup yang lebih besar daripada saya. Pada malam hari, roh saya kembali keluar untuk kedua kali dari tubuh saya, roh saya melihat suasana kamar dimana saya dirawat dan kemudian roh saya berjalan sejauh kurang lebih dua atau tiga kilometer dalam suasana terang di sekeliling saya. Tiba-tiba ada suara terdengar oleh saya: "Pulang..pulang. ..!" Seketika itu juga, roh saya kembali ke dalam tubuh saya, suhu tubuh menjadi normal dan tidak ada lagi infeksi. Kemudian terdengar bunyi seperti orang menekukkan jari-jari pada leher saya, lalu otot, tulang, saluran nafas dan saraf-saraf tersambung dalam sekejab mata, saya merasa tidak sakit dan dapat menggerakkan leher. Sesudah itu saya diberi minum dan makan bubur. Saya sudah hidup kembali, dengan kesehatan yang sangat baik. Puji Tuhan!
 
Keluar dari Rumah Sakit dalam Keadaan Sembuh Total
Saya berada di rumah sakit sejak tanggal 16 Desember 1999 dini hari dan keluar dari rumah sakit pada tanggal 29 Desember 1999, dengan berat badan normal dibanding dua minggu yang lalu karena banyak darah dan cairan yang telah keluar. Saya telah sembuh sempurna, tanpa cacat, tanpa perawatan jalan, saya hidup kembali dengan normal. "Terima kasih Tuhan Yesus, Engkau sungguh Eloim yang hidup dan ajaib, terpujilah nama-Mu kekal sampai selamanya, amin!"